Dakwah WIRA di Mentawai

Para da’i merupakan ujung tombak dakwah ilallah di pedalaman. Mereka melakukan peran ganda yaitu sebagai penyampai risalah dan pembawa pembaruan, baik cara berpikir maupun cara hidup penduduk asli Mentawai, sehingga mereka menjadi masyarakat yang lebih maju dan berarti dari segi agama dan kemanusiaan.

Dakwah Mentawai

Dakwah di Mentawai sebagaimana tulisan Buya Mas’oed telah bermula sejak 1970, namun belum menampakkan hasil. Baru pada tahun 1976 kegiatan para da’i telah menampakkan hasil nyata.

Beberapa dai yang telah berjuang mengawali dakwah di bumi Sikerei di antaranya, Ismail di desa Matotonan, Muhsinin di desa Salappa, Abdul Hakim di desa Rokdog, Ja’far Nasution di desa Sarasau, Salim di desa Saliguma, dan M. Idris Batubara di Muara. Mereka adalah para dai yang bertugas di Mentawai sampai tahun 1990.

Data para dai selanjutnya belum saya dapatkan lagi karena para dai berada di daerah yang terpisah-pisah dan terpencil. Belum ada forum yang mengumpulkan para dai sehingga ada saling koordinasi antar dai. Maka tahun 2020 yang lalu, untuk menguatkan gerakan dakwah dan koordinasi para dai di Mentawai, dibuatlah Forum Dakwah Siberut (FDS) yang diketuai oleh Ust. Iman Sulaeman.

Forum Dakwah Siberut (FDS)

Salah satu keinginan FDS adalah menghidupkan kembali tradisi dakwah yang dahulu pernah dterlaksana pada masa emasnya gerakan dakwah di bumi Sikerei yaitu WIRA dan kunjungan para dai di pedalaman.

WIRA adalah kependekan dari Wirid Remaja yaitu kegiatan para dai yang mengumpulkan remaja dan pemuda untuk belajar mengaji.

Kunjungan para dai dahulu sudah dilaksanakan dengan rutin pada masa Buya Mas’oed, namun seiring kesulitan para dai dalam hal transportasi boat laut, kegiatan tersebut belum berjalan lagi.

Silaturahmi kepada para dai di pedalaman sangat penting untuk memberikan semangat, nasihat dan saling tolong menolong antar dai sehingga mereka tidak merasa berdakwah sendirian.

FDS harapannya bisa melaksanakan program-program pembinaan para muallaf Mentawai yang ditulis Buya Mas’oed dalam bukunya, menurutnya ada beberapa program positif yang perlu diprogramkan oleh para dai yaitu.

  1. Kunjungan rutin ke dai dai di daerah terisolir.
  2. Penataran dan pembinaan kelompok muallaf.
  3. Seleksi dari anak-anak berbakat untuk dididik menjadi dai di daerahnya.
  4. Mengkaji program peningkatan taraf hidup/ekonomi para muallaf.
  5. Penyediaan sarana dakwah yang lebih memadai, termasuk alat transportasi, buku-buku perpustakaan dan penyatuan lembaga dakwah Islam agar sama-sama menatap ke daerah binaan muallaf ini.

Meskipun nasehat Buya Mas’oed di atas ditulis pada tahun 1997, namun relevansinya masih ada sampai sekarang.

Semoga perkumpulan dalam forum dakwah Siberut (FDS) bisa menjadi jembatan persatuan para dai di Mentawai agar lebih solid dan saling bersinergi.

Jumal Ahmad/APB

Share your love
Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *