Fatwa Para Ulama Tentang Hukum Shalat Raghaib

Fatwa Para Ulama Tentang Hukum Shalat RaghaibMemasuki bulan Rajab ini banyak Umat Islam yang melaksanakan amaliyah tidak syar’i di Bulan Rajab yaitu Shalat Raghaib, berikut ini kami lampirkan fatwa-fatwa dari para ulama tentang bid’ah tersebut.

Pertama, Imam Ramli as-Syafi’i (W 957 H) ketika ditanya tentang Shalat Raghaib beliau menjawab: Bahwasanya sholat khusus yang ditentukan pada bulan Rajab itu tidak shahih. Dan hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai Shalat Raghaib pada awal jum’at di Bulan Rajab adalah dusta lagi batil. Shalat Raghaib ini bid’ah menurut mayoritas Ulama, di antara mereka adalah ulama mutaakhirin seperti Abu Ismail al-Anshari, Abu Bakar bin as-Sam’ani, Abu Faraj Ibnul Jauzi dan yang lainnya. Shalat ini sama sekali tidak disebutkan oleh ulama terdahulu dan diada-adakan oleh orang setelah mereka. Pertama-tama munculnya adalah setelah tahun 400 H, maka dengan demikian tidak dikenal oleh ulama terdahulu, dan mereka tidak membicarakannya. (Fatawa ar-Ramli as-Syafi’i: 1)

Kedua, Imam Nawawi (W 676 H) mengatakan bahwa Shalat yang dikenal dengan Shalat Raghaib yaitu 12 rakaat dilakukabn di antara Maghrib dan Isya’ malam jum’at pertama di Bulan Rajab. Dan Shalat Malam Nisfu Sya’ban adalah 100 raka’at. Dua jenis shalat ini adalah bid’ah dan mungkar, keduanya buruk dan jangan terkecoh dengan disebutkannya kedua shalat tersebut dalam kitab Qutul Qulub dan Ihya’ Ulumuddien. Dan jangan terkecoh dengan hadits yang disebutkan dalam dua kitab itu, karena sesungguhnya itu adalah batil. Dan jangan terkecoh dengan sebagian Imam yang samar tentang hukumnya lalu mengarang kitab tentang shalat itu, karena hal itu adalah salah (al-Majmu’: 3)

Ketiga, Ibnu Taimiyah (W 728H), mengatakan bahwa shalat ini tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW dan tidak juga Sahabat, Tabi’in dan para Imam-imam Muslimin. Rasulullah SAW tidak menghimbaunya dan tidak juga para salaf dan para imam dan mereka tidak menyebutkan malam itu memiliki keutamaan yang dikhususkannya. Hadits yang diriwayatkan mengenail hal itu adalah dusta lagi maudhu’ sesuai kesepakatan ulama. Oleh karena itu para peneliti mengatakan: Sesungguhnya Shalat Raghaib itu dibenci, tidak disukai (Fatawa al-Kubro: 2)

6 pemikiran pada “Fatwa Para Ulama Tentang Hukum Shalat Raghaib”

  1. Aslkm, bang mau tanya, bagaimana jika suami nusyuz pada istri, kan yg srng terjadi istri nusyuz pada suami, bagaimana penjelasanya?

  2. Ya, ada hal atau suasana dimana suami nusyuz yaitu manakala seorang isteri merasa
    khawatir akan mendapat perilaku
    kasar dari suaminya; dan perlakuan
    yang kasar ini bisa berujung pada
    perceraian. Atau si suami tidak lagi
    peduli dan perhatian serta
    menyepelekan peran isterinya dan
    tidak pula ditalak, maka tidak
    mengapa bagi pihak wanita melakukan tindakan penyelamatan rumah tangga dari jalan kehancuran.

    Dalilnya adalah ayat Al-Quran berikut: ”Dan jika seorang wanita merasa khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya
    mengadakan perdamaian yang
    sebenar-benarnya. Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka). Walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap cuek), maka sejatinya Allah adalah Maha Mengetahui apa saja yang kamu kerjakan.” (An-Nisaa’:128).

    Perhatikan dipermulaan ayat dimana Allah swt menyebutkan ”Dan jika seorang wanita merasa
    khawatir akan nusyuz atau sikap
    tidak acuh dari suaminya, maka
    tidak mengapa bagi keduanya
    mengadakan perdamaian yang
    sebenar-benarnya.” (An-Nisaa’:128).

    Disini istri merasa prihatin dengan sikap suami dan segera bertindak sekiranya ada tanda-tanda awal suami akan nusyuz atau tidak melayaninya dengan baik.

    Nusyuz sendiri artinya tinggi atau sesuatu yang menonjol dari dalam. Dalam konteks ayat ini, suami bersikap tinggi diri, sombong, acuh tak acuh, ego dan bersikap ala diktator. Suami tidak melayaninya seperti memberi nafkah batin, kasih sayang, pelukan dan hubungan seks.

    Jika suami menunjukkan tanda awal negatif seperti ini, maka ayat Al-Quran di atas menyuruh istri segera bertindak. Tindakan pertama yang dilakukan adalah membuat perdamaian antara suami istri. Perdamaian secara umum lebih baik daripada perpecahan, perlakuan nusyuz dan
    perceraian, ”Dan perdamaian itu
    lebih baik (bagi mereka).” (An-
    Nisaa’ :128). Terlebih lagi jika dikaitkan dengan suasana masa sekarang, istri gampang minta cerai hanya karena sedikit masalah tanpa mengkompromikan terlebih dahulu, inilah yang membuat budaya kawin cerai menjamur bak cendawan di musim hujan. Hal serupa juga berlaku bagi pihak suami agar jangan cepat-cepat cerai tanpa melakukan perdamaian dahulu.

    Selanjutnya Manhaj Islam
    mendorong pihak suami untuk
    berbuat baik kepada isterinya yang
    tetap sayang kepadanya. Oleh sebab
    itu ia bersedia melepaskan sebagian
    haknya supaya ia tetap berada di
    bawah payung kekuasannya, dan
    manhaj Islam menjelaskan bahwa
    Allah mengetahui betul kebaikan
    dan sikap santun sang suami dan
    Dia akan memberinya balasan yang
    besar. Allah SWT berfirman,
    ”Walaupun manusia itu menurut
    tabiatnya kikir. Dan jika kamu
    bergaul dengan isterimu secara baik
    dan memelihara dirimu (dari nusyuz
    dan sikap cuek), maka sejatinya
    Allah adalah Maha Mengetahui apa
    saja yang kamu kerjakan.” (An-
    Nisaa’:128).

    Sebab turunnya ayat diatas
    diriwayatkan oleh Abu Daud dari
    hadits Hisyam bin Urwah dari
    bapaknya ia berkata, Aisyah r.a.
    berkata, ”Wahai anak saudara
    permpuanku (keponakan), adalah
    Rasulullah saw. tidak pernah
    mengutamakan sebagian di antara
    kami atas sebagian yang lain dalam
    hal giliran, yaitu beliau istirahat di
    rumah kami tidak sampai sehari
    melainkan beliau mengelilingi kami
    semua sehingga hampir setiap isteri
    tidak digauli, hingga beliau tiba di
    rumah isteri yagn mendapat jatah
    giliran lalu beliau bermalam di sana.

    Sungguh Saudah binti Zamlah ra,
    ketika sudah lanjut usianya dan
    khawatir ditinggal oleh Rasulullah
    saw berkata: ”Ya Rasulullah, giliran
    hariku untuk Aisyah, ’Maka
    Rasulullah saw. menerima
    pemberian itu dari Saudah.” Aisyah
    berkata, ’Pada waktu itu dan pada
    saat-saat yang mirip dengan itu,
    Allah SWT menurunkan firman-Nya,
    ’Dan jika seorang wanita khawatir
    akan nusyuz dari suaminya.” (Hasan
    Shahih: Shahih Abu Daud no:1868
    dan ’Aunul Ma’bud VI:172 no:2121).

    Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul
    ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-
    Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil
    ‘Aziz dan sumber yang lain.

Tinggalkan komentar