Penasihat Mufti Mesir: Hukum Sunnah Merayakan Kelahiran Nabi Isa as dan Berpahala

Sebuah stasitun televisi di Mesir Ten TV dalam sebuah acara bertajuk رَأْي عَام yang membahas isu-isu penting di Mesir khususnya dan dunia Islam umumnya.

Penasihat Mufti Mesir yang hadir saat itu, Majdi ‘Ashur memberikan penjelasan yang kontroversial terkait merayakan kelahiran Nabi Isa alahissalam atau hari Natal pada tanggal 25 Desember.

Berikut petikan video pendek yang bisa Anda simak dalam bahasa Arab.

Beberapa poin penting yang bisa kami terjemahkan.

‘Merayakan kelahiran Nabi Isa Alaihissalam adalah dibenarkan dan orang-orang yang menyambutnya diberi ganjaran pahala’

‘Merayakan kelahiran Nabi Isa Alahissalam adalah dibenarkan syarak karena Beliau adalah Nabi dan utusan Allah SWT’

‘Islam tidak memusuhi penganut-penganut agama lain (Kristen) dan terdapat persamaan antara agama-agama ini’

‘Orang-orang yang mengharamkan perayaan kelahiran Nabi Isa Alahissalam adalah orang-orang yang sama mengharamkan perayaan junjungan kita Nabi Muhammad SAW’.

Keterangan dari penasihat mufti Mesir di atas sontak mendapatkan banyak tanggapan dari masyarakat di sosial media.

Kita berkhusnudhan dari Mufti tersebut bahwa boleh merayakan kelahiran Nabi Isa Alaihissalam karena Beliau juga seorang Nabi. Bukan bermaksud mengikuti perayaan agama Kristen di majlis-majlis, cukup dengan berhati gembira.

Namun jadi pertanyaan kita sebagai orang Islam adalah bagaimana cara yang benar menyambut hari kelahiran Nabi Isa alaihissalam? bagaimana kita bisa memastikan dengan tepat tanggal kelahiran Nabi Isa alahissalam?

Sebagaimana kita tahu lewat kajian-kajian Al-Quran tentang kelahiran (Natal) Nabi Isa Alaihissalam. Nabi Isa lahir bukan di bulan Desember (musim dingin) tetapi pada musim panas.

Simak ayat berikut,

فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا (22) فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (25)

“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.” Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 22-25)

Syaikh As Sa’di, “ruthoban janiyya” yang dimaksud adalah kurma yang punya sifat,

طَرِيًّا لَذِيْذًا نَافِعًا

“Segar, lezat dan banyak manfaat.”

Syaikh Abu Bakr Al Jazairi juga menyatakan semisal itu yaitu kurma yang sudah baik dan layak dipanen.

Berarti dari penjelasan dua ulama tersebut kurma yang segar berarti kurma yang matang.

Kurma adalah buah khas negeri gurun. Buah ini baru matang ketika musim panas (sekitar Juni – Oktober) saat suhu di atas 45 derajat celcius. Walau sangat panas dan menyiksa, saat itulah yang dinantikan para petani untuk memanen kurma.

Jika demikian hari kelahiran Nabi Isa apakah pas di bulan Desember? Di bulan Desember, malah daerah Jazirah mengalami musim dingin yang sangat, bukan panas seperti saat pohon kurma berbuah.

Adapun Alkitab juga membenarkan Al Qur’an dengan mengatakan bahwa ketika orang-orang menyadari kelahiran Nabi Isa,para petani pergi bermalam di lading-ladang gandum mereka. Dan gandum tumbuh di musim panas bukannya musim dingin.

Pernyataan penasihat mufti Mesir di atas juga sudah dibuatkan dalam flyer berikut.

Hal ini menunjukkan bahwa fatwa ucapan selamat Natal mengalami “perkembangan”, dari haram jadi makruh terus mubah lalu mustahabb dan akhirnya wajib.

Secara umum, sebenarnya kajian akademisi dan teolog Kristen menghasilkan simpulan bahwa 25 Desember, tanggal yang paling banyak dirujuk sebagai tanggal perayaan Natal, bukanlah tanggal dan bulan lahir sebenarnya Yesus atau di dalam Islam disebut dengan nama ‘Isa ibnu Maryam.

Situs Britannica menyebutkan tiga kemungkinan darimana asal penetapan tanggal 25 bulan Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus. Kemungkinan pertama sebab jatuh perayaan pada tanggal 25 Desember bisa dirujukkan kepada perhitungan Sextus Julianus Africanus. Sejarawan Kristen Romawi ini menetapkan 25 Maret sebagai hari di mana Yesus dimulakan di dalam perut ibunya sehingga setelah sekitar sembilan bulan, atau tepatnya 25 Desember, Yesus lahir ke dunia. Tanggal ini kebetulan juga dianggap sama oleh Sextus Julianus Africanus sebagai hari pertama penciptaan dunia.

Kemungkinan kedua adalah transformasi perayaan Natali Sol Invicti oleh para penganut pagan Romawi kepada agama yang baru mereka anut. Sebelum abad ketiga masehi, kerajaan Romawi yang saat itu belum menjadikan Kristen sebagai agama resminya, merayakan kelahiran kembali Dewa Matahari Sol Invictus tiap tanggal 25 Desember. Akhir Desember ditandai dengan siang yang kembali berdurasi panjang selepas winter solstice dan masyarakat pagan Romawi saat itu mengadakan perayaan Saturnalia [suatu festival yang berlangsung hingga 23 Desember] dan lalu suka cita kelahiran dewa Sol Invictus pada 25 Desember.

Perayaan Saturnalia pada waktu itu ditandai dengan pesta perjamuan dan saling menukar hadiah dengan orang lain. Tanggal 25 Desember bagi sebagian kaum pagan Romawi juga diyakini sebagai hari lahir dewa Indo-Eropa Mithra: dewa cahaya dan kesetiaan. Ketika pada abad ketiga masehi kerajaan Romawi mulai mengakui Kristen sebagai agama resmi maka hipotesis yang menyatakan bahwa perayaan Natal adalah benar-benar transformasi perayaan kelahiran kembali dewa Sol dapat menjelaskan mengapa baru pada abad inilah tercatat Natal mulai dirayakan.

Kemungkinan ketiga tentang penetapan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus mungkin dapat dikaitkan dengan usaha Kaisar Constantine. Kaisar Contantine-lah yang mencanangkan Kristen sebagai agama resmi kerajaan Romawi di sekitar tahun 366 setelah ia masuk Kristen. Di bawah pemerintahannyalah perayaan kelahiran Yesus dilakukan tiap tanggal 25 Desember. Pemilihan tanggal 25 Desember sebagai perayaan kelahiran Yesus Kritus dapat disebut sebagai “pembaptisan” perayaan paganisme oleh Kaisar Constantine.

Pat Robertson, seorang pastor dan evangelis di Amerika, menjelaskan dengan gamblang rahasia penentuan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Nabi Isa Alaihissalam.

Simak keterangannya berikut.

Beberapa teolog Kristen menghindari pembahasan lebih lanjut tentang presisi tanggal kelahiran Yesus Kristus. Bagi mereka yang terpenting dari perayaan Natal adalah semangatnya dan bukan ketepatan tanggalnya. Menurut mereka, tanggal lahir Yesus sendiri tidak ada rujukan yang jelas dari skriptur Kristen terkait tanggal 25 Desember sembari menolak tegas pengaitan perayaan ini dengan tradisi Pagan Romawi. Natal intinya dirayakan dalam rangka semangat kelahiran Tuhan dalam bentuk manusia bernama Yesus. Ini yang menjadi patokan untuk diajarkan kepada umat Kristen. (https://www.whychristmas.com/customs/25th.shtml)

Diseminasi informasi berkenaan dengan ketiadaan tanggal dan bulan yang tepat untuk perayaan kelahiran Yesus Kristus inilah yang justru sekarang ini menjadikan beberapa pemeluk Kristen, misal di Amerika Serikat (Jones, 2014), mengalami perubahan lanskap religiusitas akan pentingnya perayaan Natal terhadap keimanan mereka. Jika esensinya adalah semangatnya sedangkan tidak ada ketepatan tentang bagaimana perayaan tersebut kapan dilaksanakan [atau apakah memang harus dilakukan] maka argumen urgensi perayaan Natal dianggap lemah.

Beberapa sekte Kristen tidak mau merayakan Natal karena mereka berkeyakinan bahwa perayaan Natal adalah bentuk perayaan Pagan atau perayaan yang tidak ada rujukannya di dalam skriptur asli Kristen (Philip Kayser, 2018; https://leanpub.com/december-25-jewish-style).

why our family no longer celebrates christmas
the history of christmas powerful or pagan

Merayakan natal tidak sama dengan mengucapkan selamat kepada orang yang merayakan natal pada hari ini.

Dalam hal mengucapkan selamat natal atau merry chitsmas terdapat dua perbedaan pendapat:

  1. HARAM. Jumhur ulama 4 mazhab mengharamkan mengucapkan selamat natal. Haram juga menyerupai dan menyambut perayaan orang bukan Islam.Dalilnya adalah sabda Nabi SAW “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia adalah dari kalangan mereka” (HR Abu Daud dan Ath-Thabari).
  2. BOLEH. Ulama kontemporer mengharuskan ucapan selamat atas dasar mujamalah dan pergaulan baik sesama manusia. Sebagaimana tidak mengandung syiar-syiar keagamaan mereka dan tidak mengagungkan agama mereka.

Berdasarkan pendapat di atas, mengucapkan selamat natal itu dibolehkan sesuai kondisinya. Sekiranya tidak ada keperluan, hukumnya menjadi makruh. Ucapan ini sebagai tanda menjaga hubungan baik dan tidak bertujuan mengagungkan agama lain.

Berikut pendapat dari Mufti wilayah persekutuan Malaysia terkait hukum mengucapkan selamat natal atau merry christmas.

Mereka yang bergaul dengan non muslim dan masih ada saudara Kristen merasai seolah-olah Islam tidak menghormati agama mereka, kita bisa memberikan penjelasan bahwa maksud merry cristmas tersebut adalah bermaksud tuhan ada anak.

Begitu juga lafadz ucapan selamat natal tapi dalam hati/niat bukan mengiyakan hari tersebut hanya sekadar menghormati ahli keluarga yang masih Kristen dan menjaga hati mereka. Kalau rasa ragu, , ucaplah dengan bahasa lain seperti ‘semoga bahagia di hari perayaan Anda’. Semoga mereka mendapat hidayah

Referensi:

Britannica, The Editors of Encyclopaedia. “Why Is Christmas in December?”. Encyclopedia Britannica, Invalid Date, https://www.britannica.com/story/why-is-christmas-in-december. Accessed 25 December 2021.

Jones, Robert P. 17 Desember 2014. “Do You Believe? Americans Less Likely to Believe in Historical Accuracy of Christmas Story Than a Decade Ago.” Diakses 25 Desember 2021, 03:02 PM WIB dari https://www.huffpost.com/entry/a-christmas-belief-myster_b_4455526

Nugraha, D. (2020). Tidak Mengucap “Selamat Natal”: Being Intolerant towards and Disrespecting Christians?. Diakses [25 Desember 2021, 02:30 PM] dari: https://dipanugrahaliterature.home.blog/2019/08/20/tidak-ucap-selamat-natal/ , DOI: 10.13140/RG.2.2.31038.51528, Sitasi di ResearchGate:   Nugraha, Dipa. (2020). Tidak Mengucap “Selamat Natal”: Being Intolerant towards and Disrespecting Christians?. Diakses [25 Desember 2021, 02:30 PM] dari: https://www.researchgate.net/publication/347950338_Tidak_Mengucap_Selamat_Natal_Being_Intolerant_towards_and_Disrespecting_Christians.

Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia, TAHQIQ AL-MASAIL 7: HUKUM MENGUCAPKAN “MERRY CHRISTMAS” KEPADA MEREKA YANG BERAGAMA KRISTIAN, Diakses [25 Desember 2021, 02:30 PM] dari: https://muftiwp.gov.my/artikel/tahqiq-al-masail/2919-tahqiq-masail-7-hukum-mengucapkan-merry-christmas-kepada-mereka-yang-beragama-kristian

Rujuk https://archive.islamonline.net/?p=791 , https://www.ft.com/content/ce7eb5c4-b004-11dc-b874-0000779fd2ac dan https://www.acommonword.com/muslim-scholars-wish-merry-christmas/

Terima kasih

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com

Tinggalkan komentar