Ringkasan Buku Islam dan Sekulerisme: Latar Belakang Kristen Barat Masa Kini

Bagian ini membahas sejarah perkembangan “Kristen Barat”, pertentangan teologi Barat dan Islam, sekulerisme yang bersifat falsafah, dan bagaimana Islam menghadapinya.Krisis keagamaan dalam teologi Barat bersumber dari sarjana-sarjana Barat sendiri dan bukan tuduhan tanpa dasar oleh Prof. Al-Attas. Krisis tersebut telah memunculkan aliran pemikiran neo-modernis yang lahir dari kalangan Kristen dan para intelektualnya.

Jacques Maritain, ahli filsafat Kristen terkemuka telah menyuarakan kebimbangannya terhadap krisis sekulerisasi yang mengancam agama Kristen dan dunia Barat saat ini. Augustus Compte, ahli filsafat Perancis membayangkan akan kebangkitan sains dan kejatuhan agama. Agus Comte berbicara tentang evolusi sejarah manusia, pada akhirnya agama akan semakin ditinggalkan. Abad ke depan adalah sains bukan agama. Agama akan menggantikan sains. Frederich Nietszche, seorang ahli filsafat dan penyair Jerman, juga menyatakan bahawa ‘Tuhan telah mati,’ sekurang-kurangnya bagi dunia Barat. Nietszche menolak kebenaran agama dan perlu digantikan dengan filsafat pasca-modenisme.

Sejarah perkembangan “Kristen Barat” sangat problematik. Kristen yang mulanya hanya menyediakan ajaran-ajaran etika dan moralitas harus melakukan dialog panjang dengan pemikiran filsafat Yunani dan Romawi untuk mampu merumuskan “Theologi” dan “Hukum”nya.

Dalam perkembangannya sebagai agama yang mewujud sebagai otoritas yang sangat kuat dan kemudian berkembang menjadi tiran yang mengekang kehidupan orang Barat Eropa pada masa itu. Masa ini kemudian diratapi dan dinilai sebagai masa kegelapan yang telah mengekang akal budi merdeka manusia. Di masa selanjutnya “kegelapan” ini lantas di dobrak oleh “semangat pencerahan” yang dibawa oleh pemikir-pemikir baru yang menggugat kuasa otoritas agama yang berlaku pada waktu itu.

Gugatan-gugatan pemikir tersebut melahirkan konsep-konsep baru yang memiliki pijakan dan metodologi yang problematik sebab ia berpijak dari relativisme dan skeptisisme yang membawa manusia pada perjalanan yang tidak berujung.

Pengaruh sekularisasi yang kuat tidak mampu ditentang oleh ahli teologi Kristen dan agama Kristen sendiri. Tokoh Barat seperti Pierre Tielhard de Chardin dari Prancis, Dietrich Bonhoeffer dari Jerman dan Paul Tillich dari Amerika mengakui ketidakmampuan menolak krisis keyakinan dan keagamaan yang timbul akibat daripada sekulerisasi.

Akibat pengaruh sekulerisasi tersebut, tokoh-tokoh ini menyarankan supaya orang Kristen mengambil peran dalam sekulerisme. Lebih baik kita ambil sekulerisme dan kita isi dengan apa yang kita inginkan, padahal pada awalnya ia dianggap sebagai proses yang merusak masyarakat Kristen. Orang Kristen harus gabungkan agama dan sekulerisme. Menurut sebagian, ini satu-satunya cara yang bisa dilakukan. KEKALAHAN DIIKUTI DENGAN KEHANYUTAN (MENGIKUT ARUS).

Christianity | Definition, Origin, History, Beliefs, Symbols, Types, &  Facts | Britannica
mosaic; Christianity, sumber Britannica

Al-Atatas menyinggung tulisan pemikir Sigmund Freud dalam bukunya The Future of Illusion, tentang psikoanalisis menantang agama, serangan hebat tentang Tuhan. Tuhan menurutnya adalah ilusi, tidak pernah wujud, hanya ciptaan manusia. Manusia sejak kecil punya imajinasi ayah, ketika dewasa ayahnya punya kekurangan, ia perlu image yang lebih hebat dan itulah Tuhan yang bisa memenuhi permintaannya. Tuhan adalah imajinasi manusia.

Ahli teologi dan pemikir Kristen ini kemudian menggabungkan diri dengan pemikiran neo-modernisme, yaitu gerakan yang mengubah tradisi-tradisi keagamaan yang dianggap lapuk ke nilai-nilai yang dianggap modern. Bahkan mereka menegaskan bahwa proses sekularisasi ini memiliki asal dan akar dan buah dari ajaran Injil. Untuk masa depan yang lebih baik, kita harus berubah. Agama pun harus berubah. Proses sekulerisasi telah membuat agama Kristen bersifat nisbi dan relatif. Setiap versi Kristen yang baru, akan membuka jalan versi baru sesuai kebutuhan perubahan dari masa ke masa.

Penganut Kristen yang awalnya menentang sekulerisasi, tanpa sadar telah berasimilasi dengan proses tersebut. Ini disebut Jacques Maritain sebagai ‘kemurtadan yang terpendam’ (immanent apostasy) dalam kalangan Kristen. Mereka akhirnya menyediakan agama Kristen agar lebih terbuka dengan tafsiran-tafsiran baru, yang akhirnya diungkapkan oleh Lionel Mascall dalam The Secularization of Christianity sebagai ‘bukan dunia yang diubah menjadi Kristen, tetapi Kristenlah yang diubah untuk dunia.’

Agama Kristen yang dipengaruhi Hellenisasi (masuknya filsafat Yunani ke dalam metafisika Kristen) pada awal abad perkembangannya menjadi puncak permasalahan di dalam teologi dan metafisik Kristen. Mazhab Protestan yang dibuat pada abad ke-19 oleh ahli teologi Jerman, Adolf Von Harnack mendesak supaya dehellenisasi (de-hellinization) agama Kristen perlu diadakan. Karena menurutnya sejak awal agama Kristen telah  terpengaruh dengan filsafat dan budaya helenistik dari Yunani, serta menganut epistemologi ahli filsafat Yunani seperti Parmenidean dan Aristoteles. Ini menimbulkan masalah dalam memahami pokok kepercayaan dalam agama Kristen.

Antara masalah helenisasi yang timbul dalam agama Kristen adalah, pemahaman Tuhan sebagai sosok suprarasional, doktrin Trinitas yang sukar dijelaskan (Tuhan Bapak, Tuhan Anak, Roh Kudus) memungkinkan kepada terwujudnya ateisme moden. Juga konsep ketuhanan yang bermacam-macam contohnya theos dari Yunani, Yahweh dari Yahudi, deus dari metafisik Barat, dan dewa-dewa dalam tradisi pagan Jerman. Golongan Katolik menerima desakan untuk melakukan dehellenisasi dalam agama Kristen. Ia dianggap sebagai proses penting untuk melawan sekularisasi.

Dapat disimpulkan bahwa semakin muncul kesadaran bahwa helenisasi bertanggungjawab atas terhambatnya perkembangan ajaran Kristen. Lalu muncul usaha untuk membuang mitos-mitos yang ada kitab agama Kristen seperti yang dibuat Edmund Husserl, Martin Heideggar dan Kelompok Wina (Vienna Circle). Dalam usaha dehelenisasi dan ingin membahas eksistensi Tuhan melalui kaca mata filsafat menjadi semakin rumit ketika Tuhan ingin dijadikan subjek yang bisa difahami oleh rasa dan pancaindera manusia.

Para penganut Kristian pada umumnya tidak menyangkal bahwa masalah mereka yang paling serius adalah permasalahan tentang Tuhan. Santo Agustinus dari Hippo, seorang ahli teologi Kristen menyebut, untuk memecahkan misteri dan keraguan tentang konsep Trinitas, beliau mengemukakan analogi psikologi bahwa konsep Trinitas tidak dapat difahami sepenuhnya karena keterbatasan akal manusia. Maka dalam agama Kristen, Tuhan difahami sebagai salah satu elemen daripada konsep Trinitas, ia akan sentiasa terbuka untuk perubahan menurut sudut pandang relatif.

Relativisme telah membolehkan seorang penganut Kristen memilih konsep Tuhan yang mana paling disukai, baik itu skriptural (mengikut kitab Injil), patristik (hellenik), zaman pertengahan (skolastik), atau modern (eksistensial). Penafsiran yang terbuka bagi agama Kristen ini menjadi bukti bahwa agama Kristen telah masuk dalam arus proses sekularisasi.

Ahli teologi Kristen berpegang dengan pemikiran Parmenides yang dikenal sebagai bapak logika pertama. Dalam beberapa pemikirannya, dia menggunakan syarat koherensi dan konsistensi. Parmenides juga sangat metafisis dalam membangun pemikirannya, terutama tentang kebenaran absolute, yang tetap dan tidak berubah. Parmenides membagi arah pemikiran menjadi dua jalan; The way of truth  and the way of brief or opinion. Pembagian ini dilatar belakangi oleh keyakinannya tentang kebenaran tunggal (pasti, absolute) dan kebenaran semu (opinion).

Dalam hal ini, Mohammad Hatta memberi penjelasan lebih sederhana terhadap pemikiran Parmenides  dengan dua pembagian: Pertama, Kebenaran absolute. Kebenaran ini bersifat mutlak, apa adanya,  abadi dan tak akan pernah menjadi tidak ada. Sedangkan yang kedua, kebenaran pendapat manusia, yaitu kebenaran yang secara objektif tidak ada kebenaran di dalamnya. Dengan perkataan lain, itu hanyalah prasangka manusia. Prasangka itulah yang mengatakan ada yang banyak padahal “yang banyak” itu tidak ada.

Pernyataan Parmenides yang popular bahwa ‘ada (being) dan pemikiran itu adalah sama’. Maksudnya, ‘ada (being)’ itu selalu bisa dipikirkan, dan yang dapat dipikirkan itu selalu ada.

Kalau seseorang menyangkal bahwa “yang ada” itu tidak ada, dengan sendirinya orang itu mengakui bahwa “yang ada” itu ada. Sebab, kalau benar “yang ada” itu tidak ada, maka orang itu tidak dapat menyangkal adanya “yang ada”. Jadi, kenyataan bahwa “yang ada” itu dapat ditolak keberadaannya menunjukkan “yanga ada” itu memang ada, sedangkan “yang tidak ada” itu tidak ada!

Untuk lebih memahami pemikiran Parmenides, dapat digunakan contoh berikut ini. Misalnya saja, Herman menyatakan “Tuhan itu tidak ada!” Tuhan yang eksistensinya ditolak oleh Herman sebenarnya ada. Artinya, Tuhan harus diterima sebagai dia “yang ada”. Mengapa demikian? Sebab, kalau Herman mengatakan “Tuhan itu tidak ada”, maka Herman sudah terlebih dulu memikirkan suatu konsep tentang Tuhan dalam empat proses: (1) Siapa atau apakah Tuhan itu? (2) atau Herman telah mempunyai konsep tentang Tuhan, (3) konsep Tuhan yang dipikirkan Herman disanggah olehnya sendiri dengan menyatakan (4) “Tuhan itu tidak ada”.

Dengan demikian, Tuhan sebagai yang dipikirkan oleh Herman itu “ada” walaupun hanya di dalam pikirannya sendiri. Sedangkan penolakan terhadap sesuatu, pastilah mengandaikan bahwa sesuatu itu “ada” sehingga “yang tidak ada” itu tidaklah mungkin, karena “yang ada” itu selalu dapat dikatakan dan dipikirkan.

Ahli Filsafat selanjutnya, termasuk Plato dan Aristoteles tidak pernah meragukan adanya wujud (being), bahkan konsep ini menjadi bagian penting dalam pandangan alam (worldview) Yunani. Namun mereka membagi hakikat wujud menjadi dua; yaitu wujud sebagai hakikat yang nyata, contohnya: wujud alam secara keseluruhan termasuk dalam wujud yang wajib dan kekal, dan wujud yang tidak wajib, mungkin, atau bergantung (contingent), contohnya: wujudnya sesuatu daripada alam atau wujudnya seorang manusia.

Intelektual Kristen meletakkan wujud makhluk sebagai suatu yang mungkin atau bergantung (contingent) jika merujuk kepada kewujudannya secara nyata namun menjadi wajib jika merujuk kepada dirinya dalam fikiran. Karena dibuatnya pemisahan antara wujud yang wajib (necessary being) dengan wujud yang mungkin (contingent being), dimana makhluk dalam hal ini wajib wujudnya dalam pikiran (thought) tapi bukan dalam kenyaataan (actuality), maka dibuatlah pemisahan antara esensi (essence) dan eksistensi (existence) pada makhluk sedangkan bagi Tuhan keduanya mesti sama dan mesti, yakni Wājib al-Wujūd (Necessary Being).

Pemisahan antara esensi dan eksistensi bagi makhluk adalah hasil dari pengamatan Thomas Aquinas. Aquinas dikenal atas jasanya dalam mengharmonisasikan agama dengan akal, menjadi aliran yang dikenal dengan Thomisme. Metafisik yang dikenalkan  Angelic Doctor, sebuah gelar untuk Aquinas berdasar pada dua prinsip, iaitu intipati (essence) dan kewujudan (existence).

Pemisahan ini merupakan akibat kesalahfahaman Thomas Aquinas terhadap pandangan Ibn Sīnā yang mengatakan bahwa setiap esensi atau mahiyyah (quidity) dapat difahami tanpa perlu diketahui eksistensinya, dan karenanya  eksistensi berbeda dengan esensi (mahiyyah).

Selanjutnya muncul William Ockham yang dikenal sebagai bapak modern epistemologi, karena pendapatnya yang kuat bahwa hanya individu yang ada daripada esensi dan bentuk, dan yang universal adalah produk abstraksi dari individu oleh hasil pikiran manusia.

Ockham juga menyimpulkan bahwa apabila esensi sesuatu objek dapat difahami tanpa diketahui eksistensinya, maka kita tidak akan dapat mengetahui sesuatu itu benar-benar wujud atau tidak. Ockham menyandarkan pengetahuan kita mengenai sesuatu kepada eksistensi luar objek tersebut. Keraguan Ockham terhadap eksistensi objek membawa pula kepada keraguan terhadap eksistensi Tuhan. 

Setelah William Ockham, muncul Rene Descartes yang membuktikan kewujudan manusia dan makhluk melalui kesedaran dan intuisi empiris dengan landasan cogito ergosum-nya, namun tidak dapat menetapkan eksistensi Tuhan karena Tuhan tidak seperti manusia, bukan subjek untuk intuisi empiris. Maka apabila esensi Tuhan di dalam akal fikiran tidak dapat diketahui (karena tidak boleh didapat melalui penelitian empiris), maka eksistensi-Nya juga tidak dapat diketahui kerana esensi dan eksistensi Tuhan keduanya adalah sama.

Sekulerisme adalah buah pikiran Rene Descartes yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Jika zaman Kristen Barat bersifat teosentrik, setelah Decart bersifat antroposentrik. Perubahan yang sangat besar, dimana Tuhan punya otonomi. Pemikiran ini didukung Emanuel kant, John Lock. Cogito ergosum-nya menjadi letupan besar, sesuatu eksis karena berpikir. Kewujudan Tuhan pun ada jika kita berpikir Tuhan itu ada.

Pegangan pertama (first principle) mengenai kewujudan menurut Descartes ialah kewujudan itu mesti bagi orang yang berfikir itu sendiri. Adapun menurut ilmu Kalam, perkara Pertama yang perlu diyakini ialah keberadaan Tuhan yang dapat dipastikan melalui adanya alam ini.

Decart banyak dipengaruhi Imam Al-Ghazali, khususnya buku Al-Munqidz min Dhalal. Yang diambil Decart dari Al-ghazali, kita tidak bisa percaya 100% kepada rasa, dan pikiran. Maka manusia harus percaya kepada khabar shadiq.

Selesai

Bagi seorang Muslim, sangat penting untuk belajar dari pengalaman agama Kristen menghadapai proses sekulerisasi. Sebagian sarjana Muslim yang terpesona dengan kemajuan Barat, ikut meniru cara yang dilakukan Barat untuk mereformasi agama.

Penting sekali memahami proses sekulerisasi dan implikasinya, kemudian berusaha untuk tidak terjebak di lubang yang sama oleh umat Kristen.

Ringkasan bab-bab lainnya dapat dibaca di tautan berikut:

  1. Islam dan Sekulerisme: Pendahuluan (disini)
  2. Islam dan Sekulerisme: Latar Belakang Kristen Barat (disini)
  3. Islam dan Sekulerisme: Sekular-Sekularisasi-Sekularisme (disini)
  4. Islam dan Sekulerisme: Islam: Faham Agama dan Asas Akhlak (disini)
  5. Islam dan Sekulerisme: Dilema Muslim (disini)
  6. Islam dan Sekulerisme: Dewesternisasi Ilmu (disini)

Sumber:

  • Kajian berseri Buku “Islam dan Sekulerisme” bersama Dr. Khalif Muammar A. Harris di At-Taqwa College dalam Program Perkuliahan Pemikiran Imam Al-Ghazali dan Syed Al-Attas.
  • Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, diterjemahkan oleh Khalif Muammad A. Haris, Cet ke 2 Bahasa Melayu, 2021 oleh RZS-CASIS, Malaysia

Terima kasih disampaikan kepada At-Taqwa College sebagai penyelenggara kuliah ini dan Dr. Khalif Muammar sebagai pemateri. Semoga ringkasan ini bermanfaat, dan mohon maaf atas kekurangan.

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com

Share your love
Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *