Hari Asyura: Lebaran Anak Yatim, Mengusap Kepala dan Meluaskan Belanja Keluarga

ahmadbinhanbal.com – Artikel ini membahas perkara penting di hari Asyura yaitu seputar mengusap kepala anak yatim dan sunnah meluaskan belanja kepada keluarga di hari Asyura. Disebutkan juga hadis tentang keutamaan mengusap kepala anak dan temuan terbaru tentang manfaat mengusap kepala anak. Sila di baca di daftar isi berikut dan bagikan kepada yang lain.

Nabi Muhammad Saw adalah nabi yang penyayang. Di tengah aktivitas beliau yang super sibuk seperti mengajar, dakwah dan berperang. Beliau masih menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama anak kecil. Di antara yang beliau lakukan setiap bertemu anak kecil adalah mengusap kepala dan mendoakan mereka.

Mengusap kepala merupakan salah satu cara untuk menunjukkan kedekatan batin kepada anak sehingga anak merasa mendapatkan pengayoman dan kasih sayang dari orang tua. Hal ini sangat berarti untuk membesarkan hati mereka dan jauh lebih mahal daripada memberi harta dengan sikap kaku dan acuh tak acuh.

Doa yang dimohonkan oleh orang tua untuk anak dan didengar olehnya akan menjalin kedekatan hati dan keakraban antara anak dan orang tua.

Hadis tentang Mengusap Kepala Anak

Hadis Pertama

عن إدريس بن  محمد بن أنس بن فضالة بن محمد ، قال : حدثنا جدي ، عن أبيه ،  قال : ‘ قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة ، وأنا ابن  أسبوعين ، فأتي بي إليه فمسح على رأسي ، وقال : ‘ سموه باسمي ،

Dari Idris bin Muhammad bin Anas bin Fadhalah bin Muhamad berkata: Telah menceritakan kepada kami kakekku dan ayahnya berkata: Rasulullah Saw datang ke Madinah dan aku baru berumur dua minggu, aku didatangkan kepada Nabi dan beliau mengusap kepalaku dan bersabda: “Berilah dia nama seperti namaku”. (Tahdzib Al-Atsar No 740)

Hadis Kedua

عن سلمة بن وردان قال : رأيت أنس بن مالك يصافح الناس ، فسألني : من أنت ؟ فقلت : مولى لبني ليث ، فمسح على رأسي ثلاثا وقال : بارك الله فيك

Dari Salamah bin Wardan, ia berkata: “Saya melihat Anad bin Malik menjabat tangan orang-orang lalu dia bertanya kepadaku: ‘Siapa Engkau?’ Saya menjawab: ‘Bekas Budak Bani Laits’, Dia lalu mengusap kepalaku tiga kali dan berkata “Semoga Allah memberikan berkah kepadamu”. (HR. Bukhari)

Hadis Ketiga

عن يوسف بن عبد الله بن سلام قال : سماني رسول الله صلى الله عليه وسلم يوسف ، وأقعدني على حجره ، ومسح على رأسي

Dari Yusuf bin Abdullah bin Salam berkata: “Rasulullah Saw memberikan nama Yusuf kepadaku dan beliau mendudukkanku di atas pangkuannya dan mengusap usap kepalaku”. (HR. Bukhari)

Hadis Keempat

عن إبراهيم بن مرزوق الثقفي قال : حدثني أبي – وكان لعبد الله بن الزبير فأخذه الحجاج منه – قال : كان عبد الله بن الزبير بعثني إلى أمه أسماء بنت أبي بكر ، فأخبرها بما يعاملهم حجاج ، وتدعو لي ، وتمسح رأسي ، وأنا يومئذ وصيف

Dari Ibrahim bin Marzuq Ats-Tsaqafi berkata: “Abdullah bin Zubair mengutusku pergi kepada ibunya, Asma’ binti Abu Bakar. Saya pun memberitahukan kepadanya perlakuakn Hajjaj kepada mereka. Dia (Asma’) mendoakan aku dan mengusap kepalaku. Saat itu saya seorang budak kecil”. (HR. Bukhari)

Hadis Kelima

أن أم محمد بن حاطب أتت به النبي -صلى الله عليه وسلم- فقالت : “هذا محمد بن حاطب أول من سُمّي بك! فمسح على رأسه، ودعا له بالبركة” رواة مسلم

Diriwayatkan bahwa Ummu Muhammad bin Hatib mendatangi Nabi Muhammad Saw dan berkata: “Ini Muhammad bin Hatib yang pertama diberi nama seperti namamu! Maka Nabi mengusap kepalanya dan mendoakannya dengan keberkahan”. (HR. Muslim)

Hadis Keenam

ابن عباس قال: مسح النبي -صلى الله عليه و سلم- رأسي ودعا لي بالحكمة

Ibnu Abbas berkata: “Nabi Saw mengusap kepalaku dan mendoakanku dengan hikmah”

Hadis Ketujuh

بشير بن عقربة الجهني قال :أتى أبي إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- فقال: من هذا معك يا عقربة ؟ فقال: ابني بحير! قال: ادنُ فدنوت حتى قعدت عن يمينه فمسح على رأسي بيده قال: ما اسمك؟ قلت: بحير! قال: لا, ولكنّ اسمك بشير

Basyir bin Aqrabah Al-Juhni berkata: “Ayahku mendatangi Nabi Saw, beliau bersabda: “Siapa yang bersamamu wahai Aqrabah? Dia menjawab: Anakku Buhair! Nabi bersabda: Dekatkan dia. Maka aku dekatkan sampai aku duduk di sebelah kanan beliau dan mengusap kepalaku dengan tangannya dan berkata: Siapa namamu? Aku menjawab: Buhair, Beliau bersabda: Bukan, namamu adalah Basyir”.

Hadis Kedelapan

عن عمرو بن حريث قال: مرّ النبي -صلى الله عليه وسلم- بعبد الله بن جعفر وهو يلعب بالتراب, فقال: اللهم بارك له في تجارته

Dari Amru bin Harits berkata: Nabi Saw bertemu Abdullah bin Ja’far yang sedang bermain tanah, lalu beliau berdoa: ‘Ya Allah, berkahilah dalam perdagangannya”.

Hadis Kesembilan

عن أنس قال: دعا لي رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقال : ا للهم أكثر ماله وولده وأطل حياته

Dari Anas berkata: Rasulullah Saw mendoakanku: “Ya Allah perbanyaklah harta dan anaknya dan panjangkan umurnya”.

Hadis Kesepuluh

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْخَلَاءَ فَوَضَعْتُ لَهُ وَضُوءًا قَالَ مَنْ وَضَعَ هَذَا فَأُخْبِرَ فَقَالَ اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw pernah masuk ke tempat buang hajat. Ia (Ibnu Abbas) berkata: ‘Saya lalu membawakan untuk beliau tempat bersuci. Beliau bertanya: “Siapa yang melakukan ini disini? Lalu diberitahukan kepada Beliau (orang yang melakukannya), beliau berdoa: “Ya Allah, semoga anak itu Engkau jadikan orang yang faham benar urusan agamanya”. (HR. Bukhari)

Dari beberapa hadis di atas, dapat kita lihat salah satu konsep pendidikan adab terhadap anak. Orang tua memiliki kewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan anak. Kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan akan tempat tinggal, kebutuhan akan ilmu pengetahuan, kebutuhan tentang makanan, kebutuhan tentang agama, dan yang paling penting adalah kebutuhan akan kasih sayang.

Beberapa bentuk kasih sayang yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW adalah dengan mencium anak, merangkul anak, menggendong anak di atas pundah, memberikan nama, mengusap kepala anak kemudian mendoakannya.

Ketika orang tua sudah memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, makan akan terbentuk generasi yang beradab terhadap orang tua sebagai hasil timbal balik dari adab orang tua terhadap anak, kemudian orang tua berhak mendapatkan surga sebagai hadiah telah menjaga anak sebagai amanah dari Allah SWT sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Mengusap Kepala Anak Yatim pada Bulan Muharram

Mengasihi anak yatim, menyantuni mereka, memberikan kebutuhan-kebutuhan mereka termasuk amal kebaikan yang baik untuk dikerjakan sebagai bentuk pemuliaan terhadapnya. Namun ini dikerjakan secara umum, tanpa menghususkan keutamaannya secara fantastis dan hiperbolis dan hanya dikerjakan pada bulan itu saja, seperti bulan Muharram yang sering disebut bulannya Lebaran Anak Yatim.

Nabi Muhammad SAW memerintahkan kita untuk menyayangi anak yatim ketika berjumpa dengan mereka,  dekap dan usap kepalanya, karena bisa melembutkan hati dan mengobati kerasanya hati. Melembutkan hati bukan hanya di bulan Muharram saja tapi kapan saja selama masih hidup, karena hati selalu berbolak-balik dan cenderung kepada maksiat.

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺷَﻜَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺴْﻮَﺓَ ﻗَﻠْﺒِﻪِ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ: ﺇِﻥْ ﺃَﺭَﺩْﺕَ ﺗَﻠْﻴِﻴْﻦَ ﻗَﻠْﺒِﻚَ ﻓَﺄَﻃْﻌِﻢِ ﺍﻟْﻤِﺴْﻜِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻣْﺴَﺢْ ﺭَﺃْﺱَ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴْﻢِ

Dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seseorang yang mengeluhkan kerasnya hati kepada Rasulullah saw, lalu beliau berkata kepadanya: “Jika engkau ingin melembutkan hatimu, maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad)

Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib ketika masih kecil dan yatim beliau menceritakan,

ﺛُﻢَّ ﻣَﺴَﺢَ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺃْﺳِﻲ ﺛَﻠَﺎﺛًﺎ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻛُﻠَّﻤَﺎ ﻣَﺴَﺢَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺧْﻠُﻒْ ﺟَﻌْﻔَﺮًﺍ ﻓِﻲ ﻭَﻟَﺪِﻩِ

“ … Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepalaku sebanyak tiga kali. Setiap kali mengusap beliau berdoa:‘Ya Allah, jadikanlah pengganti Ja’far pada anaknya …“

إذا أردت أن يلين قلبك فأطعم المساكين وامسح رأس اليتيم,;, |

Redaksi hadits yang biasa dipakai tentang mengusap kepala anak yatim adalah hadis riwayat Abu Umamah bahwa Nabi Muhamamd SAW bersabda:

مَنْ مسَحَ رأسَ يتيمٍ، لَمْ يمسَحْهُ إلَّا للَّهِ، كانَ لهُ بكلِّ شعرةٍ تَمَسُّ عليْها يدُهُ حسناتٌ، ومَنْ أحسَنَ إلى يتيمةٍ أو يتيمٍ عِندَهُ، كُنتُ أنا وهُوَ في الجنَّةِ كهاتَيْنِ، وقرَنَ بَينَ إصبعَيْهِ.

“Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim ia tidak mengusapnya kecuali karena Allah, maka baginya di setiap rambut yang ia usah beragam kebaikan. Barangsiapa yang berbuat kebaikan kepada anak yatim baik lelaki ataupun perempuan kecuali aku dan ia di surga seperti ini. Rasulullah merenggangkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya”.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dari jalan Abdullah bin Mubarak dari Yahya bin Ayyub dari Ubaidullah bin Zahr dari Ali bin Yazid dari al-Qasim dari Abu Umamah RA secara marfu’ pada hadis nomor 22153 dan 22284.

Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Ali bin Yazid yang dikenal perawi hadis palsu dari orang-orang terpercaya. Adapun bagian akhir hadis shahih lighairihi karena ada syahid dari hadis Sahl bin Sa’idi dalam Sahih Bukhari,

أنا وكافِلُ اليَتِيمِ في الجَنَّةِ هَكَذا وأَشارَ بالسَّبَّابَةِ والوُسْطَى، وفَرَّجَ بيْنَهُما شيئًا.

“Aku dan penanggung anak yatim di surga seperti ini, Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Beliau merenggangkan sedikit antara kedua jari tersebut”. (HR. Bukhari No 5304)

Berdasarkan hadis di atas, menurut Dr. KH. Rachmat Morado Sugiarto dalam bukunya ’79 Hadis Populer Lemah & Palsu’ menyebutkan bahwa yang benar bukan mengusap anak yatim tetapi menyantuni, menanggung, berbuat baik kepada mereka, sehingga orang yang melakukan hal-hal tersebut berhak mendapatkan surga, dekat bersama Nabi tercinta.

Ulama menjelaskan, meski sanad hadits ini dla’if (lemah), tapi isinya (matan hadits) boleh diamalkan, karena berkaitan dengan kebajikan-kebajikan (fadla’ilul a’mal).

Dalam kitab Fathu al-Bari, Syaikh Ibnu Hajar al-Asqolaniy (w. 752 H) menambahkan: “Terdapat pula keterangan hadits mengenai keutamaan mengusap kepala anak yatim yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Thabraany dari riwayat Abu Umamah dengan teks hadits yang berbunyi:

من مسح رأس يتيم لا يمسحه الا لله كان له بكل شعرة تمر يده عليها حسنة

“Barangsiapa mengusap kepala anak yatim yang semata-mata karena Allah disetiap rambut yang ia usap, Allah berikan kebaikan” (sanadnya dho’if). Selain itu juga masih terdapat hadits dari riwayat Abu Hurairah dari riwayat Imam Ahmad yang sanad hasan disebutakan:

«ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﺷﻜﺎ ﺇﻟﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻗﺴﻮﺓ ﻗﻠﺒﻪ ﻓﻘﺎﻝ: ” اﻣﺴﺢ ﺭﺃﺱ اﻟﻴﺘﻴﻢ ﻭﺃﻃﻌﻢ اﻟﻤﺴﻜﻴﻦ».

Dari Abu Hurairah bahwa seseorang mengadu kepada Rasulullah perihal hatinya yang keras. Nabi bersabda: “Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin.”

Menurut Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H) dalam kitab al-Fatawa al-Haditsiyah, terdapat makna hakiki dari mengusap kepala anak yatim, beliau menyebutkan:

والمراد من المسح في الحديث الثاني حقيقته كما بينه آخر الحديث وهو (من مسح رأس يتيم لم يمسحه إلا لله كان له بكل شعرة تمر عليها يده عشر حسنات ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم عنده كنت أنا وهو في الجنة كهاتين وقرن بين أصبعيه) . وخص الرأس بذلك لأن في المسح عليه تعظيما لصاحبه وشفقة عليه ومحبة له وجبرا لخاطره، وهذه كلها مع اليتيم تقتضي هذا الثوب الجزيل….

“Maksud dari “mengusap” dalam hadits yang kedua adalah makna hakiki, sebagaimana diterangkan oleh hadits lain, yaitu “Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim semata-mata karena Allah, niscaya Allah memberikan 10 kebaikan pada setiap helai rambut yang diusapnya. Dan barangsiapa berbuat baik kepada anak yatim, perempuan atau laki-laki, niscaya aku (Nabi Muhammad) akan bersamanya seperti ini (dua jari tangan); lalu Nabi berisyarah dengan dua jarinya”. Penyebutan kata ra’sun (kepala), karena mengusap kepala berarti menghargai, mengasihi, cinta kasih, dan mengayomi kebutuhannya. Jika semua itu dilakukan pada anak yatim, maka akan mendapatkan pahala yang sangat besar….”

Memang, seringkali hati ini menjadi keras, tidak peduli, terlalu egois untuk beribadah sosial. Salah satu resepnya adalah memberi makan kepada orang miskin dan membelai kepala anak yatim.

Lebaran anak yatim diidentikkan dengan bulan Muharram, karena ada anjuran untuk mengusap kepala anak yatim pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari Asyura. Mengusap kepala anak yatim adalah bahasa ungkapan untuk memberikan santunan dan bantuan kepada mereka.

Anjuran ini memang sangat masyhur dikenal di sebagian masyarakat dan merupakan salah satu diantara amaliyah lainnya seperti puasa, shalat, silaturrahim, menjenguk orang sakit, memakai celak mata, mandi, meluaskan belanja, menziarahi orang alim dan lainnya. Sebagaimana dituliskan dalam kitab I’anatut- Thalibin tentang anjuran amaliyah pada 10 Muharram.

Namun bila dillihat dari dasar pensyariatannya, para ulama hadis umumnya berpendapat bahwa hanya puasa saja yang punya landasan yang kuat dengan hadis-hadis shahih. Yang juga punya dalil adalah meluaskan belanja. Sedangkan selebihnya hanya didukung oleh hadits-hadits dhaif bahkan sebagiannya maudhu’ dan mungkar. Sehingga tidak bisa diterima pensyariatannya oleh sebagian ulama.

Meluaskan Belanja kepada Ahli Keluarga di Hari Asyura

Hari Asyura adalah hari kemenangan umat Islam. Sejarah kemenangan ini jauh menelusuri zaman Nabi Musa a.s. ketika dia dan bani Israil diselamatkan Allah Swt. dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Syukur, kita hari ini dianjurkan merayakan kemenangan dengan berbagi rizki kepada ahli keluarga.

Majlis Fatwa Mesir (Dar Al-Iftha’) mengeluarkan fatwa bahwa harus bagi seseorang untuk berbelanja atau melapangkan (membahagiakan) ahli keluarga pada hari Asyura. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Al-Baihaqi yang menyebutkan hadis yang diriwayatkan dari Abdullah, bahwa Rasul SAW bersabda :

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَزَلْ فِي سَعَةٍ سَائِرَ سَنَتِهِ.

Barang siapa meluaskan belanjanya kepada keluarganya pada hari Asyura maka ia senantiasa berada pada keluasan rizki sepanjang tahunnya”. [HR Thabrani]

Hadits di atas mengenai meluaskan belanja kepada keluarga memang masih diperselisihkan oleh para ulama, sebagian ulama hadits menilainya lemah (dhaif). Namun As-Suyuthi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa karena begitu banyaknya jalur periwayatan hadits ini, maka derajat hadits ini menjadi hasan bahkan Syeikh Zainuddin Al-Iraqi dan Ibnu Nashiruddin menshahihkannya.

Al-Ajhury dalam kitab I’anatut Thalibin menyebutkan dia mengadakan penelitian dalam hal ini dan menanyakan kepada para ahli hadits dan ia memberikan kesimpulan berikut:

وحاصله أن ما ورد من فعل عشر خصال يوم عاشوراء لم يصح فيها إلا حديث الصيام والتوسعة على العيال، وأما باقي الخصال الثمانية: فمنها ما هو ضعيف، ومنها ما هو منكر موضوع.

“Kesimpulannya adalah dari 10 perkara yang dilakukan pada hari Asyura itu tidak berdasar kepada hadits shahih kecuali hadits puasa asyura dan meluaskan belanja kepada keluarga. Adapun 8 perkara lainnya ada yang berdasar kepada hadits dlaif dan ada yang berdasarkan hadits munkar lagi palsu.” [I’anatut Thalibin]

Masalah meluaskan belanja kepada keluarganya, secara ittifaq disunnahkan oleh ulama empat madzhab. Sebagaimana pernyataan As-Shawi al-Maliki dalam Hasyiyah Syarah Shagir, Sulaiman Jamal As-Sayfi’i dalam Hasyiyah Fathil Wahhab, Al-Bahuti al-Hambali dalam Syarah Muntahal Iradat, Ibnu Abidin Al-Hanafi dalam Raddul Muhtar.

Al-Imam Ibn Abidin dari Mazhab Hanafi membahas masalah ini dan menukil kata Al-Jabir:

قَالَ جَابِرٌ: جَرَّبْته أَرْبَعِينَ عَامًا فَلَمْ يَتَخَلَّفْ

“Jabir mengatakan: Aku telah melakukan perkara ini selama 40 tahun dan tidak pernah meninggalkannya (Radd al-Muhtar)

Redaksi lainya disebutkan oleh Al-Munawi berkata :

وذلك مجرب للبركة والتوسعة ، قال جابر الصحابي : جربناه فوجدناه صحيحا وقال ابن عيينة : جربناه خمسين أو ستين سنة

Hal ini (meluaskan belanja pada hari asyura) telah terbukti untuk keberkahan dan keluasan rizki. Jabir As-Shahabi berkata : Aku telah mencobanya dan ternyata benar. Ibnu Uyaynah berkata: Aku telah membuktikannya selama 50 atau 60 tahun.” [Faidlul Qadir]

al-Imam al-Hattab al-Maliki dari Mazhab Maliki menyatakan:

يَنْبَغِي أَنْ يُوَسِّعَ عَلَى الْأَهْلِ فِيهِمَا -أي ليلة عاشوراء ويومها

“Seharusnya bagi seseorang itu melapangkan (memudahkan urusan atau menggembirakan) ahli keluarganya pada malam atau siang Hari Asyura. (Mawahib al-Jalil)

Sheikh Abd al-Hamid al-Sharwani dari Mazhab Syafi’i menjelaskan:

وَيُسَنُّ التَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ؛ لِيُوَسِّعَ اللهُ عَلَيْهِ السَّنَةَ كُلَّهَا كَمَا فِي الْحَدِيثِ الْحَسَنِ

“Dan disunatkan untuk melapangkan ahli keluarga pada Hari Asyura mudah-mudahan Allah melapangkan ahli keluarganya sepanjang tahun seperti yang disebutkan dalam hadis. (Hasyiah ‘Ala Tuhfah al-Muhtaj)

al-Imam al-Bhuti dari Mazhab Hanbali menukilkan pandangan Imam Ahmad dan Sufyan Ibn ‘Uyainah yang menyebutkan:

قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ: قَدْ جَرَّبْنَاهُ مُنْذُ خَمْسِينَ سَنَةً أَوْ سِتِّينَ فَمَا رَأَيْنَا إلَّا خَيْرًا

“Kata Ibn ‘Uyainah: Kami melakukannya selama 50 tahun atau 60 tahun, kami tidak melihatnya melainkan kebaikan.”

Adapun hadis yang dinyatakan oleh para ulama hadis sebagai Maudhu’, di antaranya adalah hadis berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ ، وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً ، وَمَنْ فَطَّرَ مُؤْمِنًا لَيْلَةَ عَاشُورَاءَ فَكَأَنَّمَا أَفْطَرَ عِنْدَهُ جَمِيعُ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، وَأَشْبَعَ بُطُونَهُمْ “

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang berpuasa Asyura pada bulan Muharram, ia akan diberikan Allah pahala 10 ribu malaikat, barang siapa yang berpuasa Asyura pada bulan Muharram, ia akan diberikan Allah pahala 10 ribu orang berhaji dan umrah dan 10 ribu orang mati syahid. Dan siapa yang mengusap kepada anak yatim pada hari ‘Asyura maka dengan setiap rambutnya diangkat baginya satu derajat di surga. Siapa yang memberi berbuka orang mukmin pada hari tersebut seolah-ola ia memberi makan seluru fakir miskin umat nabi Muhammad saw  dan mengeyangkan perut mereka.” Hadis ini terdapat dalam kitab Tanbih al-Ghafilin karya As-Samarqandi, Arba’ Majalis karya Al-Khatib Al-Baghdadi.

Abu Hatim berkata: Ini adalah hadits batil yang tak memiliki sumber. Habib termasuk perawi yang suka memalsukan hadits atas nama orang-orang tsiqat (terpercaya). Haram menulis haditsnya kecuali sebagai menerangkan keburukannya.

Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Maudhu’at menyebut statud hadis ini Maudhu tanpa diragukan.

Al-Munawi dalam Faidhul Qadir menyebutkan pada hadis ini ada Utsman bin Mathr yang hadisnya mungkar.

Manfaat Mengusap Kepala Anak

Situs Laha Online menyebutkan sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh National Research Centre di Kairo tentang pengaruh mengusap kepala anak yatim dan mengusap anggota wudhu dengan tangan.

Dr. Neil Solo, mengatakan bahwa sentuhan adalah pengobatan paling efektif di dunia yang bisa memberikan pengaruh positif kepada dua belah pihak, Pemberi sentuh dan yang menerima sentuhan pada waktu yang sama. Daerah kepala adalah perangkat untuk berkomunikasi dengan saraf lain, didalamnya ada sistem saraf, otak di mana semua anggota diarahkan, otak menjadi kehormatan manusia.

Dr. Neil Solo menambahkan bahwa tangan kanan memiliki sinyal positif, ketika seseorang menempatkan tangan di atas kepala anak yatim, sedang terjadi hubungan antara keduanya. Menghapus fikiran negatif yang dibawa anak yatim, dan mengulangi mengusap beberapa kali mampu menghilangkan gelisah yatim dan memberikan keyakinan dan membuat tubuhnya rileks.

Dia menambahkan dengan mengatakan: Proses ini menimbulkan semacam pengobatan alami yang terjadi antara kedua individu. Keajaiban dari mengusap ini mampu mengaktifkan energi yang berbeda pada manusia, dan memberikan efek positif bagi kedua belah pihak, menunjukkan dampak signifikan dari tangan kanan dalam proses mengusap. selesai.

Mengusap kepala anak yatim bisa menghilangkan penyakit hati seperti hati yang keras. Orang yang sedang terserang penyakit hati harus diobati dengan sesuatu yang menjadi lawannya, sifat sombong diobati dengan tawadhu, sifat kikir diobati dengan dermawan, dan kerasnya hati diobati dengan sikap lembut dan kasih sayang.

Situs Asian Parent menyebutkan manfaat mengusap kepala pada bayi, bahwa Bayi bisa merasakan getaran kasih sayang itu dan merasa nyaman karenanya. Cara ini bisa Anda terapkan jika bayi sedang sulit tidur. Syaratnya, bayi harus dalam kondisi sehat dan kenyang. Suasana hati Anda juga harus tenang dan santai, agar bayi merasa betah dalam pangkuan Anda.

Video

Penjelasan Buya Yahya tentang menyantuni Anak Yatim.

 

Referensi:

Share your love
Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *