Hakikat Pernikahan Imam Husain dan Syahzanan putri Yazdrajid

Kematian Husain di Padang Karbala yang cukup tragis diratapi oleh kalangan Syiah dari dulu sampai sekarang dengan keterlaluan seperti dengan menganiaya diri, memukul-mukul badan, dada dan kepala sampai bercucuran darah dengan alasan sebagai tanda kecintaan kaum Syiah kepada Husein, cucu Rasulullah saw. Tragedi itu juga dijadikan moment untuk propaganda agama Syiah, untuk menarik umat Islam agar masuk pada agama mereka.

Syiah menghabiskan dana yang tidak sedikit untuk acara ini, karena mereka beranggapan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari agama dan syiar dari kegiatan ajaran Syiah. Anak-anak kecil diajar untuk membiasakan diri menangis untuk upacara seperti ini, sehingga nanti kalau sudah dewasa akan terbiasa dan dapat melakukan acara ini dengan sempurna.

Dan untuk terus menghidupkan rasa kebangsaan mereka, Syiah Shafawi melakukan segala cara, seperti dengan mencatut nama Ahlul Bait Nabi saw ke dalam aqidah mereka dan membuat-buat riwayat dan hadits-hadits yang dibuat oleh para perawi Syiah. Salah satunya kisah ini, kisah pernikahan antara Imam Husain ra dan putri dari Yazdrajid ke tiga, Syahzanan yang disebut juga Syahbanu.

Mengetahui hakekat kisah tersebut amat urgen karena beberapa hal berikut:

  1. Riwayat ini telah disebukan dalam referensi utama Syiah seperti; Alkaafi, As-Shaduq, dan Almufid.
  2. Menjebol kejumudan kaum muslimin yang taqlid dan mengkultuskan kisah tersebut dan menganggapnya sebagai dogma yang tidak boleh dijamah.
  3. Kisah itu bukan Al-Quran atau wahyu yang turun, ia hanya kisah turun-temurun yang isinya bisa benar atau salah dan perawinya bisa majhul (tidak dikenal) atau math’un (cacat dalam riwayat).
  4. Mengetahui benar tidaknya kisah pernikahan itu selanjutnya dapat menyingkap hakekat-hakekat kisah lain yang bersumber dari Syiah.

Selanjutnya kita akan mengupas kisah tersebut dari beberapa sisi seperti sisi ilmiah, historis, dan politik.

Secara Ilmiah dan Historis

Syiah akan terperanjat dan kaget ketika mereka mengetahui bahwa ahli sejarah telah bersepakat bahwa ibu dari Ali bin Husain adalah Ummu Walad, sebagaimana disebutkan oleh Albaladzi dalam kitab Alansab: juz 3 hal 146, Alkhawarizmi dalam Al-Manaqib hal 143, Alyafi’I dalam Miratul Jinan juz 1 hal 210, Ya’qubi dalam tarikhnya juz 3 hal 43, Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat juz 5 hal 156, Ibnu Thuulun dalam Alaimmah alitsna asar hal 78 dan Ahmad Amin dalam Dhuhal Islam juz 1 hal 11.

Dan mereka akan lebih kaget lagi ketika mereka mengetahui bahwa para peneliti (muhaqqiq) menyimpulkan bahwa Yazdrajid ketiga tidak pernah memiliki seorang putri pun yang bernama Syahzanan!!!.

Seorang peneliti dari Iran bernama Said Nafisi menyimpulkan hal itu dalam bukunya “Tarikh Iran Alijtima’I”, ia menyebutkan: “Yazdrajid ketiga tidak pernah sama sekali memiliki anak yang bernama “Syahzanan” sampai dia tertawan di Madain lalu diambil oleh Umar untuk dinikahkan dengan Imam Husain dan menjadi ibu dari Imam As-Sajjad, dan “Yazdrajid” ketika masa Umar baru berumur lima belas tahun, bagaimana ia bisa memiliki anak yang lalu dinikahkan oleh Umar!!

Dan Almas’udi dalam Murujuz Zahab juga menyebutkan bahwa Yazdrajid ketika itu berumur 35 tahun dan meninggalkan dua anak lelaki: Bahram dan Fairuz dan tiga anak perempuan: Adrak, Syahin dan Mardawanda.[1]

Dari bukti-bukti ilmiah dan historis di atas kita dapat menyimpulkan bahwa kisah pernikahan antara Imam Husain dan Syahzanan adalah Dhaif dan dibuat-buat oleh Syiah.

Bukan hanya kisah pernikahannya saja yang berbeda dan saling bertentangan, tetapi riwayat yang menyebutkan waktu dan tempat wafatnya Imam Husain dan Syahzanan juga berbeda-beda.

Perihal wafatnya Imam Husain sempat membingungkan umat Islam karena banyaknya simpang siur yang mengkhabarkan bahwa jasad Imam Husain dibawa ke Kairo, ada yang mengatakan dibawa ke Asqalan atau kepala Imam Husain yang katanya dibawa ke Damsyiq lalu ke Mesir atau dibawa ke Madinah tanpa melewati Syam dan Mesir.

Untuk menjawab kebingungan tersebut, Syaikhul Islam telah menulis risalah pendek berjudul “Aina Ra’sul Husain” yang artinya dimanakah gerangan kepala Imam Husain? Lewat buku itu beliau singkap kebenaran dibalik khurafat berkenaan kepala Imam Husain yang hanya berdasar pada donngeng atau mimpi dan ngaku-ngaku saja, lalu dimanakah kepala Imam Husain? Ibnu Taimiyah lantas menyebutkan kesepakatan ulama bahwa kepala Imam Husain telah dikuburkan di kota Madinah.

Demikian pula tentang kematian Syahzanan, As-Shaduq mengatakan bahwa Ia meninggal di Madinah seperti Ali bin Husain. Tetapi Syiah membangun bangunan dan tempat ziarah di gunung kota Ray dekat  Teheran, Iran yang disebut Gunung Bibi Syahzanan”. Di atas kuburan itu dibangun marmer yang bertuliskan tahun keempat hijrah. Kuburan ini dimarmer ketika masa Buwaih dan Seljuk dan diperbaharui lagi pada masa As-Shafawi dan Al-Qajari. Di pintu masuk kuburan ini tertulis “Riwayat As-Shaffar” yang bercerita tentang kisahnya bersama Khalifah Umar dan Ali di masjid Madinah.

Kisah kuburan Imam Husain dan Syahzanan ini mirip dengan kisah kuburan Fairuz An-Nahawandi atau Abu Lu’luah (la’natullah ‘alaih), pembunuh Umar bin Khatab. Riwayat terpercaya menyebutkan bahwa dia dibunuh oleh Abdurrahman bin Auf setelah membunuh Umar bin Khatab di pertengahan shalat Subuh. Hanya saja Syiah membangun tempat ziarah untuk lelaki terlaknat ini di jalan antara kota Qom dan Kasan yang disebut Baba Syujauddin.

Pendapat Orientalis tentang kisah pernikahan Imam Husain dan Syahzanan

Orientalis Jerman Isbelir mengatakan: “Saya percaya bahwa pernikahan antara  Husain bin Ali bin Abi Thalib dan putri kisra adalah kisah yang dibuat-buat, dan Syiah berusaha untuk mengait-kaitkan imam mereka dengan keturunan terakhir kerajaan Iran, mereka sangat perhatian terhadap masalah ini”.[2]

Sejarawan Denmark terkenal, Christein Sun, menyebutkan dalam bukunya “Iran fil ‘Ahdis Sasani” bahwa polemik pernikahan Imam Husain dan Syahzanan tidak bisa dipercaya.

Secara Politis

Imamah atau khilafah menurut Syiah termasuk ushuluddin atau salah satu rukun dari rukun agama, dan barang siapa ingkar terhadap imamah tersebut maka dia dianggap telah kafir. Syiah yang sekarang ada adalah Syiah Imamiyyah Itsna Asairah, Syiah ini lebih tepat disebut sebagai aliran politik dari pada aliran agama dan sebutan Imamiyyah tersebut memperkuat makna Syiah sebagai faham politik. Dan pengaruh Imamah lebih menonjol dalam moralitas Syiah, sehingga mewarnai semua ajarannya.

Seorang peneliti dan ahli sejarah, Dr. R. Nath menulis dalam artikel yang berjudul “Alislamu fi Iran” atau “Islam di negeri Iran” yang menyebutkan bahwa Islam di Iran memiliki corak khusus, Islam bagi orang Iran tidak bisa terlepas dari kebudayaan Iran. Budaya ini berbeda dengan adat dan kebiasaan masyarakat di negeri Arab seperti; Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Mesir, Suriah, bahkan negara tetangganya, Iraq.

Corak itu bahwa Persia percaya dan meyakini kalau “seorang raja memiliki sifat tuhan”, bagi orang Persia, raja adalah penegak kebenaran, pemilik tujuh petala langit dan empat penjuru bumi, dan raja adalah titisan tuhan di bumi.

Oleh karena itu, mereka menolak pemilihan kepala negara lewat sistem khilafah karena belawanan dengan keimanan mereka terhadap raja. Inilah corak khusus dari Islam Iran seperti yang disebutkan Dr. R. Nath.

Kemudian agar kepercayaan pada raja itu tetap terus ada, sementara kerajaan terakhir mereka telah dihancurkan oleh umat Islam yang dipimpin oleh khalifah Umar bin Khatab. Mereka membuat kisah pernikahan antara Imam Husain dan Syahzanan, putri ketiga dari raja Persia yang terakhir, agar keturunan ini terus berlanjut dan membuat keturunan baru perpaduan antara seorang pemuda dari Bani Hasyim dan seorang pemudi dari Bani Assasin.

Inilah maneuver politik Syiah dalam kisah pernikahan Imam Husain dan Syahzanan untuk melegitimasi aqidah dan keyakinan mereka, yaitu dengan cara berdusta atas nama cinta Ahlul Bait dan menyembunyikan zindiq dan kemunafikan dalam hati. Semoga tulisan ini menjadi mata pisau kebenaran yang membedah tuntas kebohongan dan kepalsuan yang mengatasnamakan Agama Samawi (baca: Islam) yang selalu di klaim oleh penganut Syiah manapun. Meski demikian,  makalah sederhana ini, tentu masih banyak kekurangan dan belum komprehensif dalam pembahasannya, namun dapatlah kita simpulkan bahwa Sunnah dan Syiah adalah dua ajaran yang saling bertentangan dan kisah pernikahan antara Imam Husain dan Syahzanan adalah palsu dan dibuat-buat. Dan upaya-upaya pendekatan Sunnah-Syiah akan mendapatkan kendala yang sangat besar, terutama selama ulama Syiah masih saja melancarkan cacian dan hujatan terhadap para sahabat Nabi saw dan isteri Nabi saw yang sangat dihormati oleh kalangan Ahlus Sunnah.

Apakah kisah pernikahan Imam Husain As dan Puan Syahrbanu itu benar adanya?

Website Islamquest.net pernah mendapatkan sebuah pertanyaan di atas yang sengaja saya nukilkan sebagai penguat dari apa yang ditulis sebelumnya.

Apakah kisah pernikahan Imam Husain As dan Puan Syahrbanu itu benar adanya? Tolong jawab dengan menyertakan sanad-sanad sejarahnya seperti Tarikh Bal’ami.

Jawaban Global

Terdapat beberapa pendapat sehubungan dengan pernikahan Imam Husain As dengan Syahrbanu yang menjadi tawanan pasukan Islam; karena pada sebagian riwayat tercatat bahwa Syahrbanu menjadi tawanan pasukan Islam pada masa pemerintahan Umar. Sebagian lainnya berpendapat pada masa khilafah Usman. Demikian juga tercatat beberapa nama untuknya dan untuk ayahnya.

Dengan memperhatikan hal ini nampaknya sulit bagi kita untuk menyatakan pendapat pasti terkait dengan apakah ia adalah seorang berbangsa Persia (dan wanita bernama Syahrbanu) istri Imam Husain As dan ibunda Imam Sajjad As.

Jawaban Detil

Terdapat beberapa pendapat di antara sejarawan dan ahli hadis sehubungan dengan pernikahan Imam Husain As dengan putri Yazdgerd III (Syahrbanu):

Syaikh Shaduq Ra sekaitan dengan ibunda Imam Zain al-Abidin As menyebutkan hadis ini bahwa Sahl bin Qasim Nusyjani berkata, “Imam Ridha As berkata kepadaku di Khurasan: Terdapat hubungan kekerabatan di antara kami dan kalian.” Saya berkata, “Kekerabatan apa itu?” Imam Ridha As bersabda, “Tatkala Abdullah bin Amir bin Kiriz menaklukkan Khurasan, ia menemukan dua putri dari putri-putri Yazdgerd Raja Iran dan membawa keduanya ke hadapan Usman bin Affan. Usman bin Affan memberikan yang pertama kepada Imam Hasan dan yang kedua kepada Imam Husain As. Kedua putri ini wafat setelah melahirkan. Istri Imam Husain As melahirkan Imam Sajjad As. Setelah wafatnya istri Imam Husain, salah satu kaniz (budak perempuan) Imam Husain As yang merawat Imam Sajjad As.”

Berdasarkan riwayat ini, putri Yazdgerd dibawa ke Madinah pada masa pemerintahan Usman bin Affan bukan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Syaikh Abbas Qummi, tentang riwayat ini, berkata, “Hadis ini berseberangan dengan hadis-hadis yang menyatakan bahwa putri Yazdgerd dibawa pada masa pemerintahan Umar bin Khattab dan hadis-hadis tersebut adalah hadis-hadis yang lebih masyhur dan lebih kuat.”

Kulaini Ra sehubungan dengan identitas ibunda Imam Sajjad As menyebutkan hadis ini, “Tatkala putri Yadzgerd dibawa ke hadapan Umar, gadis-gadis Madinah datang untuk melihatnya dan ketika ia memasuki masjid, maka masjid menjadi terang dengan sinarnya. Umar menatapnya, sang putri segera menutupi wajahnya dan berkata, “Af biruj bada hormoz (Celaka, nasib Hormoz telah menjadi hitam)!” Umar berkata, “Putri ini berkata tidak senonoh kepadaku!” sambil berbalik kepadanya. Amirul Mukminin Ali As berkata kepada Umar, “Engkau tidak memiliki hak untuk mencelakakannya. Berikanlah pilihan kepadanya untuk memilih pria dari kaum Muslimin dan hitunglah saham pampasan perangnya.” Umar memberikan pilihan kepadanya. Sang Putri mendatangi dan meletakkan tangannya di atas kepala Imam Husain As. Ali berkata kepadanya, “Siapakah gerangan namamu?” “Jahan Syah,” Pungkas putri tersebut. Imam Ali As berkata, “(Tidak) Engkau adalah Syahrbanu.” Kemudian Imam Ali berkata kepada Imam Husain As: “Wahai Aba Abdillah! Putri ini adalah sebaik-baik wanita di muka bumi yang terlahir untukmu dan Ali bin Husain akan lahir darinya. Ia akan dipanggil sebagai Ibnu al-Khiyaratain (Putra dua pilihan); karena merupakan pilihan Allah dari bangsa Arab (Hasyim) dan dari ‘Ajam (Fars).”

Riwayat ini telah mendapat kritikan dari sudut pandang sanad dan matan dari kalangan peneliti; misalnya disebutkan, “Dalam sanad riwayat ini terdapat seseorang bernama, Amru bin Syimr yang merupakan orang lemah dan tidak dapat dipercaya dalam pandangan ulama Rijal.

Dari sudut pandang matan (teks riwayat) juga mengandung banyak isykalan misalnya:

Tertawanannya putri Yazdgerd adalah sebuah cerita yang patut diragukan.
Pernikahan Imam Husain As dengan putri seperti ini pada masa seperti itu juga patut diragukan; karena sesuai dengan riwayat pertama putri ini tertawan pada penaklukan Khurasan yaitu pada tahun 22 Hijriah dan pada masa pemerintahan Usman sementara riwayat kedua menyebutkan pada masa pemerintahan Umar yang apabila hal ini dijadikan sebagai kriteria maka usia Imam Husain pada masa penaklukan Iran kira-kira antara 10 dan 11 tahun; karena penaklukan Iran terjadi pada tahun kedua pemerintahan Umar. Karena itu sangat jauh kemungkinan Imam menikah pada usia seperti ini.

Litetarur-literatur sejarah pertama dan riwayat juga berbeda pendapat tentang nasab (garis keturunan) ibunda Imam Sajjad As. Sebagian sejarawan seperti Ya’qubi (wafat tahun 284 H),[5] Muhammad bin Hasan Qummi, Kulaini (wafat tahun 329 H), Muhamad bin Hasan Shaffar Qummi[7] (W 290 H), Allamah Majlisi, Syaikh Shaduq (W 381 H),Syaikh Mufid (W 413 H), memandangnya sebagai putri Yazdgerd meski mereka tidak sepakat tentang namanya.

Sebagai bandingan pendapat ini, sebagaian literatur lawas dan anyar menyebutkan pandangan-pandangan lain terkait dengan tempat penawanannya seperti Siistan, Sinad, ada yang menyebutkan Kabul dan kebanyakan literatur tanpa menyebutkan tempat penawanannya. Ia hanya disebut sebagai Ummu Walad (kaniz yang memiliki anak).

Sebagian menyebutkan nama-nama orang-orang besar Iran seperti Subhan, Sanjan, Nusyjan dan Syairwiyah sebagai ayahnya.

Untuk mengkritisi dan mengkaji riwayat-riwayat ini kita tidak dapat bersandar pada pembahasan-pembahasan sanad riwayat-riwayat ini; karena tidak satu pun riwayat yang memiliki sanad yang kuat. Di samping itu, kebanyakan literatur sejarah seperti Târikh Ya’qubi mengutip riwayat-riwayat dalam bukunya tanpa menyebutkan sanad-sanad.

Karena itu kita hanya dapat mengkaji kandungan riwayat ini dengan beberapa kritikan sebagai berikut:

Kritikan yang paling penting atas riwayat ini adalah adanya perbedaan riwayat-riwayat dalam menyebut nama dan nama ayahnya sedemikian sehingga literatur-literatur sejarah menyebutkan nama beragam untuknya seperti Syahrbanu, Salkha, Ghazalah.

Perbedaan laporan sejarah pada masa penawanannya juga merupakan salah satu kritikan sehingga sebagian laporan sejarah menyebut bahwa ia ditawan pada masa pemerintahan Umar, sebagian lainnya pada masa khilafah Usman bin Affan dan sebagian lainnya seperti Syaikh Mufid menilai bahwa ia ditawan pada masa pemerintahan Imam Ali As.

Pada dasarnya, kitab-kitab seperti Târikh Thabari dan al-Kâmil Ibnu Atsir dengan menghitung tahun-tahun perang antara kaum Muslimin dan bangsa Persia, menunjukkan jalur pelarian Yazdgerd ke pelbagai daerah Iran. Kedua kitab sejarah ini sama sekali tidak menyebutkan tentang penawanan anak-anak Yazdgerd; sementara masalah ini adalah masalah yang lebih penting ketimbang masalah-masalah sepele yang disinggung dalam kedua kitab sejarah ini.

Sebagian sejarawan klasik seperti Mas’udi tatkala menyebutkan anak-anak Yazdgerd III, ia menyebut nama-nama Adrak, Syahin, Mardawan bagi sang puteri. Kritik yang dapat dilontarkan di sini adalah pertama, nama-nama ini sama sekali tidak sesuai dengan nama-nama yang pernah disebutkan untuk ibunda Imam Sajjad As dan kedua Mas’udi tidak menyebutkan kisah tentang penawanan mereka dalam bukunya.

Bagaimanapun dengan kumpulan indikasi dan pandangan ini tentang ibunda Imam Sajjad As dan demikian juga dengan memperhatikan poin bahwa hingga sebelum akhir-akhir abad ketiga kebanyakan penukil memandangnya sebagai kaniz (budak perempuan) dari Sinad atau Kabul, karena itu kita tidak dapat memperoleh pendapat pasti tentang ibunda Imam Sajjad As. [iQuest]

Daftar Pustaka:

Mengapa kita menolak Syiah, Kumpulan makalah seminar tentang Syiah tanggal 2 September 1997

Beberapa kekeliruan Aqidah Syiah, Muhammad Abdul Sattar Al-Tunsawi, terj. A. Radzafatzi, cet I, Surabaya, 1984

As-Syiah Itsna Asariyah wa Takfiruhum li Umumil Muslimin, Abdullah bin Muhammad As-Salafi, cet1, 2010, syabakah Ad-Difa’ Anis Sunnah

Al-Masyru’ Al-Irani As-Shafawi Al-Farisi, Dr. Muhammad Bassam Yusuf, cet1,2010, syabakah Ad-Difa’ Anis Sunnah

As-Syu’ubiyyah inda Syiatul Fursi, Sulaiman bin Shalih Al-Khurasyi, cet I, 2009, Dar Al-Muntaqa

Aina Ra’sul Husain, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, www.syamela.ws

Hidup dan pikiran Ali Zainal Abidin, Muhammad Baqir, Mizan, Bandung, cet I, 1983 M

www.islamquest.net

*Makalah pernah dimuat di Fimadani pada tanggal 18 Maret 2013, cek tautan berikut: https://fimadani.com/hakikat-pernikahan-imam-husain-dan-syahzanan-putri-yazdrajid/ , dimuat di blog wp.com sebelumnya namun hilang karena broken link dan saya upload ulang disini.


Tinggalkan komentar