Sabar Menahan Hawa Nafsu

Pengertian Hawa Nafsu

Di dalam Lisanul Arab disebutkan kata Ahlul Ahwa’. Kata tunggalnya adalah hawan. Setiap yang kosong bisa disebut hawa’. Di dalam Al-Quran disebutkan “wa afidatuhum hawaa’ artinya mereka tidak mempunyai akal. Menurut Al-Jauhary, setiap yang hampa disebut hawa. Bila dikatakan: hawa-yahwi-hawiyyan artinya jatuh dari atas ke bawah.

Al-Hawa juga berarti hawa nafsu. Menurut para pakar bahasa al-hawa artinya kecintaan seseorang kepada sesuatu dan apa yang menarik hatinya. Allah berfirman: “wa nahan nafsa ‘anil hawaa” artinya menahan diri dari syahwatnya dan hal-hal yang menjurus kepada kedurhakaan kepada Allah.

Jika dikatakan “Istahwathus syaithaan” artinya akalnya pergi bersama nafsu syetan.  istahwat artinya di buat bingung. Al -Hawiyah  adalah di antara nama – nama neraka jahanam . lebih jelas nya lihat Lisanul Arab , 1/370-373.

Al- Marwady berkata .”Selagi nafsu tampil sebagai pemenang dan selalu menyerat  kepada kerusakan. maka akal akan di jadi kan pengikut  ang aktif bagi nafsu, maka ia akan selalu mencari – cari kelalaian akal, mendorongnya untuk menyeleweng dari mencari – cari alsan. sebab dominasi nafsu  menjadi kuat  dan pangkal tipu dayanya  tersamar. dari dua jalan ini lah nafsu mendatangi orang yang berakal. hingga hukum – hukum nafsu  ada padanya. Dua jalan itu ialah :

  1. Kekuatan kekuasaan nafsu. Hal ini terjadi takkala kekuatan nafsu sangat kuat disertai pendukungnya, sehingga kemenangan nafsu dan syahwat membuatnya tidak berkutik sama sekai. Akal sudah tidak mampu mengusirnya dan mecegahnya, padahal keburukannya terpampang jelas di hadapan akal yang sudah dikuasai itu.
  2. Nafsu menyembunyikan tipu dayanya, hingga tindak tanduknya menjadi samar-samar di hadapan akal. Yang buruk terlihat baik, yang berbahaya tampak bermanfaat.

Kondisi ini bisa menjurus kepada salah satu dari dua resiko, boleh jadi jiwa akan condong kepada sesuatu yang tampak, sehingga yang buruk benar-benar tidak tampak karena baik sangka, dan boleh jadi akal tidak mampu membedakan dua hal yang sampak serupa, lalu akhirnya jiwa akan mengikuti yang lebih mudah, sehinga muncul anggapan bahwa itulah yang paling baik dari dua alternatif tersebut.

Kesabaran Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Sabar secara etimologi berasal dari kata al-Man’u yang berarti menahan, alSyiddah yang berarti kokoh, al-Habsu yang berarti mencegah, al-Dhammu yang berarti menghimpun, dan al-Qawwah yang berarti kekuatan.

Secara terminologi sabar bermakna menahan jiwa dari lemah lisan, dari mengeluh, dan organ tubuh dari berbuat sesuatu yang tidak baik untuk dilakukan.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan makna sabar ialah menahan jiwa dari perasaan sedih yang mendalam, menahan lisan agar tidak berkeluh kesah dan menahan anggota badan agar tidak merobek pakaian, menampar pipi, dan yang menyerupainya.

Pada hakikatnya sabar yaitu akhla mulia yang bisa mencegah manusia melakukan hal tercela dan menggoda, serta salah satu kekuatan jiwa karena dengan bersabar segala urusan jiwa menjadi baik, sabar menjadi benteng yang kuat ketika manusia menghadapi suatu musibah.

Sabar akan menjauhkan seseorang dari rasa sedih, putus asa, dan juga dapat menahan nafsu. Oleh karena itu sabar merupakan budi pekerti yang sangat diperlukan bagi manusia. Sabar akan mencegah seseorang agar tidak marah, menahan lisan dari mengeluh, dan juga menahan anggota badan agar tidak melakukan sesuatu yang tidak baik. Sabar akan menuntun seseorang untuk mempunyai ketegaran hati terhadap apa yang telah ditakdirkan Allah SWT. dan melaksanakan hukum-hukum syariat yang telah ada.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah membagi sabar dari segi kekuatannya menjadi tiga bagian.

  • Pertama, yaitu kekuatan sabar dalam melakukan kegiatan yang bermanfaat lebih besar daripada bersabar dalam menjauhi segala hal yang membahayakan. Hal itu dapat digambarkan dengan seseorang yang dapat bersabar dalam menjalankan ketaatan tetapi tidak bisa sabar ketika dorongan nafsu mengajak pada perbuatan yang dilarang.
  • Kedua, kekuatan sabar dalam menjauhi larangan lebih kuat daripada bersabar dalam menjalankan ketaatan.
  • Ketiga, tidak ada kesabaran dalam menjalankan keduanya.

Hal yang paling utama ialah sabar dalam dua hal tersebut, yaitu sabar saat menjalankan ketaatan dan sabar dalam menjauhi larangan. Akan tetapi dalam realitanya tidaklah demikian. Misalnya banyak orang dapat menjalankan shalat tahajud, dapat melaksanakan ibadah puasa baik wajib maupun yang sunnah, tapi tidak bisa bersabar dari pendangan terlarang. Disisi lain, ada yang bisa sabar terhadap pandangan terlarang atau menyaksikan hal-hal yang dilarang, namun tidak bisa sabar dalam menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Sedikit sekali
diantara kita yang dapat bersabar dari dua hal tersebut.

Bagaimana jadinya apabila manusia tidak mempunyai sikap sabar?

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan orang yang tidak mempunyai kesabaran, maka orang tersebut mengikuti hawa nafsunya dan mengabaikan dorongan agama. Mereka dikuasai oleh kesesatan bahkan menjual akhirat untuk kesenangan dunia.

Dalam keadaan tersebut manusia menyerah kepada setan tanpa adanya perlawanan, hingga ia di kuasai olehnya.

Macam-Macam Sabar

Ibnu Qayyim menyatakan bahwa sabar itu wajib menurut ijmak ulama. Secara rinci, Ibnu Qayyim membagi sabar menjadi hukum yang lima yaitu sabar wajib, sabar sunnah, sabar
mubah, sabar makruh dan sabar haram.

Sabar Wajib

Sabar yang wajib dibagi menjadi tiga bentuk. Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT menjalankan rukun islam serta rukun iman. Kedua, sabar dari menjauhi larangan dan penyimpangan, hingga terhindar darinya. Ketiga, sabar dalam menghadapi musibah atau cobaan yang tidak dibuat sendiri melainkan ketentuan dari-Nya seperti
longsor, banjir, sakit dan lainnya.

Sabar Sunah

Sabar sunnah terdiri dari tiga bagian pokok, yaitu sabar tidak melakukan hal-hal yang dimakruhkan, misalnya tidak memakan petai atau bawang mentah sebab Allah SWT tidak menyukai baunya. Lalu, sabar dalam melaksanakan hal sunnah atau hal-hal yang dianjurkan.

Misalnya berpuasa sunnah, apabila melaksanakan puasa sunnah secara tidak langsung sedang
melatih diri untuk bersabar dari hal yang berlebihan atau tidak baik. Dan yang terakhir, sabar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Pada dasarnya jiwa seseorang tidak suka apabila hak-haknya dilarang. Alangkah baiknya menahan amarah ketika hal buruk itu terjadi. Sabar dalam menghadapi penderitaan, menutup kejelekan dan memaafkan pelakunya agar mendapatkan pahala dari sisi Allah SWT merupakan hal yang lebih baik.

Sabar Mubah

Sabar yang mubah ialah sabar terhadap perilaku, yang keduanya sama baik. Seorang muslim dapat melakukan hal tersebut atau memilih tidak melakukan dan bersabar terhadap hal tersebut. Misalnya seseorang dapat memakan makanan yang manis, namun ia memilih tidak memakannya dan bersabar terhadapnya.

Sabar Makruh

Kesabaran dikatakan makruh apabila ia melakukan perbuatan dapat mendatangkan pahala ketika hal tersebut ditinggalkan. Misalnya sabar tidak berhubungan badan antara suami dan istri padahal keduanya saling membutuhkan dan tidak pada situasi yang menghalanginya. Kesabaran yang seperti ini makruh sebab apabila keduanya melakukan hubungan badan itu lebih baik bagi keduanya dan menjauhkan keduanya dari perbuatan tercela.

Sabar Haram

Sabar yang haram mempunyai banyak contoh dalam kehidupan seharihari. Salah satu contohnya sabar tidak makan dan minum hingga meninggal dunia. Seperti halnya bersabar tidak memakan bangkai, daging babi atau darah ketika kelaparam dan disaat seperti itu tidak ada makana halal adalah haram hukumnya. Hal tersebut dikhawatirkan akan menyebabkan kematian.

Sumber: Thuruq daf’i Hawa karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Share your love
Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDID