Hari Asyura: Sunnah Meluaskan Belanja kepada Ahli Keluarga

Home » Hari Asyura: Sunnah Meluaskan Belanja kepada Ahli Keluarga

Hari Asyura adalah hari kemenangan umat Islam. Sejarah kemenangan ini jauh menelusuri zaman Nabi Musa a.s. ketika dia dan bani Israil diselamatkan Allah Swt. dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Syukur, kita hari ini dianjurkan merayakan kemenangan dengan berbagi rizki kepada ahli keluarga.

Meluaskan rezeki atau belanja kepada keluarga dan anak-anak pada Hari Asyura merupakan salah satu sunnah nabawiyah yang mulia. Amalan ini telah didukung oleh para hafiz (ulama ahli hadits), dipraktikkan oleh para fuqaha (ahli fikih) dari berbagai mazhab, dan menjadi tradisi umat Islam di berbagai tempat dan zaman sepanjang sejarah.

Antara Sunnah dan Tradisi Ulama

Majlis Fatwa Mesir (Dar Al-Iftha’) mengeluarkan fatwa bahwa harus bagi seseorang untuk berbelanja atau melapangkan (membahagiakan) ahli keluarga pada hari Asyura. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Al-Baihaqi yang menyebutkan hadis yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasul SAW bersabda :

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَزَلْ فِي سَعَةٍ سَائِرَ سَنَتِهِ.

Barang siapa meluaskan belanjanya kepada keluarganya pada hari Asyura maka ia senantiasa berada pada keluasan rizki sepanjang tahunnya”. [HR Thabrani]

Jabir berkata: “Kami telah mencobanya dan ternyata benar.” Pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh Abu al-Zubair dan Shu’bah.

Hadits di atas mengenai meluaskan belanja kepada keluarga memang masih diperselisihkan oleh para ulama, sebagian ulama hadits menilainya lemah (dhaif).

Namun As-Suyuthi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa karena begitu banyaknya jalur periwayatan hadits ini, maka derajat hadits ini menjadi hasan bahkan Syeikh Zainuddin Al-Iraqi dan Ibnu Nashiruddin menshahihkannya.

Demikian pula menurut al Baihaqi, ketika seluruh riwayat dikumpulkan, kedudukannya menjadi kuat dan dapat diamalkan, sebagaimana ditegaskan oleh al-Bayhaqi dalam Shu‘ab al-īmān.

Abu Musa al-Madini juga mengklasifikasikan hadits ini sebagai hasan, sebagaimana dikutip oleh Ibn al-Mulaqqin dalam al-Tawdīh. Al-Suyuthi dengan tegas menyatakan dalam al-Durar al-Muntatsirah bahwa hadits ini adalah sahih dan tsabit.

Sejumlah ulama bahkan telah menulis risalah khusus untuk mengumpulkan sanad dan memperkuat legitimasi amalan ini. Di antaranya adalah al-‘Iraqi dalam Risālah al-Tawsi‘ah ‘ala al-‘Iyāl, al-Suyuthi dalam Fadl al-Tawsi‘ah fī Yawm ‘Āsyūrāʾ, serta Ahmad bin al-Shiddīq al-Ghumārī dalam al-Hadiyyah al-Ṣughrā.

Al-Ajhury dalam kitab I’anatut Thalibin menyebutkan dia mengadakan penelitian dalam hal ini dan menanyakan kepada para ahli hadits dan ia memberikan kesimpulan berikut:

Baca juga:   Al-Quran Sebagai Pedoman Hidup

وحاصله أن ما ورد من فعل عشر خصال يوم عاشوراء لم يصح فيها إلا حديث الصيام والتوسعة على العيال، وأما باقي الخصال الثمانية: فمنها ما هو ضعيف، ومنها ما هو منكر موضوع.

“Kesimpulannya adalah dari 10 perkara yang dilakukan pada hari Asyura itu tidak berdasar kepada hadits shahih kecuali hadits puasa asyura dan meluaskan belanja kepada keluarga. Adapun 8 perkara lainnya ada yang berdasar kepada hadits dlaif dan ada yang berdasarkan hadits munkar lagi palsu.” [I’anatut Thalibin]

Pandangan Mazhab-Mazhab Fikih

Masalah meluaskan belanja kepada keluarganya, secara ittifaq disunnahkan oleh ulama empat madzhab —Hanafi, Maliki, Syafi‘i, dan Hanbali—.

Sebagaimana pernyataan As-Shawi al-Maliki dalam Hasyiyah Syarah Shagir, Sulaiman Jamal As-Sayfi’i dalam Hasyiyah Fathil Wahhab, Al-Bahuti al-Hambali dalam Syarah Muntahal Iradat, Ibnu Abidin Al-Hanafi dalam Raddul Muhtar.

Al-Imam Ibn Abidin dari Mazhab Hanafi membahas masalah ini dan menukil kata Al-Jabir:

قَالَ جَابِرٌ: جَرَّبْته أَرْبَعِينَ عَامًا فَلَمْ يَتَخَلَّفْ

“Jabir mengatakan: Aku telah melakukan perkara ini selama 40 tahun dan tidak pernah meninggalkannya (Radd al-Muhtar)

Redaksi lainya disebutkan oleh Al-Munawi berkata:

وذلك مجرب للبركة والتوسعة ، قال جابر الصحابي : جربناه فوجدناه صحيحا وقال ابن عيينة : جربناه خمسين أو ستين سنة

“Hal ini (meluaskan belanja pada hari asyura) telah terbukti untuk keberkahan dan keluasan rizki. Jabir As-Shahabi berkata : Aku telah mencobanya dan ternyata benar. Ibnu Uyaynah berkata: Aku telah membuktikannya selama 50 atau 60 tahun.” [Faidlul Qadir]

al-Imam al-Hattab al-Maliki dari Mazhab Maliki menyatakan:

يَنْبَغِي أَنْ يُوَسِّعَ عَلَى الْأَهْلِ فِيهِمَا -أي ليلة عاشوراء ويومها

“Seharusnya bagi seseorang itu melapangkan (memudahkan urusan atau menggembirakan) ahli keluarganya pada malam atau siang Hari Asyura. (Mawahib al-Jalil)

Baca juga:   Gerak Cepat Mengejar Bekal Kematian

Sheikh Abd al-Hamid al-Sharwani dari Mazhab Syafi’i menjelaskan:

وَيُسَنُّ التَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ؛ لِيُوَسِّعَ اللهُ عَلَيْهِ السَّنَةَ كُلَّهَا كَمَا فِي الْحَدِيثِ الْحَسَنِ

“Dan disunatkan untuk melapangkan ahli keluarga pada Hari Asyura mudah-mudahan Allah melapangkan ahli keluarganya sepanjang tahun seperti yang disebutkan dalam hadis. (Hasyiah ‘Ala Tuhfah al-Muhtaj)

al-Imam al-Buhuti dari Mazhab Hanbali menukilkan pandangan Imam Ahmad dan Sufyan Ibn ‘Uyainah yang menyebutkan:

قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ: قَدْ جَرَّبْنَاهُ مُنْذُ خَمْسِينَ سَنَةً أَوْ سِتِّينَ فَمَا رَأَيْنَا إلَّا خَيْرًا

“Kata Ibn ‘Uyainah: Kami melakukannya selama 50 tahun atau 60 tahun, kami tidak melihatnya melainkan kebaikan.”

Adapun hadis yang dinyatakan oleh para ulama hadis sebagai Maudhu’, di antaranya adalah hadis berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ ، وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً ، وَمَنْ فَطَّرَ مُؤْمِنًا لَيْلَةَ عَاشُورَاءَ فَكَأَنَّمَا أَفْطَرَ عِنْدَهُ جَمِيعُ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، وَأَشْبَعَ بُطُونَهُمْ “

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang berpuasa Asyura pada bulan Muharram, ia akan diberikan Allah pahala 10 ribu malaikat, barang siapa yang berpuasa Asyura pada bulan Muharram, ia akan diberikan Allah pahala 10 ribu orang berhaji dan umrah dan 10 ribu orang mati syahid.

Dan siapa yang mengusap kepada anak yatim pada hari ‘Asyura maka dengan setiap rambutnya diangkat baginya satu derajat di surga. Siapa yang memberi berbuka orang mukmin pada hari tersebut seolah-ola ia memberi makan seluru fakir miskin umat nabi Muhammad saw  dan mengeyangkan perut mereka.” 

Baca juga:   Masjid Yang Cinta dan Ramah Anak

Hadis ini terdapat dalam kitab Tanbih al-Ghafilin karya As-Samarqandi, Arba’ Majalis karya Al-Khatib Al-Baghdadi.

Abu Hatim berkata: Ini adalah hadits batil yang tak memiliki sumber. Habib termasuk perawi yang suka memalsukan hadits atas nama orang-orang tsiqat (terpercaya). Haram menulis haditsnya kecuali sebagai menerangkan keburukannya.

Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Maudhu’at menyebut statud hadis ini Maudhu tanpa diragukan.

Al-Munawi dalam Faidhul Qadir menyebutkan pada hadis ini ada Utsman bin Mathr yang hadisnya mungkar.

Kesimpulan

Dari keseluruhan keterangan ini, jelas bahwa meluaskan rezeki kepada keluarga pada Hari Asyura merupakan sunnah yang memiliki landasan kuat dari hadits Nabi ﷺ dan dari praktik para salaf saleh. Amalan ini telah dikukuhkan oleh para ulama dari keempat mazhab utama dan dipraktikkan oleh mayoritas umat Islam sepanjang sejarah.

Oleh karena itu, Hari Asyura menjadi kesempatan yang berharga bagi kaum Muslimin, termasuk di Indonesia, untuk menghidupkan sunnah ini. Di samping meraih pahala dan keberkahan rezeki, amalan ini juga mempererat kehangatan, kasih sayang, dan kebersamaan dalam keluarga.

Sumber:

Jumal Ahmad, Hari Asyura: Lebaran Anak Yatim, Mengusap Kepala dan Meluaskan Belanja Keluarga. https://ahmadbinhanbal.com/hari-asyura-lebaran-yatim-dan-meluaskan-belanja-keluarga/. Maret 11, 2017


Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *