Al-Ibrah dan Higher Order Thinking Skills

‘Ibrah berasal dari kata ‘abara ar-ru’ya yang berarti menafsirkan mimpi dan memberitahukan implikasinya bagi kehidupan si pemimpi, atau keadaan setelah kematiannya dan ‘abara al-wadi berarti melintasi lembah dari ujung satu ke ujung lain yang berlawanan.

Konsep Islam dibangun atas dasar Al-Quran, Allah SWT memberikan istilah Al-Ibrah untuk menghubungkan sejarah dengan masa sekarang. Ibrah membutuhkan kemampuan kita untuk mengkaitkan, dan kemampuan membuat keterkaitan adalah salah satu kemampuan aras tinggi (high order thinking). Untuk melakukan proses Al-Ibrah membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Kata ‘Ibrah menurut Imam Al-Raghib Al-Isfahani dalam bukunya Al-Mufradat fi Gharibil Quran menjelaskan bahwa kata Ibrah berasal dari akar kata ain ba ra yang makna asalnya dalam bahasa Arab adalah menghubungkan sesuatu dengan sesuatu.

Maka titik berat dalam Ibrah adalah kemampuan memawa kita pergi mengaplikasikan fungsi makna Ibrah. Seseorang bisa dikatakan telah belajar apabila apa yang dia pelajari sudah bisa dikaitkan dengan dirinya sendiri. Setiap perkara yang diterangkan dalam Al-Quran harus terkait dengan kita. Itu fungsinya menghubungkan sesuatu dengan sesuatu. Mengaitkan dan menghubungkan konteks cerita, pengajaran, kitibar dalam Al-Quran dengan kita.

4 Syarat Al-Ibrah

Fudhail bin ‘Iyadh saat mudanya adalah remaja nakal yang suka merampok di jalanan antara Kota Abiyurd dan Kota Sarkhas. Ia kemudian bertobat hingga akhirnya dikenal sebagai seorang sufi.

Dikisahkan, saat memanjat dinding rumah seorang wanita yang dirindukannya, ia mendengar seorang membaca ayat 16 dari surah al-Hadid, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya diturunkan Alkitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Dalam hati, Fudhail berkata, “Betul, ya Tuhanku, telah tiba saatnya untuk bertobat.” Ia pun pulang ke rumah tapi kemalaman di sebuah perkampungan. Tiba-tiba, ada serombongan kafilah yang lewat di mana salah seorang mereka berkata, “Mari kita berangkat sekarang.” Tapi, sebagian yang lain berkata, “Kita tunggu saja sampai pagi karena Fudhail akan merampok kita.”

Terbetiklah dalam pikiran Fudhail. “Selama ini, setiap malam aku melakukan maksiat dan orang-orang Muslim merasa takut kepadaku dan aku melihat Allah menggiringku bertemu mereka hanya untuk membuat mereka ketakutan. Ya Allah, aku bertobat kepada-Mu dan sebagai bukti tobatku, aku akan selalu dekat dengan Masjidil Haram.” Sejak mendengar ayat tadi, Fudhail telah berubah. Ia kelak menjadi hujjah (tempat bertanya dan teladan umat) di zamannya.

Banyak terjadi seseorang berubah dari jahat menjadi baik lantaran lantunan ayat-ayat yang didengarnya. Raja Najasyi dari Ethiopia meneteskan air mata dan masuk Islam setelah diperdengarkan ayat-ayat dari surah Maryam. Umar bin Khattab yang sedang murka kepada adiknya, Fatimah yang telah masuk Islam, menjadi luluh hatinya saat mendengarkan ayat-ayat dalam surah Thaha.

Kita sering mendengar dan membaca Al-Quran, tapi mengapa banyak yang tidak tersentuh dengan makna dan isinya? Mengapa dalam diri kita tidak terjadi revolusi perubahan dalam ucapan dan tindakan setelah mendengar Al-Quran? Mungkin kita tidak memenuhi syarat untuk itu. Minimal ada empat syarat agar kita mampu mengambil ibrah saat mendengar lantunan ayat Al-Quran sebagaimana yang diungkapkan Al-Quran surah Qaf ayat 37.

Pertama, kita memiliki hati yang hidup dan sadar sehingga memahami hakikat yang didengarnya. Orang yang hatinya tidak sadar sama saja dengan orang yang tiada.

Kedua, mendengarkan isi yang diwahyukan dengan mencurahkan perhatian total. Orang yang mendapat rahmat Allah saat dibacakan Alquran adalah yang mendengarkan dan memiliki konsentrasi. (QS al-A’raf : 204).

Ketiga, kehadiran dirinya secara utuh jasmani dan rohani serta cerdas mampu mencerna isi ayat yang dibaca. Orang yang tidak memahami sama dengan orang yang sedang gaib (tiada).

Keempat, meyakini kebenaran Al-Quran sebagai wahyu yang diturunkan Allah. Ketiadaan salah satu syarat ini menyebabkan seorang Muslim tidak mampu mengambil pelajaran dan manfaat dari ayat Alquran yang dibaca atau didengarkannya.

Pembelajaran Unggul Perspektif Al-Quran

Al-Quran menyebut orang yang memiliki kemampuan tinggi dalam pembelajaran sebaga Ulul Al-Bab. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 190-191.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wata’ala menyatakan bahwa sesungguhnya dalam penciptaakn langit, bumi dan seisinya, seperti matahari, bulan dan bintang-bintang di jagat raya, juga gunung dan lauran kehidupan flora dan fauna di dalamnya, juga fenomena silih bergantinya malam dan siang merupakan tanda-tanda yang sangat nyata dan jelas bagi Ulul Al-Baab (orang-orang yang berakal), yaitu manusia-manusia yang memiliki akal yang sempurna, suci dan jernih serta mampu mengetahui hakikat banyak hal dengan sejelas-jelasnya yang mengantarkan kepada keimanan akan kebesaran dan kekuasaan Alla Subhanahu Wata’ala.

Dua karakteristik Ulul Albab disebutkan dalam ayat ini, yaitu.

  1. Mereka selaku mengingat Allah baik pada saat mendirikan salat maupun dalm kondisi apapaun di saat melakukan aktifitas hidupnya.
  2. Mereka memiliki kemampuan untuk memahami ciptaan-ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala yang terhampar di langit dan bumi. Aktifitas pembacaan tersebut pada saat yang sama mengantarkan pada kesadaran bahwa semua itu semata-mata ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala. Suatu kesadaran bahwa manusia dengan segala kecerdasan yang dimilikinya hanyalah makhluk Allah yang benar-benar lemah dan tiada daya di hadapan-Nya.

Sebab turun ayat ini sebagaimana disebutkan dalam Tafsir As-Samarqandi adalah sebagai berikut:

“Dari Atha bin Abi Rabbah radhiyallahu anhu berkata: Saya pernah mengunjungi Aisyah radhiyallahu anha bersama Ibnu Umar radhiyallahu ahnhu dan Ubaid bin Umair radhiyallahu anhu. Kami memberi salam kepadanya. Ibnu Umar lalu berkata: Ceritakanlah kepada kami mengenai suatu hal yang paling mengagumkan yang pernah engkau lihat dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam! Maka Aisyah radhiyallahu anha menangis tersedu-sedu, kemudian berkata: Segala hal mengenai beliau itu mengagumkan.

Pada suatu malam Ia pernah mendatangiku dan berada dalam satu tempat tidur denganku sampai kulit-kulitnya bersentuhan dengan kulitku. Ia berkata: Wahai Aisyah, apakah engkau mau mengijinkan aku untuk beribadah kepada Rabb-Ku? Aku pun menjawab: Demi Allah, sebenarnya aku benar-benar ingin dekat denganmu, lalu Ia pergi menuju tempat kantong air dan berwudhu. Kemudian ia mendirikan salat dan menanigs hingga air matanya membasahi pundaknya.

Kemudian datangla Bilal radhiyallahu anhu kepadanya setelah dikumandangkannya adzan salat Subuh, Maka tatkala Bilal radhiyallahu anhu melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menangis, ia bertanya: Kenapa engkau menangis wahai Rasulullah? Bukahkan Allah Subhanahu Wata’ala telah mengampuni semua dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.

Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menjawab: Wahai Bilal, tidakkah sebaiknya aku menjadi manusia yang bersyukur? Dan bagaimana aku tidak menangis kalau tadi malam telah turun kepadaku ayat “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi..(sampai) maka peliharalah kami dari siksa neraka”. Rasulullah Shallahu Alaihi wasallam bersabda; ‘Celakalah bagi orang yang membacanya tapi tidak mau memikirkan maknanya’.”.

Taksonomi Bloom dan Taksonomi Malik Badri

Taksonomi Bloom adalah klasifikasi tujuan belajar yang seharusnya dipegang oleh para pendidik untuk menentukan tujuan belajar anak muridnya. Klasifikasi ini dibuat oleh Benjamin Bloom pada tahun 1956, tahun 2001 direvisi oleh Krathwohl dengan membagi ke dalam dua kategori yaitu Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan Lower Order Thinking Skills (LOTS).

Berikut digram piramida dari Taksonomi Bloom.

Bloom's Taxonomy is a classification of human cognition critical to the...  | Download Scientific Diagram

Pada tingkat LOTS, terdapat tiga tahapan aspek yang meliputi: remember, understand, apply. Remember, kemampuan siswa untuk mengingat, mendaftar, mengulang, dan menirukan informasi yang didapatkannya. Understand, merujuk pada kemampuan siswa untuk menjelaskan, mengklasifikasi, menerima, dan melaporkan suatu informasi. Apply, merujuk pada kemampuan siswa dalam menggunakan, mendemonstrasikan, mengilustrasikan, dan mengoperasikan suatu informasi atau pemahaman.

Pada tingkat HOTS, terdapat tiga tahap aspek yang meliputi: analyze, evaluate, create. Analyze, merujuk pada kemampuan siswa untuk dapat mengurai, membandingkan, memeriksa, mengkritisi, dan menguji. Evaluate, merujuk pada kemampuan siswa untuk dapat melakukan evaluasi, menilai, menyanggah, memutuskan, memilih, mendukung, menduga, memprediksi. Create, merujuk pada kemampuan siswa untuk dapat mengkonstruksi, mendesain, membuat kreasi, mengembangkan, menulis, menggabungkan, dan memformulasikan.

Image
Taksonomo Bloom dalam bahasa Arab

Taksonomi Bloom adalah model yang digunakan untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan pemikiran ke dalam enam tingkat kompleksitas. Ini dapat digunakan di kelas pendidikan Islam untuk mendorong pemikiran kritis pada siswa. Meski demikian, jJika kita lihat lebih dalam berdasarkan kacamata worldview Islam, akan kita temukan bahwa versi pertama dan kedua dari Taksomoni Bloom ini, keduanya meniadakan nilai-nilai inti percaya akan Tuhan dari penilaian kompetensi kognitif siswa.

Proses berpikir (thinking process) secara Islami telah dikembangkan oleh Prof. Malik Badri dalam “Teori Tafakkur” dan terus dikembangkan oleh peneliti-peneliti selanjutnya.

Menurut Malik Badri, Tafakkur adalah rangkaian fase-fase berpikir, mulai dari berpikir mengenai benda-benda ciptaan yang ada di alam semesta sampai munculnya kesadaran akan sang Pencipta, Allah Subhanahu Wata’ala. Lompatan dari proses berpikir tentang fenomena-fenomena yang ada di alam semesta kepada kesadaran tentang Sang Pencipta inilah yang disebut Al-Ibrah atau Al-I’tibar.

Dari pengertian di atas, kita bisa melihat perbedaan yang jelas antara konsep berpikir sekuler dan konsep berpikir dalam Islam. Proses berpikir dalam konsep sekuler terkadang hanya terbatas pada upaya memecahkan masalah kehidupan dunia yang mungkin terlepas dari emosi-emosi kejiwaan. Sementara, proses berpikir dalam Islam (Tafakkur) merupakan kemampuan jiwa untuk ‘melompat’ dari pengamatan indrawi terhadap fenomena alam dunia menuu kesadaran alam akhirat (alam metafisik), keluar dari belenggu alam materi menuju ke alam spiritual yang tiada batas.

Tahapan Tafakkur menurut Malik Badri ada 4 fase;

  1. Pengetahuan. Pengetahuan yang didapat dari persepsi empiris langsung secara indrawi.
  2. Tadhawwuk. Pengungkapan rasa kekaguman terhadap keindahan objek kajian.
  3. Tafakkur. Kemampuan menghubungkan rasa kekaguman terhadap keindahan objek kajian dengan keyakinan terhadap keberadaan sang pencipta, Allah Subhanahu Wata’ala
  4. Syuhud/Bashirah. Kemampuan untuk menyaksikan bahwa alam semesta dan isinya tunduk pada perintah Allah Subhanahu Wata’ala, diatur oleh kehendaknya dan bertasbih kepada-Nya. Al-Qardhawi mengaitkan fase ini sebagai ‘muraqabah‘ atau keintiman dan interpretasi Rasulullah s.a.w terhadap istilah ‘ihsan’ yaitu menyembah Allah s.w.t seolah-olah melihatnya.

Norillah dan Sharifah Sariah telah melakukan penelitian yang mengkomparasikan Taksonomi Bloom dengan Taksonomi Malik Badri. Menurutnya, Taksonomi Bloom termasuk dalam tahap pertama dan kedua terendah dari Fase Berpikir Malik Badri. Level terendah adalah pemahaman dan pengetahuan, sedangkan level kedua adalah evaluasi, sintesis, analisis dan aplikasi. Tingkat pertama dan kedua adalah interpretasi Taksonomi Pembelajaran Bloom, yang dipikirkan dalam lingkup materi dan fisik. Tafakur tingkat ketiga dan keempat adalah Syuhud adalah kognisi spiritual, yaitu kemampuan untuk berhubungan dengan aspek spiritual.

Prof Malik Badri meletakkan level ‘tafakkur’ (depth thinking) pada level di atas taksonomi Bloom, level yang membedakan pemikiran yang sepatutnya ada pada semua orang Islam. Tafakkur bukan sekadar ‘berfikir’ sebagaimana proses berfikir yang lain, tafakkur adalah proses berfikir yang mewujudkan connection antara makhluq dengan al-khaliq ,worldly life dengan spiritual. Kita menyebutnya berfikir dengan mata hati.

Semoga ke depan akan ada peneliti yang mengkomparasikan taksonomo Bloom dan taksonomo Malik Badri dalam konteks pendidikan di Indonesia.

Sumber;

Malik Badri. (1996). Tafakur: Perspektif Psikologi Islam (U. S. Husnan, Terj.). Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.

Norillah Abdullah, & Sharifah Sariah Syed Hassan. (2012). Comparative Analysis between Bloom’s and Malik Badri’s taxanomies of thinking process. Dinive Felsei Metinler, 1(8), 55-66. http://irep.iium.edu.my/2657/

Zainun Mustafa dan Nooraida Yakob, Exploring the taxonomy phases of Malik Badri’s thinking process among students enrolled in Tauhidic Science Education for Biology Subject. Available from: https://www.researchgate.net/publication/338104085_Exploring_the_taxonomy_phases_of_Malik_Badri’s_thinking_process_among_students_enrolled_in_Tauhidic_Science_Education_for_Biology_Subject [accessed Jun 23 2021].

Muhammad Bahrul Ulum, Sepuluh Prinsip Dasar Pembelajaran Unggul Perspektif Tafsir Surat Ali Imran ayat 190-191, The International Conference on Arabic Language Education and Literature and Islamic Values; between Expectation and Realitation, UPI, Bandung, 11-12 November 2016, Link Presentasi.

Jumal Ahmad, Bapak Psikologi Islam Dunia, Prof. Malik Badri Telah Tiada, https://ahmadbinhanbal.com/bapak-psikologi-islam-dunia-prof-malik-badri-telah-tiada/, Diakses 23 Juni 2021