10 Doa Menghilangkan Sedih dan Gundah

Doa Menghilangkan Sedih dan Gundah – Doa itu cakupannya luas, tidak dibatasi hanya doa yang termaktub dalam Alquran dan Hadits saja, seorang muslim boleh berdoa sesuai keinginannya untuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Selama doa kita bukan untuk memutus tali silaturahim, dosa dan mengandung permusuhan.

Sebelum berdoa, dianjurkan membaca Salawat ke atas Nabi Muhammad Saw.

Memulai dan Mengakhiri Doa dengan Shalawat

Doa yang terbaik dan lebih mudah dikabulkan adalah doa yang dimulai dan diakhiri dengan mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihiwasallam.

Abu Sulaiman Ad–Darini mengatakan bahwa siapa saja yang ingin Allah Subhanahu Wata’ala mengijabah hajatnya, hendaknya memulai dengan shalawat kemudian menyampaikan hajat dan diakhiri dengan shalawat lagi.

Ada kisah menarik tentang memulai doa dengan shalawat Nabi yang terjadi ketika Nabi Muhammad Shallallahu Alaihiwasallam masih hidup sebagaimana disebutkan dalam kitab ‘القَولُ البَدِيعُ في الصَّلاةِ عَلَى الحَبِيبِ الشَّفِيعِ’ oleh As-Sakhawi.

Tirmidzi dalam Sahih-nya dan pada kitab At-Targib wa Tarhib meriwayatkan bahwa seorang buta mendatangi Nabi Shallallahu Alaihiwasallam dan berkata, “Memohonlah kepada Allah Subhanahu Wata’ala untukku, sehingga Dia menolongku.”

Nabi Muhammad tidak serta merta menjawabnya, Beliau mengatakan, “Jika engkau mau, aku dapat menunda ini, dan itu akan lebih baik bagimu, dan jika engkau mau, aku akan memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala untukmu.”

Laki-laki itu spontan menjawab, “Doakan aku wahai Rasulullah” – di kitab At-Targib disebutkan bahwa lelaki ini sudah merasa kesusahan dengan matanya yang buta, bisa jadi dia hidup sebatang kara.

Mendengar jawaban dan ungkapan lelaki tersebut, Nabi berkata kepadanya: “Pergilah ambil wudhu, lalu salat dua rakaat dan katakan ini:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، يَا مُحَمَّدُ إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ فتُقْضيها لِي اَللَّهُمَّ شَفِعْهُ فِيَّ وَشَفِّعْنِي فِيْ نَفْسِيْ.

“Ya Allah, aku memohon dan menghadap-Mu dengan Nabi-Mu Muhammad, nabi (pembawa) rahmat; Ya Muhammad (ya Muhammad), aku mengharapkan perantaraanmu dengan Tuhanku untuk mengembalikan pengelihatanku. Ya Allah, perkenankanlah beliau memberi syafaatnya untukku.”

Utsman mengatakan; Demi Allah tidaklah kami berlalu dan mengobrol panjang sehingga lelaki itu datang seakan-akan tidak ada penyakit sama sekali. Riwayat hadis dapat di cek di link ini.

Orang buta tersebut meminta agar Nabi Muhammas Shallallahu alaihiwasallam berdoa untuknya, karena doa itu termasuk bentuk syafaat. Adapun saat ini ketika Nabi sudah wafat maka tidak mungkin kita minta syafaat beliau. Namun bisa kita lakukan dengan memulakan doa dengan memperbanyak shalawat kepada Nabi Shallallahu alaihiwasallam.

Setelah membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu alaihiwasallam, bisa kita tambahkan dengan doa tawashul dengan para Nabi sebagaimana diajarkan Hasan Al-Bashri.

Menghilangkan sedih dan gundah agar kita bisa sabar dan tegar seperti nabi Ibrahim ketika menyembelih anaknya, nabi Yusuf ketika di penjara dan kesabaran nabi Yunus/ Dzun Nun di dalam perut ikan yang gelap.

حدثنا يُوسُفُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحُلْوَانِيُّ حدثنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ الْمُؤَذِّنُ ، نَا عَوْفٌ الْأَعْرَابِيُّ ، عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ ، أَنَّهُ قَالَ : ” هَذَا الدُّعَاءُ هُوَ دُعَاءُ الْفَرَجِ وَدُعَاءُ الْكَرْبِ :

يَا حَابِسَ يَدِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ ذَبْحِ ابْنِهِ وَهُمَا يَتَنَاجَيَانِ اللُّطْفَ : يَا أَبَتِ يَا بُنَيَّ ! يَا مُقَيِّضَ الرَّكْبِ لِيُوسُفَ فِي الْبَلَدِ الْقَفْرِ ، وَغَيَابه الْجُبِّ ، وَجَاعِلَهُ بَعْدَ الْعُبُودِيَّةِ نَبِيًّا مَلِكًا ! يَا مَنْ سَمِعَ الْهَمْسَ مِنْ ذِي النُّونِ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ : ظُلْمَةِ قَعْرِ الْبَحْرِ ، وَظُلْمَةِ اللَّيْلِ ، وَظُلْمَةِ بَطْنِ الْحُوتِ ! يَا رَادَّ حُزْنِ يَعْقُوبَ ! يَا رَاحِمَ عَبْرَةِ دَاوُدَ ! يَا كَاشِفَ ضُرِّ أَيُّوبَ ! يَا مُجِيبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّينَ ! يَا كَاشِفَ غَمِّ الْمَهْمُومِينَ ! صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَفْعَلَ بِي كَذَا وَكَذَا ” .

>> Huruf Latinnya (Kami ambil langsung di bagian doanya)

Yaa haabisa yadi Ibraahiima an dzabhi ibnihi wahumaa yatanaajayaani allathfa: yaa abati, yaa bunayya! Yaa muqayyadhar rakbi li yuusufa fil baladil qafri, wa ghayaabihil jubba, wa jaa’ilahu ba’dal ‘ubuudiyyati nabiyyan malikan! Yaa man sami’al hamsa min dzin nuuni fii dhulumaatin tsalaatsin: dzulmati qa’ril bahri, wa dzulmatil laili, wa dzulnati bathnil huuti, yaa raadda huzni ya’quuba! Yaa raahima ‘abrati daawud! yaa kaasyifa dhurri Ayyub! yaa mujiiba da’watal mudhtharriin! yaa kaasyifa ghammil mahmuumiin! Shalli alaa Muhammadin wa ala Aali Muhammadin.

Doa Menghilangkan Sedih dan Gundah

Sedih atau kesedihan adalah perasaan manusia yang menyatakan kecewa atau frustasi terhadap seseorang atau sesuatu. Sementara gundah atau gundah gulana adalah perasaan sangat sedih dan sangat bimbang.

Ketika sedih dan gundah melanda, bagi seorang muslim disunnahkan untuk membaca doa. Doa adalah senjata bagi orang mukmin. Doa dapat memberikan kekuatan pada orang yang lemah, membuat orang yang tidak percaya menjadi kuat keyakinannya dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan.

Manfaat lain dari membaca doa saat dilanda perasaan sedih dan gundah ialah akan membuat pikiran menjadi lebih lega dan siap menghadapi situasi yang sulit.

Berikut kami kumpulkan beberapa doa dari Nabi dan doa lainnya yang bisa dibaca dan digunakan untuk menghilangkan rasa sedih, gundah dan gulana.

Doa dari Nabi Shallallahu alaihiwasallam

Doa dari Nabi Shallallahu alaihiwasallam biasanya lebih ringkas dan mendalam atau istilahnya jawami’ul kalim.

Beberapa doa tersebut adalah:

Doa Pertama

Nabi Shallallahu alaihiwasallam pernah mengumpulkan keluarganya, lantas beliau berpesan: “Jika salah seorang di antara kalian ditimpa kegundahan, kegalauan atau kesedihan, ucapkanlah;

اللَّهُ اللَّهُ رَبِّي لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Allahu, Allahu rabbi laa usyriku bihi syai-an.

“Allah, Allah adalah rabbku, aku berjanji setia tidak menyekutukan-Nya sedikitpun (Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah). Cek di sunnah.com

Doa atau zikir ini mengingatkan tentang Tauhid. Manusia diciptakan untuk Tauhid. Dia ada untuk merealisasikan makna Tauhid, Laa Ilaaha Illallah. Maka orang yang mengetahui makna Tauhid ini, tidak akan berdoa, meminta pertolongan dan menyandarkan diri kecuali hanya kepada Allah.

Doa Kedua

Hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma.Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ketika susah biasanya mengucapkan:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيم

Laa ilaaha illallahul ‘adziimul haliim, laa ilaa ha illallahu rabbil ‘arsyil ‘adziim, laa ilaa ha illallahu rabbus samaawaati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil ‘adziim.

“Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah, Yang Maha Agung, Yang Maha Santun. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Robb Arsy Yang Agung. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah Robb Langit, Bumi dan Arsy Yang Mulia” [Diriwayatkan Bukhari Muslim.]. Cek hadis di Sunnah.com

Doa Ketiga

Hadits yang diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqosh Rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda.

“Do’a ketika susah adalah :

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ

Laa ilaaha illa Anta subhaanaka inni kuntu minadz dzaalimiin

“Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zholim”.

Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdo’a dengan do’a ini tentang masalah apapun kepada Robbnya melainkan akan dikabulkan untuknya” [HR. At-Tirmidzi]. cek di sunnah.com

Dan dalam Riwayat al-Hakim, Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Maukah aku beritahukan kepadamu sesuatu jika kamu ditimpa suatu masalah  atau ujian dalam urusan dunia ini, kemudian berdoa dengannya.” Yaitu doa Dzun Nun atau Nabi Yunus.

Kenapa Doa Nabi Yunus ini demikian dahsyatnya?

Bisa kita lacak dari kosa kata setiap doa yang mengandung tiga keutamaan yaitu lafadz Tauhid yang artinya meng-Esakan Allah Subhanahu Wata’ala dalam lafadz Laa Ilaaha Illa Anta, Lafadz Tasbih, Subhaanaka dan lafadz Istighfar, Inni kuntu minadz dzaalimiin.

Saat berdoa Nabi Yunus memulai dengan mentauhidkan Allah Subhanahu Wata’ala dan mensucikan-Nya dari segala sesuatu kemudian mendzalimkan diri sendiri sebagai hamba yang penuh dosa. Kemudian terus meminta kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas hajatnya.

Doa Ke Empat

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:“Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku.”

Maka akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan.” Tiba-tiba ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do’a ini (kepada orang lain)”? Maka Rasulullah menjawab: “Ya, selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain).”.

(HR. Ahmad no.3712 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani). cek hadis di sunnah.com

Doa Kelima

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ: اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ  

 “Doa-doa ketika terkena bencana dan musibah, ‘Wahai Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata dan perbaikilah seluruh urusanku. Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Engkau.”

(HR. Ahmad dan Abu Daud. Hadist ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ 3388). Cek di sunnah.com   

Di dalam riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah radhiyallahu ‘anha,

ما يَمنعُكِ أنْ تسمَعِي ما أُوصِيكِ بهِ ؟ أنْ تقولِي إذا أصبحتِ وإذا أمسيْتِ : يا حيُّ يا قيُّومُ برحمتِكِ أستغيثُ ، أصلِحْ لِي شأنِي كلَّهُ ، ولا تكِلْنِي إلى نفسِي طرْفةَ عيْنٍ

“Apa yang menghalangimu untuk mendengar apa yang aku wasiatkan kepadamu? Hendaknya saat berada di pagi dan sore hari engkau mengucapkan, ‘Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri dengan sendiri-Nya, dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.”

(HR. an-Nasai, al-Hakim, al-Baihaqi. Hadist ini dishahihkan oleh Al-Mundziri di dalam at-Targhib wa at-Tarhib 1/313 dan dihasankan oleh al-Albani di dalam as-Silsilah ash-Shahiha 227) 

Dalam riwayat Anas bin Malik disebutkan

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَرَبَهُ أَمْرٌ قَالَ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

Dari Anas bin Malik berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila menghadapi suatu masalah, beliau berdoa,”Wahai Yang Maha Hidup Kekal, Yang terus menerus mengurus ( mahluk-Nya), hanya dengan rahmat-Mu saja, saya meminta pertolongan.” (HR. al-Tirmidzi no. 3524. Dihassankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 3182)

Ibnul Qayyim mengatakan dalam kitabnya Zaadul Ma’ad:

“Sesungguhnya sifat “hayaat” (hidup) mencakup sifat-sifat kesempurnaan dan konsekuensinya. Sedangkan Al-Qauyyum mencakup semua sifat. Oleh karena itu, nama Allah yang paling agung, jika digunakan berdoa niscaya Allah kabulkan, dan jika digunakan meminta maka Allah kabulkan”.

Doa Abu Darda

Diriwayatkan dari Thalaq bin Habib, katanya seorang laki-laki menemui Abu Darda dan berkata, “Wahai Abu Darda, rumah mu terbakar.”

“Rumahku tidak akan terbakar, karena Allah tidak akan melakukan itu disebabkan bacaan doa yang kudengar dari Rasulullah Saw. Barangsiapa yang membacanya di awal siang, dia tidak akan ditimpa musibah sampai sore. Dan barangsiapa membacanya di akhir siang, maka dia tidak akan tertimpa musibah hingga pagi.

Riwayat lain mnurut riwayat Ibnu Sunny, seorang lelaki datang kepada Abu Darda’ lalu berkata: ”Wahai Abu Darda’, saya lihat rumah engkau telah terbakar!”

Abu Darda’ menjawab: “Bukan rumahku, kerana aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa membaca doa ini (doa di bawah) pada waktu pagi, terhindar dia dari bencana yang mungkin menimpa dirinya, ahli keluarganya dan hartanya. Sekiranya doa ini dibaca pula di waktu petang hari, maka terpeliharalah dari bencana yang mungkin menimpa dirinya, ahli keluarganya dan hartanya di malam hari.” Aku telah membaca doa itu pada waktu pagi hari ini.”

Lalu Abu Darda’ mengajak sahabatnya ke rumahnya untuk menyaksikan peristiwa kebakaran itu. Maka ternyatalah bahawa rumah-rumah di sekitar rumah Abu Darda’ sudah habis terbakar semuanya, sedangkan rumah Abu Darda’ masih kekal terpelihara.

اللهم أنت ربي لا إله إلا أنت عليك توكلت وأنت رب العرش العظيم ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم ما شاء الله) عز وجل ربي (كان وما لم يشأ لم يكن أعلم أن الله على كل شيء قدير وإن الله قد أحاط بكل شيء علماً اللهم إني أعوذ بك من شر نفسي ومن شر كل دابة أنت آخذ بنا صيتها إنَّ ربي على صراط مستقيم)

ALLAHUMMA ANTA RABBI LAA ILAAHA ILLA ANTA. ALAIKA TAWAKKALTU WA ANTA RABBUL ÁRSYIL ÁDZIIM. MAA SYAA ALLAHU KAANA WA MAA LAM YASYA LAM YAKUN. LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAHIL ÁLIYYIL ÁDZIIM. Á’LAMU ANNALLAHA ÁLAA KULLI SYAI-IN QADIIR WA ANNALLAHA QOD AHAATHA BIKULLI SYAI-IN ÍLMAA. ALLHUMMA INNI AÚUDZUBIKA MIN SYARRI NAFSII WA MIN SYARRI DAABBATIN ANTA AAKHIDUN BINAASHIYATIHAA INNA RABBII ALA SHIRAATHIM MUSTAQIIM.

Artinya:

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tiada Tuhan selain Engkau. Kepada-Mu aku bertawakal, dan Engkau Tuhan Pemilik Ársy yang agung. Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi. Tiada daya dan kekuatan kecuali di sisi Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Aku tahu bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, dan dari kejahatan segala makhluk yang berada dalam kekuasaan-Mu. Sesungguhnya Tuhanku selalu menunjukkan ke jalan yang lurus.”

Di kalangan ahli ilmu hadits, doa Abu Darda di atas didhaifkan bahkan hadits mungkar. Menanggapi hal ini, Syaikh bin Baz mengatakan bahwa hadits ini Dhaif, akan tetapi jika seseorang mengamalkannya dengan mengharapkan Allah Swt memberikan manfaat lewat doa, maka doa ini adalah doa yang baik (zikrun thayyib) yang tidak apa-apa diamalkan selama tidak meyakini terjadinya sesuatu lantaran doa ini dan tidak meyakini sebagai sunnah.

 Doa Nabi yang Diajarkan kepada Khalid bin Walid

Insomnia, atau gangguan tidur, sudah terjadi sejak lama. Pada zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, penyakit ini juga sudah ada.

Sulaiman bin Buraidah Radhiyallahu anhu menyebutkan bahwa ayahnya berkata bahwa Khalid bin Walid mengadu kepada Nabi Muhammad Shallahu Alaihi wasallam: Wahai Rasulullah, saya tidak bisa tidur semalam karena insomnia’,

Maka Nabi menjawab: Bacalah doa ini ketika akan tidur:

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظَلَّتْ وَرَبَّ الأَرَضِينَ وَمَا أَقَلَّتْ وَرَبَّ الشَّيَاطِينِ وَمَا أَضَلَّتْ كُنْ لِي جَارًا مِنْ شَرِّ خَلْقِكَ كُلِّهِمْ جَمِيعًا أَنْ يَفْرُطَ عَلَىَّ أَحَدٌ مِنْهُمْ أَوْ أَنْ يَبْغِيَ عَلَىَّ عَزَّ جَارُكَ وَجَلَّ ثَنَاؤُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

Alllahumma Robbas samawaatis sab’I  wa maa adzollat wa robbal Ardhiina wa maa aqollat wa Robassy Syayaatina wamaa adhollat kun lii jaaron min syarri kholqika kullihim jamii’an ay yafrutho ‘alay ya ahadun minhum  aw ayab ghiya  ‘alay ya ‘azza jaaruka, wa jalla tsana uka wala illaha ghoiruka  walaa ilaaha illa anta.

Ya Allah Tuhan (pengatur) lapisan langit yang tujuh beserta semua yang dinaunginya, Tuhan Pengatur lapisan bumi beserta seluruh yang dikandungnya,  dan Tuhan pengatur syetan-syetan dan semua yang disesati oleh mereka. Jadilah Engkau Pendampingku yang menjaga diriku dari segala kejahatan makhlukMu semuanya yang dapat menguasai diriku, dan dapat melampaui batas terhadapku (menyakitiku). Betapa kuat bila berdampingan denganMu dan Betapa tinggi kemuliaanMu Tidak ada Tuhan selainMucdan tiada Tuhan selain Engkau.

Imam At-Tirmidzi juga meriwayatkan redaksi doa yang lain dari Amru bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengajarkan para Sahabat sebuah doa untuk melawan rasa takut.

Bahwa Khalid bin Walid رضى الله عنه bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم : Sesungguhnya aku terjaga dari tidurku?, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda bacalah:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضـــَبـِـهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ

Aku berlindung dengan kalimah Allah yang Maha sempurna dari kemarahan dan balasanNya, dari kejahatan hambaNya, dari bisikan-bisikan syaitan dan dari semua itu jangan hadir kepadaku. (HR. At-Tirmidzi 3:171)

Ibnu Umar radhiyallahu anhu mengajarkan doa ini kepada anak-anaknya dan menuliskan untuk siapa yang belum hafal. Ini menunjukkan keutamaan dari doa.

Selain doa dari Khalid bin Walid, ada juga redaksi doa lain dari Zaid bin Tsabit sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut.

Ibnu Sunni meriwayatkan “Sekali waktu, Zaid bin Tsabit mengadu kepada Nabi Muhammad bahwa ia tengah dilanda insomnia. Rasulullah Saw kemudian mengajarkan doa tersebut kepadanya. Sekretaris Nabi itu pun membaca doa itu. Kemudian Allah Swt menghilangkan penyakit susah tidur itu dari dirinya.”

اللَّهُمَّ غارَتِ النُّجُومُ وَهَدأتِ العُيُونُ وأنْتَ حَيٌّ قَيُّومٌ لا تَأخُذُكَ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، يا حيُّ يا قَيُّومُ أَهْدِىءْ لَيْلي، وأنِمْ عَيْنِي

 Allahumma ghaaratin nujuum, wa hadaatil ‘uyuun, wa anta hayyun qayyuumun, laa ta’khudzuhu sinatun walaa nauum. Yaa hayyu, yaa qayyuum, ahdi lailii, wa anim ‘ainii.

“Wahai Tuhan, bintang-bintang mengorbit, mata-mata terpejam, sedangkan Engkau Maha Hidup kekal lagi Maha Terjaga (terus menerus mengurus makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Wahai yang Maha Hidup dan Terjaga, redupkanlah malam, dan lelapkanlah mataku.”

Doa Imam Zainal Abidin

Diriwayatkan oleh Syaikh Al-Kaf’ami dalam kitab Al-Balad Al-Amin doa dari Imam Zainal Abidin yang diriwayatkan oleh Muqatil bin Sulaiman dan berkata; Siapa yang membaca doa ini 100 kali akan diberikan keamanan dari orang-orang jahat.

Berikut doanya:

اِلـهي كَيْفَ اَدْعُوكَ واَنَا اَنَا وَكَيْفَ اَقْطَعُ رَجائي مِنْكَ واَنْتَ اَنْتَ، اِلـهي اِذا لَمْ اَسْاَلْكَ فَتُعْطيني فَمَنْ ذَا الَّذي اَسْأَلُهُ فَيُعْطيني، اِلـهي اِذا لَمْ اَدْعُكَ فَتَسْتَجيبَ لي فَمَنْ ذَا الَّذي اَدْعُوهُ فَيَسْتَجيبَ لي، اِلـهي اِذا لَمْ اَتَضرَّعْ اِلَيْكَ فَتَرْحَمْني فَمَنْ ذَا الَّذي اَتَضرَّعُ اِلَيْهِ فَيَرْحَمُني، اِلـهي فَكَما فَلَقْتَ الْبَحْرَ لِمُوسى عَلَيْهِ السَّلامُ وَنَجَّيْتَهُ اَسْاَلُكَ اَنْ تُصَلِّيَ عَلى مُحَمَّد وَآلِهِ واَنْ تُنَجِّيَني مِمّا اَنَا فيهِ وَتُفَرِّجَ عَنّي فَرَجاً عاجِلاً غَيْرَ آجِل بِفَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ يا اَرْحَمَ الرّاحِمينَ.

Syaikh Ahmad Al-Kubaisi mewasiatkan untuk membaca doa Imam Zainal Abidin di atas sebagaimana disampaikan dalam video pendek dari akun Najah Muhammad Ali berikut:

Doa Menghilangkan Kesedihan yang diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam kitab ‘Al-farj ba’das Syiddah’ dari jalan Al–Khalil bin Murrah dari ulama Urdun yang mengatakan bahwa diceritakan ketika Nabi Shallallahu Alaihiwasallam membaca doa ini.

تَحَصَّنْتُ بِاللهِ الّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ، إِلَهِي وَإِلَهُ كُلِّ شَيْءٍ، وَاعْتَصَمْتُ بِرَبِّي وَرَبِّ كُلِّ شَيْءٍ، وَتَوَكَّلْتُ عَلَى الحَيِّ الّذِي لاَ يَمُوتُ، وَاسْتَدْفَعْتُ الشَرَّ كُلَّهُ بِلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ، حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ، حَسْبِيَ الرَبُّ مِنَ العِبَادِ، حَسْبِيَ الخَالِقُ مِنَ المَخْلوقِينَ، حَسْبِيَ الرَّازِقُ مِنَ المَرْزُوقِينَ، حَسْبِيَ الّذِي هُوَ حَسْبِي، حَسْبِيَ الّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ، وَهُوَ يُجِيرُ وَلاَ يُجَارُ عَلَيْهِ، حَسْبِيَ اللهُ وَكَفَى، حَسْبِيَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ، عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ.

Namun menurut Ibnu Qayyim Al–Jauziyah dalam kitabnya Majmu’at mint Ta’awwudzat bahwa doa ini bukan diriwayatkan oleh Nabi Shallallahu Alaihiwasallam tetapi doa dan ta’awudz (perlindungan) umum.

Sumber: https://al-maktaba.org/book/31615/21197

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com

Share your love
Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

5 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDID