Pakistan, Negara Penghafal Al-Quran

AHMADBINHANBAL.COM – Di dunia ini ada dua negara yang didirikan atas dasar aqidah tertentu, pertama negara Israel dengan aqidah Yahudinya dan yang kedua adalah Pakistan atas dasar aqidah Islam. Kalimat PAKISTAN sendiri merupakan gabungan dari dua kalimat yaitu PAK yang berarti suci dan TAN yang bermaksud tanah/bumi. Jadi kalau kita terjemahkan secara leterlek berarti BUMI SUCI.

Pakistan terletak di sebelah timur Iran yang berfaham Syiah, di arah utara ia berbatasan langsung dengan Afganistan, negara yang terkenal berhasil mengusir beruang merah Rusia. Sementara sebelah timur, Pakistan berbatasan langsung dengan musuh bebuyutannya yaitu India. Letak geografis yang strategis ini sekaligus rawan, banyak mengundang negara lain untuk menancapkan perhatian dan pengaruhnya di negara ini. Faktor ini semua mengiring negeri ini ke kancah pertarungan politik yang tidak henti-hentinya dari waktu kewaktu.

Intelektual Muslim dari Pakistan

Dalam khazanah keilmuan Islam, Pakistan selalu melahirkan intelektual yang berkaliber Internasiaonal, seperti Muhammad Iqbal, Abul A’la Al-Maududi, Abul Hasan Ali Annadawi. Jadi tidak heran kalau Pakistan adalah negara terkemuka yang paling memiliki akses menyuarakan Islam di forum International. Penyebab terpenting barangkali karena Pakistan memang melahirkan cendikiawan sekaliber itu, mungkin penyebabnya adalah faktor bahasa Inggris yang memang hampir jadi mother tongue disini.

Pakistan memperoleh kemerdekaan pada tanggal 12 Agustus 1947 dari India dan kepatuhan terhadap agama Islam menguasai bangsa ini. Simbol yang paling menonjol adalah perhatian khusus yang diberikannya kepada Al-Qur’an. Masalah perhatian untuk menghafal Al-Quran tidak hanya terbatas pada empat negara bagian, bahkan masalah menghafal ini telah mengakar di masyarakat Pakistan, baik dari kalangan strata ekonomi rendah maupun menengah ke atas, sedemikian hingga diumpamakan bahwa dari setiap batu yang diangkat, di bawahnya terdapat hafiz Al-Quran.

Pendidikan Agama Islam di Pakistan

Secara umum pendidikan agama Islam di Pakistan terbagi menjadi tiga kategori yaitu:

  • Quranic School,
  • Mosque Primary School dan
  • Madrasah.

Quranic School adalah tempat dimana anak-anak belajar membaca Al-Quran atau Iqra’ untuk di Indonesia. Tempatnya biasanya di masjid-masjid atau mushalla desa. Waktu belajar tidak teratur dengan jelas. Ada yang pagi, siang dan sore. Ustadz yang mengajar biasanya berasal dari desa tersebut. Keluarga-keluarga Pakistan menarik anak-anak mereka dari sekolah pada usia dini dan mengantarkannya ke kelas-kelas menghafal Al-Quran untuk menghafal Kitab Langit ini selama masa satu atau dua tahun. Dan jumlah penghafal Al-Quran di Pakistan disebutkan bahwa dalam satu keluarga Pakistan terdapat 3 penghafal Al-Quran, yang berarti di negara Pakistan setidaknya terdapat 7 juta penghafal Al-Quran.

Mosque Primary School atau sekolah dasar masjid yaitu masjid dijadikan tempat belajar bagi anak-anak yang sudah berumur 7 tahun keatas. Inisiatif ini resmi dilakukan oleh pemerintah Zia-ul-Haq pada tahun 80an untuk mengatasi minimnya tempat belajar di pedesaan disebagian tempat di Pakistan. Selain belajar Al-quran mereka juga diajarkan oleh imam masjid setempat mata pelajaran bahasa urdu dan matematika. Sampai tahun 2007 yang lalu jumlah Mosque Primary School diseluruh Pakistan sekitar 25.000 buah sekolah.

Dan yang ketiga adalah Madrasah. Madrasah di Pakistan berbeda dengan pesantren di Indonesia. Di Indonesia para santri tidak diwajibkan untuk manghafal Al-Quran seluruhnya, kecuali pesantren tersebut pesantren hifzul Alquran. Berbeda dengan di Pakistan, madrasah mewajibkan kepada murid-muridnya untuk menghafal Al-Quran 30 juz sebelum belajar materi-materi lain. Karena Al-Quran merupakan asas bagi pelajar yang ingin mendalamkan ilmu agama.

Ada lima aliran besar pemikiran (school of Thought) di madrasah Pakistan: Deobandi, Barelwi, Ahli Hadith, Salafi dan Syiah. Tiap-tiap aliran pemikiran ini mem- punyai metode pembelajaran yang berbeda. Tapi, Deobandi dan Barelwi adalah dua pemikiran yang paling dominan di seluruh madrasah Pakistan.

Madrasah Hifdhul Quran di Pakistan menerapkan metode pengajaran dan pemahaman kepada para siswanya untuk mempelajari Al-Quran. Metode ini meliputi sabak-sabki dan manzil untuk memanajemen waktu dan yang lain seperti i’rab, tilawah Al-Quran, penghafalan 3 ayat bersama guru, hingga diperoleh pengajaran yang sempurna.

Sekolah-sekolah ini juga memberikan waktu dan kesempatan yang cukup pada setiap harinya untuk memperkuat dan mengulang kembali hafalan-hafalan sebelumnya, dan biasanya pekerjaan ini dilakukan sebelum shalat Subuh hingga dimulainya kelas-kelas hafalan Al-Quran yang akan berlanjut hingga saat shalat Maghrib.

Hanya terdapat 2 waktu istirahat, sehingga mayoritas peserta di kelas-kelas hafalan Al-Quran ini tinggal di masjid-masjid, dan karena jauh dari keluarga dan keinginan-keinginannya, mereka memiliki waktu yang cukup untuk menghafal Al-Quran. Biasanya penghafalan Al-Quran ini dimulai dari juz tiga puluh.

Setelah lulus dari penghafalan Al-Quran, para penghafal ini akan diklasifikasikan dalam dua kelompok: satu kelompok akan melanjutkan pendidikannya ke sekolah dan universitas, dan kelompok lainnya akan melakukan berbagai aktifitas lainnya di dalam masyarakat dengan modal ijazah hafal Al-Quran yang berada di tangannya, seperti mengajarkan Al-Quran, mengkhatamkan Al-Quran di masjid-masjid, pembacaan Al-Quran di acara-acara duka, pernikahan dan acara-acara lainnya.

Madrasah Hifdzhul Quran di Pakistan

Salah satu madrasah yang sempat menjadi sorotan dunia beberapa tahun yang lalu adalah Madrasah Lal Masjid (Masjid Merah) yang sempat bikin heboh karena menantang pemerintah dan mengumumkan untuk menerapkan syariat Islam di lingkungan Lal Masjid.

Orang utama di masjid ini adalah Maulana Abdul Aziz alumni Jamiah Binnoria di Karachi dan adiknya Abdul Rashid Ghazi, Alumnus Universitas Quaid-e-Azam, Islamabad yang terbunuh tanggal 10 Juli 2007. Di lingkungan Lal masjid ada dua jamiah. Jamiah lil banin dan Jamiah Hafsa lil banat yang terpisah oleh tembok. Jamiah Hafsah didirikan pada tahun 1989. Semua jumlah santri yang belajar di sana sekitar 4000 orang. Masing-masing Jamiah ini mempunyai dua departeman. Pertama departeman khusus buat menghafal Al-quran. Kedua “higher classes” tafsir, usul fiqh, matematika, dan pelajaran umum lainnya.

Madrasah Hifdhul Quran yang terkenal di Pakistan adalah Wifaq-ul-Madaris Al Arabia Pakistan. Sebab, madarasah ini telah mencetak penghafal Alquran terbesar di dunia, yaitu 60 ribu dalam setahun. Madrasah ini membawahi 12 ribu sekolah agama di penjuru Pakistan. Tahun lalu, madrasah ini menghasilkan 63.556 penghafal Alquran. Ini adalah rekor nasional. Dari jumlah itu, sekitar 15 ribu di antaranya adalah anak-anak perempuan.

Kuantitas kelas-kelas Al-Quran yang sangat banyak dan perhatian yang diberikan oleh keluarga-keluarga Pakistan dalam masalah ini telah menyebabkan pembelajaran Al-Quran menjadi salah satu visi utama yang mereka temukan dalam kehidupan, karena inilah sehingga angka penghafal Al-Quran di Pakistan semakin hari semakin meningkat.

Sumber:

Penelitian Jumal Ahmad tentang Efektivitas Metode Pakistani di Pesantren Tahfidz Bina Qolbu. (pdf)

Baca juga artikel di website ini tentang Metode Pakistani;

Share your love
Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *