Biografi Fakhruddien Ar-Razi dan Metodologi Tafsirnya dalam Kitab Tafsir Mafaatihul Ghaib

Rayy, salah satu kota yang terletak di sebelah tenggara Teheran adalah sebuah kota yang telah banyak melahirkan para pemikir Islam terkenal di antaranya: Abu Bakar Muhamamd bin Zakariya ar-Razi, Abu Hatim ar-Razi, Abu Husain Ahmad bin Faris bin Zakariya ar-Razi, Abu Bakar ar-Razi al-Jashash, Quthbuddien ar-Razi dan Fakhruddien ar-Razi.

Keilmuan Fakhruddien ar-Razi

Fakhruddien ar-Razi adalah gelar yang diberikan umat pada masanya. Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Umar bin Husain bin Hasan bin Ali at-Taimi al-nakri at-Thabari ar-Razi at-Thabarstani al-Qurashi al-Faqih as-Syafi’i. Dia lahir di Rayy yang lokasinya sekarang dekat dengan Teheran.

Fakhruddien lahir pada bulan Ramadhan 544 H bertepatan dengan tahun 1149 M dan namanya dinisbahkan kepada ar-Razi sebagaimaan terdapat pada kitab al-Ansaab karangan as-Sam’ani. Tentang perawakannya ia berbadan tegak, berjanggut lebat, memiliki suara yang keras dan juga bersikap sopan santun, sebagaimana terdapatdalam kitab al-Ibar: 18 dan Sadzarat az-Zahab: 5/21.

Fakhruddien ar-Razi mempunyai beberapa nama panggilan seperti Abu Abdullah, sebagaimana terdapat dalam kitab Wafayatul ‘Ayan, Sadzara az-Zahabdan UyunulAnba’, Abul Ma’ali, sebagaimana terdapat dalam kitab an0Nujum az-Zahirah, Abul Fadhl sebagaimana dalam kitab Akhbarul Ulama karangan al-Qafathi dan Ibnu Khatib ar-Rayy sebagaimana dalam Tarikh Ibnu Khaldun.

Disebabkan pengetahuaannya yang luas, maka Muhammad Ibnu Umar ar-Razi mendapat berbagai gelar seperti: Khatib ar-Rayyal-ImamFakhruddien dan Syaikh Islam. Dia mendapat julukan Khatib ar-Rayy karena dia adalah ulama terkemuka Rayy. Dia dijuluki Imam karena menguasai ushul fiqih dan syariat.

Dia juga disebut Fakhruddien ar-Razi karena penguasaannya yang sangat mendalam tentang berbagai disiplin kelimuan yang menyebabkannya berbeda dengan para tokoh pemikir dari Rayy. Dia juga dipanggil sebagai Syaikhul Islam di Herat karena penguasaaan keilmuannya yang tinggi.

Mazhab fiqih yang ia pelajari berasal dari ayahnya Dhiyauddien Umar dan ia dari Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Farral al-Baghawi dan ia dari al-Qahi Husain al-Maruzidan ia dari al-Qafal al-Maruzi dan ia dari Abi Zaid al-Maruzi dan ia dari Abu Ishaq al-Maruzi dan ia dari Abul Abbas bin Suraij (Ahmad bin Umar) dan ia dari Abu Qasim al-Anmathi dan ia dari Ibrahim al-Muzani dan ia dari Imam Syafi’i. (Wafayatul A’yan: 3/384, Miratul Jinan: 4/11)

Fakhruddien ar-Razi menulis berbagai karya yang berkaitan dengan al-Quran. Ia menulis Mafatih al-Ghaib, Buku tafsir ini ditulis kurang lebih selama 8 tahun, yaitu dari tahun 595-603 M, Asrar at-Tanzilwa Anwar at-Ta’wil, Khalq al-Quran, Tafsir surat Fatihah, Tafsir surat al-Baqarah, at-Tanbih ala ba’dh al-Asrar al-Mau’idhah fi ba’dhi ayat al-Quran, Asas Taqdis, Nihayat al-I’jaz fi Dirayatil I’jaz, Ismatul Anbiya’.

Selain sebagai seorang Mufasir, Fakhruddien juga seorang pakar syariah. Ini Nampak bukan saja dari tulisan-tulisanyadalam bidang fiqih danb ushul fiqih, namun juga dari berbagai perdebatannya dengan ahli-ahli fiqih yang lain.

Fakhruddien ar-Razi meiliki keilmuan yang tinggi dalam masalah fiqih dan ushulnya karena memang sejak muda ia telah berhasil menguasai literature yang dijadikan standar dalam ushul fiqih seperti: al-Burhan karya Imam al-Haramain al-Juwaini, al-‘Ahd karya Qadhi Abdul Jabar, Musthafa karya Imam Ghazali, al-Mu’tamid karya Abu Husain al-Bashri dan ar-Risalah karya Imam Syafi’i. Di antara tulisan-tulisan Fakhruddien dalam masalah fiqih dan ushul fiqih seperti Ihkamul Ahkam,Ibthal QIyas, Sharh Wajiz fil Fiqh, dan al-Mahshul fi Ilmil Ushul.

Fakhruddien adalah seorang penulis yang produktif, ia banyak membahas berbagai persoalan dengan mendalam. Ia menulis sastra arab, kedokteran dan perbandingan agama, di antara karyanya dalam sastra arab seperti: Nihayatul Ijaz fi Dirayat al-‘Ijaz, Sarh Saqt al-Zand Li Abil al-Ma’ari dan al-Muharar fi Haqaiq an-Nahwu. Karyanya dalam bidang kedokteran seperti Sarh al-Qanun, at-Tibb al-Kabir dan Masail Fit Thibb.

Dialog antara Imam Fakhruddien ar-Razi dan para Pendeta

Fakhruddien ar-Razi adalah seorang kristolog ulung, hal ini bisa kita lihat dari perdebatan-perdebatan yang pernah terjadai antara dia dan para pendeta, semisal di Khawarizm.

Berikut ini kami kutip perdebatan antara Fakhruddien ar-Razi dan para pendeta di Khawarizm yang kami ambil dari kitab Izharul Haq, karya Syaikh Muhammad Rahmatullah al-Kairanawi halaman: 472-474 cetakan Penerbit Cendekia, Jakarta.

Dia pernah ditanya oleh seorang pendeta, “Apa argument tentang kenabian Muhammad SAW? Dia menjawab,”Seperti telah diberitakan kepada kita mengenai mukjizat Nabi Musa dan Isa serta nabi-nabi lainnya, maka diberikan pula kepada kita mengenai mukjizat Nabi Muhammad SAW. Persoalannya apakah kita menolak atau menerima argument-argument mutawatir itu atau menerimanya?

Jika kita mengatakan bahwa mukjizat-mukjizat itu tidak menunjukkan kepada kebenaran, maka dengan serta merta kenabian para nabi itu batal. Lalu, jika kita mengakui sahnya berta mutawatir dan dengan mukjizat itu kita mengakui kebenaran eksistensi para nabi, termasuk nabi Muhammad SAW, maka kita harus mengakui kenabian Muhammad SAW. Menurut para ahli logika, dengan tetapnya argument  maka sesuatu yangh ditunjuk oleh dalil itu menjadi sesuatu yang taken for granted.

Kemudian pendeta itu berkata,”Tetapi, saya tidak mengatakan bahwa Yesus itu nabi, sebab bagi saya Yesus adalah Tuhan.” Tentang pernyataan ini, Syaikh ar-Razi, melihat beberapa segi kerancuan.

  1. “Perkataan tentang kenabian mesti didahhului dengan pengakuan tentang Tuhan.” Asumsi seperti ini saya tegaskan kepadanya sebagai asumsi batil. Menurut saya, Tuhan adalah zat wajibul wujud lidzatihi yang mesti bukan dari jism atau aradh. Sedangkan Yesus adalah eksistensi dari makhluk bias yang ada setekah sebelumnya tidak ada, mengalami proses bayi, kecil, remajadan dewasa. Ia biasa makan, tidur dan terjaga. Karena itu sesuatu yang baru, selalu butuh dan berubah-ubah adalah makhuk, dan bukan Tuhan.
  2. Apabila sebagian juz Tuhan  menyatu dalam Tuhan, maka ini juga tidak mungkin. Sebab juz tersebut apabila dianggap masuk dalam Tuhan, maka ketika terjadi pemisahan Tuhan, maka ia bukanlah juz dari Tuhan. Kedua kemugkinan ini jelas-jelas batil.
  3. Secara akal berubahnya tongkat menjadi ular lebih rumit ketimbang berubahnya mayit menjadi hidup. Kemungkinan perubahan mayit menjadi hidup lebih besar daripada kemungkinan perubahan tongkat menjadi ular. Tetapi, mengapa perubahan tongkat menjadi ular tidak menyebabkan Musa mendapat klain sebagai Tuhan atau anak Tuhan? Jika kejadian luar biasa seperti berubahnya tongkat menjadi ular tidak menjadikan Musa sebagai Tuhan, maka apalagi perubahan mayit menjadi hidup. maka kejadian luar biasa tidak dengan serta-merta menunjukkan pemiliknya sebagai Tuhan.

Ringkasnya Fakhruddien adalah salah seorang tokoh intelektual besar di dalam sejarah pemikiran dan peradaban Islam, ia meguasai berbagai disiplin ilmu  seperti al-Quran, Hadits, Tafsir, Fiqih, Ushul Fiqih, sastra arab, perbandingan agama, logika, Matematika dan kedokteran. Ia telah menulis kurang lebih dua ratus karya. Puluhan di antara karyanya telah diterbitkan, namun masih banyak karyanya yang masih dalam bentuk manuskrip dan beum diterbitkan serta-karyanya yang keberadaannya masih belum diketahui.

Keadaan Masyarakat pada Masa Fakhruddien ar-Razi

Fakhruddien ar-Razi hidup pada pertengahan abad keenam Hijriyah, pada masa itu umat Islam sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam hal politik, masyarakat, ilmiah dan keyakinan. Daulah Abbasiyah ketika itu sedang mengalami kegoncangan, terjadi peang salibdi daerah Syam dan terjadi perang Tartar didaerah sebelah timur.

Ketika masa itu banyak terjadi perselisihan mazhab dab aqidah, dan di daerah Rayy saja terdapat tiga kelompok yaitu: Syafi’iyah, Ahnaf dan Syi’ahdan juga kelompok-kelompok seperti Syi’ah, Muktazilah, Murjiah, Bathiniyah dan al-Karrasiyah. Tentang perkembangan ilmiah ketika itu, Ibnu Khaldun mengatakan: “Pada masa itu telah berkembang ilmu alam, ilmu agama, arsitektur dan music terutama di daerah pedalaman Iraq dan di daerah Wara’ an-Nahr dan ilmu akal pada masa itu sangat menguasai kebudayaan mereka.” (al-Muqaddimah: 381)

Kelompok Batiniyah menjadi kuat ketika itu, pengrang kitab Syadzarat az-Zahab mengatakan bahwa mereka membuat takut para pemimpin dan alim karena mereka suka membunuh manusia dan sebagaimana Imam Ghazali mensifati mereka, sacara Dhahir mazhab mereka adalah rafidhah dan batinnya adalah kekufuran (Fadhaih Bathiniyah: 37), pada masa itu juga berkembang kelompok Tasawuf, dan Ibnul Jauzi telah mengarang kitab Talbis Iblis untuk mengkritik praktek ibadah mereka. Dalam keadaan demikian Fakhruddien ar-Razi dilahirkan.

Perantauan Intelektual

Banyak faktor yang membentuk Fakhruddien ar-Razi menjadi seorang ulama yang berwibawa. Selain memang memiliki keilmuan, ia mendapat pendidikan awal dari kedua orang tuanya, guru-gurunya dan dukungan dari para penguasa. Pengalaman dalan perantauan termasuk factor utama dalam membentuk kepribadian Fakhruddien ar-Razi. Setelah ayahnya, sekaligus guru pertamanya meninggal pada tahun 559 H, Fakhruddien ar-Razi yang saat itu berusia 15 tahun sudah merantau ke berbagai daerah.

Dia pertama kali merantau ke Simman dan mendalami fiqih kepada seorang pakar dalam fiqih yaitu al-Kamal as-Samnani. Dia kemudian kembnali lagi ke Rayy dan berguru kepada Majdudien al-Jili dalam masalah filsafat. Ketika al-Ijili pndah ke Maraghah untuk mengajar, Fakhruddien ikut menemani perjalanan gurunya.

Untuk meluaskan wawasannya, Fakhruddien merantau ke berbagai daerah lainnya, ia merantau ke Khawarizm dan berdebat dengan tokoh-tokoh Mu’tazilah yang saat itu sangat berpengaruh di Khawarizm, selain berdebat degan tokoh-tokoh Mu’tazilah, Fakhruddiien ar-Razi juga berdebat dengan para pendeta Kristen.

Dalam perdebatan tersebut, dia menujukkan berbagai kesalahan mendasar dalam dogma,dogma Kristen serta mempertahankan kemurnian Islam, dari perdebatan ini ia mengarang sebuah kitab yang berjudul Munazarah fi ar-Rad ala an-Nashara. Perdebatan dengan tokoh-tokoh Mu’tazilah menyebabkan Fakhruddien tidak betah dan kembali pulang ke Rayy.

Pada tahun 508 H, Fakhruddien yang pada saat itu sudah berusia 35 tahun, merantau lagi ke Transoxiana dan menetap kurang lebih dua tahun. Kini Transoxiana adalah pecahan dari wilayah Uni Soviet yang meliputi Khazakastan, Samarkand dan Uzbekistan. Di Sarkhes ia bertemu dengan Abdurrhman bin Abdulkarim as-Sarkhsi, seorang dokter, dalam pertemuan tersebut, Fakhruiddun yang juga sudah mengetahui tentang ilmu kedokteran menjelaskan kepada Abdurrahman tentang kitab al-Qanun.

Dari Sarkhes, Fakhruddien menuju Bukhara, selanjutnya ke Samarkand, Khujand, Banakit, Ghaznah dan India. Selama perjalanan tersebut Fakhruddien aktif berdialog dan berdebat dengan tokoh-tokoh setempat.

Dari Samarkand, Fakhruddien bekunjung ke Ghaznah, disana ia mendapat perlindungan dari raja Ghaznah, Shihabuddien al-Ghuridan saudaranya Ghiyatuddien. Fakhruddien berhasil mengubah Ghiyatuddien yang meyakini karamiyah kepada Ahlu Sunnah, karena hal ini pengikut Karamiyah sangat marah kepadanya. Selain itu, pengikut Karamiyah juga marah kepada Fakhruddien karena dia mengkritik tokoh mereka, Ibnu Qudwah di depan public. Amiruddien, sepupu Ghiyatuddien menolong Ibnu Qudwah dan mengusir Fakhruddien dari Ghur.

Perantauan Fakhruddien ar-Razi berakhir di Herat. Di Herat dia mendapat perlindungan dari Sultan Khurasan Ali ad-Din Khawarazamshah Tukush, ia menjadi pengajar anak sultan yang mewarisi tahta tahun 596 H.

Disebutkan bahwa ketika berada di Herat, lebih dari 300 orang murid dan pengikutnya menemani Fakhruddien ketika berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Acara-acara Fakhruddien ar-Razi di kota Herat di hadiri oleh banyak cendekiawan dan tokoh. Mereka bertanya mengenai berbagai persoalan dan mendengart darinya jawaban-jawaban spektakuler. Disebabkan usahanya banyak dari kalangan Karamiyah dan kalangan yang lain kembali ke Ahlu Sunnah.

Di Herat Fakhruddien diberi gelar Syaihul Islam. Ia menetap di Herat sampai akhir hayatnya, ia meninggal di desa Mudhakhan, Herat pada tahun 606 H pada usia 62 tahun.

Karya-karya Imam Fakhruddin Ar Razi

Imam Fakhruddin Ar Razi menguasai berbagai bidang keilmuan seperti al-Qur’an, al-Hadith, tafsir, fiqh, usul fiqh, sastra arab, perbandingan agama, filsafat, logika, matematika, fisika, dan kedokteran. Selain telah menghafal al-Qur’an dan banyak al-Hadits, Fakhruddin al-Razi telah menghafal beberapa buku seperti al-Shamil fi Usul al-Din, karya Imam al-Haramain, al-Mu‘tamad karya Abu al-Husain al-Basri  dan al-Mustasfa karya al-Ghazali. Intelektual sezaman dengan Fakhruddin al-Razi; di antaranya Ibn Rushd, Ibn Arabi, Sayfuddin al-Amidi dan Al-Suhrawardi.

Kecerdasan dan keilmuan beliau sangat tinggi, berbagai macam ilmu dipelajari dan dikuasainya, hal itu bisa dibuktikan dengan kitab-kitab karangan beliau, yang terdiri dari berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan, dan tak heran jika Ibnu Katsir dalam bidayah wan nihayahnya menyebutkan, bahwa karya tulis beliau mencapai sekitar dua ratusan buku.

Dan kini karangan-karangan beliau tersebar diseluruh Negara, diantaranya adalah :

  • At Tafsir Al Kabiir atau yang kita kenal dengan Mafaatihul Gaib.
  • Al arba’in fi ushuluddiin
  • Ahkamul qiyaasi As syar’i
  • Al mahsul fi ilmi usul fiqh
  • Mukhtashar akhlak
  • Al mantiqul kabiir
  • Tafsir Al-Fatihah
  • Tafsir Surah Al-Baqarah ala Wajhi Aqli la Naqli
  • Tafsir Mafatihul Ulum
  • Nihayatul Uqul fi Dirayatil Ushul
  • Ta’sisut Taqdis
  • Tahshilul Haq
  • Al-Khamishin fi Ushuliddin
  • Ishmatul Anbiya’
  • Hudutsul Alaam
  • Sarh Asmaulllah Al-Husna
  • AL-Muhshil fi Ilmil Kalam
  • Thariqah fil Kalam
  • Az-Zubdah fi Ilmil Kalam
  • AL-Mulakhash fil Falsafah
  • Lubabul Isyaraat
  • Mabahitusl Jidal
  • Sarh Nahjul Balaghah
  • Al-Muharrar fi Haqaiqin Nahwi
  • Manaqib Imam Syafi’i

Dan masih banyak lagi karangan-karangan  beliau yang penulis tidak bisa sebutkan  disini. Setidaknya kita bisa mengambil contoh dari kehidupan Intelektual Imam Fakhruddin Ar-Razi yang mampu menulis banyak karya. 6 karya dalam ilmu Tafsir, 20 karya dalam ilmu Kalam, 9 karya dalam bidang filsafat, 6 karya dalam ilmu Filsafat dan Kalam, 5 karya dalam Logika, 2 dalam Matematika, 6 karya dalam ilmu Kedokteran,(48 karya dalam MIPA) 9 karya dalam ilmu Syariah, 4 karya dalam bidang sastra, dan masih puluhan lagi karyanya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan lainnya.

Masih banyak juga karyanya masih dalam bentuk manuskrip dan belum dikaji.

Metodologi Tafsir Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Kitab Tafsir Al-Kabir

Berbicara tentang Al Quran, berarti membahas tentang suatu kitab yang suci nan sakral. Al Quran sebagai rahamat linnas wa rahmatal lil ‘alamiin, menjadikan kitab suci ini sebagai landasan dan huda dalam menapak jejak kehidupan di dunia ini.

Dalam Al Quran yang menjadi mukjizat Rasulullah Saw, didalamnya banyak terkandung hikmah  dan interpretasi yang luas, sehingga ketika membaca Al Quran maka kita akan mendapatkan makna-makna yang lain ketika kita membacanya lagi. Inilah yang menjadikan Al Quran terasa nikmat ketika dibaca dan terasa tenang dihati ketika mendengarnya, walaupun yang mendengarnya itu seorang ‘Ajami yang tidak paham bahasa Al Quran.

Dalam bermuamalah dengan Al Quran, terkadang kita mendapatkan ayat-ayat yang sulit untuk dipahami maksudnya. kita memerlukan sebuah perangkat untuk memahami kandungan Al Quran, yang kita kenal dengan istilah tafsir. bahkan sahabat nabi terkadang masih sulit untuk memahami Al Quran. Sehingga ketika para sahabat tidak mengetahui makna atau maksud  suatu  ayat dalam Al Quran, mereka langsung merujuk kepada Rasulullah dan menanyakan hal tersebut.

Sebagai umat Islam yang baik, tentunya kita tidak pernah luput dalam bersentuhan dengan Al Quran, setidaknya dengan senantiasa membacanya.Namun apakah cukup hanya dengan membacanya saja? tentunya untuk meningkatkan kualitas kita dalam bergaul dengan Al Quran, dan untuk merasakan mukjizat Al Quran lebih dalam, adalah disamping kita membacanya, kita juga membaca dan menelaah tafsir-tafsir sebagai bayan atau yang menjelaskan dari Al Quran itu sendiri.

Salah satu jalan yang ditempuh dalam bergelut dalam dunia tafsir, setidaknya dengan mengetahui pengarang dan metodologi yang dipakai dalam menginterpretasi Al Quran.

Sekilas tentang Mafatihul Ghaib

Tafsir Mafaihul Ghaib atau yang dikenal sebagai Tafsir al-Kabir dikategorikan sebagai tafsir bir ra’yi (tafsir yang menggunakan pendekatan aqli), dengan pendekatan Mazhab Syafi’iyyah dan Asy’ariyah. Tafsir ini merujuk pada kitab Az-Zujaj fi Ma’anil Quran, Al-Farra’ wal Barrad dan Gharibul Quran, karya Ibnu Qutaibah dalam masalah gramatika.

Riwayat-riwayat tafsir bil ma’tsur yang jadi rujukan adalah riwayat dari Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Sudai, Said bin Jubair, riwayat dalam tafsir At-Thabari dan tafsir Ats-Tsa’labi, juga berbagai riwayat dari Nabi saw, keluarga, para sahabatnya serta tabi’in.

Sedangkan tafsir bir ra’yi yang jadi rujukan adalah tafsir Abu Ali Al-Juba’i, Abu Muslim Al-Asfahani, Qadhi Abdul Jabbar, Abu Bakar Al-Ashmam, Ali bin Isa Ar-Rumaini, Az-Zamakhsyari dan tafsir Abul Futuh Ar-Razi.

Ada riwayat yang menjelaskan bahwa Ar-Razi tidak menyelesaikan tafsir ini secara utuh. Ibnu Qadi Syuhbah mengatakan, “Imam Ar Razi belum menyelesaikan seluruh tafsirnya”. Ajalnya menjemputnya sebelum ia menyelesaikan tafsir Al Kabiir. Ibnu Khulakan dalam kitabnya wafiyatul a’yan nya juga berkata demikian.Jadi siapa yang menyempurnakan dan menyelesaikan tafsir ini?dan sampai dimana beliau mengerjakan tafsirnya?[1]

Ibnu hajar Al ‘Asqalani menyatakan pada kitabnya ,” Yang menyempurnakan tafsir Ar Razi adalah Ahmad bin Muhammad bin Abi Al Hazm Makky Najamuddin Al Makhzumi Al Qammuli, wafat pada tahun 727 H, beliau orang mesir.[2]

Penulis kasyfu Ad dzunuun juga menuturkan,” Yang merampungkan tafsir Ar Razi adalah Najamuddin Ahmad bin Muhammad Al Qamuli, dan beliau wafat  tahun 727 H. Qadi Al Qudat Syahabuddin bin Khalil Al Khulay Ad Dimasyqy, juga menyempurnakan apa yang belum terselesaikan, beliau wafat tahun 639 H.[3]

Kemudian, sampai dimana Ar Razi terhenti dalam menulis tafsirnya? DR. Muhammad Husain Ad Zahabi menjelaskan pada kitabnya tafsir al mufassiruun,” Imam Fakhruddin telah menulis tafsirnya sampai surah Al Anbiya, setelah itu datang Syahabuddin Al Khulay melanjutkan tafsir ini, namun beliau belum menyelesaikan seluruhnya, kemudian datang Najamuddin Al Qamuli menyempurnakan tafsir Ar Razi. Ad Zahabi juga mengatakan bisa jadi yang menyelesaikan tafsir Ar Razi sampai akhir adalah Al Khulay.

Namun, Sayyid Muhammad Ali Iyazi, dengan merujuk pada keterangan Syaikh Muhsin Abdul Hamid, memberikan klarifikasi bahwa sekelompok mufasir era  belakangan yang meneliti tafsir ini menetapkan kitab tafsir ini sebagai karya mandiri dari Ar-Razi secara utuh.

Lepas dari polemik di atas, ini adalah salah satu kitab tafsir bir ra’yi yang paling komprehensif, karena menjelaskan seluruh ayat Al Quran dengan pendekatan logika. Sang pengarang berusaha menangkap substansi atau ruh makna yang terkandung dalam teks Al Quran.

Adapun maksud tafsir Mafaatihul Ghaib dan uraiannya, antara lain:

Pertama; menjaga dan membersihkan Al Quran beserta segala isinya dari kecenderungan-kecenderungan rasional yang dengan itu diupayakan bisa memperkuat keyakinan terhadap Al Quran.

Kedua; pada sisi lain, Ar-Razi meyakini pembuktian eksistensi Allah swt dengan dua hal. Yaitu “bukti terlihat”, dalam bentuk wujud kebendaan dan kehidupan, serta “bukti terbaca”, dalam bentuk Al Quran. Apabila merenungi hal yang pertama secara mendalam, kita akan semakin memahami hal yang kedua. Karena itu Ar-Razi merelevansikan keyakinan ilmiyah dengan kebenaran ilmiyah dalam tafsirnya.

Ketiga; Ar-Razi ingin menegaskan sesungguhnya studi balaghah dan pemikiran bisa dijadikan sebagai materi tafsir, serta digunakan untuk menakwil ayat-ayat Al Quran, selama berdasarkan kepada kaidah-kaidah yang jelas, yaitu kaidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Metodologi Tafsir Ar Razi

Perhatiannya dengan menjelaskan munasabah antar surah

Dr. Ad Zahabi menjelaskan, bahwa Ar Razi sangat mementingkan munasabah antar ayat dengan ayat lain, dan surah dengan surah yang lain, bahkan Ar Razi tidak hanya menyebutkan satu munasabah saja, tapi menyebutkan banyak munasabah.

Perhatian Ar Razi pada ilmu riyadhiyah, dan fisafat

Ar Razi dalam tafsirnya sangat memperhatikan terhadap ilmu riyadhiyah( ilmu pasti), filsafat dan lain sebagainya. Beliau juga memaparkan argumen-argumen filsafat kemudian membantahnya dengan argumen yang lebih kuat.Walaupun beliau membantah dengan menggunakan dalil akal, namun tetap sejalan dengan keyakinan ahlusunnah.

Penulis kasyfu ad zunuun mengatakan,” Didalam tafsir Ar Razi terdapat begitu banyak perkataan-perkataan mutakallimiin dan filosof. Ia keluar dari permasalahan kepermasalahan yang lain, sehinggga membuat pembaca mengagumi tafsir beliau”.

Sikap beliau terhadap  Muktazilah

Ar Razi, beliau sangat serius dalam menghadapi muktazilah, dalam tafsirnya, terlebih dahulu beliau memaparakan pendapat-pendapat muktazilah dan kemudian beliau membantah dengan argumen yang kuat. Ibnu Hajar pernah mengatakan,” Bahwa Ar Razi dicela karena banyak meriwayatkan syubhat secara tunai dan mengatasinya secara kredit”. Namun hal ini tidak mengurangi kehebatan beliau sebagai seorang ulama yang memperjuangkan agama islam.

Pandangannya terhadap Ilmu Fiqih, Usul, Nahwu dan Balaghah.

Fakhru Ar Razi hampir-hampir tidak melewatkan ayat-ayat hukum kecuali beliau sebutkan semua mazhab-mazhab  fiqih.[4] Begitu juga ketika beliau memaparkan masalah-masalah fiqih, nahwu dan balaghah, namun beliau tidak berbicara panjang lebar pada masalah tersebut lebih dari pembahasan beliau yang berkaitan dengan alam ini, dan riyadhiah.[5]

Dengan keluasan dan pemahaman beliau terhadap ilmu fiqih, sampai-sampai beliau pernah mengutarakan,”Ketahuilah suatu waktu, terlintas pada lisanku, bahwa surat yang mulia ini yaitu Al fatihah bisa ditarik hikmah-hikmah dan permasalahan sebanyak sepuluh ribu.[6]

Referensi:

  1. Tafsir al-Fakhru ar-Razi (Tafsir al-Kabir wa Mafatihul Ghaib), Darul Fikr, 1414 H, Beirut, Libanon
  2. Izharul Haq, syaikh Rahmatullah al-Hindi, penerbit Cendekia, cet pertama, 2003 M
  3. Majalah Islam Sabili edisi awal tahun 2008

[1] DR. Muhammad Husain Az zahabi, , at tafsir wal mufassiruun, darul hadits kairo,th. 2005, jilid 1, hal. 249.

[2] Ad durarul kaminah. Jilid 2, hal 304.

[3] Kasyfu ad zunuun.jilid 2,hal.  299.

[4] Dr. Muhammmad Husain Az Zahabi. , at tafsir wal mufassiruun, darul hadits kairo,th. 2005, jilid 1, hal. 253.

[5] Dr. Muhammmad Husain Az Zahabi. , at tafsir wal mufassiruun, darul hadits kairo,th. 2005, jilid 1, hal. 253.

[6] Dr. Muhammmad Husain Az Zahabi. , at tafsir wal mufassiruun, darul hadits kairo,th. 2005, jilid 1, hal. 253.

Satu pemikiran pada “Biografi Fakhruddien Ar-Razi dan Metodologi Tafsirnya dalam Kitab Tafsir Mafaatihul Ghaib”

Tinggalkan komentar