Dari Sekolahpasca UIN ke At-Taqwa College

Dalam ceramahnya yang cukup santai tapi serius, Prof. Wan memberikan pokok-pokok pemikiran kepada mahasiswa terkait program kepakaran khusus tentang Al-Ghazali dan Syed Alattas.

Saya menyelesaikan program Master di Sekolahpasca UIN pada bulan November 2020 ketika dunia masih dalam masa pandemi coronavirus dan menjadi angkatan covid ketika wisuda.

Setelah lulus, saya belum bisa mendapatkan pekerjaan atau tawaran mengajar dimana-mana, saya masih fokus di yayasan sosial Aksi Peduli Bangsa untuk dakwah di pedalaman Mentawai.

Ketika mendapatkan informasi dari twitter Ust Adian Husaini tentang program At-Taqwa College yang dipimpin beliau yaitu sebuah pembelajaran daring tentang pemikiran Imam Al-Ghazali dan Syed Alattas selama satu tahun. Program non gelar setara tingkat S2, saya tertarik dan mencoba ikut daftar dan alhamdulillah bisa diterima.

Saya masih merasakan kekurangan ilmu selama di program pasca master sebelumnya, kita ketahui bahwa UIN lebih banyak menggunakan model penelitian dan referensi dari penelitian Barat dengan semboyan ‘membaca dunia dan dibaca dunia’.

Pembelajaran di Atco ini seakan menambal kekurangan tersebut, dimana prpgram yang dijalankan dengan sorogan online, kita dijelaskan oleh dosen kompete dari materi mereka dan reading langsung dari sumber-sumber primer buku.

Kuliah Umum bersama Prof. Wan

Lebih dari 30 tahun lalu seorang professor di University of Pennsylvania mengejutkan dunia pendidikan barat melalui bukunya, yang antara lain mengungkapkan bahwa sesungguhnya dunia barat banyak sekali belajar tentang pendidikan dari dunia Islam. Professor tersebut adalah Professor George A. Makdisi yang menulis buku “The Rise of Colleges – Institutions of Learning in Islam and the West” (Edinburg University Press, 1981). Tradisi yang dibawa dari Islam ini mulai dari cara berpakaian para guru besar, cara duduk dan tempat duduknya, konsep pemberian ijazah sampai apa yang sekarang popular dengan sebutan Studium Generale.

Sebelum ada sistem Madrasah, menuntut ilmu berlangsung di lingkungan pengajaran yang diadakan oleh berbagai individu baik di rumah atau di masjid, atau oleh individu atau istana yang mempunyai perpustakaan besar. Perpustakaan ini menyambut hangat para pakar yang hendak melakukan studi. Waktu itu memang ada dikotomi antara antara ilmu-ilmu Islam seperti Tafsir, Hadits, Fiqih dan ilmu- ilmu asing yang datang dari Yunani.

Konsep Studium Generale berasal dari abad ke 13 ketika Islam masih berjaya di Andalusia. Studium Generale adalah tempat dimana para murid atau siapa saja dan dari mana saja bisa bergabung dalam suatu pengajaran subject tertentu. Lebih dari itu Studium Generale juga menjadi ajang untuk memperkenalkan konsep atau ilmu baru ke masyarakat luas, sehingga ilmu baru tersebut dapat dikritisi, diberi masukan, disempurnakan dan tentu akhirnya untuk disebarluaskan ke masyarakat dan diambil manfaat yang sebesar-besarnya.

Studium Generale inilah yang saya ikuti di awal perkuliahan daring program PK3 Atco yang mengundang pembicara professor dalam bidang Pendidikan dan pemikiran Islam yaitu Prof. Wan Moh Nor Wan Daud.

Studium generale online tentang Imam Al-Ghazali dan Syed Alattas ini dihadiri oleh seluruh peserta mahasiswa PK3 Atco termasuk saya. Di dalam zoom juga terlihat Dr. Adian Husaini sebagai ketua Atco dan Dr. Budi Handrianto dan beberapa dosen dan pengurus Atco. Studium general ini menurut Dr. Adian Husaini adalah kuliah umum yang diberikan kepada calon mahasiswa PK3.

Dalam ceramahnya yang cukup santai tapi serius, Prof. Wan memberikan pokok-pokok pemikiran kepada mahasiswa terkait program kepakaran khusus tentang Al-Ghazali dan Syed Alattas.

Kenapa Al-Ghazali pantas dibahas sampai sekarang? Kenapa dia yang dipilih dan bukan ulama-ulama yang lain?

Kenapa Alattas dibahas, apa karena dia seorang Habib, apa karena dia orang terkenal atau karena Syed Alattas bisa menyatukan indo Malaysia karena lahir di Indonesia dan besar di Malaysia?

Membahas Al-Ghazali lebih memiliki signifikansi keilmuan (intellectual significant). Pada masa Imam Malik, Imam Syafi’I dan Hanafi tidak terjadi perpecahan umat, mereka berpengaruh besar dalam mensistematisasikan keilmuan dalam Islam. Baru pada masa Imam Ahmad terhadi gejolak ketika Al-Makmun mewajibkan satu mazhab di pemerintahannya yaitu Mazhab Muktazilah dan menangkap serta membunuh ulama yang menentangnya. (Khalqul Quran di masa Imam Ahmad dapat dibaca di makalah berikut: Biografi Imam Ahmad bin Hanbal dan Fitnah Khalqul Quran pada Masa Al-Makmun dan Al-Mu’tashim – JUMAL AHMAD )

Cobaan pada masa Al-Ghazali dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, perang pemikiran atau disebut juga Culture War dari kalangan Ahli Filsafat seperti Al-Kindi, Al-Farabi dan Ibnu Sina yang menggunakan rasionalitas dalam beragama, mereka sampai pada kesimpulan bahwa Allah Swt tidak bisa mengetahui Juziyyat karena hal itu bertentangan secara akal dengan kekuasaan Allah Swt, bagi mereka Allah Swt laksana raja yang tinggal di Istana. Terkait hal ini, Imam Al-Ghazali menulit buku Tahafut Falasifah.

Cobaan lain datang dari Kaum Bathiniyyah, dan dari dalam umat Islam sendiri yang disebabkan oleh disempitkannya konsep-konsep penting dalam Islam, Fiqih disempitkan kepada masalah hukum, ahli hikmah disempitkan ahli pengobatan timur, ahli ilmu disempitkan kepada ilmu hadis. Jika konsep penting disempitkan maka akan terjadi arogansi. Maka beliau menulis kitab Ihya’ Ulumuddin yang menjelaskan konsep Islam secara komprehensif. Dampak Ihya’ Ulumuddin yang sangat besar adalah menjelaskan peranan akal, agama tidak menyampingkan akal, tidak memisahkan agama dengan pemikiran yang benar.

Cobaan kedua datan dari luar Islam yaitu serangan dari para Crussader yang ketika itu atas perintah Paus Paulus mereka bersatu melawan musuh bersama (Islam) dan mengesampingkan perbedaan dan perselisihan agama di antara golongan Kristian.

Dalam ceramah yang berlangsung hamper 2 jam lebih, Prof. Wan juga menyinggung relevansi Al-Ghazali dengan masa Syed Alattas dimana banyak beberapa konsep Islam yang telah disempitkan, seperti contohnya Adab disempitkan hanya pada menghormati guru namun yang benar makna Adab adalah memahami dan meletakkan sesuatu pada tempatnya, sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan oleh Allah Swt.

Konsep manusia pun sudah disempitkan hari ini, Al-Attas menjabarkan pandangan Al-Gazali terkait konsep manusia. Bahwa, manusia adalah perpaduan Jiwa dan Raga alias Ruh dan Jasad. Jiwa adalah istilah lain dari ruh, dan jasad sinonim dengan raga. Ruh memiliki tiga bagian utama, yaitu akal, kalbu, dan nafsu. Masing-masing dari tiga unsur ruh tersebut melakukan tugasnya. Ketika berbicara tentang sains dan teknologi, maka ruh akan diwakili dan bertindak sebagai akal, ketika membahas tentang agama, maka ruh akan diwakili dan bertindak sebagai hati atau qalb, dan ketika berbicara tentang syahwat, cinta dunia, jabatan, dan semisalnya, maka ruh diwakili dan bertindak sebagai nafsu. Sebuah kezaliman jika menempatkan keyakinan agama pada akal dan nafsu.

Orang Ateis tidak berpegang kepada agama karena mengaggap evil (malapetaka) yang terjadi di dunia karena Tuhan telah mati, Dia memang menciptakan alam semesta tetapi Dia telah mati. Di kalangan orang yang beragama, Tuhan itu ada tetapi dia tak punya kuasa. Di kalangan lain, Tuhan itu ada, berkuasa, tapi tidak baik. Ada kalangan: Tuhan itu ada, berkuasa, baik tapi Dia tidak tahu apa-apa.

Di Yunani; Tuhan ada dan Esa karena secara akal mereka tidak bisa memahami bagaimana bisa terjadi banyak Tuhan, tetapi ketika berhubungan dengan manusia mereka menyembah Tuhan yang dimiliki orang awam, patung, gajah, tikus dan lainnya.

Di kalangan Islam, penolakan terhadap Allah oleh Gallop 2012 tentang tendensi ateisme di kalangan Muslim. 5% warga Saudi mengakui mereka ateisme yang yakin, pendidikan tinggi dan punya pengaruh ekonomi. 2% warga Tukir Ateisme.

Maka jawaban tentang worldview kehidupan seseorang menunjukkan pemahaman terhadap sifat-sifat Tuhan.

Selesai ceramah dari Prof. Wan, acara langsung ditutup oleh Dr. Adian Husaini. Demikianlah stadium generale/kuliah umum ini benar-benar bermanfaat.

Saya minta doa dari teman-teman agar pembelajaran saya selama di Atco berjalan lancar dan mendapatkan hasil yang maksimal. Berharap bisa menghasilkan buku lagi lewat bimbingan para dosen.

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com

Mahasiswa PK3 At-Taqwa College

Share your love
Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDID