Konsep Ilmu dalam Perspektif Imam Al-Ghazali (Ringkasan Kitab Al-Ilm dari Ihya’ Ulumuddin)

Imam Al-Ghazali, atau yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat, adalah seorang tokoh dan filusuf terkemuka yang memiliki kejeniusan dan kepakaran di bidang fiqh, ushul dan tasawuf. Beliau lahir di Thus daerah Khurasan wilayah Persia tahun 450 H (1058 M).

Imam Al-Ghazali menuliskan Ihya ‘Ulumuddin yang dikarangnya selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Syams, Yerussalem, Hijaz dan Thus, yang merupakan kitab paling terkenal dan berisi paduan indah antara fiqh, tasawuf dan filsafat. Tidak saja terkenal di kalangan kaum Muslim, tetapi juga di dunia Barat dan luar Islam.

Kitab Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali merupakan khazanah Islam yang dikenal secara luas di kalangan umat. Selain karena pribadinya yang menonjol dan disebut-sebut sebagai mujaddid (pembaharu dalam agama), juga karena uraian dalam Ihya dekat dengan alam dan kehidupan Muslim, seperti persoalan ritual, akhlak, maupun sosial.

Buku ini lahir ketika ilmu-ilmu Islam sudah hampir tergusur oleh ilmu-ilmu yang lain khususnya filsafat Aristoteles. Sebagaimana kita ketahui, Islam punya sifat terbuka dengan pengetahuan dan hikmah darimanapun asalnya, maka pada abad 2 dan 3 hijriyah atau masa Abbasiyah, terjadi proses penyalinan buku yang berisi pengetahuan bangsa lain ke bahasa Arab, dalam rangka melengkapi perpustakaan dan pengayaan buah pikir Islam Arab.

Saat itu, kemajuan Islam meliputi berbagai bidang, seperti fiqih, kalam, tasawuf dan filsafat. Namun di sisi lain, ilmu Islam sering tergerus dari perhatian oleh munculnya bidang filsafat. Al-Ghazali lewat pengembaraan ilmunya berkesimpulang bahwa filsafat itu berguna dalam melatih olah fikir, namun juga berbahaya jika pikiran yang akan digunakan berfilsafat belum terlatih oleh tuntunan wahyu ilahi dan hadis Nabi.

Menurut Imam Al Ghazali, fuqaha di masanya terlalu sibuk mengurus perihal halal haram, sah dan batal, sehingga lupa memperhalus perasaan. Al Ghazali juga mengkritik kaum Sufi yang sibuk memperhalus perasaan namun teledor dari batasan syariat dan tidak memperdulikan amalan yang tidak sesuai hadis Nabi. Hadirnya Ihya Ulumuddin adalah usaha Imam Al Ghazali memadukan keduanya.

Menurut Imam Al-Ghazali, jalan menuju akhirat dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu ilmu Muamalat yang berdasarkan pengamalan dan penghayatan dan ilmu Mukasyafat yang berdasarkan pengenalan (ma’rifat). Dari kedua kategori ini, Ihya’ menumpukan kepada kategori Mu‘amalat dan bukan Mukashafat karena sebagai suatu yang bersifat ‘karunia Allah’, ilmu Mukashafat adalah suatu yang di luar konteks usaha atau jalan sebagaimana ilmu Mu‘amalat.

Menurut Imam Al-Ghazali, bahwa pembahasan dalam Ihya memang ditekankan dalam wilayah muamalah. Adapun yang dimaksud “muamalah” adalah: ilmu amal-perbuatan yang “selain harus diketahui, juga dituntut untuk diamalkan”, baik secara lahir maupun batin.

Inilah posisi Ihya ‘Ulumuddin yang membuatnya menjadi rujukan-awal yang penting dalam mengenal khazanah tasawuf, yakni sebagai jembatan yang menghubungkan aspek syariat lahir dengan aspek esoteris dalam Islam.

Ilmu Mu‘amalat sendiri terbagi menjadi amalan zahir dan amalan batin, setiap amalan zahir dan batin terbagi lagi menjadi dua bagian; Zahir kepada Ibadat dan Adat, Batin kepada terpuji dan tercela. Dan keseluruhan projek Ihya’ disusun berdasarkan pembahagian ini.

Ihya ‘Ulumuddin terbagi dalam empat bagian besar kitab, atau dikenal sebagai rubu’, dimana di dalam setiap rubu’ terdiri atas 10 bab. Dan Kajian Ihya di bawah dikelompokan berdasarkan rubu’-rubu’ yang terdapat dalam Ihya ‘Ulumuddin.

Di dalam Ihya ‘Ulumuddin, Imam Al-Ghazali membagi pembahasan dalam empat bagian besar, atau rubu’, yang masing-masing terdapat 10 kitab didalamnya. Keempat rubu’ itu adalah:

  1. Rubu’ Ibadah, bagian ini mengupas perihal ibadah dan akidah. Pada bagian pertama ini, Imam al-Ghazali mengurai tata cara dan etika beribadah serta rahasia yang terkandung di dalamnya. Rubu’ ini terdiri atas: (01) Kitab Ilmu, (02) Kitab Akidah, (03) Kitab Taharah, (04) Kitab Ibadah, (05) Kitab Zakat, (06) Kitab Puasa, (07) Kitab Haji, (08) Kitab Tilawah Quran, (09) Kitab Zikir dan Doa, dan (10) Kitab Tartib Wirid.
  2. Rubu’ Adat Kebiasaan, bagian ini mengupas perihal kebiasaan interaksi antar sesama dan sikap wirai dalam bermasyarakat. Pada bagian ini Imam al-Ghazali banyak menjelasakan tata cara dan etika makan, minum, menikah, hingga cara bekerja. Rubu’ ini terdiri atas: (11) Kitab Adab Makan, (12) Kitab Adab Pernikahan, (13) Kitab Hukum Berusaha, (14) Kitab Halal dan Haram, (15) Kitab Adab Berteman dan Bergaul, (16) Kitab ‘Uzlah, (17) Kitab Bermusafir, (18) Kitab Mendengar dan Merasa, (19) Kitab Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, dan (20) Kitab Akhlaq.
  3. Rubu’ Al-Muhlikat (Perbuatan yang Membinasakan), bagian ini mengupas perihal sesuatu yang dapat merusak amal ibadah dan akhlak tercela. Pada bagian ini Imam al-Ghazali menjelaskan penyebab-penyebab penyakit hati dan tata cara mengobatinya. Rubu’ ini  terdiri atas: (21) Kitab Keajaiban Hati, (22) Kitab Bahaya Nafsu, (23) Kitab Bahaya Syahwat, (24) Kitab Bahaya Lidah, (25) Kitab Bahaya Marah, Dendam, dan Dengki, (26) Kitab Bahaya Dunia, (27) Kitab Bahaya Harta dan Kikir, (28) Kitab Bahaya Pangkat dan Riya, (29) Kitab Bahaya Takabbur dan ‘Ujub, dan (30) Kitab Bahaya Terpedaya.
  4. Rubu’ Al-Munjiyat (Perbuatan yang Menyelamatkan), bagian ini mengupas perihal sesuatu yang dapat menyelamatkan seseorang dan akhlak terpuji. Pada bagian ini Imam al-Ghazali juga menjelaskan bagaimana cara menumbuhkan perilaku terpuji dan buah dari perilaku tersebut. Rubu’ ini terdiri atas: (31) Kitab Taubat, (32) Kitab Sabar dan Syukur, (33) Kitab Takut dan Berharap, (34) Kitab Fakir dan Zuhud, (35) Kitab Tauhid dan Tawakal, (36) Kitab Cinta, Rindu, Senang, dan Ridha, (37) Kitab Niat, Jujur, dan Ikhlas, (38) Kitab Muraqabah dan Muhasabah, (39) Kitab Tafakur, dan (40) Kitab Mengingat Mati.

Menurut Kholili Hasib terkait alur pemikiran Kitab Ihya Ulumuddin. Dari hasil penelitian beliau terhadap kitab Ihya Ulumuddin beliau membagi alur pemikiran kitab Ihya menjadi 5 bagian yakni, pengokohan pondasi; dengan pembahasan konsep ilmu dan Aqoid Aqidah atau kaidah akidah, pembiasaan yang baik; dengan penjelasan terkait hakikat Ubudiyyah dan Muamalah, jalan keluar; yakni dengan meningkatkan maqom spiritual, dan yang paling akhir adalah puncak; yakni memiliki tujuan mengantarkan manusian pada kebahagiaan abadi. Yang secara global dapat dimaknai bahwa kitab Ihya Ulumuddin membahas secara runtut terkait keutamaan Ilmu sampai dzikrul maut (mengingat mati) sebagai jalan kebahagiaan abadi.

Madrasah Ihya’ adalah madrasah yang memandu umat Islam menuju akhirat. Madrasah yang coba menempatkan usaha dan jalan keruhanian pada tempat yang semestinya, di tengah dunia kontemporer yang disesaki keberislaman yang keras dan tandus, kitab Ihya menemukan relevansi dan siginifaksi untuk hadir kembali.

Kitab Ihya seperti oase yang menyejukkan di tengah masyarakat modern, ia menyuguhkan konsep  tauhid,  dan tangga-tangga spiritual melalui medium taubat, tidak mengikat diri pada dunia (zuhud), menyerahkan urusan kepada Allah (tawakkal), dan rela terhadap keputusan Allah (ridha), tangga spiritual ini sekiranya dijalankan akan mengantarkan kepada ma’rifatullah dan mahabbatullah.

Semoga Allah SWT merahmati pengarangnya Imam Hujjat al-Islam Abu Hamid al-Ghazali dan semoga sumbangan jariah Ihya’ ini terus dapat dimanfaatkan.

Kitab Al-Ilm: Urgensi Ilmu dalam Perspektif Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali memulai kitab Ihya Ulumuddin dengan Kitab Al-Ilm karena menurutnya inilah perkara penting (ghayah muhim) yang memiliki tujuan untuk mengetahui ilmu yang diperintahkan Allah SWT untuk dicari, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi ‘menuntut ilmu itu wajib bagi seorang muslim’.

Memberi isyarat tentang kedudukan penting ilmu dalam perspektif Imam Al-Ghazali, seolah dia berpendapat bahwa persoalan yang sedang  menimpa umat Islam pada masanya tidak mungkin diselesaikan jika tidak dimulai dengan ilmu.

Menurutnya, kerusakan pemahaman ilmu bukan hanya terjadi di kalangan awam saja, bahkan juga melanda kaum cendekiawan dan ilmuan (ulama’).

Kitab al-‘Ilm mengandung 7 bab: 1) Tentang kelebihan ilmu, mengajar dan belajar; 2) Tentang Fardhu Ain, Fardhu Kifayah, definisi Fiqh dan kalam serta penjelasan tentang apa itu ilmu Akhirat dan ilmu Dunia; 3) Tentang apa yang disangka sebagai ilmu agama dan jenis serta kadar ilmu-ilmu yang tercela; 4) Tentang keburukan perdebatan dan sebab kenapa manusia suka berkhilaf dan berdebat; 5) Tentang adab guru dan murid; 6) Tentang keburukan ilmu dan ulama serta tanda yang membedakan di antara ulama Dunia dan ulama Akhirat; 7) Tentang akal, kelebihan, pembagian serta khabar-khabar berkenaannya.

Dalam Bab Pertama Kitab Al-Ilm, Imam al-Ghazali mengemukakan sejumlah nas terpilih yang berkaitan dengan kelebihan ilmu. Nas-nas ini dipilih dari al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW serta sejumlah Atsar dan kata-kata hikmah.

Berikut beberapa petikan ayat Al-Quran, hadis, atsar dan kata hikmah yang menarik untuk direnungkan.

  1. Ketinggian kedudukan ahli ilmu diangkat oleh Allah SWT berbanding Mukmin (al-Mujadilah, 11);  orang yang berilmu itu tidak sama dengan mereka yang tidak berilmu (al-Zumar, 9); dan sesungguhnya orang yang paling takut kepada Allah SWT dari kalangan hambaNya adalah mereka yang berilmu, iaitu ulama (Fatir, 28). Ayat-ayat ini amat signifikan bagi menggambarkan status dan pengaruh ilmu terhadap seseorang.
  2. Al-Ghazali menyebutkan hadis yang menjelaskan bahwa barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah SWT kebaikan, maka mereka akan diberi kefahaman tentang agama dan diilhamkan petunjukNya (Bukhari) dan bahwa ulama itu pewaris Nabi (Abu Daud). Ini menunjukkan bahwa tidak ada kebaikan selain mendapat kefahaman tentang agama dan petunjuk dari Allah SWT. Ia juga menegaskan betapa kedudukan para ilmuan itu tinggi sehingga diangkat sebagai pewaris Nabi SAW.
  3. Sayidina Ali r.a. yang menegaskan betapa ilmu lebih baik dari harta kerana ilmu akan memelihara kita tapi sebaliknya kita yang kena jaga harta, ilmu itu mentadbir sebaliknya harta yang perlu ditadbir, ilmu bertambah apabila disebarkan manakala harta akan berkurang apabila dibelanjakan.

Dalam menghujahkan tentang kelebihan menuntut ilmu dan mengajarnya, Imam al-Ghazali mengemukakan beberapa sandaran dari al-Quran, hadith dan juga kata-kata para ilmuwan iaitu atsar, suatu pendekatan yang sama sebagaimana sebelumnya. Berikut adalah beberapa pesan penting dan terpilih berkaitan topik ini.

  1. Surah al-Nahl : 43 menegaskan agar kita bertanya kepada ahli ilmu jika kita tidak tahu, al-Ghazali juga menyebut hadith riwayat Imam Muslim yang menyatakan bahwa barangsiapa yang memilih jalan menuntut ilmu, maka Allah SWT akan memandunya ke arah jalan ke surga. Juga diriwayatkan hadits yang menekankan betapa ilmu itu berupa himpunan khazanah yang mana kunci-kuncinya adalah bertanya. Bahkan orang yang bertanya dalam menuntut ilmu akan memanfaatkan 4 kelompok iaitu orang yang bertanya, ilmuwan yang dikemukakan pertanyaan kepadanya, orang yang mendengar pertanyaan itu, dan orang yang sukakan ilmu dan majlisnya (Abu Nu’aym). Ini ditambah dengan hadith yang menegaskan bahawa tidak harus bagi seorang yang jahil untuk berdiam diri dengan kejahilannya, iaitu tanpa bertanya dan belajar, sebagaimana tidak harus juga bagi seorang yang alim itu berdiam diri apabila ditanya (al-Tabrani). Semua ini menegaskan betapa menuntut ilmu adalah suatu yang amat tinggi kedudukannya di sisi Islam. Ia juga berupa suatu penanda aras tentang kualiti sebenar umat Islam kerana berdasarkan kenyataan ini, umat Islam yang mundur dan jahil sebenarnya adalah umat yang teramat jauh tersasar dari ajaran Islam, khususnya dalam konteks menuntut ilmu.
  2. Hadith tentang kelebihan majlis ilmu berbanding majlis berdoa dan berzikir kepada Allah SWT di mana Nabi s.a.w. pernah melintasi dua majlis di atas lalu Nabi s.a.w. memilih untuk menyertai majlis ilmu dengan tegas Baginda s.a.w.: ‘Golongan itu berdoa kepada Allah SWT, jika Allah SWT kehendaki maka Dia akan makbulkan, dan jika tidak, maka Dia tidak akan makbulkan, manakala golongan ini mengajar ilmu kepada manusia, dan sesungguhnya Aku diutuskan sebagai guru’ (Ibn Majah).
  3. Dari nukilan Athar pula, Imam al-Ghazali menyebut bagaimana para Salaf al-Saleh amat mengutamakan pengajaran ilmu dan betapa mereka kesal jika tiada yang ingin memanfaatkan ilmu mereka. Sufyan al-Thawri pernah berada di suatu tempat, namun setelah dia dapati tiada siapapun yang menanyakan ilmu kepadanya, beliau tinggalkan tempat tersebut dengan katanya: ‘Di tempat ini, ilmu mati’. Begitu juga dengan Sa’id ibn Musayyab yang menangis apabila tiada yang datang bertanyakan kepadanya ilmu. Semua ini adalah demi kelebihan menyebar ilmu dan juga demi memastikan ilmu kekal dan berlangsung.

Setelah mengemukakan petikan-petikan yang menyebutkan kelebihan belajar dan mengajar dan kelebihan ilmu, Imam al-Ghazali menguraikan beberapa konsep penting yang berkaitan makna fadhilah dan nilai sebuah keutamaan.

Makna Fadhilah

Bahasan tentang ‘kelebihan’ (Fadilah) ini beliau tulis karena bab ini membahas tentang kelebihan ilmu, pembelajaran dan pengajaran. Kelebihan merujuk kepada apa yang lebih pada sesuatu, dan apa yang lebihi ini mestinya merujuk kepada kelebihan yang membawa makna kesempurnaan dan bukan sembarang kelebihan.

Sesuatu yang ‘lebih’ pada fisik tidak semestinya bermakna ia lebih sempurna karena pada kelebihan tertentu ia membawa makna ‘kecacatan’. Contohnya jika diandaikan seorang manusia mempunyai 3 telinga, lebih 1 telinga dibanding yang lain, ini tidak bermakna manusia ini berkelebihan berbanding manusia lain.

Kelebihan perlu merujuk kepada makna dan nilai sesuatu, nilai yang menjadikan sesuatu itu lebih berbanding sesuatu yang lain. Dalam konteks ini kelebihan manusia adalah pada ilmu dan keruhaniannya, bukan pada aspek fisiknya, karena aspek ilmu dan keruhanian ini yang menjadikan seseorang itu lebih baik dari individu lain yang kurang ilmu dan nilai keruhaniannya.

Terlebih lagi, kelebihan ilmu adalah lebih mutlak berbanding kelebihan aspek-aspek lain yang umumnya diukur secara perbandingan di antara dua keadaan yang tidak semestinya membawa makna ‘lebih’, karena pertambahan pada ilmu tetap berupa suatu ‘kelebihan’ dalam keadaan dan pada tahap manapun.

Nilai Sebuah Keutamaan

Al-Ghazali menyebut bahwa nilai sesuatu perkara bergantung kepada nilai kenapa ia dituntut. Sesuatu yang dituntut demi kebaikan yang ada padanya secara mutlak adalah lebih baik berbanding dengan sesuatu yang dituntut demi kebaikan lain. Uang dan kekayaan dituntut karena dengannya manusia mampu memiliki keperluan lahirnya.

Kesehatan dituntut demi kesihatan itu sendiri dan demi menikmati kehidupan jasmani yang baik. Semua ini baik, namun tidak sebaik sesuatu yang dituntut demi kebaikan mutlak seperti kebahagiaan di Akhirat nanti, karena ia dituntut demi nilai kebahagiaan itu sendiri. Bahkan al-Ghazali menegaskan bahawa ilmu juga adalah suatu yang mempunyai nilai kebaikan mutlak karena ia dituntut demi kenikmatan ilmu itu sendiri, bahkan dengan ilmu juga manusia akan menikmati kebahagiaan di akhirat yang juga merupakan suatu yang dituntut demi nilai mutlaknya.

Semua yang dituntut selain ilmu, termasuk kekayaan dan kesihatan, bahkan kebahagiaan di dunia dan Akhirat, semuanya bergantung kepada ilmu. Selain itu, jika dilihat pada konteks hasil sesuatu, hasil atau buah yang diperolehi dari ilmu adalah  membawa seseorang itu dekat kepada Allah SWT. Oleh yang demikian, ilmu mempunyai nilai mutlak dan menjadi sebaik-baik amalan (afdal al-a’mal). Berasas kepada hakikat ini juga maka belajar dan mengajar itu juga adalah amalan yang baik karena ‘mempelajari ilmu itu adalah menuntut suatu yang terbaik dan mengajar ilmu pula adalah menyampaikan suatu yang terbaik’.

Falsafah Ilmu Pengetahuan Imam Al-Ghazali

Krisis ilmu dalam Islam karena hegemoni peradaban barat yang didominasi oleh pandangan hidup saintifik (saintific worldview) telah membawa dampak negatif terhadap peradaban lainnya, khususnya dalam bidang epistemologi. Muncullah westernisasi ilmu yang menghasilkan kebingungan dan skeptisme.

Maka konsep ilmu dalam Islam menjadi bagian penting dari worldview atau pandangan hidup Islam. Konsepnya memiliki ciri khas tersendiri yang menjadikannya berbeda dengan konsep dalam peradaban lain. Falsafah ilmu dari Imam Al Ghazali adalah kesatuan ilmu pengetahuan (unity of science) yang didorong atas keinginannya untuk mengembalikan posisi ilmu secara benar sebagai sesuatu yang suci yang berasal dari sang Mahasuci, selain itu, menurut Al Ghazali, kebenaran dari kelompok lain seperti Syiah, Ismailiyyah dan lainnya masih bersifat logika spekulatif, belum sampai kepada kebenaran seperti yang dia temukan.

Tiga landasan yang digunakan untuk melakukan pembahasan secara filosofis terhadap ilmu pengetahuan yaitu aspek epistemologis, ontologis dan aksiologis. Membahas dengan ketiga aspek tersebut membuat pemikiran filosofis Imam Al-Ghazali tentang ilmu menjadi lebih komprehensif sesuai dengan prinsip filsafat ilmu.

Aspek Ontologi (Hakikat Ilmu)

Al Ghazali menyandarkan pemikirannya tentang hakikat ilmu kepada kebenaran mutlak agama Islam. Kebenaran duniawi (sekuler), menurutnya sebagai kebenaran awal yang dimiliki manusia, sedangkan kebenaran sesungguhnya terpulang kepada Allah SWT sebagai sumber kebenaran mutlak. Kebenaran manusiawi bersifat relatif, sedang kebenaran Allah itu pasti, tidak bisa diragukan. Menurutnya, pencapain kebenaran mutlak harus melalui bantuan (maunah) Allah SWT yakni berupa petunjuk (hidayah).

Hakikat ilmu menurut al-Ghazali sumbernya adalah Allah SWT, baik tertulis (kitab suci) dan tidak tertulis (alam sekitar), keduanya berasal dari Allah SWT. Inilah pemahaman monokotomik al-Ghazali yang diperoleh dari pengakuan dan sikap bahwa Allah SWT sebagai sumber ilmu.

Pemahaman ini memiliki pengertian bahwa ilmu itu hanya satu yaitu ilmu Allah, sedangkan ilmu yang terdapat pada manusia adalah jalan menuju pengenalan terhadap Allah SWT. Maka tidak ada dualisme substansial pada manusia, sekalipun manusia punya beragam kemampuan, namun pada hakikatnya manusia punya keterbatasan. Manusia hanya memperoleh kehendak (iradah) Allah SWT untuk memahami realita kehidupan sebenarnya.

Berdasarkan pemahaman di atas, al-Ghazali memberikan deskripsi ilmu sebagai jalan menuju akhirat dalam dua klasifikasi besar yaitu ilmu Muamalat yang berdasarkan pengamalan dan penghayatan dan ilmu Mukasyafat yang berdasarkan pengenalan dan pengetahuan (ma’rifat).

Kedua ilmu ini berbeda dari aspek kemampuan manusia untuk mencapainya, namun pada hakikatnya sama dalam hal sumbernya. Mukasyafah bermuara langsung kepada Allah dan Muamalah tidak secara langsung kepada Allah, tetapi melalui potensi manusia yang diberikan Allah SWT.

Lebih jauh lagi, Imam al-Ghazali membagi ilmu dalam Islam menjadi dua: syari’ah dan ghairu syari’ah. Ilmu syariah ialah ilmu yang diperoleh dari para Nabi dan tidak ditunjukkan oleh akal manusia kepadanya.

Ilmu syariah itu mempunyai pokok (ushul), cabang (furu’), pengantar (muqaddimah) dan penyempurnanya (mutammimah), penjelasan rinci sebagai berikut;

  1. Pokok-pokok ilmu itu ada empat: Kitabullah, Sunnah Rasulnya, ijma’ ummat dan atsar sahabat.
  2. Cabang ilmu yaitu sesuatu yang difahami dari ilmu pokok, berdasarkan pengetahuan dan pengertian yang diketahui oleh akal. Terbagi menjadi 2 macam, yaitu: 1) ilmu yang berkaitan dengan kemaslahatan dunia seperti kitab Fiqih dan para fuqaha’ sebagai penanggung jawabnya, 2) ilmu yang berkaitan dengan kemaslahatan akhirat yaitu ilmu mengenai hati dan akhlak terpuji, apa yang diridhai dan dibenci Allah SWT.
  3. Ilmu pengantar (muqaddimah) yaitu ilmu yang berlaku sebagai alat seperti ilmu bahasa dan tata bahasa yang menjadi alat memahami Alquran dan hadis.
  4. Ilmu penyempurna (mutammimah) ilmu yaitu mengenai Alquran, termasuk didalamnya ilmu qiraat, makhraj, naskh dan mansukh, nas dan zahir dan termasuk juga ilmu ushul fiqih. Penyempurna dalam hadis ilmu rijalul hadis, keadilan rawi, shahih dan dhaif hadis.

Ilmu ghairu syariah atau ilmu ‘aqliyyah adalah ilmu yang bersumber dari akal, baik yang diperoleh secara daruri maupun ihtisab. Ilmu daruri ialah yang diperoleh dari insting akal itu sendiri tanpa melalui taklid atau indra, dari mana dan bagaimana datangnya manusia tidak mengetahuinya. Sedangkan ihtisab ialah mencari faedah ilmu melalui kegiatan belajar dan mencari  argumen.

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa ilmu syariah berkaitan langsung dengan pemahaman aturan, hokum Allah SWT yang tertuang dalam ajaran Islam (ayat qauliyyah). Ilmu ghairu syariah adalah berkaitan dengan pemahaman dan pengkajian manusia terhadap yang ditangkapnya secara langsung dari alam (ayat kauniyah).

Untuk menggambarkan pandangan al-Ghazali tentang substansi ilmu, dapat dipahami dari diagram ilmu berikut.

Ilmu dibagi menjadi Ilmu Mukasyafah dan Ilmu Muamalah

Diagram di atas memberikan subtansi bahwa menurut al Ghazali, ilmu bersifat monokotomik dalam tataran manusia yakni ilmu muamalah bersumber dari yang satu, yaitu Allah dalam tataran ilahiyyah. Maka tidak ada dikotomi ilmu dalam pandangan al-Ghazali.

Aspek Epistemologis (Sumber dan Alat Memperoleh Ilmu)

Epistemologi disebut juga teori pengetahuan (theory of knowledge) adalah cabang filsafat yang mempelajari sumber, metode dan validitas pengetahuan.

Secara epistemologis, Imam AlGhazali 

PENGGUNAAN INTUISI DALAM EPISTIMOLOGI ILMU – Abuddin Nata (uinjkt.ac.id)

Aspek Aksiologis (Tujuan dan Kegunaan Ilmu)

Pemahaman aksiologi (tujuan dan kegunaan) ilmu dalam pandangan al-Ghazali, erat kaitannya dengan klasifikasi ilmu yang diajukan Imam al-Ghazali yaitu ilmu syariah dan ilmu ghairu syariah. Ilmu-ilmu syari’ah bersifat terpuji secara keseluruhan. Sedangkan ilmu gairu syar’iyah, ada yang terpuji, ada yang tercela, dan ada pula yang mubah artinya, dalam keadaan tertentu terpuji, tetapi dalam keadaan yang lain tercela atau mubah.

Menurut Al Ghazali, ilmu ghairu syariah yang terpuji adalah setiap ilmu yang tidak diabaikan dalam menegakkan urusan dunia, misalnya ilmu kedokteran, ilmu hitung, politik dan lain lain. Ilmu ghairu syariah yang tercela adalah seperti ilmu sihir, ilmu mendatangkan ruh, ilmu sulap dan ilmu teluh. Sedangkan ilmu ghairu syariah yang mubah seperti tentang syarisyair yang tidak mengandung kejahatan, cerita, dongeng dan sebagainya.

Al-Ghazali mengatakan, bahwa ilmu itu sendiri tidaklah tercela. Ilmu menjadi tercela karena salah satu dari tiga buah sebab, yaitu:

  1. Ilmu itu menimbulkan  kepada kemudharatan (bahaya) bagi pemiliknya atau orang lain seperti tercelanya ilmu sihir dan tenung.
  2. Ilmu itu membahayakan pemiliknya pada umumnya seperti ilmu nujum.
  3. Terjun ke dalam ilmu tidak memberi faedah kepada orang itu sendiri dari ilmunya. Ilmu semacam ini tercela bagi orang itu. Seperti dipelajarinya ilmu yang tidak jelas sebelum mempelajari ilmu yang lebih penting dan lebih jelas, menggali ilmu yang serba rahasia sebelum mempelajari ilmu yang telah teruji.

Tujuan terwujudnya ilmu menurut Al Ghazali adalah untuk ibadah (pengabdian kepada Allah SWT), hal ini dapat dilihat dari posisi ilmu syariah yang semata mata berisikan ilmu agama yang sangat bernuansa ukhrawi, sedangkan ilmu ghairu syariah yang dimensinya pada ilmu yang terpuji untuk kemaslahatan umat.

Terhadap kedua ilmu tersebut, Imam Al Ghazali meletakkan dua hukum fiqih, yakni hukum fardhu ain dan hukum fardhu kifayah.

  1. Ilmu fardhu ‘ain, yakni ilmu yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas akhirat dengan baik. Ilmu ini terdiri atas: ilmu tauhid dan ilmu syari’at. Menurut al-Ghazali ilmu fardhu ‘ain, yaitu ilmu tentang cara-cara melaksanakan amal yang wajib. Barang siapa yang telah mengetahui perbuatan yang wajib beserta waktu untuk mengerjakannya, berarti ia telah mengetahui ilmu yang termasuk ke dalam jenis fardhu ‘ain.
  2. Ilmu fardhu kifayah, yakni ilmu-ilmu yang berkaitan dengan urusan keduniaan, yang perlu diketahui manusia. Ilmu-ilmu ini berhubungan dengan profesi manusia, oleh karena itu tidak setiap manusia dituntut memiliki semua jenis yang ada, tetapi cukup dikembangkan melalui orang-orang tertentu yang telah memiliki kemampuan-kemampuan khusus untuk mewujudkan kehidupan dunia ini. Menurut al-Ghazali fardhu kifayah ialah setiap ilmu yang tidak dapat tidak dibutuhkan dalam menegakkan urusan-urusan dunia seperti kedokteran dan matematika.

Penjelasan tentang konsep kesatuan ilmu dari Imam Al Ghazali ini menjadi penting karena Al Ghazali sering disebut sebagai ulama yang mendukung dan mempelopori adanya dikotomi dalam ilmu pengetahuan. Menurut mereka, pembagian ilmu syariah dan ilmu ghairu syariah merupakan bukti bahwa Al Ghazali adalah pengikut dikotomi ilmu pengetahuan.

Tuduhan di atas adalah tidak benar dan menyesatkan, secara jelas Al Ghazali menegaskan dalam kitab Ihya Ulumuddin bahwa ilmu adalah salah satu sifat dari Allah SWT. Oleh karena itu semua ilmu adalah terpuji. Pembagian ilmu menjadi syariah dan ghairu syariah bukan menunjukkan pada tingkatan kewajiban seseorang untuk mencari ilmu, melainkan pada sumber ilmu; jika ilmu itu diperoleh melalui akal maka itu disebut ilmu ghairu syariyyah sedangkan ilmu yang didapat dari pada Nabi disebut ilmu syar’iyyah.

Imam Al Ghazali melakukan penggolongan terhadap ilmu-ilmu ke beberapa bagian tersebut di atas, tidak menandakan akan ketidaksukaan Al Ghazali terhadap ilmu-ilmu yang bukan kategori Syariah/agama, melainkan Al Ghazali membaginya agar kita semua dapat memahaminya. Al Ghazali meyakini akan hakekat sebuah ilmu, menurutnya ilmu itu satu, semua berasal dari Allah SWT baik yang diperoleh melalui panca indra, akal, dan melalui mukasyafah.

Dari paparan di atas tentang klasifikasi ilmu menurut imam al-ghazali menjadi jelas bahwa  gagasan tersebut sangat sesuai dengan pandangan unity of sciencie . dalam uraian imam al ghazali di sebutkan ilmu fardhu ain yang wajib untuk di jalankan setiap muslim dan tak bisa di wakilkan kewajiban tersebut. Ilmu ini berkenaan kepada ke esaan Allah (Tauhid) dan dalam ilmu tauhid rujukanya pasti kepada Al-Quran sebagai pedoman manusia ini menunjukkan nilai unity of science karna dalam al-Qur’an tidak di ajarkan pembedaan ilmu-ilmu dalam agama.

Ilmu yang tergolong fardu kifayah juga menjadi kebenaran akan unity of sciencie, dalam ilmu fardhu kifayah ini disebutkan beberapa ilmu yang biasa dikaji di pesantren yang tidak hanya tentang ilmu fiqih,akidah,tauhid, alquran dan hadist saja akan tetapi juga membahas tentang ilmu lainnya seperti ilmu sosial, kedokteran dll. Ini menunjukkan bahwasanya ilmu-ilmu agama tidak saja mengkaji fiqih, akidah, taukhid, Al-Quran dan hadits saja tapi ilmu umum pun juga di kaji di dalam nya. Ini sesuai konsep unity of sciencie yang menyebut bahwa tidak ada pembedaan imu antara ilmu agama dan ilmu umum.

Klasifikasi ilmu menurut imam al ghazali adalah bukti adanya keterkaitan antara keduanya, imam al-Ghazali menyebut bahwasa ilmu-ilmu umum yang tertera di atas adalah juga berasal dari Islam dan bersumber dari Al-Quran, Hadis dan ulama-ulama Islam.

Reduksi Makna Ilmu

Fiqih telah direduksi menjadi ilmu tentang hukum furu’iyyah yang aneh dalam fatwa. mendiskusikan tentang rincian dasar-dasar hukum dan menghafal pandangan berbagai mazhab. Sehingga muncul anggapan bahwa orang yang paling banyak membahas tentang hal tersebbut dianggap orang yang paling faqih.

Ilmu fiqih di generasi pertama dimaknai sebagai ilmu akhirat, mengetahui secara rinci hal-hal yang merusak jiwa dan amal, ilmu tentang hinanya dunia dan keinginan pada kenikmatan akhirat serta kuatnya rasa takut dalam hati. Istilah Ilmu juga digunakan untuk ilmu tentang Allah SWT, ayat-ayat-Nya, perbuatan Allah SWt pada hamba dan makhluk-Nya.

Istilah ilmu fiqih kemudian direduksi menjadi ‘berdebat dengan lawan dalam masalah fiqih’. Kata ilmu sekarang digunakan untuk orang yang tidak menguasai sedikit ilmu Syariah kecuali hanya perdebatan dalam masalah khilafiyyah.

Tauhid juga mengalami reduksi sebagai seni merangkai kata (ilmu kalam), mengetahui cara berdebat, menguasai cara mematahkan lawan, kemampuan mendesak lawan dengan memperbanyak pertanyaan dan menimbulkan keraguan serta mendesak untuk menerima konsekuensi dari premis-premis yang diakuinya di awal.

Padahal ilmu jenis ini tidak dikenal pada generasi awal. Tauhid pada generasi mereka bermakna seseorang melihat segala sesuatu itu dari Allah SWT sehingga memalngkan dari sebab-sebab yang lain. Tidak melihat baik dan buruk kecuali dari Allah SWT dan buah dari ilmu adalah tawakkal pada Allah SWT.

Buah Tauhid adalah tidak mengadu kepada manusia, tidak marah kepada manusia, rela dan berserah kepada ketentuan ALlah. Contohnya adalah Abu Bakar yang sakit kemudian ditawarkan kepadanya untuk dicarikan dokter, Abu Bakar menjawab, ‘dokter tersebutlah yang membuatku sakit’.

Bahaya Debat dan Dampaknya Bagi Akhlak

Bahaya dan keburukan berikut ini lahir serta muncul dari perdebatan-perdebatan yang marak belakangan ini, dan dampaknya secara umum sungguh sangat merugikan akhlak kaum Muslim.

Bahaya dan keburukan debat adalah sebagai berikut:

1. Pertama, bahwa dengan berdebat di seputar persoalan khilafiyah akan cenderung memunculkan sikap dengki di antara kaum Muslim yang tengah berdebat.

Sebagaimana Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

“Sikap dengki memakan amal kebaikan seorang hamba seperti api yang melumat kayu bakar.” (….)

Seorang pendepat hampir tidak bisa terbebas dari rasa dengki dan benci terhadap lawan bicaranya. Rasa dengki itu ibarat api yang baranya masih (selalu) menyala. Orang yang terjerembab ke dalam perangkap rasa dengki akan mendapatkan dampak buruknya di alam dunia ini. Ibnu ‘Abbas r.a. perintah berkata: “Tuntutlah ilmu di mana pun ia berada, dan jangan pernah kalian bersikap taat kepada setan yang kegemarannya hanya bertengkar (berdebat).”

2. Bahaya dan keburukan yang kedua adalah, bahwa dengan berdebat di seputar persoalan khilafiyah akan cenderung memunculkan sikap takabur di antara kaum Muslim yang tengah berdebat.

Sebagaimana Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

“Barang siapa takabur, Allah akan merendahkannya, dan barang siapa tawadhu‘ (merendahkan dirinya), Allah akan mengangkat derajatnya.” (174)

Dalam sebuah hadits qudsi diriwayatkan, bahwa Allah s.w.t. pernah berfirman:

“Keagungan adalah jubah-Ku, dan kesombongan adalah busana-Ku. Aku akan membinasakan orang yang bertengkar (berdebat) dengan mengenakan salah satu dari kedua pakaian-Ku itu.” (175).

Seorang Mu’min itu dilarang menjatuhkan diri dalam kehinaan, baik itu melalui sikap takabur dalam perdebatan ataupun tindakan hina lainnya. Sebagaimana Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

“Bahwa sesungguhnya seorang Mu’min itu tidak diperkenankan (dilarang) menjatuhkan dirinya sendiri dalam kehinaan (kerendahan).” (176).

3. Bahaya dan keburukan yang ketiga adalah, bahwa dengan berdebat di seputar persoalan khilafiyah akan cenderung memunculkan sikap dendam di antara kaum Muslim yang tengah berdebat. Seorang pendebat jarang bisa terbebas dari keburukan dan kejahatan sikap dendam.

Sebagaimana Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:
“Seorang Mu’min itu adalah pribadi yang terbebas dari memiliki rasa dendam terhadap sesama.” (1775).

4. Bahaya dan keburukan yang keempat adalah, bahwa dengan berdebat di seputar persoalan khilafiyah akan cenderung memunculkan sikap mengumpat (ghibah) di antara kaum Muslim yang tengah berdebat.

Dalam hal ini, Allah s.w.t. telah mengingatkan bahaya sikap ini dalam firman-Nya, bahwa sikap mengumpat (ghibah) itu laksana aktivitas memakan bangkai dari saudara sendiri yang telah meninggal dunia. (1786) Sebab, kecenderungan seorang pendebat akan mencari-cari dan mengungkapkan kebodohan, kelemahan, kekurangan serta ketidaktahuan lawan bicaranya.

5. Bahaya dan keburukan yang kelima adalah, bahwa dengan berdebat di seputar persoalan khilafiyah akan cenderung memunculkan sikap mengklaim diri sendiri suci di antara kaum Muslim yang tengah berdebat.

Sebagaimana dijelaskan oleh Allah s.w.t. dalam firman-Nya: “Janganlah kalian menyatakan diri kalian suci. Sebab sesungguhnya hanya Allah yang paling mengetahui siapa orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (an-Najm [53]: 32).

6. Bahaya dan keburukan yang keenam adalah, bahwa dengan berdebat di seputar persoalan khilafiyah akan cenderung memunculkan sikap mencari-cari kelemahan lawan di antara kaum Muslim yang tengah berdebat.

Sebagaimana Allah s.w.t. berfirman:
“Janganlah kalian mengintip dan memata-matai – kelemahan orang lain,….” (al-Hujurat [49]: 12).

7. Bahaya dan keburukan yang ketujuh adalah, bahwa dengan berdebat di seputar persoalan khilafiyah akan cenderung memunculkan sikap nifaq (munafik) di antara kaum Muslim yang tengah berdebat.

Seorang pendebat mengungkapkan sikap bersahabatnya dengan lawan hanya secara lahiriah, akan tetapi jauh di dasar sanubari ia memendam kebencian kepada lawan debatnya.

Sebagaimana Nabi s.a.w. pernah mengingatkan dalam sabda beliau:

“Ketika seorang ‘alim tidak menerapkan ilmu yang didapatnya ke dalam amal dan perilaku sehari-hari, sama artinya dengan ia mengungkapkan rasa cinta kepada kekasihnya (orang lain) dengan lisan, akan tetapi memelihara kebencian di dalam qalbunya, atau sama saja dengan ia telah memutuskan tali silaturrahim, hingga Allah ‘azza wa jalla akan mengutuknya, membuat lidahnya kelu, dan tertutup mata batinnya.” (1797).

8. Bahaya dan keburukan yang kedelapan adalah, bahwa dengan berdebat di seputar persoalan khilaifiyah akan cenderung memunculkan sikap menolak kebenaran di antara kaum Muslim yang tengah berdebat.

Salah satu yang paling dibenci oleh Allah s.w.t. pada diri pendebat adalah, menolak kebenaran yang keluar dari mulut lawan bicaranya. Dan, karena itulah ia menolak kebenaran yang disampaikan; jika perlu dengan menipu dan berkhianat. Sebagaimana Rasulullah s.a.w. telah melarang perdebatan, bahkan sekadar perbincangan yang mengarah ke sana (perdebatan), mengenai urusan yang tidak bermanfaat (persoalan khilafiyah). Beliau bersabda:

“Siapa saja yang meninggalkan perdebatan, sedangkan berada pada posisi yang batil (keliru), maka Allah akan membangungkan baginya sebuah rumah di perkampungan surga. Dan siapa saja yang meninggalkan perdebatan sedangkan berada pada posisi yang haq (benar), maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga yang tertinggi.” (1808).

Allah s.w.t. telah berfirman:

“Siapakah yang lebih besar kesalahannya daripada orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan mendustakan kebenaran ketika kebenaran itu datang kepadanya?” (al-‘Ankabut [29]: 68).

9. Bahaya dan keburukan yang kesembilan adalah, bahwa dengan berdebat di seputar persoalan khilafiyah akan cenderung memunculkan sikap riya’ di antara kamu Muslim yang tengah berdebat.

Di antara sifat-sifat jelek perdebatan adalah riya’ (pamer) dan ‘ujub (menyanjung diri sendiri) di hadapan orang lain dalam usaha menarik serta menyesatkan mereka. Riya’ atau ‘ujub adalah penyakit terbesar yang menyebabkan pendapat dicela, dan riya’ termasuk ke dalam kategori dosa besar.

10. Bahaya dan keburukan yang kesepuluh adalah, bahwa dengan berdebat di seputar persoalan khilafiyah akan cenderung memunculkan sikap menipu (memperdaya) di antara kaum Muslim yang tengah berdebat.

Para pendebat terpaksa menipu atau memperdaya lawan debatnya agar memenangkan perdebatan yang tengah mereka lakukan.

Sepuluh keburukan tersebut adalah dosa besar namun tersembunyi, yang diakibatkan oleh perdebatan dan pertengkaran dengan sesama. Di samping berbagai bentuk keburukan yang sudah saya sebutkan tadi, perdebatan dan pertengkaran banyak melahirkan dosa kecil lainnya, yang timbul akibat kontroversi-kontroversi yang kemudian saling mengait antara satu dengan lainnya, hingga memunculkan sikap menyerang, saling pukul, saling merusak, dan lain sebagainya.

Pahamilah, bahwa pada saat kita mengklasifikasikan (mengelompokkan) akhlak yang terburuk dalam tuntunan ajaran Islam, maka akan kita dapati semua itu terkumpul dalam sikap-sikap tercela; seperti dalam memperbincangkan urusan khilafiyah yang sama sekali tidak berguna bagi kemaslahatan umat. Sebab, mencari keridhaan manusia sama artinya dengan menduakan Allah s.w.t., dan itu termasuk kategori berbuat atau melakukan dosa yang tidak terampuni (dosa besar). Jadi, siapa saja yang menuntut ilmu bukan untuk tujuan mengharapkan keridhaan Allah s.w.t. dan kebahagiaan negeri akhirat, maka ilmu yang didapat menjadi sia-sia bagi pemiliknya. Berkaitan dengan masalah ini, Nabi s.a.w. pernah bersabda: “Hamba yang sangat menderita dengan ditimpa azab (siksa) pada Hari Berbangkit nanti adalah; siapa yang memiliki ilmu, yang ilmu itu sama sekali tidak mendatangkan manfaat bagi pemiliknya.” (1819).

Nabi s.a.w. juga pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah hendak menguatkan agama ini dengan adanya kaum (orang-orang) yang tidak berbudi.” (182).

Dan, Nabi s.a.w. pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah hendak menguatkan agama ini dengan adanya orang-orang yang zhalim.” (183).

Oleh karena itu ketahuilah, bahwa ada tiga kelompok ulama. Kelompok pertama adalah ulama yang menghancurkan diri mereka sendiri dan juga merusak orang lain. Kelompok kedua adalah ulama yang memberi manfaat bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain. Ulama yang demikian ini akan menyeru manusia kepada kebaikan. Sedangkan kelompok ketiga adalah ulama yang membawa kehancuran bagi dirinya sendiri, akan tetapi justru memberi manfaat bagi orang lain.

Adab Guru dan Murid

Etika Belajar (Murid)

”Mendahulukan kesucian jiwa dari akhlak yang hina dan sifat-sifat yang tercela. Karena ilmu adalah ibadahnya hati, shalatnya sirr dan pendekatan batin kepada Allah Ta‟ala”.

”Mensedikitkan hubungan-hubungannya dengan kesibukan dunia dan menjauh dari keluarga dan tanah air. Karena, segala hubungan itu mempengaruhi dan memalingkan hati pada yang lain”.

“Tidak sombong karena ilmu dan tidak menentang guru namun ia serahkan kendali urusannya kepada guru itu secara keseluruhan dalam setiap rincian dan mendengarkan nasihat-nasihatnya seperti orang yang sakit dan bodoh mendengarkan nasihat dokter yang sayang dan cerdik”.

“Orang yang baru menerjunkan diri dalam ilmu pada awal langkahnya agar tidak mendengarkan pendapat orang yang berbeda-beda. Baik ia menerjunkan diri dalam ilmu-ilmu dunia maupun ilmu-ilmu akhirat”.

“Orang yang mencari ilmu tidak meninggalkan satu vak dari ilmu-ilmu yang terpuji dan tidak pula salah satu macam-macamnya kecuali ia melihat padanya dengan pandangan yang menilik kepada tujuan dan penghabisannya”.

“Orang yang menuntut ilmu tidak menerjunkan diri kedalam suatu ilmu sekaligus tetapi ia menjaga tertib/urutan. Dan ia memulai dari yang paling penting. Karena umur apabila biasanya tidak memuat seluruh ilmu maka yang paling perlu dipegangi adalah ia mengambil dari segala sesuatu akan apa yang terbaik”.

“Ia tidak menerjunkan diri kedalam suatu ilmu sehingga ia menguasai secara baik vak yang sebelumnya. Karena ilmu itu bertingkat-tingkat dengan tingkatan yang pasti, dimana sebagiannya menjadi jalan kepada sebagiannya yang lain”

“Ia mengetahui sebab yang dapat untuk mengetahui semulia-mulia ilmu. Hal ini dapat diketahui dengan dua sebab, pertama: kemuliaan hasilnya, kedua: kepercayaan dan kekuatan dalilnya”.

“Orang yang menuntut ilmu menghiasi dan mengindahkan batinnya dengan keutamaan”.

“Ia mengetahui nisbat/kaitan ilmu-ilmu itu dengan tujuannya, sebagaimana tujuan yang tinggi dan dekat itu berpengaruh pada tujuan yang jauh dan penting serta berpengaruh atas lainnya”.

Etika Mengajar (Guru)

Wazifah 1
”Guru harus mencintai muridnya seperti mencintai anak kandungnya sendiri. Seperti hadits Rasulullah: “sesungguhnya aku bagi kalian adalah bagaikan bapak terhdap anaknya.” Dengantujuan menyelamtkan mereka dari api akhirat, bahkan ini lebih penting ketimbang penyelamatan kedua orang tua terhadap anaknya dari api dunia. Oleh karena itu, hak guru lebih besar dari hak kedua orangtua. Karena orangtua adalah sebab keberadaan sekarang dan kehidupan yang fana sedangkan guru adalah sebab kehidupan yang abadi”.

Wazifah 2
“Guru meneladani Rasulullah saw dengan tidak meminta upah mengajar, tidak bertujuan mencari imbalan atau ucapan terima kasih,tetapi mengajar semata-mata karena Allah dan taqorrub kepada-Nya. Juga tidak merasa berjasa atas para murid, sekalipun jasa itu mereka rasakan, tetapi memandang mereka juga memiliki jasa karena mereka telah mengkondisikan hati mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menanamkan ilmu kedalamnya. Seperti orang yang meminjami tanah ladang untuk anda tanami, maka hasil manfaat yang Anda peroleh dari tanah itu juga menambah kebaikan pemilik tanah. Bagaimana anda menghitung jasa dan pahalamu dalam mengajar itu lebih besar ketimbang pahala murid disisiAllah? Kalau bukan karena murid, guru tidak akan mendapatkan pahala ini. Olehkarena itu ,janganlah Anda meminta upah kecuali dari Allah Ta’ala”.

Wazifah 3
“Guru tidak meninggalkan nasehat pada muridnyasama sekali, seperti melarangnya dari usaha untuk beralih kepada suatu tingkatan sebelum berhak menerimanya,dan mendalami ilmu tersembunyi sebelum menguasai ilmu yang jelas.dan guru harus mengingatkan muridnya agar dalam tujuannya dalam menuntut ilmu bukan untuk kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah”.

Wazifah 4
“Guru harus mencegah murid dariakhlak tercela,dengan cara tidak langsung dan terang-terangan sedapatmungkin, dandengan kasihsayang bukandengan celaan. Karena cara terangteranganbisamengurangikewibawaan, menimbulkan keberanian untuk membangkang,dan merangsang sikap bersikeras mempertahankan. Kasus yang mengingatkan anda kepada hal ini adalah kisah Adam danHawa‟ berikutlarangan keduanya;kisah ini disebutkan kepada Anda bukan untuk menjadi bahan cerita semata-mata tetapi agar menjadi pelajaran.Selain itu,cara mencegah secara tidak langsung akan membuat jiwa yang baik dan pikiran yang cerdas cenderung untuk menyimpulkan berbagai maknanya”.

Wazifah 5

“Guru yang menekuni sebagian ilmu hendaknya tidak mencela ilmu-ilmu yang tidak ditekuninya, seperti guru bahasa biasanya mencela ilmu fikih. Guru fikih biasanya mencela ilmu hadits dan tafsir, dengan mengatakan bahwa ilmu itu hanya kutipan dan periwayatan semata-mata, dan guru teologi biasanya mencela fikih seraya mengatakan bahwa fikih adalah cabang yang hanya berbicara tentang haid tetapi tidak pernah berbicara tentang sifat Allah. Ini semua adalah akhlak tercela bagi para guru yang harus di jauhi. Seorang guru yang hanya menekuni satu ilmu harus memperluas wawasan murid pada orang lain, dan jika ia menekuni beberapa ilmu maka harus menjaga pentahapan dalam meningkatkan murid dari satu tingkatan ke tingkatan yang lain”.

Wazifah 6

“Membatasi sesuai kemampuan pemahaman murid, tidak menyampaikan kepadanya apa yang tidak bisa dijangkau oleh kemampuan akalnya agar tidak membuatnya enggan ataumemberatkan akalnya, karena meneladani Rasulullah saw. Hendaknya menyampaikan hal yang sebenarnya apabila diketahui bahwa kemampuan pemahamannya terbatas.

Nabi bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim, berkata: “Tidaklah seseorang berbicara kepada suatu kaum dengan suatu pembicaraan yang tidak mampu dijangkau oleh akal mereka melainkan akan menjadi fitnah bagi mereka.”

Ali berkata seraya menunjuk kedadanya, “Sungguh disini terdapat banyak ilmu jika ada yang siap membawanya.” Ali ra benar, karena hati orang-orang yang sangat baik (al-abror) adalah kuburan berbagai rahasia.”

Wazifah 7

“Murid yang terbatas kemampuannya sebaiknya disampaikan kepadanya hal-hal yang jelas dan cocok dengannya. Dan tidak disebutkan kepadanya bahwa di balik itu ada pendalaman yang tidak bisa disampaikan kepadanya. Karena tindakan ini akan mengurangi minatnya terhadap hal-hal yang jelas tersebut, membuat hatinya guncang, dan mengesankan kebakhilan penyampaian ilmu terhadap dirinya, sebab setiap orang meyakini bahwa dirinya layak menerima ilmu yang mendalam. Setiap orang pasti ridho kepada Allah atas kesempurnaan akalnya, sedangkan orang yang paling bodoh dan yang paling lemah akalnya ialah orang yang paling bangga terhadap kesempurnaan akalnya”.

Wazifah 8

“Hendaknya guru melaksanakan ilmunya, yakni perbuatannya tidak
mendustakan perkataannya, karena ilmu diketahui dengan mata hati (bashirah) dan amal diketahui dengan mata, sedangkan orang yang memiliki mata jauh lebih banyak. Jika amal perbuatan bertentangan dengan ilmu maka tidak memiliki daya bimbing. Setiap orang yang melakukan sesuatu lalu berkata kepada orang lain,“ Janganlah kalian melakukannya” maka hal ini akan menjadi racun yang membinasakan”.

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com

Sila kunjungi senarai tulisan tentang Imam Al-Ghazali lainnya:

  1. Imam Al-Ghazali dan Ilmu Hadis
  2. Imam Al-Ghazali dan Tuduhan Kemunduran Sains Islam
  3. Imam Al-Ghazali dan Argumentasi Kosmologi tentang Tuhan
  4. Imam Al-Ghazali dan Tasawuf
  5. Imam Al-Ghazali dan Ilmu Kalam
  6. Peran Al-Ghazali dalam Mengembangkan Keilmuan Fiqih dan Ushul Fiqh Mazhab Syafi’i

Tinggalkan komentar