Doa Agar Dilindungi dari Zina dan LGBT

LGBT adalah singkatan dari Lesbian, Gay, Bisex, and Transgender. Istilah tersebut digunakan pada tahun 1990 untuk menggantikan frasa “komunitas gay”.

Terkait LGBT ini, MUI memberikan rekomendasi, yakni pemerintah tidak boleh mengakui pernikahan sesama jenis. Sebab, hal itu bertentangan dengan prinsip-prinsip bernegara. MUI juga meminta pemerintah dan masyarakat untuk tidak membiarkan aktivitas seksual sesama jenis dan penyimpangan seksual lainnya hidup di tengah masyarakat karena dapat mengganggu ketertiban sosial dan hukum.

Maka sebagai bentuk Amar Ma’ruf nahi mungkar kita harus selalu aktif mengingatkan umat dari bahaya perilaku LGBT ini dan kali ini kita akan membahas bagaimana metode Rasulullah memberikan terapi pemuda yang punya keinginan kuat dalam berzina.

Abi Umamah dalam hadits riwayat Ahmad, mengisahkan bahwa seorang pemuda telah dating menghadap Nabi saw seraya berkata: “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku berzina.” Orang-orang yang ada di sekitarnya menghampiri dan memaki, “Celaka engkau, celaka engkau!” Rasulullah saw mendekati pemuda itu dan duduk di sampingnya. Kemudian terjadilah dialog yang panjang antara Rasulullah saw dengan pemuda itu.

Rasulullah saw: Apakah engkau ingin hal itu (zina) terjadi pada ibumu?

Pemuda: sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan tuan.

Rasulullah saw: Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada ibu mereka. Apakah engkau ingin hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?

Pemuda: sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan tuan.

Rasulullah saw: Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada saudari-saudari mereka. Apakah engkau ingin hal ini terjadi pada saudara perempuan bapakmu?

Pemuda: sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan tuan.

Rasulullah saw: Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada saudara perempuan bapak mereka. Apakah engkau ingin hal ini terjadi pada saudara perempuan ibumu?

Pemuda: sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan tuan.

Rasulullah saw: Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada saudara perempuan ibu mereka.

Kemudian Rasulullah saw memegang dada pemuda itu seraya berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya!” Setelah peristiwa itu, pemuda tadi menjadi orang yang arif.

Nilai-Nilai Tarbawiyah

[ ] Rasulullah saw merupakan karakter pendidik yang menguasai semua aspek psikis anak didiknya. Mendengar pertanyaan sang pemuda, beliau tidak marah seperti yang sering dilakukan kebanyakan orang. Bahkan, beliau memperkenankan pemuda tadi duduk di dekatnya. Dalam masalah ini terdapat dua hal pokok yang menarik perhatian pemuda tadi, yaitu Rasulullah saw tidak memarahinya serta memperkenankan dirinya duduk di dekat beliau. Itu merupakan langkah awal yang baik dalam memecahkan masalah pemuda tersebut.

[ ] Rasulullah saw menggunakan sistem dialog karena melalui dialog seorang anak didik dapat melontarkan pendapat kepada pendidiknya. Dialog pun mampu membuka nalar serta naluri pendidik dan anak didik sehingga muncullah kesamaan ide. Semua menghasilkan buah positif yang memberikan kepuasan kepada kedua belah pihak. Melihat manfaatnya, kita hatus membuka dialog dan bersabar untuk mendengarkan pendapat-pendapat dan sumbangsih pemikiran anak-anak usia remaja. Hal demikian akan mempermudah terciptanya solusi yang bijak.

[ ] Masalah yang belia dialogkan berkisah pada masalah yang sedang dihadapi si pemuda tadi dan tidak keluar dari inti permasalahan atau tidak memecahkan konsentrasi pemuda tadi dengan masalah-masalah parsial. Dari sikap yang diperlihatkan Rasulullah saw ini dapat kita fahami bahwa pada zaman sekarang ini kita harus ikut terjun menghilangkan penyakit esensial yang menimpa anak-anak remaja dan kemudian menciptakan terapi yang mujarab untuk membebaskan mereka dari penyakit tersebut.

Ironisnya, ketika sebagian pemuda terkena wabah penyakit penyalahgunaan obat-obat terlarang, masyarakat malah membawa mereka ke tempat rehabilitasi. Padahal, tempat rehabilitasi tidak lebih dari sarang penyakit yang menambah ruwetnya permasalahan. Si pecandu akan berkomentar “Setelah masuk tempat rehabilitasi, saya diajari cara menggunakan obat terlarang dalam bentuk lain.” Sungguh pemuda ini telah menjadi korban kebodohan masyarakat. Pada dasarnya, penyakit itu bisa dihindarkan jika kita menerapkan langkah preventif sebelum penyakit tersebut terjangkit, melalui konsentrasi dalam mewujudkan generasi rabbani yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan baik dalam tataran keluarga maupun dalam tataran pemerintahan. Demi Allah! Ini lebih mujarab daripada suntikan-suntikan kimiawi dan sistem-sistem mereka yang jelas-jelas gagal. Sayangnya mereka tidak mau mengerti.

[ ] Rasulullah saw melakukan diskusi dengan sistem tanya jawab. Cara seperti ini merupakan solusi pendidikan yang paling cemerlang karena jawaban akan langsung keluar dari murid itu sendiri. Ketika Rasulullah saw bertanya Apakah engkau ingin hal itu (zina) terjadi pada ibumu? Jawaban pemuda merupakan dalil pelarangan zina untuk dirinya sendiri. Selain itu jawaban “Sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan tuan.” Merupakan pengakuan atas kesalahan yang paling gambling. Secara rinci manfaat yang bisa kita ambil adalah:

  • Terjadinya interaksi esensial antara seorang anak didik dengan pendidiknya.
  • Pikiran anak didik akan terfokus dan terpusat pada pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.
  • Jawaban yang menggunakan kalimat negative merupakan metode pendidikan yang ilmiah dan realistis serta menjadi hujjah atas pelanggaran terhadap perbuatan tertentu, baik secara kemasyarakatan maupun kemanusiaan

[ ] Jumlah pertanyaan Rasulullah saw yang lumayan banyak dapat menjadi dalil keyakinan yang menunjukkan keingkaran pemuda itu terhadap perbuatan zina. Mari perhatikan dialog berikut.

Rasulullah saw: Apakah engkau ingin hal itu (zina) terjadi pada ibumu?

Pemuda: sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan tuan. (dalil pertama)

Rasulullah saw: Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada ibu mereka. Apakah engkau ingin hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?

Pemuda: sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan tuan. (dalil kedua)

Rasulullah saw: Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada saudari-saudari mereka. Apakah engkau ingin hal ini terjadi pada saudara perempuan bapakmu?

Pemuda: sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan tuan. (dalil ketiga)

Rasulullah saw: Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada saudara perempuan bapak mereka. Apakah engkau ingin hal ini terjadi pada saudara perempuan ibumu?

Pemuda: sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan tuan. (dalil keempat)

Rasulullah saw: Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada saudara perempuan ibu mereka.

Banyaknya dalil merupakan salah satu kiat pendidikan yang memperkuat hujjah dan alas an.

[ ] Di antara kiat penyembuhan yang digunakan Rasulullah saw adalah meletakkan tangannya yang mulia di dada orang yang mendapat problem. Ketika beliau meletakkan tangannya di dada pemuda tadi, dia pasti akan merasakan ketentraman serta ketenangan jiwa. Sebab, ketika itu beliau mendoakan si pemuda dengan inti doa yang mencakup pengampunan dosa, penyucian hati dan pemeliharaan kemaluan.

Pengampunan dosa dapat mengosongkan jiwa dari segala dosa dan membuka pintu baru untuk terciptanya aktivitas keimanan. Penyucian hati merupakan usaha untuk membersihkan hati dari noda-noda dosa sehingga hati menjadi bersih tanpa ada noda yang mengotorinya. Kemudian, pemeliharaan kemalun berarti menjaga kemaluan dari tindakan yang dimurkai Allah swt seperti benteng kokoh yang tinggi, jauh dari kerendahan diri.

Dengan demikian, doa Rasulullah saw bisa dikatakan sebagai doa yang sempurna dalam memecahkan permasalahan. Bercermin dari itu, tampaknya para pendidikan wajib menjadikan dosa sebagai salah satu sarana penyembuh penyakit hati anak didiknya. Rasulullah saw telah bersabda, “Ibadah yang paling utama adalah do’a” (shahih Jami’ ash-shaghir no 1108). Doa juga dapat menghubungkan hati pendidik dan anak didik kepada sang Khaliq sesuai dengan firman-Nya: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan doamu” (QS. Ghafir: 6)

Maka amalkan doa berikut agar anak dilindungi dari perbuatan zina atau kejahatan seksual:

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ
Allahummaghfir dzanbahu (ha)
Wathohhir qalbahu (ha)
Wahashshin farjahu (ha)

(*”hu” utk anak laki. “Ha” utk anak perempuan)

“Ya Allah ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Ini adalah doa yang diucapkan Nabi saw setelah berdialog dengan seorang pemuda yang minta ijin kepada Nabi agar diperbolehkan berzina. Setelah dialog yg mencerahkan, Nabi menempelkan telapak tangannya ke dada sang pemuda, dan berdoa seperti di atas. Semenjak itu sang pemuda tumbuh menjadi sosok yg soleh dan membenci perzinaan.

[ ] Setelah peristiwa itu, tidak lagi tersirat dalam benak pemuda tadi untuk berzina. Tidak diragukan lagi, dia akan mendayagunakan pikiran dan potensinya untuk hal yang membuahkan hasil dan memberikan manfaat bagi diri dan masyarakatnya, seperti menyibukkan diri dalam belajar, jihad, atau aktivitas lain yang membantu perkembangan sosial, ekonomi, dan politik. Potensi tersebut merupakan modal besar yang dapat diharapkan hasilnya.

(Sumber: Min Asalibir Rasul Fit Tarbiyah oleh Najib Khalid Al-‘Amr, terjemah: Tarbiyah Rasulullah, Gema Insani Press hal. 117-123)

Tinggalkan Balasan