Mengambil Hikmah dari Pandemi

PARADIGMA PUASA YANG HILANG – Awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan kasus penemuan virus Corona jenis baru yang kini disebut sebagai Covid 19. Virus ini ditemukan pertama kali di Wuhan, Cina. Kini, virus itu telah menelan lebih dari 3 ribu nyawa manusia dalam hitungan beberapa bulan saja. Selebihnya, puluhan ribu orang telah teridentifikasi terkena virus ini di seluruh dunia.

Jika menilik pada catatan sejarah, virus semacam Corona sebelumnya juga pernah menggemparkan dunia seperti Ebola, Pes, dan Kolera. Wabah virus-virus ini bahkan hampir memusnahkan sepersekian penduduk dunia.

Virus merupakan salah satu ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala yang sangat unik. Sampai saat ini para Ilmuwan biologi masih dibingungkan dengan sifat virus karena keunikan dari sifat-sifatnya. Namun, keunikan dari virus ini tentunya tak lepas dari tanda-tanda keagungan Allah Subhanahu Wata’ala atas kuasanya dalam penciptaan makhluk.

Firman Allah Subhanahu Wata’ala yang menggambarkan makluk Allah yang kecil untuk dijadikan pelajaran terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 26 dan Surat Al-Hajj ayat 73-74.

Surat Al-Baqarah ayat 26 

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسْتَحْىِۦٓ أَن يَضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرًا وَيَهْدِى بِهِۦ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلْفَٰسِقِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpaan seekor nyamuk atau yang lebih dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan, tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan dengan perumpaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkannya sesat, dan dengan itu pula banyak orang yang diberikan petunjuk. Tetapi tidak ada yang disesatkan kecuali orang-orang yang fasik.” (QS. Al Baqarah: 26)

Pada ayat ini Allah Subhanahu Wata’ala menyebut kata “ba’udhah” yang dalam bahasa Indonesia diartikan “seekor nyamuk”, dalam bahasa Inggris diartikan “the lowest of creature” dan oleh ahli tafsir kata-kata tersebut dihubungkan dengan “suatu makhluk yang sangat lemah dan memiliki kecerdasan yang menakjubkan”. Terkait dengan hal tersebut, kata-kata “bau’dhah= the lowest of creature = suatu makhluk yang sangat lemah dan memiliki kecerdasan yang menakjubkan” ini terkait dengan sifat-sifat virus.

Virus memiliki ukuran yang sangat kecil dan lemah karena virus memiliki ukuran antara 27 nm, seperti bakteriofage sampai 300 nm, seperti poxvirus (1 nm =10-9 m =0.000000001 m) dan virus menggantungkan semua kebutuhan untuk bertahan hidup pada sel inang. Walaupun virus sangat kecil dan lemah, tetapi virus memiliki kecerdasan yang luar biasa. Salah satu contohnya adalah virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Kecerdasan yang dimiliki oleh virus HIV ini, yakni mengetahui sel T (sel lymfosit T) yang merupakan sel pertahanan tubuh manusia yang paling utama. Apabila sel T ini dihancurkan, maka akan hancur pula seluruh sistem pertahanan dalam tubuh manusia.

Pada surah Al-Baqarah ayat 26, Allah Subhanahu Wata’ala membagi manusia menjadi dua terhadap perumpamaan yang dibuat oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Orang yang beriman mempercayai perumpamaan tersebut sementara orang-orang yang kafir menjadi sesat dan fasik mereka tidak mempercayai perumpamaan dari Allah Subhanahu Wata’ala dan berpaling dari kebenaran tersebut dengan mempertanyakannya. Dalam ayat ini, mereka yang kafir dan fasik menyangsikan perumpamaan Allah Subhanahu Wata’ala dengan kalimat “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”

Dr. Ali Mansour Kayali menjelaskan dalam kajian tadabburnya terhadap kalimat  بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا. Ayat ini menggunakan kata فَوْقَ bukan عَلَى. Kedua kata tersebut mengandung arti yang sama, yaitu “di atas”, hanya saja dalam pemakaian keduanya mempunyai makna yang berbeda. Lafadz على biasanya digunakan untuk benda yang berada di atas benda lainnya (menempel). Sedangkan kata فوق biasanya digunakan untuk benda yang berada di atas benda lainnya, tapi antara keduanya terdapat jarak yang jauh (terpisah).

Sebagian ahli fisika, biologi dan peneliti I’jaz Al-Qur’an  menjelaskan makna kalimat ini bahwa di atas nyamuk ada bakteri, virus. Namun perlu dibedakan antara ‘fauqa’ dan ‘’ala’ dalam pemakaian keduanya seperti penjelasan di atas. Ayat ini menggunakan istifham ingkari yang artinya Allah menantang manusia sejak dahulu sampai hari kiamat nanti untuk mengetahui apa yang ada di atas nyamuk.

Kayali memberikan contoh seseorang yang pergi ke dokter kemudian diberikan resep obat. Pasien yang tidak punya ilmu pengetahuan tentang obat. Tidak boleh mendebat dokter dengan resep obat yang diberikan. Jika demikian, bisa jadi sang dokter akan bilang, ‘Anda tahu tentang obat? jika tidak maka diamlah, dan minum obat ini’.

Allah Subhanahu Wata’ala ingin menegaskan bahwa jika manusia tidak mengetahui apa yang ada di atas nyamuk, maka percayalah bahwa Kalam Allah ini benar dan jangan mendebatnya. Orang yang beriman, percaya kepada Tuhannya dan sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami taat) Sementara orang kafir ingin mendebat.

Allah Subhanahu Wata’ala ingin mengajarkan hamba-Nya untuk berpikir mendalam (deep thinking). Semakin intensif deep thinking, semakin kuat ikatan aqidah kita. Membiasakan untuk melihat segala ciptaan menjadi batu loncatan mengenal Allah, berterima kasih atas ciptaan-Nya.

Surat Al-Hajj ayat 73-74

Allah Subhanahu Wata’ala memberikan poin yang tepat dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 73-74.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخْلُقُوا۟ ذُبَابًا وَلَوِ ٱجْتَمَعُوا۟ لَهُۥ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ وَٱلْمَطْلُوبُ . مَا قَدَرُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِىٌّ عَزِيزٌ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Surat Al-Hajj ayat 73-74)

Ayat ini berbicara kepada orang-orang musyrik yang menyembah Tuhan selain Allah. Allah menantang mereka (orang-orang kafir dan musyrik) bahwa sesembahan selain-Nya tidak akan mampu menciptakan seekor lalat pun, sebab penciptaan menjadi milik prerogatif sang Pencipta yang tidak ada tandingannya.

Ayat ini juga berbicara tentang kelemahan manusia yang tunduk bahkan pada sesuatu sekecil lalat. Ada yang menafsirkan, “Sama lemahnya yang disembah dan lalat itu.” Masing-masing lemah, dan yang lebih lemah lagi adalah orang yang bergantung dengan yang lemah itu dan menempatkannya sejajar dengan Rabbul ‘alamin.

Selanjutnya membicarakan kekuasaan Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan binatang kecil seperti lalat yang masih bisa kita lihat, lalu bagaimana dengan binatang lebih kecil dari itu seperti virus Corona? Manusia ini lemah dan lemah pula usaha mengendalikan virus kecil ini.

Corona merupakan virus infeksi yang sangat kecil yang ada dalam bentuk partikel lengkap virus (virion) yang berukuran sekitar seperseratus dari kebanyakan bakteri. Virion adalah unit struktural dari virus. Pada dasarnya terdiri dari dua struktur penting: asam nukleat (DNA atau RNA) dan selubung protein (kapsid). Pada struktur dasar ini ditambahkan dalam beberapa kasus amplop lipid dan / atau spikula glikoprotein. Meskipun mereka bereproduksi dan berevolusi dalam sel inang, mereka tidak memiliki karakteristik kunci yang dinilai sebagai ‘kehidupan’.

Allah Subhanahu Wata’ala berbicara tentang ketidakmampuan manusia untuk memerintahkan lalat, situasi kita dengan Corona lebih buruk lagi, kita bukan hanya tidak mampu melawan sesuatu yang lebih kecil dari lalat tetapi juga tanpa ‘kehidupan’!

Corona tidak dapat dilihat oleh mata telanjang dan penyebab gejalanya mirip flu. Sebagian orang yang menilai epidemi global Corona hanya berdasarkan kajian ilmiah semata, mereka tidak mengkaitkannya dengan penguasa segala sesuatu dan kuasa tertinggi atas alam semesta. Mereka mungkin berdebat: Kita bisa melihat virus, tetapi kita tidak bisa melihat Tuhan, jadi bagaimana kita tahu Dia ada ?!

Teori keteraturan adalah bukti adanya Allah Subhanahu Wata’ala. Alam semesta dengan seluruh isinya, baik bumi, bintang, hewan dan bahkan virus sekalipun hidup dan bergerak dengan sangat teratur. Keteraturan ini mustahil berjalan dengan sendirinya, tanpa ada yang mengatur. Siapakah yang mampu mengatur alam semesta ini bahkan virus selain Allah?

Ironisnya adalah “Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”. atau dalam redaksi Al-Qur’an yang lain, “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya”. (Quran Surat Al-An’am Ayat 91)

Jika ukuran virus menuntut sejauh ini, bayangkan reaksi terhadap ukuran sejati Tuhan! Bagaimana manusia lebih banyak percaya pada virus daripada entitas yang menciptakan dan mengatur semua hal, termasuk virus itu sendiri. Sangat mengherankan.

Dalam konteks ini Allah Subhanahu Wata’ala menyatakan keterbatasan manusia dan virus yang mereka takuti, “Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah!”. Allah Subhanahu Wata’ala lebih besar dan agung dari semua yang ada, dan kepada-Nya kita akan kembali. 

Virus Corona, Omicron menjadi bahan renungan bersama akan lemahnya kemampuan manusia dan betapa agungnya Allah Subhanahu Wata’ala. Betapa manusia yang congkak dengan segala kemajuannya tidak berdaya saat menghadapi satu makhluk super kecil yang bernama Covid 19. Kita belajar tidak menjadi orang yang sombong, lupa daratan dan memandang orang lain dengan pandangan remeh. Allah Subhanahu Wata’ala tidak segan untuk membuat perumpamaan dari makhluk yang lebih kecil daripada nyamuk dan lalat, supaya manusia mengambil pelajaran dari perumpamaan tersebut.

Paradigma Islam memandang sesuatu bukan hanya tampilan fisiknya saja, tetapi memandang sesuatu dibalik sesuatu tersebut. Kepercayaan Islam tidak terbatas hanya pada sesuatu yang empiris, tetapi juga melibatkan aspek non-empiris.

Sayangnya, sesuatu yang dianggap menakjubkan oleh manusia karena berjalan secara rutin dan biasa, maka menjadi tidak menakjubkan. Yang tadinya luar biasa, kini menjadi biasa saja. Sesuatu akan menghidangkan sesuatu yang menakjubkan jika pandangan kita diiringi oleh merasakan keagungan dan kebesaran Allah. Ia juga akan mengantarkan rasa dekat kepada-Nya. Semakin meningkat ibadahnya, semakin kuat rasanya, semakin kuat tauhid dan aqidahnya.

Pelajaran besar dari virus Covid 19 adalah kelemahan manusia di atas kekuasaan Allah Subhanahu Wata’ala, tidak ada daya dan tidak ada upaya kecuali milik Allah.

Hidup amat singkat dan kita diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya, sebaik-baiknya sebagai bekal nanti di akhirat. [ ]

Sumber: Buku Paradigma Puasa yang Hilang. Buku dapat dibeli di Deepublish Store

Share your love
Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *