Baik Sangka

Thalhah bin Abdurahman bin Auf adalah orang yang paling pemurah di zamannya. 

Suatu ketika isteri beliau berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih buruk daripada sahabat-sahabatmu. Jika engkau kaya, mereka selalu datang bertandang. Jika engkau miskin, mereka terus meninggalkan dirimu.

Talhah menjawab: “Demi Allah, sebaliknya itu tanda kebaikan mereka kepada kita. Mereka bertandang di saat kita mampu memuliakan mereka. Mereka menjauh di saat kita tidak mampu memuliakan mereka.”

***

Imam al-Mawardi berkata: “Lihatlah bagaimana beliau memaknai perbuatan buruk dengan tafsiran yang baik kerana kebersihan hatinya. Kebersihan hati akan memberikan kerehatan di dalam hati.”

Baik sangka, hati manusia akan terasa tenang dan tentram melihat berbagai peristiwa yang menimpa dirinya.

Buruk Sangka, hati manusia akan gelisah dan tidak terkontrol akibat masukan-masukan buruk yang berkeliaran di hati dan pikiran.

Kejadian buruk apabila dihadapi dengan buruk sangka, akan bertambah buruk pula hasil yang akan diperoleh. Bahkan memperburuk keadaan. 

Kejadian baik apabila dihadapi dengan baik sangka, sedikit demi sedikit akan terselesaikan dan mereda, membuat hati dan pikiran lebih tenang.

Gelisah atau tenang yang diharapkan? Jikalau, gelisah yang diharap maka hadapi peristiwa buruk  dengan prasangka buruk. 

Tapi, jika mengharap tenang maka hadapi semua peristiwa buruk dengan prasangka baik yang akan berbuah ketenangan dan ketentraman hati bagi yang melaksanakannya.

ICD –  Islamic Character Development 

Tinggalkan komentar