Pandangan Al-Quran Tentang Homoseksual

Orientasi seks menyimpang yang hari ini terjadi menyedot banyak perhatian masyarakat. Bermacam kasus bermunculan disebabkan perilaku menyimpang ini. Beberapa waktu yang lalu muncul kasus pembunuhan seorang laki laki dari Jombang Jawa Timur bernama Ryan yang tanpa malu mengaku dirinya sebagai seorang homoseks.

Baru kemarin masyarakat dihebohkan dengan temua polisi yang mengungkap kasus pesta homoseks di sebuah tempar kebugaran. Operasi kepolisian ini berhasil mengungkap 141 orang dari berbagaia macam profesi.

Penyimpangan seksual yang kian marak di masyarakat adalah fenomena buruk yang berdampak pada anak anak, remaja dan orang dewasa. Gaya hidup dan seks bebas menjadi salah satu alasan mengapa tingkat penyinpangan seks di masyarakat kian bertambah.

Hukum Homoseksual adalah haram dan tidak ada perselisihan ulama dalam masalah ini karena sudah jelas diterangkan hukumnya dalam tuntunan hidup Al-Quran.

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu.’ (QS. 7:80) Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (al-A’raaf: 80-81)

Makna Fahisyah dalam ayat tersebut adalah Homoseksual seperti yang dijelaskan pada ayat 81 selanjutnya, juga diterangkan pada surat AsySyuara 165 dan Alankabut 29.

Dalam tafsir Al-Kasyaf oleh Imam Zamakhsyari, disebutkan makna Alfahisyah dalam ayat tersebut adalah tindak kejahatan yang melampaui batas akhir keburukan (as-sayyiah almutamaddiyah fil qubhi)

Ayat: Ata’tuunal Faahisyah: bentuk pertantanyaan yang bersifat pengingkaran dan membawa konsekuensi yang sangat buruk. Sebab perbuatan fahisyah seperti itu tidak pernah dilakukan siapapun sebelum kaum Nabi Luth. Maka janganlah mengawali suatu perbuatan dosa yang belum dilakukan kaum manapun di dunia ini.

Ayat: bal antum qaumum musrifuun: Kaum Nabi Luth adalah kaum yang suka melakukan israf yakni melampaui batas dalam segala hal. Di antaranya adalah melampaui batas dalam melampiaskan syahwat hingga melampaui batas kewajaran dan kepatutan. (Tafsir Zamakhsyari)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir Mengenai firman Allah: maa sabaqakum biHaa min ahadim minal ‘aalamiin: ‘Amr bin Dinar mengatakan, “Tidak ada seorang laki-laki berhubungan badan dengan laki-laki lain, sehingga terjadi apa yang dilakukan oleh kaum Luth.”

Al-Walid bin ‘Abdul Malik, seorang Khalifah Bani Umayyah, pembangun masjid jami’ Damaskus mengatakan, “Seandainya Allah tidak menceritakan kisah kaum Nabi Luth kepada kita, niscaya aku tidak akan membayangkan adanya laki-laki yang bersetubuh dengan laki-laki lain.”

Oleh karena itu, Nabi Luth as. mengatakan kepada mereka: a ta’tuunal faahisyata maa sabaqakum biHaa min ahadim minal ‘aalamiina innakum lata’tuunar rajula syaHwatam min duunin nisaa-i (“Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah [perbutan keji] itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun [di dunia ini] sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu [kepada mereka] bukan kepada wanita.”)

Maksudnya, kalian berpaling dari wanita dan apa yang telah diciptakan Rabb kalian untuk kalian pada wanita tersebut dan justru cenderung pada sesama laki-laki. Yang demikian itu benar-benar perbuatan melampaui batas dan bodoh, karena telah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Hamka ketika menerangkan Surat As-Syuara:165-166 yang artinya “Mengapa kamu mendatangi jenis laki laki di antara manudia (165) Dan kamu tinggalkan istri istri yang dijadikan olehmu Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang orang yang melampaui batas”. 

Disebutkan bahwa kaum Nabi Luth telah meninggalkan wanita pasangannya yang secara naluriah seharusnya kepada mereka lah laki laki menyalurkan naluri seksualnya.

Hubungan seks manusia antar jenis adalah fitrah dan sunnatullah, apabila dilakukan di atas koridor koridor akhlak yang baik yaitu hubungan seks dalam payung pernikahan yang suci, tetapi apa gang dilakukan oleh penduduk Sadum, yaitu hubungan seks atau homoseks tidak ditemukan dalil apapun yang membenarkan perbuatan tersebut.

Oleh karena laki laki lebih menyenangi laki laki, maka perempuan tidak diberi kepuasan tubuh oleh laki laki, maka kecenderungan seks sesama jenis semacam ini pula berjangkit di kalangan perempuan yang belakangan dikenal dengan istilah Lesbian. Sungguh dapat dibayangkan kehancuran akhlak kaum Sadum pada waktu itu, mereka telah memberikan contoh terburuk untuk semua manusia sepanjang zaman. (Tafsir Al Azhar, Buya Hamkan).

Homoseksualitas dilarang dalam Al-Quran di beberapa ayat Al-Quran berikut:

  1. Surat Al-A’raf ayat 80-81: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini)” (80) “Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas” (81).
  2. Surat Al-A’raf Ayat 84: “Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu”.
  3. Surat Hud Ayat 79: “Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki”.
  4. Surat Hud Ayat 82: Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi”.
  5. Surat Al-Hijr Ayat 72: “Demi hidupmu (Nabi Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (dalam kecintaan terhadap sodomi)”.
  6. Surat Al-Hijr Ayat 73-75: “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. (73) Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. (74) Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. (75)”.
  7. Surat An-Naml Ayat 54-55: Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?” (54) Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”. (55).
  8. Surat Al-Ankabut Ayat 28-29: Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu”. (28) Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan.”Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (29).

Homoseksualitas juga dilarang dalam hadis-hadis Nabi Muhammad Shallahu Alaihiwasallam

  1. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan melihat seorang lelaki yang menyetubuhi lelaki lain homoseksual) atau (menyetubuhi) wanita dari duburnya.” (HR. Tirmidzi no. 1165)
  2. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Terlaknatlah orang yang menyetubuhi binatang, terlaknatlah orang yang melakukan perbuatan kaum Luth alaihis salam.” Beliau mengucapkan berulang kali, tiga kali tentang liwath (homoseksual, perbuatan kaum Luth alaihis salam). (HR. Ahmad no. 1875).
  3. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah perbuatan kaum Luth alaihis salam (homoseksual).” (HR. Tirmidzi no. 1457).
  4. Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jika umatku telah menghalalkan lima hal, mereka akan mendapat kebinasaan: (1) jika sikap saling melaknat (dan mencela) telah tampak (dan tersebar), (2) meminum khamr, (3) para lelaki memakai sutra, (4) banyak memanfaatkan para penyanyi, serta (5) kaum lelaki merasa cukup dengan lelaki dan kaum wanita merasa cukup dengan wanita (merebaknya homoseksual dan lesbian).” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 5086).

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Zamakhsyari dan Tafsir Alazhar.

Semoga bermanfaat.

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com

Tinggalkan komentar