bendera indonesia

Manusia Merdeka Menurut Islam

Home » Manusia Merdeka Menurut Islam

Dalam terminologi bahasa Arab, kemerdekaan adalah ‘al-taharrur wa al-khalash min ayy qaydin wa saytharah ajnabiyyah’  bermakna, bebas dan lepas dari segala bentuk ikatan dan penguasaan pihak lain.

Itu artinya, kemerdekaan adalah sesuatu yang asasi dan melekat dalam diri setiap manusia.

Di artikel ini, kita akan sama-sama belajar tentang Makna kemerdekaan bagi orang Islam.

Kemerdekaan Setiap Muslim

Misi utama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus adalah untuk memerdekakan manusia. Ada banyak ayat yang menunjukkan diutusnya Rasulullah sebagai jalan memerdekakan manusia. Karena itu sejatinya, setiap muslim adalah manusia-manusia yang merdeka.

Setidaknya ada beberapa kemerdekaan yang harus dimiliki oleh setiap muslim, antara lain sebagai berikut.

Merdeka dari belenggu hawa nafsu dan mengakui hanya ada satu Tuhan

Allah SWT berfirman,

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ

“Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. an-Nazi’at: 40-41).

Ayat di atas menegaskan bahwa orang yang merdeka dari bujukan hawa nafsunya, yang cenderung mengajak kepada setiap keburukan, maka kelak di akhirat Allah Ta’ala akan menyediakan surga sebagai tempat menetapnya.

Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain,

وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْ اِلَيْهِ اَنَّه لَا اِلٰهَ اِلَّا اَنَا فَاعْبُدُوْنِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku’. Maka sembahlah Aku.” (Qs. Al-Anbiyaa’ [21]: 25).

Baca juga:   Klarifikasi Pondok Pesantren Nurul Hadid tentang Pemberitaan di kompas.com

Merdeka dari perilaku dan akhlak tercela.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi no. 1162. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 284).

Inilah makna kemerdekaan selanjutnya bagi seorang muslim, yakni merdeka dari akhlak tercela. Karena itu, jika seorang muslim yang makin bertambah ilmu agama dan imannya, namun akhlaknya tidak semakin baik, maka sejatinya dia belum merdeka sebab masih terbelenggu dengan keburukan akhlaknya.

Merdeka dari budaya dan pandangan hidup hedonisme

Terkait pandangan hedonis ini, dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya.

Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Majah (no. 4105); Imam Ibnu Hibban (no. 72–Mawariduzh Zham’an); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.

Lafazh hadits ini milik Ibnu Majah rahimahullah. Dishahihkan juga oleh Syaikh al-‘Allamah al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 950).

Merdeka dari praktik syirik dalam segala bentuknya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Baca juga:   Agar Mudik Penuh Makna!

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan (al-mubiqat).”  Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa yang membinasakan tersebut?”

Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh kecuali jika lewat jalan yang benar, makan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan qadzaf.” (HR Bukhari dan Muslim).

Manusia Merdeka menurut Imam al-Ghazali

Manusia merdeka menurut Imam al-Ghazali adalah mereka yang:

  • Bebas jasad daripada menjadi hamba duniawiyah.
  • Bebasl akal daripada menjadi hamba pemikiran makhluk
  • Bebas hati daripada hamba perasaan/ nafsu madzmumah
  • Bebas dari menjadi hamba ananiyah

Al-Ghazali menyatakan bahwa pribadi yang tidak membutuhkan kecuali Allah, dan dalam saat yang sama dia menguasai kerajaannya yakni ‘bala tentara dan rakyat’ yang dimilikinya tunduk dan taat kepadanya.

Kerajaan setiap individu adalah kalbu dan wadah kalbunya; balatentaranya adalah syahwat, amarah dan nafsunya; rakyatnya adalah lidah, mata, tangan, dan seluruh anggota badannya.

Bila semua itu dia kuasai dan tidak menguasainya, menaatinya dan bukan dia taat kepadanya, maka ketika itu ia telah mencapai tingkat kemerdekaan di alamnya.

Inilah sebuah kisah tentang makna kemerdekaan. Ketika salah seorang penguasa berkata kepada seorang arif, “Mintalah apa yang engkau butuhkan..”

Sang arif menjawab, “Apakah kepadaku engkau berkata demikian, pada hal aku memiliki dua hamba yang keduanya adalah tuanmu?” “Siapa mereka?” tanya sang penguasa. “Mereka adalah ketamakan dan hawa nafsu. Keduanya telah kukalahkan namun keduanya mengalahkanmu, keduanya pula telah kukuasai tetapi keduanya menguasaimu.”

Baca juga:   Bahaya Spongebob pada Otak Anak

Bagaima dengan sebuah bangsa? Bangsa harus mandiri, menguasai, dan mengatur wilayahnya, serta tidak memiliki banyak ketergantungan kepada selainnya. Masyarakatnya pun tunduk pada hukum dan peraturan. Dan, kita sebagai individu tentu mengikutinya. Itulah makna kemerdekaan sejati.

Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *