Jerat Lisan

Comberan itu genangan air kotor yang mengendap hasil buangan limbah rumah tangga. Kata ini jadi viral untuk menyebut kiasan orang yang suka berkata kotor (mulut comberan). 

Nikmaat Allah yang sangat dahsyat diantaranya LISAN. Tapi pertanggungjawabannya sangat DAHSYAT juga.

من يضمن لي ما بين لحييه وما بين رجليه أضمن له الجنة

“Barangsiapa yang mampu menjamin untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari).

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟

“Bukankah yang menyebabkan manusia diseret ke neraka tertelungkup di atas wajah-wajah mereka adalah akibat perkataan yang keluar dari lisan-lisan”.

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sungguh seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang menyebabkan kemurkaan Allah dalam keadaan dia tidak peduli dengan ucapan tersebut sehingga menyebabkan dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. al-Bukhari)

Maka bila bicara siapapun apalagi jadi ustadz atau guru atau dosen yang didengar banyak orang, maka harusnya.

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang BAIK ( MENYEJUKAN HATI ) atau DIAM ” (HR. Bukhori dan Muslim)

(مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ)

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”[Surat Qaf 18]

Bahasa yang dipakai harus santun. Tidak boleh menghina orang lain seperti BINATANG . Orang berilmu harus sadar bahwa ia diuji dengan kesombongan. Orang berkuasa (penguasa apapun) diuji dengan kekuasaannya. Maka semua ada PERTANGGUNGJAWABAN

Orang yang bermaksiat belum tentu ia jadi binatang.. bisa saja ia tobat dan jadi lebih Sholeh dari para ustadz !!.

Sengaja atau tidak, kadang terlontar dari lisan kita kata-kata buruk, jelek dan  tidak semestinya diucapkan, bahkan hewan di zoo keluar semua.

Bakar Abu Zaid menyebutkan dalam buku “Mu’jam Al-Manahi Al-Lafdhiyyah” ketika membahas lafadh Yaa Kalb… , Said bin Musayib mengatakan: “Jangan engkau mengatakan hei keledai, hei anjing, hei babi pada saudaramu karena di akhirat nanti akan ditanya oleh Allah swt ‘Apakah kamu kira Aku menciptakan keledai, anjing atau babi?’ (HR. Ibnu Abi Syaibah).

Imam Nawawi mengatakan bahwa perkataan seperti ini (kotor/buruk) jelek karena dua hal 1) dusta 2) menyakiti.

Mari menyimak nasehat berharga Nabi Muhammad SAW kepada Muadz bin Jabal tentang pentingnya menjaga lisan. 

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ؟ فَقُلْتُ : بَلىَ  يَا رَسُوْلَ اللهِ . فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالِ : كُفَّ  عَلَيْكَ هَذَا. قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلَّمَ بِهِ ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ   يَكُبَّ النَاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ –أَوْ قَالَ : عَلىَ مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ . [رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح]

Maukah kalian aku beritahukan sesuatu (yang jika kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua itu ?, saya berkata : Mau ya Rasulullah. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda: Jagalah ini (dari perkataan kotor/buruk). Saya berkata: Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ?, beliau bersabda: Adakah yang menyebabkan seseorang terjerumus wajahnya di neraka –atau sabda beliau : diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka.  (Riwayat At-Tirmidzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shahih)

Ibnu Mubarak mengatakan “Saya belajar budi pekerti selama 30 tahun dan belajar ilmu selama 20 tahun”.

Imam Syafi’i
mengatakan “Ilmu itu bukan yang dihafal tapi apa yang bisa bermanfaat”.

Sebagian salaf mengatakan kepada anaknya “Wahai anakku, sekiranya engkau belajar satu bab budi pekerti lebih aku sukai daripada engkau belajar 70 bab ilmu”.

Makhlad bin Husain berkata kepada Ibnu Mubarak “Kita lebih banyak butuh pada adab daripada banyaknya hadits”.

 Ini isyarat pentingnya moral dan budi pekerti. 

Mari berfikir sebelum berbicara. Perbanyak mendengar. Karena Allah memberikan dua telinga agar lebih banyak mendengar daripada bicara.

Menarik apa yang belum diucapkan lebih mudah dari pada menarik yang telah diucapkan. Perkataan yang telah diucapkan selalu mengikuti, sedangkan perkataan yang belum diucapkan masih mampu dikendalikan. 

Pepatah Melayu mengatakan ‘Terlajak perahu masih boleh diundur lagi. Terlajak kata buruk padahnya. 

Terlajak perahu masih boleh diundur lagi. Terlajak kata hilang percaya’

Jumal Ahmad | Islamic Character Development 

Tinggalkan Balasan