Antara Membaca, Menghafal dan Tadabbur Al-Quran Di Bulan Ramadhan

Ramadhan identik dengan Al-Quran, di bulan inilah Al-Quran diturunkan dan di bulan ini pula Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam menyetorkan hafalannya kepada Malaikat Jibril as, dan di akhir hidupnya sebanyak dua kali setoran hafalan.

Pengalaman saya waktu ngapal quran, waktu Ramadhan lebih banyak saya gunakan untuk menghafal dan mengulang hafalan dari pada membaca Al-Quran karena saya mau ambil berkah waktu Ramadhan dan lingkungan pun dibuat mendukung untuk banyak menghafal Al-Quran.

Anjurannya memang waktu Ramadham kita banyakin membaca Al-Quran, tetapi karena ingin mengejar target hafalan, saya perbanyak waktu untuk menghafal dan mengulang hafalan.

Jika saya perbanyak membaca Al-Quran, saya tidak bisa mengulang-ulang apa yang telah saya hafal. Jika saya perbanyak menamatkan Al-Qur’an, dua, tiga, sampai empat kali, maka saya tidak bisa mengulang-ulang juz yang saya hafal di setiap tamat bacaan.

Jika saya muraja’ah, maka insyaallah ta’ala, setelah Ramadhan nanti saya bisa menyambung kembali hafalan.

Ini bagi saya dulu waktu lagi ngejar target hafalan. Setelah sekarang selesai hafalan, saya mau memperbanyak bacaan dan juga hafalan. Mungkin saya tambah lagi dengan membaca tafsirnya biar makin banyak dapat pahalanya.

Alhamdulillah, pagi ini di awal Ramadhan saya mendapatkan kiriman WAG fatwa dari Syaikh Utsaimin tentang pertanyaan manakah yang lebih utama di bulan Ramadhan apakah menghafal atau membaca Alquran.

Berikut ini fatwa beliau dalam bahasa Arab.

📌ﺃﻳﻬﻤﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺣﻔﻆ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻣﺮﺍﺟﻌﺘﻪ ﻭﺗﺜﺒﻴﺖ ﺍﻟﺤﻔﻆ .. ﺃﻡ ﺗﻼﻭﺗﻪ؟

📝ﺳﺆﺍﻝ ﻫﺎﻡ ﻳﺨﻄﺮ ﻓﻲ ﺑﺎﻝ ﺍﻟﺤﻔﻈﺔ .. ﻭﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺴﻴﺮﻭﻥ ﻓﻲ ﻃﺮﻳﻖ ﺣﻔﻆ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ .. ﻫﻞ ﺍﺗﺎﺑﻊ ﺣﻔﻈﻲ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﺃﺛﺒﺖ ﺣﻔﻈﻲ .. ﺃﻡ ﺍﺭﻛﺰ ﻋﻠﻰ ﺗﻼﻭﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻟﻜﻲ ﺍﺧﺘﻢ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻋﺪﺓ ﺧﺘﻤﺎﺕ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ؟ ..

✍🏻 ﻟﻘﺪ ﺳﺌﻞ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ .. ﻓﻜﺎﻧﺖ ﺇﺟﺎﺑﺘﻪ
:
ﺃﻳﻬﻤﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺣﻔﻆ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺃﻡ ﺍﻟﺘﻼﻭﺓ ؟
ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ :
ﺍﻷﻓﻀﻞ ﺣﻔﻆ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻷﻥ ﺣﻔﻆ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ , ﺣﻔﻆ ﻭﺗﻼﻭﺓ ﻭﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﺫ ﺩﺧﻞ ﺭﻣﻀﺎﻥِِ ﻧﺸﻂ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﻔﻆ ﻭﺣﻔﻆ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻓﻴﻜﻮﻥ ﻫﺬﺍ ﺃﻓﻀﻞ ﻷﻥ ﺃﺟﺮ ﺍﻟﺘﻼﻭﺓ ﻻ ﻳﻔﻮﺕ ﺇﺫ ﺃﻥّ ﻟﻪ ﺑﻜﻞ ﺣﺮﻑ ﻋﺸﺮ ﺣﺴﻨﺎﺕ ﺳﻮﺍﺀ ﻋﻦ ﻇﻬﺮ ﻗﻠﺐ ﺃﻭ ﺑﺎﻟﻤﺼﺤﻒ .
📚 ﻣﻦ ﺷﺮﻳﻂ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺭﻣﻀﺎﻧﻴﺔ ﻟﻠﺸﻴﺦ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ

📝ﻭﻳﻮﺟﺪ ﺍﺳﺘﺸﺎﺭﺓ ﻟﻠﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ – ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ – ، ﻳﻘﺮﺭ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﻔﻆ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻣﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ، ﻭﺫﻛﺮ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﻣﻨﻬﺎ :

-1 ﺃﻧﻚ ﺧﻼﻝ ﺍﻟﺤﻔﻆ ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺟﻌﺔ ﺳﺘﻘﺮﺃ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ .
-2 ﺃﻧﻚ ﺳﺘﻜﺮﺭ ﺍﻵﻳﺔ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻣﺮﺓ ، ﻭﻗﺪ ﻳﺘﻌﺪﻯ ﻋﺸﺮﺍﺕ ﺍﻟﻤﺮﺍﺕ .
-3 ﺃﻧﻚ ﺗﺤﻔﻆ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺑﺄﺟﺮ ﻛﺒﻴﺮ ﻟﻤﺎ ﻟﺮﻣﻀﺎﻥ ﻣﻦ ﻣﻨﺰﻟﺔ ﻭﻣﻀﺎﻋﻔﺔ ﻟﻸﺟﺮ !

┈┈ ••✦✿✦•• ┈┈

Syaikh Utsaimin ditanya perihal seseorang ketika Ramadan, manakah yang paling utama antara menghafal, memurajaah dan menguatkan hafalan atau membaca Alquran.

Simpulan dari jawaban beliau bahwa menghafal Al-Quran ketika Ramadan lebih diutamakan dari membaca Al-Quran dikarenakan sebab-sebab berikut:

  1. Ketikak menghafal dan memurajaah hafalan, secara tidak langsung engkau juga membacanya.
  2. Engkau akan mengulang satu ayat lebih dari sekali dan bisa berpuluh-puluh kali.
  3. Menghafal ketika Ramadan mendapatkan pahala yang besar karena kemuliaan Ramadan dan pahala yang berlipat.

Pertanyaan lain yang sering ditanyakan adalah perihal mengkhatamkan Al-Quran atau membaca Al-Quran secara Tadabbur meski tanpa Khatam.

Saya merujuk jawaban Dr. Kamilin Jamilin ketika beliau menjawab pertanyaan di atas.

Masa Ramadan ni, sebaiknya dikhatamkan bacaan al-Quran atau dibaca secara tadabbur walaupun tidak khatam?

======================================================

Saya menerima banyak soalan ini.

Jawapan saya, ia bergantung kepada keadaan si pembaca.

Khatam itu ada dua jenis:

  1. Khatam secara bacaan (qiraah).Khatam jenis ini boleh dilakukan dengan pantas bagi yang mampu membaca dengan lancar.
  2. Khatam secara memahami (tadabbur). Khatam jenis ini mengambil masa yang lama.

Sekiranya seseorang itu pada ketika selain Ramadan sering mengikuti kelas-kelas tafsir atau tadabbur, maka digalakkan baginya mengkhatamkan al-Quran secara bacaan ketika Ramadan. Manakala sekiranya dia tidak begitu meluangkan masa bersama al-Quran sebelum Ramadan, maka digalakkan baginya membaca al-Quran secara tadabbur supaya dapat difahami isinya untuk diambil pengajaran.

Bukankah para ulama terdahulu ramai yang mengkhatamkan bacaan al-Quran setiap hari atau selang sehari ketika Ramadan? Benar, kerana kehidupan seharian mereka sebelum Ramadan sentiasa bersama al-Quran, yakni sebelas bulan sebelumnya mereka habiskan untuk mentadabburi al-Quran.

Selain itu mereka juga memahami intipatinya dengan baik. Justeru mereka cuba merebut peluang ketika Ramadan untuk membaca al-Quran sebanyak yang mungkin.Apa yang penting dari seruan Ramadan bulan al-Quran ialah, kita meluangkan banyak waktu kita bersama al-Quran baik secara bacaan atau kefahaman.

-Dr. Kamilin Jamilin-

Ibnul Qoyyim rahimahullah menjawab dalam kitabnya Zaadul Ma’aad pertanyaan di atas sebagai berikut.

والصواب في المسألة أن يقال: إن ثواب قراءة الترتيل والتدبر أجل وأرفع قدرا، وثواب كثرة القراءة أكثر عددا:فالأول: كمن تصدق بجوهرة عظيمة، أو أعتق عبدا قيمته نفيسة جدا. والثاني: كمن تصدق بعدد كثير من الدراهم، أو أعتق عددا من العبيد قيمتهم رخيصة

“Adapun yang benar dalam masalah ini adalah sesungguhnya pahala membaca Al-Quran dengan tartil dan tadabbur lebih mulia dan lebih agung. Adapun pahala banyak bacaan Al-Qur’an (tanpa tadabbur) banyak secara kuantitasnya. Orang yang pertama bagaikan bersedekah dengan satu buah permata (batu mulia) yang indah dan mahal atau membebaskan satu orang budak yang harganya mahal, sedangkan orang kedua bagaikan bersedekah dengan keping-keping dirham yang banyak atau membebaskan beberapa orang budak akan tetapi harganya murah.”

Maka, apapun rencana anda Ramadhan ini, memperbanyak hafalan atau bacaan Al-Quran, semuanya baik, dan akan diterima Allah jika kita lakukan dengan ikhlas, hanya pamrih kepada Alla saja.

Pilihlah apa yang kiranya lebih pantas untuk diri kita kemudian istiqamah, karena kita lebih tahu akan keadaan diri kita masing-masing.

Ya Allah, izinkan kami bertemu dengan bulan Ramadhan, kami ingin lebih dekat dengan-Mu, kami ingin dekat dengan kitab-Mu. Selama ini kami banyak menjauh dari-Mu, maka izinkanlah Ramadhan ini sebagai sarana kami mendekat kepada-Mu.

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com

Tinggalkan komentar