Kampung Al-Quran di Desa Atas Awan

Pelajaran besar saya dapatkan setiap pulang kampung ke desa atas awan, Prampelan, Adipuro yang masuk kecamatan Kaliangkrik dan terletak di desa paling atas gunung Sumbing.

Pelajaran pertama adalah tentang kebahagiaan. Jika menurut orang kota, bahagia itu kalau punya harta yang banyak, rumah yang bagus dan kendaraan yang nyaman. Namun itu semua ditepis di desa paling dingin ini, menerima dengan apa yang sudah Allah berikan adalah kunci kebahagiaan mereka.

Pelajaran kedua adalah tidak menjadikan dunia di hati, artinya tidak mencari dunia atau harta sampai melupakan ibadah. Beberapa orang akan berhenti dari pekerjaan di ladang sebelum adzan dhuhur berkumandang agar bisa mendapatkan jamaah di masjid, sebagian lainnya pulang setelah dhuhur dan shalat di rumah sebelum adzan Ashar berkumandang bahkan sebagian lain mendirikan mushala kecil di ladangnya agar bisa shalat tepat waktu.

Masyarakat desa ini hidup dengan bertani di ladang dan menanam sayur-sayuran dan bawang, sayur yang dipanen diserahkan ke tengkulak yang harganya sering tidak sesuai dengan harga pasaran dalam artian mereka sering dipermainkan, meski demikian karena bertani sudah menjadi aktivitas mereka bukan hanya pekerjaan mencari harta, semua itu dilakukan dengan senang hati.

Buah dari keikhlasan mereka menamam adalah keberkahan desa ini, salah satunya dengan tumbuhnya anak anak cerdas dari desa atas awan ini. Banyak sekali anak dari desa ini yang sudah menjadi hafidz dan hafidzah dan ada Pesantren di desa ini yang menjadikan semarak Islam semakin ramai yaitu Pesantren Luqman Alhakim yang mengambil pendidkan SMP dan tahfidz Alquran dan Pesantren Istiqamah yang mengambil pendidkan sorogan dan kajian kitab kuning.

Perpaduan dua Pesantren dan kultur masyarakat yang kuat Islamnya menjadikan desa ini sebagai kampung Alquran di Atas Awan.

Anak Indonesia pada umumnya adalah cerdas bahkan manusia tercerdas di dunia adalah Indonesia. Selain itu, Indonesia adalah negara Terkaya di dunia dan sebagai Bangsa Superpower sejak 11.000 tahun silam, namun paradigma yang ditanamkan adalah bangsa yang bodoh, bangsa yang miskin dan bangsa yang terjajah selama 350 tahun.

Contoh sederhana kecerdasan anak Indonesia, mereka sejak kecil diberikan makanan yang segar dan langsung dari kebun dan bukan makanan yang sudah didiamkan berbulan-bulan seperti di Eropa ketika musim panas sebagai persiapan di musim dingin. Nutrisi untuk menjadi cerdas sudah diberikan sejak kecil.

Namun karena paradigma yang dibangun adalah negatif sebagai Bangsa bodoh dan terjajah, maka Indonesia menjadi bangsa inferior. Semoga manusia cerdas lahir dari kampung kecil ini.🙏

Sekian.

Simak juga tulisan sebelumnya tentang Adipuro sebagai Wisata Islami

Tinggalkan komentar