Mengenal Beberapa Kitab Tafsir dan Ilmu Tafsir

Isi kandungan al-Quran hanya dapat diamalkan jika memahami makna ayatnya.

Memahami makna ayat al-Quran yang benar hanya dapat ditempuh dengan jalan memelajari bagaimana pemahaman para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Merekalah generasi pertama yang mendapatkan penjelasan kandungan al-Quran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara langsung.

Penjelasan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut secara otentik hanya diwarisi oleh orang-orang shalih generasi berikutnya. Yakni generasi tabi’in.

Demikian seterusnya hingga akhirnya pemahaman yang benar terhadap makna al-Quran hanya dapat dijumpai dengan jalan periwayatan.

Kemudian, ketika era pembukuan ilmu tiba, para ulama yang memiliki riwayat keilmuan tentang tafsir al-Quran mulai menuliskannya dalam lembaran-lembaran.

Terwujudlah kitab yang khusus mendokumentasikan tafsir al-Quran.

Manusia pada zaman sekarang hanya dapat menggali pemahaman yang benar terhadap makna ayat-ayat al-Quran dari kitab-kitab tafsir al-Quran tersebut.

Inilah alasan utama kenapa seorang muslim perlu mengenal nama-nama kitab tafsir dan penulisnya. Tentu saja yang lebih penting lagi adalah memelajari isinya.

Bagi para penuntut ilmu syar’i, terutama bidang al-Quran dan tafsir, mengetahui nama dan penulis kitab tafsir adalah sebuah wawasan yang wajib.

Dengan mengetahui nama, penulis, serta kandungan global buku tafsir, penuntut ilmu syar’i di bidang al-Quran dan tafsir akan menjadi mudah dari mana ia harus memulai proses belajarnya.

Secara ringkas, tulisan ini mengetengahkan buku-buku tafsir dan ilmu tafsir dilanjutkan dengan tambahan bahasa tentang buku tafsir dari penulis Muslim dan penulis Barat dalam Bahasa Inggris dan terakhir tentang tafsir Al-Quran dalam bahasa Indonesia.

Daftar Isi

Mengenal Kitab-Kitab Tafsir

Tafsir Ibnu Abbas

Dinisbahkan kepada Ibnu Abbas, seorang mufasir besar pada masa Sahabat, kitab ini pernah dicetak di Mesir dengan nama “Tanwir al-Miqyas min Tafsir Ibnu Abbas” yang telah dikumpulkan oleh Abu Thahir Muhamamd bin Ya’qub al-Fairuz Abadi pengarang kitab Qamus al-Muhith.

Seorang orientalis bernama Goldzheir, telah membuat tuduhan kepada Ibnu Abbas dengan terlalu banyak mengambil berita dari Ahlu Kitab. Namun tidaklah Ibnu Abbas demikian, karena ia terkenal dengan kemampuan syair arabnya dan banyaknya riwayat dari Ibnu Abbas yang berbeda dalam shahih dan dhaifnya, para ulama telah meneliti jalur riwayat dari Ibnu Abbas, dan di antara jalur riwayat yang paling terkenal adalah:

  1. Jalur Muawiyah bin Shalih dari Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas, jalur ini yang paling baik.
  2. Jalur Qais bin Muslim al-Kuufi dari Atha’ bin as-Saib dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, jalur ini shahhih dengan syarat dari Syaikhain.
  3. Jalur Ishaq dari Muhamamad bin Abi Muhammad maula Alu Zaid bin Tsabit dari Ikrimah atau Said bin Jubair dari Ibnu Abbas.
  4. Jalur Ismail bin Abdurrahman as-Suddi al-Kabir dari Abi Malik atau Abi Shalih dari Ibnu Abbas, dan Ismail as-Suddi adalah orang syiah.
  5. Jalur Abdul Malik bin Juraij dari Ibnu Abbas, jalur ini buth penelitian
  6. Jalur ad-Dhahak bin Muzahim al-Hilali dari Ibnu Abbas, jalur ini tidak diterima
  7. Jalur Atiyah al-Aufi dari Ibnu Abbas, jalur ini tidak diterima.
  8. Jalur Muqatil bin Sulaiman al-Azdi, dan Muqatil dianggap dhaif
  9. Jalaur Muhammad bin as-Saib al-Kalbi dari Abi Shalih dari Ibnu Ababs, al-Kalbi terkenal dalam Tafsir, tetapi ada yang mengatakan untuk berijma’ meninggalkan beritanya.[1]

Jami al-Bayan fi Tafsir al-Quran karangan at-Thabari

Ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Thabari (310 H), Ibnu Jariri adalah seorang imam dalam qira’ah dan Tafsir serta mumpuni dalam ilmu hadits dan ia juga memiliki mazhab sendiri dalam fiqih dalam ikhtiyaratnya dan banyak diikuti orang. Kitab tafsirnya memiliki beberapa kelebihan di antaranya: selalu berpatokan para riwayat, mentarjih perkataan yang ada, menyebutkan I’rab dan detil dalam menyimpulkan suatu hukum.

Dua syaikh telah berusahan untuk mentahqiq kitab ini, yaitu Mahmud Muhamamad Syakir dan Ahmad Muhammad Syakir beserta ta’liq dan takhrij dari hadits-hadits yang ada.[2]

Al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-Aziz karangan Ibnu ‘Atiyah

Ibnu Atiyah adalah salah seorang qadhi (hakim) yang terkenal di Andalusia, dalamm kitabnya tersebut ia banyak meringkas riwayat tafsir, kitab ini terdiri sekitar 10 jilid.

Tafsir al-Quran al-Adzim karangan Ibnu Katsir

Ibnu Katsir sangat teliti dalam mentafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan menukil perkataan para salafus sholeh. Ia menafsirkan ayat dengan ibarat yang jelas dan mudah dipahami. Menerangkan ayat dengan ayat yang lainnya danmembandingkannya agar lebih jelas maknanya. Beliau juga menyebutkan hadits-hadits yang berhubungan dengan ayat tersebut dilanjutkan dengan penafsiran para sahabat dan para tabi’in.

Beliau juga sering mentarjih diantara beberapa pendapat yang berbeda, juga mengomentari riwayat yang shoheh atau yang dhoif(lemah).mengomentari periwayatan isroiliyyat. Dalam menafsirkan ayat-ayat hukum, iamenyebutkan pendapat para Fuqaha (ulama’ fiqih) dengan mendiskusikan dalil-dalilnya, walaupun tidak secara panjang lebar. Imam Suyuthy dan Zarqoni menyanjung tafsir ini dengan berkomentar ;” Sesungguhnya belum ada ulama’ yang mengarang dalam metode seperti ini “.[3]

Mafatih al-Ghaib karangan Fakhr ar-Razi

Fakhruddien ar-Razi menulis berbagai karya yang berkaitan dengan al-Quran. Ia menulis Mafatih al-Ghaib, Buku tafsir ini ditulis kurang lebih selama 8 tahun, yaitu dari tahun 595-603 M, tulisan lainnya seperti Asrar at-Tanzilwa Anwar at-Ta’wil, Khalq al-Quran, Tafsir surat Fatihah, Tafsir surat al-Baqarah, at-Tanbih ala ba’dh al-Asrar al-Mau’idhah fi ba’dhi ayat al-Quran, Asas Taqdis, Nihayat al-I’jaz fi Dirayatil I’jaz, Ismatul Anbiya’. [4], menanggapi tafsirnya ini para ulama mengatakan bahwa dalam tafsirnya itu semuanya ada kecuali tafsir.

Al-Bahr al-Muhith karangan Abu Hayan

Tafsir ini terdiri dari kitab delapan jilid besar,di dalamnya Abu Hayan banyak menyebutkan tentang I’rab, nahwu serta menyebutkan ikhtilaf ulama nahwu dan mendiskusikannya, sehingga kitab ini lebih dekat ke nahwu daripada tafsir.

Pada kitab ini Abu Hayan banyak menukil dari Zamakhsyari dan Ibnu Atiyah, terutama dalam masalah nahwu,meski demikian ia tidak setuju dengan pemahaman muktazilah, dan banyak dibvantah pada kitab tersebut. Selain itu, ia juga berpegangan pada kitab at-Tahrir wa at-Tahbir li aqwal aimmah at-Tafsir karangan gurunya; Ibnu an-Nuqaib. [5]

Al-Kasyaf ‘an Haqaiq at-Tanzil wa ‘Uyun at-Takwil karangan az-Zamakhsyari

Kitab tafsir karangannya memiliki keunggulan dari sisi keindahan al-Qur’an dan balaghahnya yang mampu menyihir hati manusia, mengingat kemumpunian beliau dalam bahasa Arab dan pengetahuannya yang mendalam mengenai sya’ir-sya’irnya. Tetapi ia membawakan hujjah-hujjah itu untuk mendukung madzhab muktazilahnya yang batil di mana ia memaparkannya dalam ayat-ayat al-Qur’an melalui pintu balaghah. Karena itu, harus berhati-hati dengannya, khususnya bagi pemula dalam bidang ini. [6]

Al-Jawahir fi Tafsir al-Quran karangan Syaikh Thanthawi Jauhari

Dalam kitab tafsir ini banyak dicantumkan pembahasan tentang ilmu alam dan keajaiban makhluk dan menafsirkan al-Quran sesuai dengan teori ilmu modern bahkan untuk memperjelas ia cantumkan gambar-gambar pada kitab tersebut, seakan-akan kitab ini adalah buku panduan belajar anak sekolah.

Kita amat menyayangkan cara tafsir yang ditempuh syaikh Thanthawi ini, sehingga para peneliti menyamakannya dengan tafsir Fakhri Razi bahwa dalam kitabnya semuanya ada kecuali tafsir.[7]

Tafsir al-Manar karangan Syaikh Rasyid Ridha

Nama tafsir ini adalah Tafsir al-Quran al-Hakim,dan diberi nama al-Manarkarena disandarkan kepada majalah al-Manar yang menerbitkan tafsir ini. kitab ini termasuk kitab tafsir yang bagus, tujuan dari kitab ini adalah memahami al-Quran sebagai agama yang menunjuki manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.[8]

Fi Dhilal al-Quran karangan Sayid Qutb

Kitab ini terdiri dari delapan jilid buku, penulis menafsirkannyadibawah cahaya al-Quran sebagaimana ia sebutkan pada pendahuluan kitabnya, ia sampai pada pendapat bahwa manusia pada zaman ini sampai padaperpecahan zaman dan pertentangandan tidak ada solusinya kecuali dengan kembali pada islam, dan itu tidak bisa ditempuh kecuali dengan jalan berhukum dengan syariat Allah, berhukum dengan manhaj Allah adalah termasuk iman,dari hal inilah sayid qutrb memulai tafsirnya,iamenyebutkan munasabah antara ayat,menyebutkan atsar yang shahih dan disertai denganpembahasan bahasa.[9]

Tafsir al-Bayan li al-Quran al-Karim karangan ‘Aisyah Abdurrahman bint as-Shathi’

Bintu Syathi menafsirkan al-Quran dengan mempedalam pada sastra arab, pada pendahuluan kitabnya ia sebutkan bahwa ia menempuh jalan ini dalam menafsirkanal-Quran untuk menambah khazanah sastra arab pada zaman ini.[10]

Al-Jami; li Ahkam al-Quran karangan Abu Abdullah al-Qurtubi

Imam al-Qurtubi terkenal dengan gaya penulisan ulama’ fiqih., dengan menukil tafsir dan hukum dari para ulama’ salaf dengan menyebutkan pendapatnya masing-masing. Dan membahas suatu permasalahan fiqhiyah dengan mendetil. Membuang kisah dan sejarah, diganti dengan hukum dan istimbat dalil, juga I’rob, qiroat, nasikh dan mansukh. Beliau tidak ta’assub (panatik) dengan mazhabnya yaitu mazhab Maliki.

Tafsir as-Sanqithi

Menekankan penafsiran bil-ma’tsur dengan dilengkapi qira’ah as-sab’ah dan qiro’ah syadz (lemah) untuk istisyhad (pelengkap). Menerangkan masalah fiqih dengan terperinci, dengan menyebut pendapat disertai dalil-dalilnya dan mentarjih berdasarkan dalil yang kuat. Pembahasan masalah bahasa dan usul fiqih. Beliau wafat dan belum sempat menyelesaikan tafsirnya yang kemudian dilengkapi oleh murid sekaligus menantunya yaitu Syekh ‘Athiyah Muhammad Salim.

Tafsir Taysiir al-Kariim ar-Rahmaan Fii Tafsiir Kalaam al-Mannaan karangan Syaikh Nashr as-Sa’di

Sebuah kitab tafsir berukuran sedang di mana pengarangnya memfokuskan pada penjelasan makna-makna al-Qur’an di dalam menuangkan inspirasinya dan berjalan sesuai dengan manhajnya tanpa sibuk dengan penguraian lafazh-lafazh dan seni-seni Nahwu dan sya’ir. Di dalam mukaddimah kitabnya, beliau menyebutkan bahwa al-Qur’an dapat menunjukkan kepada kampung yang damai (surga), menyingkap jalan yang menuju ke kampung berbagai kepedihan (neraka), bahwa Allah Ta’ala telah menjelaskan ayat-ayat-Nya dengan sesempurna penjelasan, Dia tidak memerintahkan di dalamnya selain kepada keadilan, berbuat baik dan kebajikan, Dia telah menurunkannya dengan lisan ini (arab) agar kita memahaminya dan kita diperintahkan untuk mentadabbur (merenungi)-nya. Hal itu semua, karena mentadabburinya merupakan kunci segala kebaikan.

Setelah mukaddimahnya, beliau mengatakan, “Bila hal ini telah diketahui, maka diketahuilah pula betapa hajat setiap mukallaf untuk mengetahui makna-maknanya dan mendapatkan petunjuknya. Seharusnyalah seorang hamba memporsir tenaganya dan mengerahkan segenap kemampuannya untuk mempelajari dan memahaminya dengan cara-cara yang paling dekat, yang dapat menyampaikan kepada hal tersebut.”

Mengenal Kitab-Kitab Ilmu Tafsir

Buhuts fi Ushul at-Tafsir wa Manahijuhu

Kitab ini ditulis oleh Fahd bin Abdurrahman ar-Ruumi, seorang profesor pada dirasah al-Quran di Riyadh. Kitab ini terdiri dari 12 pembahasan, di antaranya membahas tentang perkembangan Ilmu Tafsir, ikhtilaf para mufasir, asalib, thuruq dan manhaj mufasir serta pembagian tafsir menjadi tafsir bil Ma’tsur dan tafsir bir Ra’yi.

At-Tahbir fi al-Ilm al-Tafsir

Kitab ini ditulis oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi (wafat tahun 911 H), kitab ini termasuk kitab yang bagus dalam membahas ilmu Tafsir karena penulisnya berusaha untuk mengumpulkan macam-macam ilmu al-Qruqn kemudian menertibkannya dan membuatkan dalam bab-bab. Tertulis dalam kitab ini sekitar 102 cabang ilmu yang harus dikuasai oleh seseorang yang ingin belajar al-Quran.[1]

Al-Iksir fi al-Ilmu at-Tafsir karangan ath-Thufi

Kitab ini ditulis oleh Sulaiman bin Abdul Qawi as-Sharshari ath-Thufi, kitab ini telah ditahqiq oleh Dr. Abdul Qadir Husain, pembahasan dalam kitab ini di antaranya:pembahasan tentang lafaz yang mesti ditafsirkan dan makna yang tidak mesti ditafsirkan karena maknanya sendiri telah jelas dan pembahasan ilmu ma’ani dan ilmu al-bayan.

Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir karangan Ibnu Taimiyah

Kitab ini diberi judul Muqaddimah, dari perkataan pengarang dalam muqaddimahnya. Pembahasannya terbagi dalam lima bahasan, yaitu; bahwa Nabi r menjelaskan al-Quran semuanya, ikhtilaf yang terjadi di kalangan Sahabat, ikhtilaf mufasir dalam masalah mustanid, dan tentang cara terbaik menafsirkan al-Quran.

Al-Qawa’id al-Hasan li at-Tafsir al-Quran karangan Ibnu as-Sa’di

Dalam kitab ini pengarang menyebutkan 70 kaidah beserta contoh-contohnya yang mesti dipergunakan oleh seorang mufasir.

At-Tafsir wa al-Mufasirun karangan Husain az-Zahabi

Nama pengarang kitab ini adalah DR. Muhammad as-Sayyid Husain az-Zahabi, wafat dengan dibunuh pada tahun 1398 H, beliau menjabat sebagai Mentri Wakaf di Mesir sebelum wafatnya. Kitab Tafsir wal Mufasirun ini ada yang dicetak dalam dua jilid dan kitab ini yang ada pada kami dan ada juga cetakan dalam tiga jilid. Kitab ini merupakan Risalah Doktoral yang diajukan penulis pada tahun 1365 H atau 1946 M pada kuliyah Ushuluddien di Universitas al-Azhar.

Manhaj al-Madrasah al-Aqliyah al-Haditsah di at-Tafsir

Kitab ini ditulis oleh Syaikh Dr. Fahd bin Muhammad bin Abdurrahman bin Sulaiman ar-Ruumi, terdiri dari dua jilid dan diterbitkan oleh Muasasah ar-Risalah, kitab ini membahas ittijah tafsir yang muncul pada masa modern ini dan menyeleweng dari cara tafsir salaf as-shalih, dimana mereka banyak menggunakan akal dalam metode tafsirnya, para founding father dari lembaga ini masih menyisakan syubhat pada sebagian manusia dan metode tafsir mereka baru dan tidak ada pada masa salaf.[1]

Buku-buku Tulisan Syaikh Musa’id bin Sulaiman Ath-Thayyar

Syaikh Musa’id Ath-Thayyar adalah salah seorang peneliti dalam bidang ilmu Al-Quran, buku-buknya banyak dijadikan sebagai buku pegangan materi ilmu Al-Quran dan Ilmu tafsir. Saya sendiri banyak mendapatkan ilmu dan faidah dari buku-buku beliau.

di antara buku-buku beliau adalah:

  1. Al-Muharrar fi Ulumil Quran; buku ini menjadi pegangan materi ilmu Al-Quran di Ma’had Imam Syatibi jeddah Saudi Arabia. Banyak pembahasan yang belum tentu dibahas oleh penulsi yang lain. Di antara pembahasan dalam kitab ini adalah Madkhal ila Ulumil Quran, Nuzulul Quran wa Jam’uhu, Ulumus Suwar, dan  Al-Mushaf..’Inayatul Ummah.
  2. Fushul fi Ushulit Tafsir; di buku ini beliau menyebutkan pembahasan seputar ilmu Ushul Tafsir yang sementara ini masih tercampua dengan pembahasan di buku-buku ilmu Al-Quran. Di antara pembahasan dalam kitab ini adalah Ushul Tafsir, Maraji’ Ushul Tafsir, Hukmu Tafsir wa Aqsamuhu, Thuruq Tafsir, Tafsir Al-Quran Billughah, Tafsirul Quran bil Ijtihad, Ijma’ Fittafsir dan Qawaid Tarjihiyyah.
  3. Musāid bin Sulaimān al-Ṭayyār, Sharḥ Muqadimah fī Uṣūl al-Tafsīr li Ibn Taymiyah, Saudi Arabiyah, Dār Ibn al-Jawzī, 1428
  4. dan lainnya yang bisa anda dapatkan di situs web beliau di thayyar.net

Ali Ahmad dan Mujāhid Muhammad, al-Taysi̅r fī Uṣūl al-Tafsi̅r, Iskandariya: Dār alImān, 2006.

Khālid ʽAbd al-Raḥmān, Uṣūl al-Tafsīr wa Qawāiduh, Bairūt: Dār al-Nafāis, 1986.

Khālid ʽUthmān al-Sabt, Qawāid al-Tafsīr Jamʽan wa Dirāsatan, Bairūt: Dār Ibn ʽAffān

Dr Ahmad Kusyairi Suhail dan Ringkasan Kitab Al-Mufassir, Syurutuhu, Adabuhu wa Mashadiruhu

Ringkasan kitab dan biografi Dr. Kusyairi Suhail

Buku Tafsir dari Penulis Barat atau Muslim dalam Bahasa Inggris

Sumber buku, jurnal atau tesis berasal dari website Hawramani.com yang saya pilih buku atau tesis doktoral tentang Tafsir.

  1. M. A. Draz, Introduction to the Qur’an (2008)
  2. M. A. S. Abdel Haleem, The Qur’an (Oxford World’s Classics) (2008)
  3. M. A. Draz and Basma Abdelgafar, Morality in the Qur’an: The Greater Good of Humanity (2018)
  4. Catherine Bronson, “Eve in the Formative Period of Exegesis.” (2014) (Download)
  5. Johanna Pink, “Where does Modernity Begin? Muhammad al-Shawkani and the Tradition of Tafsir” (2014) (Download)
  6. Mairaj Syed, “The Construction of Historical Memory in the Exegesis of Kor 16, 106.” (2015) (Download)
  7. Catherine Bronson and Sean Anthony, “Did Ḥafṣah bint ʿUmar Edit the Qurʾan? A Response with Notes on the Codices of the Prophet’s Wives,” (2016) (Download)
  8. Matthew B Ingalls, “Zakariyyā al-Anṣārī and the Study of Muslim Commentaries from the Later Islamic Middle Period” (2016) (Download)
  9. Younus Mirza, “Ibn Taymiyya as Exegete: Moses’ Father-in- Law and the Messengers in Sūrat Yā Sīn” (2017) (Download)
  10. Sohaib Saeed, “Intraquranic Hermeneutics: Theories and Methods in Tafsīr of the Qurʾān through the Qurʾān” (2017) (Download)
  11. Carl Sharif El-Tobgui, “Ibn Taymiyya on the Incoherence of the Theologians’ Universal Law.” (2018) (Download)
  12. Elliott Allen Bazzano, “The Qur’an According to Ibn Taymiyya: Redefining Exegetical Authority in the Islamic Tradition”. (2013). (Download)
  13. Recep Dogan, “Usul al Tafsir: The Sciences and Methodology of the Qur’an”. (2014), (Download)

Tafsir Al-Quran dalam Bahasa Indonesia

Keterangan diambil dari artikel yang pernah kami tulis. https://ahmadbinhanbal.com/tafsir-al-quran-dalam-bahasa-indonesia/

Umat Islam di Indonesia mempunyai perhatian besar terhadap al-Qur’an; hal ini terbukti dengan adanya pengajaran tata cara membaca al-Qur’an yang  baik sesuai dengan ilmu tajwid, hingga kajian-kajian mendalam mengenai kandungan al-Qur’an. Al-Qur’an menempati kedudukan penting di dalam sejarah pergumulan awal Muslim Indonesia. Di berbagai pondok pesantren, madrasah, dan sekolah, telah memposisikan al-Qur’an menjadi salah satu materi penting – disamping fiqh, bahasa, dan teologi (kalam)- dengan ilmu-ilmu yang terkait, seperti ulumul qur’an dan ulumut tafsir.

Usaha menafsirkan al-Quran dalam Bahasa Indonesia telah dilakukan oleh para ulama Islam Indonesia dan merupakan hasil karya anak-anak negeri. Pada masa klasik seperti tafsir Tarjuman Al-Qur’an yang ditulis oleh ‘Abdul Ra’uf al-Sinkili (1615-1693 M) lengkap 30 juz, maupun akhir abad 20 seperti tafsiral-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Furqan oleh A. Hassan,  tafsir al-Mishbah yang ditulis oleh Quraish Shihab. A. Halim Hasan cs baru dapat menyelesaikan enam setengah juz telah diterbitkan oleh Pustaka Islamiyah Medan, Tafsir an-Nur karangan Hasbi as-Shidqi, kitab ini telah diterbitkan oleh penerbit Bulan Bintang.Tafsir Quran Indonesia karangan Mahmud Yunus tahun 1935, Tafsir Al-Quran karangan Zainuddin Hamidi pada tahun 1959, Tafsir Alquranul Karim  karangan Halim Hassan tahun, 1955, dan Tafsir Alquranul Hakim karangan Kasim Bakry tahun 1960.

Pada tahun 1975 M Dewan Penyelenggara Pentafsir al-Quran yang diprakarsai oleh Departemen Agama RI menyusun buku tafsir sederhana yang diberi nama “al-Quran dan Tafsirnya” kitab ini terdiri dari 10 jilid, tiap jilid berisi tiga juz dan disertai juga satu jilid untuk muqaddimah sehingga jumlahnya menjadi sebelas jilid, proyek ini diketuai oleh Prof H. Bustami A. Gani dan diwakili oleh Prof. T.M Hasbi ash-Shidqi. 

Dalam bahasa-bahasa daerah, upaya-upaya ini dilakukan oleh Kemajuan Islam Yogyakarta (Quran kejawen dan Quran Sandawiyah), Bisyri Mustafa Rembang (al-Ibriz, 1960), R.Muhammad Adnan (Alquran suci basa jawi, 1969) dan Bakry Syahid (Al-Huda, 1972). Sebelumnya pada 1310 H, Kiyai Mohammed Saleh Darat Semarang menulis sebuah tafsir dalam bahasa jawa huruf Arab. Ada jjuga karya yang belum selesai yang ditulis oleh Kiyai Bagus Arafah Sala,  berjudul Tafsir jalalen basa Jawi Alus Huruf Arab. Bahkan pada 1924, perkumpulan Mardikintoko Kauman Solo menerbitkan terjemah Alquran 30 juz basa Jawi huruf Arab Pegon. Aktivitas lainnya juga dilakukan secara parsial, seperti penerbitan terjemah dan tafsir Muhammadiyah, Persis bandung dan Al Ittihadul Islamiyah, beberapa penerbitan terjemah di Medan, Minang kabau dan kawasan lainnya.

Dalam hal terjemahan Al-Quran, sudah dilakukan mulai pertengahan abad ke 17 oleh Abdul Rauf Fansuri, seorang ulama dari Singkel, Aceh, ke dalam bahasa Melayu. Walaupun kalau ditinjau dari sudut ilmu bahasa Indonesia modern belum sempurna, tetapi pekerjaan itu adalah besar jasanya sebagai pekerjaan perintis jalan.

Selanjutnya terjemahan dilakukan oleh Kemajuan Islam Yogyakarta: Quran Kejawen dan Quran Sundawiah, oleh penerbitan dari  Solo seperti Penerbitan AB Siti Syamsiah, di Bandung oleh penerbit Al-Furqan kepunyaan A. Hasan dan yang lain-lain.

Pemerintah sendiri menaruh perhatian terhadap terjemahan Al-Quran. Hal ini terbukti bahwa penterjemahan Al-Quran termasuk dalam Pola I Pembangunan Semesta Berencana, sesuai dengan keputusan MPR. Untuk melaksanakan pekerjaan ini oleh Menteri Agama telah dibentuk sebuah Lembaga yang diketuai oleh Prof. R.H.A. Soemarjo, S.H. mantan rector Institit Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang beranggotakan ulama-ulama dan sarjana-sarjana Islam yang mempunyai keahlian dalam bidangnya masing-masing.

Dari Repelita ke Repelita, Pemerintah selalu mencetak Kitab Suci  Al-Quran. Pada Repelita IV (1984-1989) telah dicetak  3.729.250 buah kitab suci, terdiri dari Mushaf Al-Quran, Juz ‘Amma,  Al-Quran danTerjemahnya dan Al-Quran danTafsirnya.

Atas masukan dan saran masyarakat dan pendapat Musyawarah Kerja Ulama Al-Quran ke XV (23-25 Maret 1989), terjemah dan tafsir Al-Quran tersebut disempurnakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama bersama Lajnah Pentashih Mushaf Al-Quran.


[1] Dr. Fahd bin Muhammad bin Abdurrahman bin Sulaiman ar-Ruumi, Muqaddimah kitab Manhaj al-Madrasah al-Aqliyah al-Haditsah di at-Tafsir, hal. 5-8


[1] Imam Jalaluddin as-Suyuthi, At-Tahbir fi al-Ilm al-Tafsir, ( Riyadh, Idarah waqaf, 1995) cet. I, hal. 5-10


[1] Manna’ al-Qathan, Mabahits fi al-Ulum al-Quran, (Percetakan al-Hidayah, Surabaya, 1973), hal. 362

[2] Fahd bin Abdurrahman ar-Ruumi, Buhuts fi Ushul at-Tafsir, (Riyadh: Maktabah at-Taubah, 1413 H), cet ke-1, hal. 146

[3] Maktabah Abu Salma, Sejarah Tafsir dan Perkembangannya.

[4] Tafsir al-Fakhru ar-Razi,Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib,(Libanon.Dar al-Fikr,1414 H) dalam biografinya

[5] Manna’ al-Qathan, Mabahits fi al-Ulum al-Quran, (Percetakan al-Hidayah, Surabaya, 1973), hal. 369

[6] Abu Abdillah, Muhammad al-Mahmud an-Najdi, al-Qawl al-Mukhtashar al-Mubiin Fii Manaahij al-Mufassiriin, hal. 16-17.

[7] Manna’ al-Qathan, Mabahits fi al-Ulum al-Quran, (Percetakan al-Hidayah, Surabaya, 1973), hal. 371

[8] Manna’ al-Qathan, Mabahits fi al-Ulum al-Quran, (Percetakan al-Hidayah, Surabaya, 1973), hal. 372

[9] Manna’ al-Qathan, Mabahits fi al-Ulum al-Quran, (Percetakan al-Hidayah, Surabaya, 1973), hal. 373

[10] Manna’ al-Qathan, Mabahits fi al-Ulum al-Quran, (Percetakan al-Hidayah, Surabaya, 1973), hal. 375

2 pemikiran pada “Mengenal Beberapa Kitab Tafsir dan Ilmu Tafsir”

Tinggalkan komentar