Serial Payitaht Abdul Hamid dan Narasi Sejarah Turki

Selama bebera dekade ini, Industri Film dan pertelevisian di Turki telah mengalami perkembangan yang signifikan, membuat opera sabun terkenal di Turki dan sekitarnya khususnya daerah Timur Tengah. Selain itu serial dibuat dengan penuh rasa kekeluargaan dimana rentang filmnya 2-3 jam dengan iklan sehingga keluarga di Turki bisa menonon bersama ketika malam hari. Serial ini mulai tayang sejak 24 Februari di layar kaca TRT-1 Turki.

Berkenaah Abdul Hamid, masyarakat Turki terbagi menjadi dua golongan, a) pro-Barat dan anti sejarah Abdul Hamid dan b) pro Sejarah Abdul Hamid.

Necip Fazıl Kısakürek, dosen di Universitas Ankara menyatakan bahwa untuk memahami politik Turki maka menurutnya penting sekali mempelajari Abdul Hamid II, dia terkenal dengan perkataannya, “Understanding Abdülhamid is the key to understanding everything” (“Abdülhamid’i anlamak herşeyi anlamak demek olacaktır”). Sehingga sikap seseorang terhadap almarhum Sultan Utsmaniyah adalah faktor penentu dalam orientasi politik dan keagamaan individu tersebut.

istanbul
Istanbul, circa 1900

September 2016, pada acara simposium mengenang hari lahir Sultan Abdul Hamid, Ismail Kahraman, senior dari partai AKP menyebutkan Abdul Hamid sebagai kompas masa depan Turki. “as a mariner’s compass [for Turkey] to give us direction and enlighten our future.”

Recep Tayyip Erdogan menunjukkan kesamaan antara kebijakannya dengan kebijaka pada masa Sultan Abdulhamid II pada pergantian abad ke-20. Sebagaimana dia ungkapkan ketika peluncuran serial Payitaht — Abdulhamid, sebuah serial TV populer yang mengisahkan cerita Sultan pada masa lalu di atas takhta, Erdogan menyatakan bahwa “skema yang sama dilakukan hari ini dengan cara yang persis sama. Barat bergerak melawan kita adalah sama. Hanya era dan para aktor yang berbeda.”

Beberapa kebijakan Erdogran hampir mirip dengan Sultan Abdul Hamid II.

Tahun 1878 pemimpin Eropa mengadakan Konferensi Berlin yang isinya membagi-bagi kawasan Daulah Utsmaniyah kepada negara Prancis. Inggris, dan Italia. Mengetahui hal ini, Abdul Hamid segera menyerukan persatuan umat dan berusah memperkuat ruh keislaman diantara umat. Ia mengutus para ulama ke berbagai negeri untuk menyampaikan misi ini.

Theodor Hertzl, pimpinan Zionis, pernah bertemu Sultan Abdul Hamid II yang mencoba merayunya untuk menjual tanah Palestina dengan harga berapapun. Jawaban heroik Sultan sangat menyakitkan kaum Yahudi, “Aku tidak akan menjual tanah Palestina ini walau sejengkal pun. Sebab tanah ini bukan milikku, tapi milik Daulah Utsmaniyah. Kami tidak mendapatkan tanah ini kecuali dengan pertumpahan darah, dan tidak akan pernah menyerahkannya kecuali dengan pertumpahan darah”

Maka sikap Sultan atas imigrasi Yahudi ke Palestina sangat jelas. Maka mulailah usaha untuk membunuhnya tahun 1905, dan terdapat konspirasi internasional yang ingin menjatuhkannya. Salah satu cara konspirasi yang dilakukan adalah dengan propaganda media yang memperburuk citra Sultan Abdul Hamid II.

Dan kini, Erdogan berusaha meningkatkan ruh keislaman, menguatkan persatuan umat islam, dan sangat perhatian terhadap negara-negara islam. Prinsipnya: dimana azan berkumandang, di situlah tanah airku.

Ini terbukti dengan pembelaannya yang luar biasa kepada rakyat Mesir dan Presiden Mursi. Ia pula kerap bersuara lantang di berbagai forum tentang tuntutan atas pembantaian yang dilakukan As-Sisi.

Presiden Erdogan juga melakukan pembelaan kepada rakyat Suriah dan menentang rezim Bashar Assad. Tidak hanya itu, ia ikut melawan dan menyelamatkan banyak pengungsi serta membiayai kehidupan mereka, serta memberikan mereka hak-hak seperti hak warga negara turki.

Serial Payitaht menggambarkan Abdulhamid II sebagai penguasa yang berbudi luhur yang menjalankan hukum Islam dan memperluas wilayah Islam. Musuh utamanya adalah kekuatan besar Eropa melalui intelektual liberal, Freemason, dan Zionis.

Pada episode awal Payitaht digambarkan Ratu Sabahattin sebagai seorang pengkhianat yang ingin meruntuhkan khilafah atas nama ‘kebebasan’. Untuk mengatasi ancamannya, Sultan Abdul Hamid berusaha sedaya upaya menjaga khilafah dari dalam seperti Ratu Sabahattin dan dari luar yaitu kekuatan super power yang mengontrol dengan misterius.

Serial ini juga mengisahkan bagaimana Ratu Sabahattin dan para pengikutnya berkolaborasi dengan Zionis dan Yahudi dan digambarkan sebagai persekutuan yang ingin menghancurkan khilafah.

Pendiri Zionis bernama Theodore Binyamin Ze’ev Herzl, digambarkan sebagai pemimpin ambisus yang ingin mendirikan negara Yahudi ‘dari Nil sampai Eufrat’.

Sumber:

Decoding the “Payitaht Abdülhamid” oleh Hay Eytan Cohen Yanarocak Jurnal Turkeyscope Vol. 1, No. 5, Maret 2017. Pdf

Edhem Eldem. “Sultan Abdülhamid II: Founding Father of the Turkish State?” Journal of the Ottoman and Turkish Studies Association 5, no. 2 (2018): 25-46. Accessed July 1, 2020. ww.jstor.org/stable/10.2979/jottturstuass.5.2.05.

Foto Serial Payitaht Abdul Hamid di pinterets.

Tinggalkan komentar