Rumah Di Dusun Buttui, Mentawai

Mentawai adalah Kabupaten Kepulauan, bagian dari provinsi Sumatera Barat dengan ibukota kabupaten Tua Pejat yang berada di Pulau Sipora. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan UU RI Nomor 49 Tahun 1999 dan dinamai menurut nama asli geografisnya. Kabupaten ini terdiri atas 4 pulau besar ditambah pulau-pulau kecil (94 buah). Keempat pulau besar ini adalah Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan.

Untuk mencapai Kepulauan Mentawai kita bisa menempuh jalur laut atau udara, jalur laut bisa menggunakan kapal cepat dari pelabuhan Muara Padang, atau Kapal Feri dari Pelabuhan Bungur Kabupaten Pesisir Selatan. Sedangkan, untuk udara bisa ditempuh melalui Bandara Minangkabau Padang menuju Pulau Tua Pejat, Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Dusun Buttui berjarak sekitar 20 kilometer dari Dermaga Meilepet, Kecamatan Siberut Selatan, atau sekitar 22 kilometer dari Muara Siberut-Pusat Pemerintahan Kecamatan Siberut Selatan. Ada dua akses jalan untuk bisa sampai ke Buttui, yaitu melalui darat dan menyisiri sungai menggunakan perahu.

Suku mentawai diyakini merupakan salah satu suku yang tertua di Indonesia. Para peneliti meyakini bahwa nenek moyang Suku Mentawai telah mendiami lokasi Kepulauan Mentawai di barat Sumatera sejak tahun 500 SM. Suku Mentawai memiliki agama dan kepercayaan tersendiri, mereka menyebutnya sebagai “Arat Sabulungan” atau “Sabulungan”, mereka meyakini ada roh atau kekuatan yang lebih besar darinya yang mendiami dan memelihara hutan, sehingga tetap lestari dan dijadikan sebagai mata pencaharian mereka untuk mencari penghidupan, baik melalui berburu atau bercocok tanam.

Suku Mentawai memiliki tiga jenis rumah adat yang mereka sebut sebagai “uma”, “lalep” dan “rusuk”. Uma merupakan rumah panggung berbahan kayu yang berukuran besar, biasanya ditempati oleh 3 hingga 4 keluarga dalam satu rumah. Sedangkan, Lalep merupakan jenis rumah yang berukuran lebih kecil, dan biasa ditempati oleh 1 keluarga saja di dalam rumah tersebut. Selanjutnya adalah Rusuk yang merupakan rumah kayu juga, dengan atap dari daun pohon sagu (rumbia).

Uma adalah rumah dengan bangunan besar, kira-kira 20 m x 15 m persegi. Kegunaannya adalah untuk tempat menginap bersama, menyimpan pusaka-pusaka dan benda warisan, penyimpanan tengkorak hasil buruan, pelantikan Sikerei, musyawarah masyarakat, dan tempat untuk persembahan. Selain itu, Uma juga digunakan sebagai tempat melakukan upacara adat dan pertemuan kerabat keluarga. Uma dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi dipasak dengan kayu yang kokoh serta sistem sambungan silang bertakik. Pondasinya ditanam dengan kedalaman sekitar dua meter di bawah permukaan tanah. Pembangunannya biasanya berlangsung selama kurang-lebih 1 bulan secara gotong royong.

Saat uma selesai dibangun, maka uma akan dipestakan. Pesta tersebut bermakna sebagai ungkapan rasa syukur, kegembiraan, keselamatan, dan kesejahteraan keluarga anggota uma. Dan ketika pesta selesai, barulah uma diisi dengan barang-barang seperti gendang, tombak, lambang uma, tengkorak hasil buruan, dan lain sebagainya.

Bentuk uma mirip dengan bentuk rumah panggung, yang kolongnya kerap kali digunakan untuk tempat beternak hewan atau memelihara kepiting merah. Atap uma terbuat dari daun rumbia dan tumbuhan-tumbuhan lain yang didapat dari pantai ataupun rawa-rawa. Masyarakat Suku Mentawai secara rutin mengganti atap uma di saat musim penghujan.

Makanan pokok masyarakat mentawai adalah sagu, mereka bisa menebang satu pohon sagu dan mereka gunakan sebagai makanan pokok mereka, umumnya satu keluarga tidak menghabiskan satu pohon sagu dalam satu bulan.

Mereka biasanya memasak tepung sagu di dalam bambu atau didalam pepesan daun sagu dan dibakar. Lauk nya biasanya mereka ambil dari daging hasil buruan di hutan, mulai dari babi hutan, rusa, burung, ikan sungai atau danau, bahkan monyet yang ada di hutan. Kepala hewan hasil buruan biasanya mereka gantung sebagai hiasan rumah adat mereka, dan masih utuh secara turun temurun.

Masyarakat mentawai memiliki tokoh adat yang dinamakan “sikerei”. Seorang anak suku mentawai bisa menjadi Sikerei setelah menempuh puasa (ulaje) selama hampir 30 hari atau lebih, dalam berpuasa atau ulaje atau orang jawa biasa menyebutnya sebagai tirakat, Sikerei memiliki banyak pantangan, seperti dilarang berhubungan badan, dilarang makan belut, dilarang makan bawang, harus tidur sambil duduk, dan lain sebagainya.

Setelah seorang mentawai telah menjadi Sikerei badanya harus ditato seperti layaknya Sikerei, dan mereka “Sikerei” menjadi rujukan masyarakat dalam menyembuhkan berbagai penyakit yang timbul di Masyarakat, umumnya Sikerei memakai pakain adat mentawai dalam keseharian, yaitu menggunakan kancut dari kabit atau kulit kayu saja. Para ahli menyebut tato Mentawai sebagai tato tertua di dunia.

image
Salah satu rumah di Dusun Buttui milik Sikerei

Tinggalkan Balasan