Batalnya Ibadah Haji dan Ibrah dari Hudaibiyah

Siapa yang gak ingin bisa beribadah di tempat yang suci dan penuh berkah di kota Makkah dan Madinah. Dan bisa menyempurnakan rukun Islam yang kelima, rasanya ibadah jadi lebih sempurna. Namun kegembiraan umat Islam Indonesia yang bisa naik haji tahun ini akan kandas karena berita yang menyebar bahwa Indonesia tidak akan dapat kuota Haji tahun ini.

Masalah ini menjadi hangat diperbincangkan setelah Kerasaan Saudi mengumumkan 11 negara yang boleh masuk Saudi namun Indonesia tidak masuk dalam daftar tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan penyebaran Covid 19 yang masih terus mendera dunia sampat saat ini.

Banyak reaksi yang muncul dari keputusan tersebut. Warganet mempertanyakan Indonesia tak diperbolehkan masuk sementara AS diizinkan padahal kasus Covid 19 lebih besar dari Indonesia, negeri Jiran Malaysia malah mendapatkan tambahan kuota 10.000 orang.

Sebuah surat resmi dari Duta Besar Pelayan Dua Kota Suci untuk Republik Indonesia yaitu Essam bin Ahmed Abid Athaqafi dikirimkan kepada Ketua DPR RI, Puan Maharani.

Surat tersebut menjelaskan bahwa pemberitaan yang disampaikan di sejumlah media massa atas pernyataan Dr. Sufmi Dasco Ahmad bahwa Indonesia tidak memperoleh kuota haji dan pernyataan Ace Hasan Syadzly bahwa ada 11 negara yang telah memperoleh kuota haji dari KSA pada tahun ini dan Indonesia tidak termasuk merupakan BERITA TIDAK BENAR dan TIDAK DIKELUARKAN OTORITAS RESMI KSA.

Kerajaan Saudi lewat surat di atas memberikan informasi belum mengeluarkan instruksi apa pun mengenai pelaksanaan Haji tahun 2021.

Hoaks lain yang tersebar di masyarakat adalah kabar yang menyebutkan bahwa penyelenggaraan Haji tahun 2021 akan batal karena Indonesia menunggak pembayaran kepada pemerintah Saudi Arabia dan bahwa Indonesia belum membayar bea akomodasi jamaah karena dana haji digunakan untuk membiayai proyek infrastruktur.

Informasi yang kami terima bahwa Pemerintah Indonesia tidak memiliki hutang kepada Saudi dan Indonesia sudah siap membayar kontrak pelayanan haji tahun ini namun pihak penyedia Saudi belum ada keputusan ada haji atau tidak.

Semoga berita ini menjadi kabar gembira bagi seluruh umat Islam di Indonesia, bahwa Insya Allah kita doakan Haji tahun ini akan terlaksana sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Bagaimana jika tahun ini tidak ada Haji lagi?

Jika memang proses ibadah haji tahun 2021 ini batal seperti tahun sebelumnya karena alasan pandemi. Maka berdasarkan informasi dari Plt Haji dan Umrah bahwa jamaah haji yang tertunda keberangkatannya tahun ini akan berangkat tahun depan, 2022. Imbas Pandemi, keberangkatan jamaah haji ditunda selama dua tahun atau hingga 2022 nanti.

Menghadapi kenyataan ini, saya hanya bisa mengajak umat Islam untuk bersabar menyesuaikan diri dengan ajaran Islam dalam menghadapi wabah dan mengikuti arahan para ulama yang selalu berada di atas jalan yang lurus. Mari kita pertimbangkan Hadis Nabi dan juga apa yang dicontohkan oleh para Salaf Salih terkemuka dahulu.

Rasulullah SAW. bersabda: Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya. (HR. Bukhari & Muslim).

Pada masa pemerintahan Umar ra, terjadi ‘Wabah Amwas’ di sebuah kota di Palestina, 30 km dari Baitul Makdis dan banyak Sahabat Nabi menjadi korban. Al Jauhari berkata “ini adalah wabah pertama di Islam,”.

Hari itu Khalifah Umar bin Khattab ra bersama para sahabatnya berjalan dari Madinah menuju negeri Syam. Mereka berhenti didaerah perbatasan sebelum memasuki Syam karena mendengar ada wabah Tha’un Amawas yang melanda negeri tersebut. Sebuah penyakit menular, benjolan diseluruh tubuh yang akhirnya pecah dan mengakibatkan pendarahan.

Abu Ubaidah bin Al Jarrah, seorang yang dikagumi Umar ra, sang Gubernur Syam ketika itu datang ke perbatasan untuk menemui rombongan. Dialog yang hangat antar para sahabat, apakah mereka masuk atau pulang ke Madinah. Umar yang cerdas meminta saran muhajirin, anshar, dan orang-orang yang ikut Fathu Makkah. Mereka semua berbeda pendapat.

Bahkan Abu Ubaidah radhiyallahu anhu menginginkan mereka masuk, dan berkata mengapa engkau lari dari takdir Allah Subhanahu Wata’ala? Lalu Umar radhiyallahu anhu menyanggahnya dan bertanya. Jika kamu punya kambing dan ada 2 lahan yang subur dan yang kering, kemana akan engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah. Sesungguhnya dengan kami pulang, kita hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yang lain.

Akhirnya perbedaan itu berakhir ketika Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu mengucapkan hadist Rasulullah Shallallahu Alaihiwasallam. “Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya” (HR. Bukhari & Muslim)

Mereka pun pulang ke Madinah. Umar radhiyallahu anhu merasa tidak kuasa meninggalkan sahabat yg dikaguminya, Abu Ubaidah radhiyallahu anhu. Beliau pun menulis surat untuk mengajaknya ke Madinah.

Namun beliau adalah Abu Ubaidah radhiyallahu anhu, yang hidup bersama rakyatnya dan mati bersama rakyatnya. Umar radhiyallahu anhu pun menangis membaca surat balasan itu. Dan bertambah tangisnya ketika mendengar Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, Suhail bin Amr, dan sahabat-sahabat mulia lainnya radiyallahuanhum wafat karena wabah Tha’un di negeri Syam.

Muadz bin Jabal sendiri kehilangan anak dan keluarganya sebelum beliau sendiri meninggal, dan selalu dengan sabar berkata sebagaimana Abu Ubaidah pernah berkata kepadanya, “Sesungguhnya ini merupakan rahmat untuk kalian semua, merupakan doa Nabi kalian, serta banyak orang sholeh yang meninggal sebelum kalian.”

Al Harits bin Hisyam, sahabat Nabi (radhiallahu’anhuma), pindah ke Syam sebelum wabah menerpa dengan 70 anggota keluarganya, dan semuanya meninggal kecuali 4 orang. Beliau termasuk yang meninggal.

Syurahbil bin Hasanah, panglima besar pada penaklukan kekaisaran Persia dan Romawi dan diantara para jenderal pasukan Baitul Makdis (Yerusalem), juga meninggal karena wabah ini.

Fadl bin Abbas, sepupu Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, juga meninggal karena wabah ini. Yazid bin Abu Sofyan, saudara dari Muawiyah, juga meninggal. Sahabat besar dan orator masa pra-Islam dan Islam, Suhail bin Amr bersama anaknya, Abu Jandal, begitu pula Abu Malik Al-Asy’ari, dan masih banyak lagi sahabat dan orang-orang sholeh meninggal karena wabah ini. 40 anggota keluarga Khalid bin Al Wahid meninggal pada wabah Amawas.

Tercatat sekitar 25.000 hingga 30.000 yang terkena wabah di daerah yang terdampak tersebut, dan hanya 6.000 yang selamat.

Pada akhirnya, wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Kecerdasan beliau lah yang menyelamatkan Syam. Hasil tadabbur beliau dan kedekatan dengan alam ini. Amr bin Ash berkata: Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jauhilah dan berpencarlah dengan menempat di gunung-gunung.

Mereka pun berpencar dan menempati gunung-gunung. Wabah pun berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan yang dibakar.

Pelajaran besar dari kisah ini adalah pentingnya Isolasi, menjaga kebersihan dan penutupan area umum dari berkumpul banyak orang.

Batalnya Haji dan Ibrah dari Hudaibiyah

Jika memang haji tahun ini dibatalkan kembali oleh Pemerintah Saudi karena wabah Covid 19 masih tinggi dan demi menjaga keselamatan para jamaah. Maka ketahuilah, bahwa pembatalah ibadah haji/umrah juga pernah terjadi pada zaman Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pada tahun keenam hijriyah.

Kala itu Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam yang telah hijrah ke Madinah bermimpi memotong rambutnya, memasuki Ka’bah, dan memegang kunci Ka’bah. Nabi Muhammad lalu menyampaikannya kepada para sahabat dan memutuskan untuk melakukan umrah. Umrah merupakan salah satu kesempatan mengunjungi Mekkah sekaligus beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Mendengar kabar itu, para sahabat sangat gembira karena kerinduan yang sudah lama terpendam untuk berkunjung ke Mekkah, Ka’bah, rumah Allah.

Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wasallam beserta kaum Muslimin berjumlah 1.000 jemaah pun bersiap-siap berangkat menuju Makkah.

Namun di wilayah Hudaibiyah sekitar 22 km dari Makkah, Nabi dan para sahabat ditahan oleh Kaum Quraisy Mekkah. Mereka tak boleh melaksanakan umrah dan terpaksa kembali ke Madinah.

Perjanjian Hudaibiyah berisi sejumlah poin yakni, pertama, kaum Muslimin pada tahun itu tidak boleh melaksanakan umrah. Kedua, di tahun berikutnya, tahun ketujuh Hijriah, Rasulullah dan para sahabat boleh melaksanakan umrah selama tiga hari. Kaum Quraisy akan menyingkir dari Mekkah dan kaum Muslimin tidak boleh bersenjata.

Poin ketiga adalah mengizinkan kaum Quraisy yang kembali ke Madinah mengikuti Nabi Muhammad SAW dan sebaliknya mengizinkan kaum Muslimin yang kembali ke Mekkah. Poin keempat adalah gencatan perang selama 10 tahun. Nabi Muhammad menerima perjanjian Hudaibiyah itu sehingga umrah tak bisa terlaksana.

Seperti peristiwa Hudaibiyah yang membuat Rasulullah batal ke Makkah melaksanakan ibadah umrah, pembatalan ibadah haji tahun 2020 dan 20201 ini, juga sebaiknya dimaknai dengan hati yang ikhlas. Jamaah yang batal berangkat dapat berbaik sangka dan melihat sisi positif dari pembatalan keberangkatan ibadah haji ini. Misalnya, baik untuk kesehatan dan keselamatan dari serangan virus corona yang mematikan.

Ada beberapa pelajaran dari Hudaibiyah yang bisa kita petik untuk merefleksikan batalnya haji dua tahun ini.

  • Semua terjadi atas kehendak Allah Subahanu Wata’ala, tidak ada satu pun yang lemas dari perhatian dan ilmu Allah. Pasti ada hikmah agung dari ibadah haji yang dibatalkan ini, disinilah iman kita teruji untuk selalu mencari hikmah dari setiap ketetapan Allah untuk hamba-Nya termasuk kita.
  • Segala sesuatu punya aspek fisik dan metafisik. Ssecara fisik kita tidak bisa pergi haji, namun secara metafisik, spirit haji bisa terus kita nyalakan di dalam diri. Siapa yang tidak bisa menunaikan haji tahun ini tidak perlu risau dan gusar. Tidak ada yang hilang, dan manajemen Allah berbeda dengan manajemen manusia. Jika kita sudah niatkan ibadah haji namun terhalang karena sesuatu, maka di catatan-Nya, kita sudah menunaikan ibadah itu, insya Allah. Sebuah hadis menyebutkan bahwa suatu amalan itu bergantung pada niatnya.
  • Kehidupan di dunia penuh pancaroba, penuh ujian. Dunia tidak sempurna, Allah Subhanahu Wata’ala menjadikan demikian agar cukup ruang bagi manusia untuk menyempurnakannya. Dunia memang diciptakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala sebagai tempat ujian tentang beramal baik. Adanya bencana covid 19 yang membuat dunia Islam tidak bisa melaksanakan haji adalah ujian agar kita lebih mendekat lagi kepada Allah dan terus berbuat baik dimana saja dan kapan saja.

Ibadah Haji Hanya Sekali Seumur Hidup

Mungkin ada orang yang sudah sering berhaji dan di masa pandemi ini tidak bisa lagi menunaikan ibadah haji, bagi mereka saya sampaikan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait Ibadah Haji bahwa Ibadah Haji Hanya Sekali Seumur Hidup. Dala hal ini MUI mengeluarkan rekomendasi Rakernas tahun 1984 tentang kewajiban ibadah haji.

  1. Ibadah haji itu hanya diwajibkan sekali seumur hidup dan dengan syarat istitha’ah yang sangat luas.
  2. Kepada umat Islam yang sudah beberapa kali melaksanakan ibadah Haji akan lebih bermanfaat jika dana haji itu disalurkan untuk amal/jariyah yang dapat dirasakan manfaatnya oleh umum disamping mendapatkan pahala yang terus mengalir bagi yang melaksanakannya. (Sumber: Fatwa MUI).

Jika tahun ini tidak bisa melakukan ibadah haji, maka ada banyak ibadah lain yang bisa dilakukan untuk orang-orang disekitarnya, terlebih lagi bagi orang yang sudah haji berkali-kali.

Anjuran sekali seumur hidup dalam ibadah haji dan lebih mementingkan kehidupan orang-orang sekitar juga dikuatkan oleh argumen para ahli ilmu yang lain.

Pada awal tahun 1990-an Presiden Universitas Al-Azhar, Dr. Abdul Fattah Al-Sheikh, mengatakan bahwa “Jika seorang Muslim menunaikan haji dengan benar sekali, maka menawarkan bantuan keuangan untuk pengobatan orang sakit dan untuk membantu orang miskin lebih dapat diterima daripada mengulangi haji sekali atau dua kali lagi.”

Dr. Hamid Mahmoud Ismail, seorang profesor di Universitas mengatakan bahwa sedekah lebih disukai daripada haji kedua atau ketiga karena kebutuhan orang-orang sangat penting dan untuk memenuhi kebutuhan itu adalah sesuatu yang penuh dengan imbalan, bahwa di setiap negara ada orang yang membutuhkan.

Sheikh Salah Nassar, kepala Imam Kementerian Wakaf Mesir, juga mengatakan bahwa menyumbang untuk proyek-proyek amal dan kemanusiaan lebih disukai daripada haji kedua atau ketiga, cukup bagi seorang Muslim untuk melakukan haji sekali seumur hidupnya dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Seorang Muslim harus dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi keuangannya. Yang terpenting jangan berputus asa, bertawakal kepada Allah, tetap sabar dan jangan bersedih, serta berusaha mencari pahala secara utuh tanpa hisab.

Pada saat wabah Covid 19 masih menjalar di seluruh dunia, adalah waktunya beberapa orang untuk:

  • Tetap menjaga pengaturan keuangan haji 2021 dan niatkan haji tahun 2022.
  • Memberikan bantuan keuangan kepada kerabat miskin dan membutuhkan yang menderita akibat pandemi; membuat pengaturan baru untuk haji 2022.

Semoga wabah Corona di dunia segera berakhir dan umat Islam bisa beribadah seperti biasa kembali.

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com dari berbagai sumber.

Tinggalkan komentar