Menjadi Mulia Atau Hina Dengan Ujian

Dunia memang bukan surga. Kehidupan di dunia penuh pancaroba. Dunia tidak sempurna, Allah Swt menjadikan demikian agar cukup ruang bagi manusia untuk menyempurnakannya. Dunia memang diciptakan oleh Allah Swt sebagai tempat ujian tentang beramal baik.

Kebahagiaan kita amat tergantung pada perspektif kita dalam melihat hidup ini. Jika kita memandang dunia sebagai sumber kenikmatan maka kita harus siap berkecewa hati. Namun, jika kita menyadari sifat dasar dunia, kita akan menjadikannya halang rintang agar bisa melompat lebih tinggi, agar lebih kuat dan agar lebih bijaksana.

Dengan menanamkan kesadaran seperti itu, kita terdorong untuk berbuat ihsan sebanyak banyaknya. Standar ihsan adalah Allah swt bukan manusia sebagaimana firman Allah “berbuat baiklah kamu sebagaimana ALLAH TELAH BERBUAT BAIK KEPADAMU dan janganlah berbuat kerusakan di muka bumi” (Qs. Al-Qashahs: 77)

Allah menguji kita untuk melihat manakah dari sifat-sifat mulia yang nampak pada diri kita sehingga bisa memutuskan atau mengangkat derajat kita. Ataukah sebaliknya kita terpuruk dengan ujian tersebut, mencela, protes terhadap keputusan Allah, bertawakkal kepada dunia dan manusia, emosi dan balas dendam…, yang semua ini hanyalah menjadikan kita hina dan merendahkan derajat kita.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :


لَوْلاَ هَذَا الاِبْتِلاَءُ والاِمْتِحَانُ لَمَا ظَهَرَ فَضْلُ الصَّبْرِ وَالرِّضَا وَالتَّوَكُّلِ وَالْجِهَادِ وَالْعِفَّةِ وَالشَّجَاعَةِ وَالْحِلْمِ وَالْعَفْوِ وَالصَّفْحِ

Kalau bukan karena ujian dan cobaan maka tidak akan terlihat keutamaan sabar, ridho, tawakkal, jihad, kemuliaan menjaga kehormatan diri, keberanian, keutamaan memaafkan dan berlapang dada” (Syifaaul ‘Alil)

Jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain agar hidup kita lebih bermakna. Sebab hanya dengan cara ini kita telah memberikan makna yang setinggi-tingginya bagi kehidupan kita sendiri.

Tidak ada istilah “bertepuk tangan” dalam hidup ini bila berbuat baik. Hidup adalah menjalankan amanat perjanjian dengan Allah. Allah Mahabaik, pasti membalas semua orang yang berbuat baik dan demikian juga yang berbuat dhalim dan aniaya.

ahmadbinhanbal.com

Teladan Kisah Nabi Ayyub Alaihissalam

Nabi Ayyub mendapatkan cobaan yang berbeda dari pada Nabi selain beliau yang dikejar-kejar, dipenjara bahkan dibunuh. Nabi Ayyub diuji dengan cobaan yang menimpa tubuhnya. Penyakit yang bukan hanya merusak fisiknya, namun menjauhkannya dari anak dan istrinya.

وَ اذۡکُرۡ عَبۡدَنَاۤ اَیُّوۡبَ ۘ اِذۡ نَادٰی رَبَّہٗۤ اَنِّیۡ مَسَّنِیَ الشَّیۡطٰنُ بِنُصۡبٍ وَّ عَذَابٍ

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.” Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. (Qs. Shaad: 41)

Qatadah Rahimahullah menjelaskan bahwa kalimat Nusb berarti penyakit yang menimpa jasad, da kalimat ‘Adzaab memberikan maksud kehilangan harta dan keluarga (Tafsir al-Thabari Taqrib wa Tahdzib 6: 405 – 406).

Nabi Ayyub memberikan pelajaran kesabaran menghadapi ujian dengan selalu berdoa kepada Allah Swt tanpa putus-putus. Nabi Ayyub ketika ditimpa musibah membaca doa berikut sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir.

“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah memberiku harta dan anak, dan tidak ada seorang manusia pun yang berdiri di hadapan pintu rumahku mengadu tentang kezaliman yang kulakukan terhadapnya. Dan Engkau Maha Mengetahui tentang itu. Sesungguhnya telah disediakan bagiku sebuah hamparan untukku, tetapi aku meninggalkannya, dan kukatakan kepada diriku sendiri, ‘Hai tubuhku, sesungguhnya kamu diciptakan bukan untuk berbaring di atas hamparan (kasur) itu,’ aku tinggalkan hal tersebut tiada lain hanyalah semata-mata mengharapkan rida-Mu.”

Doa Nabi Ayub yang sering diucapkan adalah:

رَبِّ إِنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Robbi innii massaniyadh-dhurru wa anta arhamur-roohimiin

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan yang maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Menurut Ibnul Qayyim dalam kitab Fawaid, “Terkumpul dalam doa ini antara hakikat tauhid dan menampakkan rasa butuh kepada Allah Ta’ala serta adanya rasa cinta yang mendamba untuk menyanjung-Nya dan mengakui-Nya dengan sifat rahmah (kasih sayang) dan sesungguhnya Dia Ta’ala Maha Penyayang dari semua yang penyayang dan memohon kepada-Nya dengan perantaraan sifat-sifat-Nya Subhanahu serta sangat butuh kepada-Nya dan ia membutuhkan-Nya. Maka, kapan saja orang yang terkena cobaan seperti ini, niscaya Allah akan menghilangkan darinya musibah. Telah terbukti bahwa orang yang mengucapkan kalimat ini tujuh kali, terlebih lagi disertai mengetahui makna ini, niscaya Allah Ta’ala hilangkan penyakitnya.”

Di dalam doa Nabi Ayub terdapat ismul a’dham atau nama Allah yang teragung yaitu kata:

أَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

anta arhamur-roohimiin, “Tuhan yang maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Doa ini banyak disampaikan Al-Quran sebagai doa para Nabi sebagaimana dalam bagan berikut.

أرحم الراحمين أربع مرات في القرآن مرتان اتفاق الطرفان وأنت أرحم الراحمين ومرتان اختلاف الوسط وهو أرحم الراحمين في سورة يوسف ٦٤ ٩٢ Periodic Table

Pernahkah kita mengalami kegelisahan dan kesempitan hidup? Pada saat itu apakah yang kita lakukan?

Cobalah memperbanyak bacaan (doa) Ya Arhamar Rahimin (duhai yang paling maha penyayang diantara para penyayang). Niscaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberikan kelapangan dan kesukacitaan pada kita.

Memperbanyak bacaan Ya Arhamar Rahimin termasuk pintu-pintu terbesar untuk mendapatkan kelapangan dan solusi dari promblematika hidup.

Kalimat ini, oleh sebagian ulama disebut-sebut sebagai wujud asa Allah yang teragung (Ismullah Al-Adzam)

ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ’.

Al Qur’anul Karim telah menceritakan kisah Nabi Ayyub Alaihissalam dalam surat Al-Anbiya’ sebagai berikut :

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya:”(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa bencana kesempitan, dan engkau adalah Tuhan yang maha penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya’ : 83)

Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Ayyub as mengadu kepada Allah atas kesulitan hidup dan penyakit yang menimpanya, dengan menyebut asma-Nya sebagai Arhamur Rahimin, atas aduan ini dan dengan asma agung itu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkenan mengabulkan doanya dan melenyapkan “ad-dlurr” (kesulitan hidup) yang dideritanya. Secara bahasa, selain bermakna bahaya, kesengsaraan, kemalangan, kekurangan harta (kemiskinan), kemelaratan dan lainnya.

Dikisahkan pada zaman dahulu ada seorang wanita datang kepada Nabi Musa, wanita ini berkata ”Wahai Nabi Musa, aku sudah lama menikah tapi aku tak kunjung dikaruniai anak, aku ingin sekali dikaruniai seorang anak. Tolong sampaikan keinginanku ini kepada Allah melalui doa mu”.

Nabi Musa pun mengiyakan keinginan wanita ini. Setelah wanita ini pergi pulang ke rumahnya, Nabi Musa berdoa kepada Allah “Ya Allah hari ini ada wanita yang datang kepada ku, dia mengharapkan dikaruniakan seorang anak oleh-Mu”.

Setelah itu Allah menjawab doa Nabi Musa “Wahai Musa, Aku telak mentakdirkan wanita itu menjadi wanita yang mandul. Wanita itu tidak akan bisa mempunyai seorang anak yang dilahirkan dari rahimnya”.

Nabi Musa pun mengerti jawaban doanya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setelah beberapa hari wanita itu datang kembali kepada Nabi Musa untuk yang kedua kali “Wahai Nabi Allah, apakah telah kamu sampaikan keinginanku untuk memiliki seorang anak yang terlahir dari rahimku kepada Allah?”

Nabi Musa menjawab “Sudah aku sampaikan keinginanmu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menakdirkan kamu menjadi wanita yang mandul, tidak bisa memiliki keturunan”.

Wanita ini pun menjawab “sampaikan sekali lagi keinginanku kepada Allah”…

Nabi Musa sekali lagi mengiyakannya tetapi lagi-lagi Nabi Musa mendapatkan jawaban yang sama dari Allah bahwa wanita ini sudah ditakdirkan mandul atau tidak bisa memiliki keturunan.

Setelah beberapa lama wanita ini tidak kunjung datang menemui Nabi Musa, hingga pada suatu hari wanita ini datang kembali menemui Nabi Musa sambil menggendong seorang anak. “Anak siapakah itu ?”, tanya Nabi Musa heran. “Ini anakku”, jawab wanita itu.

Setelah itu Nabi Musa bertanya kepada Allah “Ya Allah bagaimana bisa wanita ini memiliki seorang anak yang terlahir dari rahimnya sementara engkau telah mentakdirkannya menjadi wanita yang mandul?”

Allah-pun menjawab pertanyaan Nabi Musa “Wahai Musa, hamba-Ku ini tidak henti-hentinya berdoa kepadaku dengan memanggilku ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ  ( Duhai yang Maha Penyayang diantara para penyayang).

Dia berdoa, lalu Ku tentukan dia mandul. Kemudian dia berdoa lagi, lalu Ku tentukan mandul. Kemudian dia berdoa lagi dan lagi sambil menyebut Maha Pengasih…Maha Pengasih. Maka aku kabulkan doanya, karena Kasih Sayang Ku melebihi Ketentuan Ku.

Mari menjadi mulia dengan ujian dengan memperbanyak doa.

Semoga bermanfaat.

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com

Tinggalkan komentar