Doa Meminta Keturunan

Doa adalah penguat hubungan manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dalam hal ini kepasrahan menjadi hal yang terpenting. Tidak selayaknya manusia berdoa seperti seorang pemesan makanan dan berharap makanan yang dipesan akan segera diterima. Sebagai makhluk, manusia dalam posisi membutuhkan dan hak prerogative dan otoritas-Nya untuk mengabulkan doa hamba-Nya kapan pun dan dengan cara apa pun.

Dalam hidup kita pernah merasakan lemah bahkan putus asa. Al-Quran membuktikan posisinya sebagai kalam Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan memberikan jalan keluar dari keadaan ekstrim kehidupan. Salah satunya ada dalam kisah Nabi Zakariya Alaihissalam dan doanya. Siapa yang merasa hancur dan putus harapan hendaknya sering membaca, membaca lagi dan mempelajari kisah Nabi Zakariya.

Nabi Zakariya belum pernah kecewa berdoa. Saat itu, Nabi Zakariya sudah tua dan istrinya pun di vonis sudah mandul dan tidak bisa melahirkan anak. Nabi Zakariya berdoa sejak mudanya untuk meminta keturunan. Ia khawatir dengan masa depan generasinya bila dirinya tidak memiliki keturunan makai a terus meminta kehadiran seorang anak setiap harinya.

Nabi Zakariya berkeinginan memiliki seorang putra untuk menjadi penerusnya dakwahnya. Dia tidak mengharapkan seorang anak hanya untuk memuaskan keinginan semata-mata. Suatu malam dia berdiri berdoa di tempat kudusnya dan berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk memberkatinya dengan seorang putra yang baik. Dia sadar bahwa dia sudah lanjut usia dan istrinya mandul dan tidak dapat melahirkan. Dia memiliki keyakinan penuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang memiliki kekuatan untuk melakukan apapun yang Dia kehendaki. Dia mengetahui melalui wawasan kenabiannya bahwa Allah akan mengabulkan permintaannya. Dia akan diberkati dengan seorang anak yang akan menjadi penerusnya membimbing manusia ke jalan yang benar.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala lewat kasih saying-Nya yang tak terbatas menghilangkan cacat dari kemandulan istrinya sehingga dia bisa menjadi seorang ibu. Dia melahirkan Nabi Yahya SAW yang ditakdirkan untuk menjadi terhormat, suci, dan seorang nabi dari antara orang-orang benar. Nabi Zakariya merasa puas saat putranya tumbuh besar dan menjadi simbol kesalehan. Dia diberkahi dengan kebijaksanaan, ketaatan dan asketisme. Nabi Zakariya (saw) terus mendakwahkan agama Allah bahkan di usia tua.

Kisah Zakariya ini menjadi inspirasi pasangan ‘pejuang dua garis’ yang sedang mengharapkan kehadiran buat hati. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menguatkan keyakinan hamba-Nya dengan kisah Zakariya bahwa manusia hanya perlu berdoa dan yakin bahwa Dia tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai Tuhan yang Mahaberkehendak bisa melakukan apa saja atas kekuasaan-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabulkan doa Nabi Zakariya dengan kelahiran Nabi Yahya.

Doa Nabi Zakariya

Nabi Zakariya telah berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk diberikan keturunan dalam dua ayat Al-Quran; 1) QS. Ali Imran ayat 38 dan 2) Qs. Al Anbiya’ ayat 89.

QS. Ali Imran ayat 38

قَالَ رَبِّ هَبْ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ


Arab-Latin:

Qāla rabbi hab lī mil ladungka żurriyyatan ṭayyibah, innaka samī’ud-du’ā`

Terjemah Arti:

Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.

QS. Al-Anbiya’ayat 89

وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ

Arab-Latin:

Wa zakariyyā iż nādā rabbahụ rabbi lā tażarnī fardaw wa anta khairul-wāriṡīn

Terjemah Arti:

Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.

Qs. Al-Shaffaat Ayat 100

Selain Nabi Zakariya, Nabi Ibrahim alaihissalam juga menjadi contoh bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meminta keturunan anak salih salihah.

Ketika Nabi Ibrahim alaihissalam berhijrah dari Syam ke kota Makkah, Nabi Ibrahim mengharapkan kelahiran seorang anak yang akan menjadi penerus dakwahnya. Kala itu beliau berdoa:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ

Rabbi hab lî minas shâlihîn

Artinya: Tuhanku, berikanlah aku seorang anak yang saleh’ (Surat As-Shaffat ayat 100).

Nabi Ibrahim alaihissala tidak henti-hentinya berdoa memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar diberikan keturunan dari istri pertamanya, setelah sebelumnya dikaruniai Ismail dari istrinya yang kedua.

Atas ketekunan doa dari Nabi Ibrahim alaihissalam, Allah Subhahau wa Ta’ala mengabulkannya dengan memberikan anak yang akan menjadi seorang Rasul. Kelahirna Ishaq alaihissalam adalah mukjizat karena Sarah sudah divonis mandul dan ketika dia akhirnya melahirkan, Sarah sudah berumur 90 tahun.

Subhanallah, doa yang terus menerus dengan keimanan penuh kepada Allah.

Nabi Musa dan Wanita Mandul

Dikisahkan pada zaman dahulu ada seorang wanita datang kepada Nabi Musa, wanita ini berkata ”Wahai Nabi Musa, aku sudah lama menikah tapi aku tak kunjung dikaruniai anak, aku ingin sekali dikaruniai seorang anak. Tolong sampaikan keinginanku ini kepada Allah melalui doa mu”.

Nabi Musa pun mengiyakan keinginan wanita ini. Setelah wanita ini pergi pulang ke rumahnya, Nabi Musa berdoa kepada Allah “Ya Allah hari ini ada wanita yang datang kepada ku, dia mengharapkan dikaruniakan seorang anak oleh-Mu”.

Setelah itu Allah menjawab doa Nabi Musa “Wahai Musa, Aku telak mentakdirkan wanita itu menjadi wanita yang mandul. Wanita itu tidak akan bisa mempunyai seorang anak yang dilahirkan dari rahimnya”.

Nabi Musa pun mengerti jawaban doanya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setelah beberapa hari wanita itu datang kembali kepada Nabi Musa untuk yang kedua kali “Wahai Nabi Allah, apakah telah kamu sampaikan keinginanku untuk memiliki seorang anak yang terlahir dari rahimku kepada Allah?”

Nabi Musa menjawab “Sudah aku sampaikan keinginanmu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menakdirkan kamu menjadi wanita yang mandul, tidak bisa memiliki keturunan”.

Wanita ini pun menjawab “sampaikan sekali lagi keinginanku kepada Allah”…

Nabi Musa sekali lagi mengiyakannya tetapi lagi-lagi Nabi Musa mendapatkan jawaban yang sama dari Allah bahwa wanita ini sudah ditakdirkan mandul atau tidak bisa memiliki keturunan.

Setelah beberapa lama wanita ini tidak kunjung datang menemui Nabi Musa, hingga pada suatu hari wanita ini datang kembali menemui Nabi Musa sambil menggendong seorang anak. “Anak siapakah itu ?”, tanya Nabi Musa heran. “Ini anakku”, jawab wanita itu.

Setelah itu Nabi Musa bertanya kepada Allah “Ya Allah bagaimana bisa wanita ini memiliki seorang anak yang terlahir dari rahimnya sementara engkau telah mentakdirkannya menjadi wanita yang mandul?”

Allah-pun menjawab pertanyaan Nabi Musa “Wahai Musa, hamba-Ku ini tidak henti-hentinya berdoa kepadaku dengan memanggilku ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ  ( Duhai yang Maha Penyayang diantara para penyayang).

Dia berdoa, lalu Ku tentukan dia mandul. Kemudian dia berdoa lagi, lalu Ku tentukan mandul. Kemudian dia berdoa lagi dan lagi sambil menyebut Maha Pengasih…Maha Pengasih. Maka aku kabulkan doanya, karena Kasih Sayang Ku melebihi Ketentuan Ku……

Keutamaan Membaca Doa ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Pernahkah kita mengalami kegelisahan dan kesempitan hidup? Pada saat itu apakah yang kita lakukan?

Cobalah memperbanyak bacaan (doa) Ya Arhamar Rahimin (duhai yang paling maha penyayang diantara para penyayang). Niscaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberikan kelapangan dan kesukacitaan pada kita.

Memperbanyak bacaan Ya Arhamar Rahimin termasuk pintu-pintu terbesar untuk mendapatkan kelapangan dan solusi dari promblematika hidup.

Kalimat ini, oleh sebagian ulama disebut-sebut sebagai wujud asa Allah yang teragung (Ismullah Al-Adzam)

ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ’.

Al Qur’anul Karim telah menceritakan kisah Nabi Ayyub Alaihissalam dalam surat Al-Anbiya’ sebagai berikut :

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya:”(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa bencana kesempitan, dan engkau adalah Tuhan yang maha penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya’ : 83)

Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Ayyub as mengadu kepada Allah atas kesulitan hidup dan penyakit yang menimpanya, dengan menyebut asma-Nya sebagai Arhamur Rahimin, atas aduan ini dan dengan asma agung itu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkenan mengabulkan doanya dan melenyapkan “ad-dlurr” (kesulitan hidup) yang dideritanya. Secara bahasa, selain bermakna bahaya, kesengsaraan, kemalangan, kekurangan harta (kemiskinan), kemelaratan dan lainnya.

Oleh karena kisah doa Nabi Ayyub as dan kisah wanita mandul pada zaman Nabi Musa ditujukan untuk kita semua agar berteladan dengan memperbanyak doa Ismul A’dham (nama-nama Allah yang Agung).

Pelajaran dari Kisah di atas:

  • Berdoa kepada Allah dengan suara yang lembut, penuh perendahan diri di hadapan Allah SWT.
  • Menyebut-nyebut nama Allah dan memuji-Nya, seperti: Ya Rabbi, wahai Tuhanku, Engkau Maha Mengabulkan doa, Engkau Maha Mendengar, Engkau Maha Pemurah, atau Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu dan memperbanyak Ismul A’dham.
  • Ada saatnya setelah berdoa hingga bertahun-tahun, namun tak kunjung terkabul. Berdoa terus dan jangan berputus asa. Nabi Zakaria berdoa hingga uban telah tampak di kepala beliau. Ujung kisahnya adalah kebahagiaan dengan seorang putra bernama Yahya.
  • Selain memohon agar dikaruniai anak, Nabi Zakaria juga memohon agar anak tersebut adalah seorang hamba yang Allah ridhai, hasilnya Allah SWT memberikan lebih dengan memberinya putra seorang Nabi.
  • Anak merupakan rahmat Allah yang kehadirannya merupakan kabar gembira bagi siapa pun. Siapa pun yang telah menikah lalu dikaruniai buah hati, hendaklah senantiasa bersyukur. Di antara wujud syukur melalui perbuatan adalah: mendidik anak dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW, bersabar atas perilaku mereka, dan selalu mendoakan kebaikan bagi mereka.
  • Putus asa, merasa doa tidak akan terkabul, serta tergesa-gesa ingin doanya segera terwujud merupakan sikap yang menjadi penghalang terkabulnya doa. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Doa yang dipanjatkan seseorang di antara kalian akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa. Dirinya berkata, ‘Aku telah berdoa namun tidak juga terkabul,’”.
  • Seseorang yang berdoa harus yakin bahwa doanya akan dikabulkan, karena dia telah memohon kepada Dzat yang Paling Dermawan dan Paling Mudah Memberi. ”Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS Al-Mu’min: 60)
  • Untuk orang yang belum dikabulkan doanya, mungkin ada penghalang yang menghambat terkabulnya doa seperti: memutus hubungan kekerabatan, bersikap lalim dalam berdoa, atau mengonsumsi makanan yang haram.

Harapan setiap suami istri adalah memiliki keturunan, Namun kenyatannya tidak selalu sesuai dengan harapan. Bukan kehidupan namanya jika tidak ada ujian. Pun dalam berumah tangga. Tantangan itu pastilah ada. Cinta suami ke istri diuji dalam kondisi ketika istri belum juga hamil.

Istri yang belum juga hamil padahal usia pernikahan sudah lama, akankah membuat suami menyalahkan istrinya? Atau, dia akan mencoba mencari solusinya bersama-sama? Toh, bisa saja yang bermasalah adalah suami, bukan istri.

Bagi para pejuang ‘dua garis’, teruslah bersabar dan temani istri dalam perjuangan. Mohon doanya agar saya dan istri juga segera diberikan amanah keturunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kami sedang berusaha bersama dan akan terus berusaha. []

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com

Tinggalkan komentar