Kisah Debat antara Sibawaih dan Al-Kisa’i

Beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang Quthrub, ahli nahwu dan murid dari Sibawaih. Melengkapi pengetahuan kita tentang para ulama dalam bidang Nahwu, saya mencoba menulis tentang Sibawaih. Jika dalam ilmu Fiqih kita mendengar nama Malik, Hanafi, Syafi’i dan Ahmad, maka dalam Nahwu ada Sibawaih sebagai panglima tertinggi dalam Ilmu Nahwu.

Siapa itu Imam Sibawaih?

Sibawaih adalah nama panggilan untuk Amru bin Utsman Al-Harits Abu Basyar. Lahir di desa Syairaz pada tahun 761 M, di daerah al-Baydha yang merupakan salah satu kawasan di Persia. Dari asal kelahiran beliau, kita jadi tahu bahwa imam gramatikal Arab ini bukan keturunan Arab asli, melainkan keturunan Persia. Siapapun kita, jika punya azam meninggikan agama Allah, akan Allah tinggikan darimanapun asal kita.

Imam Sibawaih tidak lama tinggial di al-Baydha, selanjutnya beliau mengikuti kedua orang tuanya bermigrasi ke Baghdad yang kelak menjadi tonggak kebesaran namanya dalam sejarah keilmuan Islam.

Apa arti Sibawaih?

Penulis mendapatkan beberapa keterangan terkait makna dari Sibawah. Berdasarkan hasil penelusuran kami yang sangat minim, sebagian ulama berpendapat bahwa laqob (julukan) Sibawaih berasal dari dua akar kata, yaitu ‘Si’ yang berarti tiga puluh dan ‘waih’ yang bermakna harum. Jadi, arti dari laqob Sibawaih adalah orang yang memiliki tiga puluh macam keharuman. Konon, Imam Sibawaih muda terlihat tampan dan sangat rapi dalam penampilan. Hal ini benar adanya sebagaimana Al-Aisyi pernah mengatakan bahwa ia dan beberapa temannya pernah bermajelis dengan Sibawaih di masjid. Beliau masuk dalam kategori pemuda yang tampan, bersih, dan rapi.

Ada juga yang menyebutkan Sibawaih artinya ‘aroma apel’. Diriwayatkan bahwa ketika beliau lahir, aroma apel semerbak di kamar tempat beliau lahir. Ada juga yang mengatakan tubuh Sibawaih selalu mengeluarkan aroma apel. Maka sejak itu dia dijuluki Sibawaih.

Terkait nama-nama Ulama Hadis dan ahli Bahasa seperti Sibawaih dan Rahuwaih, yang berakhira aih, sila baca keterangan Syaikh Hatim Al-Auni berikut.

Awal Mula Sibawah Belajar Ilmu Nahwu

Awal mulanya Sibawaih memiliki minat tinggi pada kajian hadis. Beliau belajar kepada Hammad bin Salamah. Suatu ketika Sibawaih bersama jama’ah lainnya sedang menulis suatu hadist nabi, sementara gurunya, Hammad sedang mendiktekan hadis mengenai kisah shafa:

صعد رسول الله الصفا  (Rasulullah turun ditanah shafah).

Sibawaih langsung menyanggahnya dan berkata: الصفاء .

Maka gurunya berkata: Wahai orang Persia, jangan katakan “ ash-shafa’a”, karena kalimah ash-shafa’ah adalah isim maqshur.” Ketika pengajian selesai, Sibawaih langsng memecahkan penanya, sembari berkata: “Aku tidak akan menulis suatu ilmu pengetahuan sampai akau dapat mematangkan dahulu dalam bidang bahasa arab”.

Mulai hari itu Sibawaih betul-betul berazam untuk belajar nahwu sampai tiada lagi yang bisa mengatakan dia salah.

Riwayat lain menyebutkan bahwa pada suatu hari, Sibawaih menerima keterangan hadit dari gurunya, Hammad yang berbunyi :

لَيْسَ مِنْ أَصْحَابِى إِلاَّ مَنْ لَوْ شِئْتَ لأَخَذْتُ عَلَيْهِ لَيْسَ أَنَا الدَّرْدَاءِ

Sibawaih langsung menyanggah sambil berkata :

لَيْسَ أَبُوْ الدَّرْدَاءِ

Dia menduga lafazh Abu Darda adalah Isim Laisa. Gurunya langsung menimpali: kamu salah wahai Sibawaih. Bukan itu yang kamu maksudkan, tetapi lafazh laisa disini adalah istitsna ! Maka Sibawaih langsung berkata: “Tentu aku akan mencari ilmu, dimana aku tidak akan salah membaca.” Akhirnya Sibawaih belajar ilmu nahwu kepada Khalil sampai menjadi ilmuwan terkenal.

Mungkin, hikmah dibalik dua kejadian itulah yang membuat Sibawaih sangat serius mempelajari nahwu, dan akhirnya menjadi pakar nahwu terkenal.

Maka mulalah Sibawaih tidak meninggalkan majlls Khalil Ahmad Farahidi, maha guru nahwu waktu itu.

Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi, Guru Imam Sibawaih

Khalil bin Ahmad Al-Faraahidi adalah seorang ulama Nahwu dikalangan basroh yang terkenal pada masa itu, beliau adalah peletak pertama pengarang al-mu’jam al-arabiy yaitu “ al-Ain “, beliau seorang ulama yang terkenal saat itu, karena pemikiran-pemikiranya dalam kajian al-qawaid al-Arabiyyah.

Dalam ilmu Arudh misalnya, peran al-Khalil sangat sentral. Diceritakan bahwa saat pergi haji ke tanah haram, beliau memohon agar diberikan sebuah ilmu yang sama sekali belum pernah dipelajari oleh generasi sebelumnya. Tak perlu waktu lama, datanglah Ilham dari Allah setelah beliau datang dari Tanah Haram.

Beliau juga berperan dalam Gramatika Arab (Nahwu), Morfologi Arab (Sharraf), Leksikografi Arab (Penulisan Kamus) dan Fonologi Arab (Ilmu tentang suara dan Makharijul Huruf). semua ini tergambar dalam karya beliau Mu’jam al-Ain karya pertama yang berisi kamus

Kisah Debat antara Sibawaih dan Al-Kisa’i

Kisah tentang Sibawaih yang banyak dinukil di buku sejarah adalah perdebatan Sibawaih dengan Kisa’i yang dikenal dengan Mas’lah Zumburiyah (المسألة الزنبورية). Perdebatan antara dua orang guru besar Nahwu yaitu Al-Kisai dan Sibawah diadakan di majelis Yahya Albarmaki, Menteri Khalifah Harun Al-Rasyid.

Dalam perdebatan itu, Al-Kisa’i bertanya kepada Sibawaih. 

كنت أظن أن العقرب أشد لسعة من الزنبور

“Aku sungguh menduga bahwa kalajengking lebih gesit sengatannya daripada ‘zunbur’, maka demikianlah adanya.”

“Bagaimana menurutmu kalimat ini,” tanya Al-Kisa’i, “dibaca marfu’ (hiya) atau manshub (iyyaha)?”

(فإذا هو هي – فإذا هو إياها)

Note: ‘zunbur’ adalah hewan semacam kumbang.

Perselisihannya adalah: menurut Al-Kisai, kata “hiya” di akhir kalimat itu bisa pula dibaca manshub, “iyyaha”. Menurut Sibawaih, itu tak bisa, harus marfu’, “hiya”. Debatnya sengit dan ‘hanya’ soal itu. Tapi siapa sangka, ternyata di akhir cerita ia menyisakan luka.

Karena debat berlarut-larut, maka kemudian Wazir Abbasiyah, Yahya ibn Khalid al-Barmaki, menginterupsi di tengah perdebatan. “Kalian adalah penghulu dari mazhab masing-masing,” katanya, “kalau begitu terus, siapa yang pemutus perkara?”

“Di dekat sini ada kabilah ‘Arab,” timpal Al-Kisa’i, “datangkanlah mereka kemari.” Maka didatangkanlah kabilah Arab itu. Kabilah Al-Huthamah namanya.

Ringkas cerita, kabilah Al-Huthamah membenarkan pendapat Al-Kisa’i. Mazhab Kufah menang. “Semoga kebaikan berada di tangan Tuan Wazir,” kata Al-Kisa’i, “agar tak pulang dengan tangan hampa, berilah Sibawaih hadiah.” Maka Sibawaih pun diberi 10 ribu dirham.

Sibawaih pulang dengan kegeraman. Ia merasa dicurangi.

Pertama, bagi Mazhab Basrah, kabilah al-Huthamah itu tak layak jadi rujukan bahasa. Unsur kebaduiannya telah luntur, sebab tinggal dekat Baghdad, kota metropolis. Kearabannya tak lagi murni. Mazhab Basrah memang terkenal sangat selektif memilih kabilah Arab yang jadi sumber bahasa. Mazhab Basrah cenderung preskriptif (mi’yariyyah), sedangkan Mazhab Kufah cenderung deskriptif (washfiyyah).

Kedua, menurut desas-desus, sebagaimana diceritakan Ibn Hisyam dalam Mughni al-Labib, kabilah Al-Huthamah berada dalam tekanan penguasa. Mereka disuap untuk membela Kufah. Saat itu peta politik menunjukkan Basrah adalah salah satu basis oposisi Abbasiyah.

Sibawaih kembali dengan perasaan terluka. Ia merasa dipermalukan. Ia tak merasa salah. Maka ia pulang ke desanya, di kampung Syiraz. Sejak debat itu, Sibawaih tak lagi muncul di Basrah dan Baghdad.

Di kampung Syiraz, Sibawaih sakit. Tak lama kemudian ia meninggal. Sibawaih wafat muda, 36 tahun.

Kitab monumental warisannya adalah catatan pelajarannya dari mahaguru nahwu, Khalil ibn Ahmad. Kitab itu 4 jilid, tapi belum selesai, belum ada muqaddimah-nya, dan tak punya judul. Maka kitab itu cuma diberi judul “Al-Kitab”.

Kata Al-Jahizh, pakar bahasa dari sekte Mu’tazilah, “Al-Kitab”-nya Sibawaih adalah “Qur’an”-nya Nahwu. Tidak ada kitab-kitab nahwu setelahnya kecuali pasti merujuk dan menggunakan istilah-istilah yang termaktub di “Al-Kitab”.

Di kemudian hari, murid-murid Sibawaih menulis pembelaan bagi gurunya itu. Mereka menyatakan, argumen gurunya lebih kuat. Jelas dalam al-Qur’an dikatakan: “faidza hiya hayyatun tas’a” (Tiba-tiba tongkat Musa menjadi ular besar yang mendesis). Terang di situ, kata “hayyatun” dibaca marfu’. Ini sama dengan kasus “hiya” di kalimat “zunburiyyah” tadi.

Tak mau kalah, murid-murid Al-Kisa’i pun membuat sanggahan. Ingat, Al-Kisa’i adalah salah satu dari 7 imam Qiraat (qira’ah sab’ah). Murid-murid Al-Kisa’i pun menyanggah adanya kasus penyuapan kabilah. Menurut mereka, adanya penyuapan itu cuma iftira’ (mengada-ada).

Kisah ini banyak ternukil di kitab-kitab nahwu. Di buku sejarah, kisah ini juga termaktub di kitab “Tarikh Baghdad”, karya Al-Khathib al-Baghdadi.

Video Penjelasan tentang Sebab Wafatnya Sibawaih

Untuk lebih mendalami lagi tentang kisah Sibawah dan Kisa’i, jika sekiranya ada kekurangan dalam penjelasan saya, saya sertakan beberapa link video yang bisa dipelajari.

Sila disimak video penjelasan ringkas bisa dilihat di video youtube berikut: سبب وفاة النحوي السيبويه:

Dan ceramah Syaikh Sa’id Al-Kamali tentang مـن أشـهر الـقـصص..السـؤال الذي لَقِيَ على إثـره سِيـبَوَيه حـتفه di tautan ini.

استمع إلى هذه القصة العجيبة ( سبب وفاة سيبويه ) – الشيخ الرسلان

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com

Share your love
Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

5 Comments

  1. Assalamu alaikum. Mas, ada pondok rekomended gak buat mahasiswa kayak saya ini yang gak bisa bahasa arab. Saya pengen sekali mendalami bahasa arab. Tp blm menemukan pondok yg pas atau sesuai. Mungkin ada beberapa pondok yg jenengan tahu yg rekomended. Syukran.

  2. Waalaikum salam wr wb. Ada pondok yang dikhususkan memperdalam bahasa Arab, biasanya model pondok ini adalah pondok yang di SMA-nya ada program pesantren, istilahnya Kuliyah Muallimin misalnya seperti pesantren Gontor yg bobot diniyah lebih besar, biasanya disebut Ma’had Ali atau Pesantren Tinggi. Di Solo ada MA An-Nur, itu bagus dan di Bekasi ada MA Al-Islam, kebetulan saya alumni situ.

    Ada juga program bahasa Arab di universitas Islam. Untuk di daerah Solo ada Mahad Ali Abu Bakar. Yang masuk program ini alumni pesantren dan aliyah.

  3. Pesantren atau Pondok di atas memprioritaskan orang yang sudah punya basic bahasa Arab untuk selanjutnya dikembangkan dengan mendalami kitab kitab para ulama.

    Untuk Mahasiswa, saya sarankan untuk masuk di Pesantren Mahasiswa (PESMA), lembaga atau klub bahasa di kampus.

    Coba dicari cari di tempat kuliah mas Ughy..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *