Mengharukan, Dua Keluarga di Pedalaman Mentawai Masuk Islam

Pada kegiatan bakti sosial pengobatan gratis dan penyuluhan kesehatan di dusun Buttui, terdapat peristiwa mengharukan yaitu dua keluarga masuk Islam, satu keluarga berasal dari dusun Ugai dan satu keluarga berasal dari dusun Buttui.

Syahadat yang pertama adalah keluarga dari Ugai sebanyak 14 orang, terdiri dari satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak dan saudara kandung. Orang Ugai ini langsung datang ke Komplek Bakti Bangsa dan mengungkapkan keinginannya dan keluarganya untuk masuk Islam. Maka pada hari Ahad ketika sedang dilakukan program pengobatan gratis, dilaksanakn juga proses syahadat keluarga yang disaksikan masyarakat dan para tamu undangan dari BUMN. Selesai Syahadat keluarga tersebut mendapatkan baju koko, sarung, peci, mukena dan sajadah serta sejumlah uang, selanjutnya diberi arahan tentang kewajiban muallaf setelah syahadat oleh guru masyarakat disana.

Sore harinya kami mendapatkan berita gembira dan menyejukkan hati, dimana salah seorang Sikerei di Dusun Buttui masuk Islam.

Keluarga yang masuk Islam terdiri dari Sikerei, istri dan ketiga anaknya. Sebelum bersyahadat, Bapak Arifin Jayadiningrat yang mengislamkan bertanya kepada Sikerei dengan bahasa Indonesia dan diterjemahkan ke bahasa Mentawai oleh Bapak Islah, apakah ada keterpaksaan untuk masuk Islam? Sikerei dan keluarganya menjawab tidak.

Lafal syahadat menggunakan bahasa Arab yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Mentawai untuk diikuti. Lafaznya dalam bahasa Mentawai sebagai berikut:

ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WAASYHADUANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH. TAK ANAI TUHAN KAUPE ALLAH, MUHAMMAD PAGUGULET ALLAH”

Perjuangan para muallaf selanjutnya sangat berat karena mereka minoritas di tempat mereka tinggal, mereka harus berjuang menjaga imannya, menjaga islamnya, menjaga kebaikan di dalam keluarga dan individunya.

APB suda menyiapkan guru masyarakat yang mendidik mereka setiap saat untuk belajar Islam. Semoga para muallaf diberikan kekuatan untuk mempertahankan Islamnya sampai akhir hayat dan para guru masyarakat diberikan kekuatan dan kesabaran dalam membimbing para muallaf.

(Jumal Ahmad/APB)

Mari bersinergi membangun Mentawai

Tinggalkan Balasan