Menilik Hadis yang digunakan Menteri Pendidikan Taliban untuk Menghalangi Wanita Belajar

Hadis Palsu yang digunakan Menteri Pendidikan Taliban – Sebagaimana laporan dari situs Rebulika pada hari Rabu tanggal 21 Desember kemarin bahwa penguasa baru Afghanistan yaitu Taliban telah melarang para perempuan untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

Saya tertarik dengan ungkapan Menteri Pendidikan Afghanistan, Neda Mohammad Nadeem yang menyebut dirinya sebagai Syaikhul Hadith. Menteri Pendidikan tersebut telah menggunakan sebuah riwayat yang disandarkan kepada Nabi SAW untuk melarang wanita mendapatkan pendidikan.

Berikut ini tulisannya di Twitter dan terjemahnya dalam bahasa Inggris.

Screenshot dari akun Menteri Pendidikan Taliban dan terjemahnya
Screenshot dari akun Menteri Pendidikan Taliban dan terjemahnya

Kita akan menilik yaitu melihat dan meninjau dengan teliti teks hadis yang digunakan Neda Mohammad Nadeem. Redaksi hadis ini diriwayatkan Aisyah Ra berbunyi:

لا تُنزِلوهنَّ الغُرَفَ ولا تُعلِّموهنَّ الكتابةَ –يعني : النِّساءَ – وعلِّموهنَّ الغزلَ وسورةَ النُّورِ

Artinya:

“Jangan turunkan (tempatkan) para perempuan di kamar, dan jangan ajarkan mereka menulis, dan ajarkanlah mereka memintal dan Surah an-Nūr”

Saya mencari keterangan dari situs hadis Ahlus Sunnah yaitu Dorar.net yang dengan cepat memberikan keterangan status hadis yang kita cara. Berikut keterangan hadis dari situs Dorar.

  • Hadis di atas diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Suabul Iman hal 2/292 dengan hukum hadis Munkar. (link)
  • Hadis lain yang serupa, riwayat Aisyah Ra dari Ibnu Muflih dalam kitab Al-Adab Asy-Syariah hal 3/289 dengan status hadis Dhaif, riwayat lain oleh Al-Bani dalam kitab Silsailah Ash-Shahihah denga status hadis Maudhu‘.
  • Ada redaksi lain riwayat Abdullah bin Abbas berbunyi – لا تُعلِّموا نساءَكم الكتابةَ ، ولا تُسكنوهنَّ العَلالي ، وقال : خيرُ لهوِ المؤمنِ السِّباحةُ ، وخيرُ لهوِ المرأةِ المِغزلُ oleh Ibnul Jauzi dalam kitab Maudhu’at hal. 3/63 dengan status hukum Laa Yashih (Tidak Shahih). (link)

Adapun hadis Shahih yang bisa digunakan menurut situs Dorar, sekaligus menjadi bantahan atas redaksi hadis yang melarang seorang wanita belajar menulis.

أنَّ الشفاءَ بنتَ عبد الله المهاجِرة القُرَشية العَدَوية عَلَّمت حفصةَ بنتَ عُمرَ أمَّ المؤمنينَ الكتابةَ.

As-Syifa’ binti Abdullah Al-Muhajirah Al-Quraisiyah Al-Adawiyah mengajarkan Hafshah binti Umar, Ummul Mukminin menulis. Riwayat disebutkan Al-Bani dalam kitab Huquq An-Nisa fil Ismal, hal 17 dengan sanad hadis Shahih.

Hadis ini dikuatkan dengan riwayat hadis lain tentang permintaan Nabi kepada As-Syifa’ untuk mengajarkan Hafshah ruqyah an-namlah sebagaimana dia mengajarkan Hafshah menulis.

دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا عند حفصة فقال لي: ألا تعلمين هذه رقية النملة كما علمتيها الكتابة

Nabi Saw. datang padaku, sedangkan aku berada di samping Hafshah; Nabi berkata kepadaku: “Apakah tidak kamu ajarkan ruqyah namlah, sebagaimana engkau telah mengajarkan kepadanya (Hafshah) menulis?”. [‘Awn al- Ma’bud syarah Sunan Abi Daud: 1656, No 3887]

Page Facebook الأحاديث الضعيفة والباطلة yang menyebutkan hadis-hadis Dhaif dan Batil memberikan kesimpulan bahwa hadis ini Maudhu’.

Perlu dicatat: Para ulama, setelah menilai hadits sebagai Wadha’ (Maudhu), mengatakan bahwa jika hadits itu benar, itu berlaku pada mereka yang takut akan kejelekan dengan belajar menulis, dan larangan itu termasuk laki-laki juga. Berapa banyak para lelaki yang telah merusak pendidikan dan moral mereka, mengapa mereka tidak dilarang?.

Imam Al-Suyuti (semoga Allah mengasihaninya) mengatakan bahwa setiap Hadits yang melarang pendidikan perempuan tidaklah benar. Saya berkata: Hafsa, ibu dari orang-orang beriman, semoga Allah meridhainya, adalah seorang penulis, pembaca setiap salinan Alquran, dia biasa mengajarkan wanita dan dia adalah suami dari yang terbaik dari manusia, Muhammad SAW.

**

Selesai penjelasan di atas, kita bisa ambil kesimpulan bahwa hadis yang dibawakan oleh Menteri Pendidikan Taliban adalah Hadis Palsu. Di dalamnya terdapat perawi Muhammad bin Ibrahim al-Syami yang disebut Munkirul Hadis dan banyak meriwayatkan hadis-hadis palsu.

Tidak boleh menyandarkan hadis ini kepada Nabi Muhammad SAW karena palsu dan tidak ada bukti sumber dari Nabi.

Jikalah tidak palsu, hukumnya dhaif saja, tetap menyalahi hadis lain yang lebih kuat seperti pujian Nabi SAW terhadap wanita Anshar yang tak malu bertanya dalam bab ilmu dan riwayat sahabiyah bernama Syifa yang mengajarkan Hafshah menulis.

Beberapa kitab ulama telah ditulis untuk membahas pengajaran menulis kepada perempuan, di antaranya: 1) Risalah fi Ta’lim An-Nisa’ al-Kitabah oleh Al-Allamah al-Muhadits Shibghatillah bin Muhammad Ghauts al-Madrasi Al-Syafi’i, 2) Kitab Al-Ishabah fi Istijaabi Ta’limin Nisa’ al-Kitabah oleh Syaikh Muhammad bin Hamad Al-‘Assafi al-Bu’alayyan at-Tamimi, 3) Kitab ‘Uquudul Jiman fi Jawaazi Ta’lim al-Kitabah Lin Niswaan oleh Al-Allamah Abi Thayyib Muhammad Syamsul Haq al-Azim Abaadi.

kitab ulama telah ditulis untuk membahas pengajaran menulis kepada perempuan
kitab ulama telah ditulis untuk membahas pengajaran menulis kepada perempuan

Secara umum Islam memberi martabat wanita, memberi hak yang sewajarnya. Hadis larangan menulis di atas berlawanan dengan riwayat lain dari Nabi yang justru menganjurkan muslim dan muslimah belajar menulis.

Saya kumpulkan beberapa riwayat tentang anjuran Nabi SAW untuk belajar menulis berdasarkan riwayat Ahlus Sunnah dan riwayat dari kitab-kitab Syiah.

Hadis tentang anjuran Nabi untuk menulis

Nabi Muhammad SAW mendedikasikan satu hari Beliau untuk pendidikan wanita! Hadits ini oleh para ulama dijadikan legitimasi mencari ilmu bagi perempuan dan mendidik mereka.

عن أبي سعيد قال:قالتِ النِّسَاءُ للنبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ، فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِن نَفْسِكَ، فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيهِ، فَوَعَظَهُنَّ وأَمَرَهُنَّ، فَكانَ فِيما قَالَ لهنَّ: ما مِنْكُنَّ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلَاثَةً مِن ولَدِهَا، إلَّا كانَ لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ فَقالتِ امْرَأَةٌ: واثْنَتَيْنِ؟ فَقَالَ: واثْنَتَيْنِ.

Dari Abu Said berkata: “Salah seorang perempuan datang kepada Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, para laki-laki itu pergi dengan membawa hadismu. Maka buatlah hari untuk kita dimana kita bisa mendatangimu dan kau ajarkan kepada kita apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Nabi menjawab: “Berkumpullah di hari ini, tempat ini”. Maka mereka pun berkumpul dan Nabi pun mendatangi mereka dan mengajarkan ilmu yang telah diajarkan Allah kepadanya. Lalu Nabi bersabda: “Tiada perempuan di antara kalian yang menghadiahkan 3 anaknya (anaknya meninggal dalam keadaan masih kecil), kecuali ia akan tertutupi dari api neraka). Seorang wanita bertanya: Dan dua anak?, Nabi menjawab: dan dua anak. (HR. Bukhari No 101)

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ : حَدَّثَنَا اللَّيْثُ ، عَنْ الخَلِيلِ بْنِ مُرَّةَ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي صَالِحٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : كَانَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَجْلِسُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَيَسْمَعُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الحَدِيثَ فَيُعْجِبُهُ وَلَا يَحْفَظُهُ ، فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَسْمَعُ مِنْكَ الحَدِيثَ فَيُعْجِبُنِي وَلَا أَحْفَظُهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اسْتَعِنْ بِيَمِينِكَ ، وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ لِلْخَطِّ

Diceritakan dari Qutaibah berkata: Diceritakan kepada kami Al-Laits dari al-Khalil bin Murrah dari Yahya bin Abi Shalih dari Abu Hurairah, beliau berkata

“Ada seseorang dari golongan Anshar yang duduk bersama Nabi, kemudian ia mendengarkan hadits dari Nabi maka ia merasa takjub, akan tetapi ia tidak dapat menghafalkannya. Maka, ia pun mengadukan hal tersebut kepada Nabi seraya berkata “Duhai Rasulullah, aku mendengarkan hadits darimu maka aku merasa takjub dan aku tidak dapat menghafalkannya”. Kemudian Rasulullah bersabda “Mintalah pertolongan dengan tangan kananmu seraya memberikan isyarat dengan tangannya untuk menulis” (HR. Turmudzi).

Dari hadis ini, ulama mengatakan bahwa larangan menulis hadis ditujukan kepada orang-orang yang memiliki daya hafalan kuat. Sedangkan kebolehan menulsi hadis ditujukan kepada orang-orang yang memiliki daya hafalan lemah.

Redaksi hadis berikut malah dengan jelas Nabi Muhammad Saw menganjurkan untuk menulis hadis.

عن عبد الله بن عمرو قال  كنتُ أَكْتبُ كلَّ شيءٍ أسمعُهُ مِن رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ أريدُ حفظَهُ فنَهَتني قُرَيْشٌ عن ذلِكَ وقالوا : تَكْتُبُ ورسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يقولُ في الغضَبِ والرِّضا فأمسَكْتُ حتَّى ذَكَرتُ ذلِكَ لرَسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فقالَ : اكتُب فوالَّذي نَفسي بيدِهِ ما خرجَ منهُ إلَّا حقٌّ

Diceritakan dari Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata “Dahulu aku menulis seluruh yang aku dengar dari Rasulullah, aku ingin menghafalkannya, maka kaum Quraisy mencegahku. Mereka (kaum Quraisy) mengatakan “Apakah engkau menulis seluruh hadits yang engkau dengar (dari Rasulullah), padahal Rasulullah adalah manusia yang terkadang bersabda dalam keadaan marah terkadang dalam keadaan senang?” Maka aku menahan diri dari menulis (hadits Nabi). Kemudian, aku menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah, maka Rasulullah memberikan isyarat dengan jarinya kepada mulutnya, Rasulullah bersabda “Tulislah (hadits), demi Allah dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya tidaklah keluar darinya (mulutku) kecuali kebenaran” (HR Abu Dawud  No 3646, Ahmad No 6802).

Hadis riwayat Syiah yang menganjurkan untuk menulis

قال رسول الله : قيدوا العلم، قيل: وما تقييده؟ قال: كتابته (منية المريد: ٣٤٠.).

قال رسول الله : اكتبوا العلم قبل ذهاب العلماء، وإنما ذهاب العلم بموت العلماء (كنز العمال: ٢٨٧٣٣).

الإمام الحسن (عليه السلام) – لما دعا بنيه وبني أخيه -:إنكم صغار قوم ويوشك أن تكونوا كبار قوم آخرين، فتعلموا العلم، فمن لم يستطع منكم أن يحفظه فليكتبه وليضعه في بيته (منية المريد: ٣٤٠.).

الإمام الصادق (عليه السلام): اكتبوا فإنكم لا تحفظون إلا بالكتاب (البحار: ٢ / ١٥٣ / ٤٦).

Sumber: Mizan Al-Hikmah, Muhammad Ar-Raisayri, Juz 3: 2663. Shiaonlinelibrary.com

Satu pemikiran pada “Menilik Hadis yang digunakan Menteri Pendidikan Taliban untuk Menghalangi Wanita Belajar”

  1. Belakangan ini saya berdiskusi dengan seorang teman yang mualaf. Saya sampaikan kepadanya tentang perlunya rujukan dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang shahih dalam ibadah. Melakukan sedikit ibadah tetapi ada ilmunya masih lebih baik daripada melakukan banyak hal tanpa ilmu. Dan bahwa apabila dia merasa kesulitan atau ada kerumitan dalam menjalankan ibadah, coba kita cek dulu rujukannya, sebab sebagian amaliah yang terasa sulit, berat, dan tidak sesuai dengan kemanusiaan, adalah amaliah yang tidak memiliki landasan yang valid.

Tinggalkan komentar