Salat Jumat atau Tidak?

Bagaimana memanajemeni konflik batin antara kepentingan keagamaan dan sosial?

Leon Festinger pada tahun 1954 menemukan kajian tentang TEORI PERBANDINGAN SOSIAL yang kemudian dikembangkan sendiri olehnya dan menjadi TEORI DISONANSI KOGNITIF pada tahun 1957.

Wibowo (dalam Sarwono, S.W., 2009) mendefinisikn Disonansi Kognitif sebagai keadaan tidak nyaman akibat adanya ketidaksesuaian antara dua sikap atau lebih serta antara sikap dan tingkah laku. Festinger (1957), berpendapat bahwa disonansi terjadi apabila terdapat hubungan yang bertolak belakang, yang diakibatkan oleh penyangkalan dari satu elemen kognitif terhadap elemen lain, antara elemen-elemen kognitif dalam diri individu.Hubungan yang bertolak belakang tersebut, terjadi bila ada penyangkalan antara elemen kognitif yang satu dengan yang lain.

Disonansi kognitif tidak saja terjadi karena faktor internal tetapi juga karena faktor eksternal. Disonansi kognitif akan terjadi bilamana ada dua kepentingan (keyakinan) yang sama-sama kuat tetapi saling bertentangan. Dalam pandemi Covid-19 saat ini Disonansi kognitif terjadi di masyarakat. Misalnya, tetap di rumah salat Dhuhur atau salat Jumat di masjid.

Teori ini menekankan sebuah model mengenai sifat dasar dari manusia yang mementingkan adanya stabilitas dan konsistensi. Disonansi akan mendorong usaha untuk memperoleh konsonansi dan usaha untuk mengurangi disonansi. Teori ini beranggapan bahwa rangsangan disonansi yang diberikan akan memotivasi seseorang untuk keluar dari inkonsistensi tersebut dan mengembalikannya pada konsistensi.

Bila terjadi Disonansi kognitif, salah satu kepentingan harus dilepas, tidak mungkin mempertahankan keduanya. Itu terasa sangat menyiksa batin. Menurut ahli psikologi, ada tiga cara menyelesaikan Desonansi Kognitif:

a. Mengurangi pentingnya keyakinan disonan kita.
b. Menambahkan keyakinan yang konsonan.
c. Menghapus disonansi dengan cara tertentu.

Dalam sebuah ayat Allah Swt berfirman;

“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.” [QS Al-Araf: 188]

Di dalam ayat ini, Rasulullah Saw diperintahkan Allah Swt untuk mengatakan bahwa beliau tidak bisa mendatangkan manfaat dan tidak dapat menolak mudharat kecuali apa yang telah dikehendaki-Nya.

Dalam sebuah ayat Allah Swt berfirman;

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” [QS. Al-Ankabut: 2-3]

Melalui ayat ini, Allah Swt menjelaskan bahwa setiap orang yang beriman pasti akan diberi ujian ataupun masalah, dan ketika dihadapkan pada sebuah masalah, manusia akan dihadapkan pada proses pengambilan keputusan terkait dengan pemecahan masalah tersebut.

Sikap seseorang dalam menghadapi sebuah permasalahan tentu saja berbeda-beda, proses seseorang dalam pengambilan keputusan pun juga bermacam-macam.

Pengambilan keputusan dapat diartikan sebagai suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari banyak alternatif dengan cara yang dianggap paling efisien sesuai dengan situasi.

Tetapi, kita tetap harus yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah sebaik-baiknya pemberi keputusan.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 216]

Yang terakhir,…

“Maka disebabkan rahmat dari Allah swt-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, dan apabila kamu telah membulatkan tekad maka berdakwahlah kepada Allah swt, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” [QS. Ali Imran: I59]

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa dalam pengambilan keputusan tentu akan terjadi banyak perbedaan pendapat, dan kita diperintahkan untuk tetap berlaku lemah lembut terhadap pihak yang berselisih pendapat dengan kita.

Dalam bermusyawarah pun kita diperintahkan untuk bertekad bulat untuk melaksanakannya sesuai dengan syariat sebagai bentuk taqwa kepada Allah, dan ketika telah dicapai kesepakatan, maka kita harus bertanggungjawab terhadap keputusan tersebut.

Simpulan:

Salat Jumat atau tidak, mari kita ambil keputusan dengan melakukan tiga cara Disonansi Kognitif di atas terutama dengan mengkaji dari dalil-dalil yang ada.

Yang perlu diingat adalah “Keputusan kita menunjukkan KECERDASAN dan TANGGUNGJAWAB.

Sumber:

Facebook Syahiduz Zaman dengan tambahan dari penulis.

Dictio: Disonansi Kognitif

Tinggalkan komentar