Sejarah KMI (Kuliyyatul Muallimin Al-Islamiyyah)

K.H. Zainuddin Fananie, Trimurti Pondok Pesantren Modern Gontor

Salah seorang pahlawan yang pantas dicatatkan namanya dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia adalah K.H. Zainuddin Fananie, salah seorang Trimurti Pondok Pesantren Modern Gontor, Jawa Timur. Sebagai pejuang kemerdekaan, sosok penuh karisma ini dikenal aktif berdakwah dalam kegiatan sosial dan pergerakan Islam.

Silsilah KH. Zainuddin Fananie terhubung dengan Kyai Tegalsari, Khalifah Hasan Besari. Kyai Khalifaf Tegalsari mengambil menantu Kyai R.M Sulaiman Djamaluddin, keturunan ke-IV Keraton Cirebon. Kyai R.M Sulaiman Djamaluddin memiliki putra Kyai Archam Anom Besari. Kyai Archam Anom Besari memiliki putra Kyai R Santosa Anom Besari yang bertempat tinggal di Ponorogo, Gontor, Jawa Timur. Istri Kyai R Santosa Anom Besari, Bu Nyai R Santosa Anom Besari, merupakan keturunan Kanjeng Bupati Surodiningrat. Pasangan inilah yang melahirka KH. Zainuddin Fananie.

KH. Zainuddin Fananie mendapatkan pendidikan pesantren sejak masa kecil sampai remaja. Pada masa mudanya beliau berkesempatan masuk sekolah HIS. Meski duduk di sekolah Belanda, namun Fananies tetap giat melancarkan kegiatan sosial dan pergerakan Islam. Selain di Jawa, beliau eksis juga di Sumatra, disana beliau bertemu pasangan hidupnya, Hj. Rabiah M. Pernihakan keduanya melahirkan putra satu-satunya yaitu KH. Rusdi Bey Fananie.

Sahabat Buya Hamka ini dikenal sebagai salah satu konsul Muhammadiyah Sumatera Selatan dan aktivis Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Meski sibuk dalam pergerakan kemerdekaan, tak membuatnya lupa menuangkan gagasan intelektualnya.

Di antara karya tulis beliau yang masih menjadi bahan rujukan adalah: Pedoman Pendidikan Modern (1934), Pedoman Penangkis krisis (1935), Senjata Penganjur dan Pemimpin Islam (1937), Karang Mengarang dan Jurnalistik , Kursus Agama Islam, Kesadaran dan Pedoman Suami Istri, Ketinggian Martabat Islam, Islam berhadapan dengan dunia.

KH. R. Z. Fananie memiliki berbagai gagasan tentang pendidikan modern. Gagasan-gagasan itu ditulis sendiri oleh KH. R. Z. Fananie dan dibantu oleh KH. Imam Zarkasyi dalam bentuk buku yang diberi judul “Pedoman Pendidikan Modern”. Buku ini terbit pada tahun 1934 sebelum KMI didirikan pada tahun 1936. Semua orang tentu mafhum yang disebut modern pada saat itu adalah Barat. Dengan kata lain, pendidikan modern berarti pendidikan mengikuti model Barat, yang dalam konteks Indonesia diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Sedangkan pesantren-pesantren yang ada umumnya dikenal sebagai sebagai lembaga pendidikan tradisional. KH. R. Z. Fananie memiliki peran besar dalam perubahan model pendidikan dari tradisional (klasik) ke modern. Sebab, beliau langsung merasakan dan mengalami pendidikan model Barat. Perlu ditegaskan di sini bahwa, dalam proses modernisasi di Gontor, peran KH. R. Z. Fananie secara konseptual sangat menonjol setelah penulisan buku pedoman pendidikan modern.

Poin-poin penting dari buku Pedoman Pendidikan Modern

Buku Pedoman Pendidikan Modern ditulis ketika pengarangnya sedang bertugas di Sumatra. KH. R. Fananie mempunyai relasi dengan berbagai golongan, tak terkecuali para ahli pendidikan. Beliau mempunyai hubungan yang sangat baik dengan Mahmud Yunus, yang dapat dipandang sebagai salah seorang pelopor pendidikan Islam modern di Indonesia.

Pertemuan ini yang bisa jadi mendorong beliau untuk membekali sang adik, KH. Imam Zarkasyi, dengan pendidikan modern, yaitu dengan menganjurkan sang adik ini belajar di Normal School Padang, di bawah bimbingan Mahmud Yunus. Mengingat buku ini terbit sebelum adanya program KMI, dipastikan ia merupakan kerangka konseptual dari program modernisasi pendidikan di Gontor. Dengan kata lain, KMI merupakan ramuan antara pengalaman dan konsep yang terkandung dalam buku ini.

Prof. Mahmud Yunus telah melakukan pengamatan selama beberapa tahun terhadap metode pengajaran bahasa Arab yang dilakukan di pesantren-pesantren dan sampai pada kesimpulan bahwa metode pengajaran bahasa Arab yang menekankan gramatika yang dilakukan secara parsial di Pesantren amatlah sulit, rumit dan melelahkan, tapi hasilnya tidak sebanding dengan upaya yang dilakukan.

Lulusan pesantren sangat kaya dan mendalam pengetahuan teoritisnya dalam bidang bahasa, tapi mereka tidak mampu mengaplikasikannya dalam bentuk percakapan dan tulisan yang berbahasa Arab.

At-Thariqah Al-Mubasyarah (Direct Methode)

Upaya ini harus di atasi dengan membuat metode pengajaran baru yang beliau kenalkan dengan nama At-Thariqah Al-Mubasyarah (Direct Methode) yang mengajarkan berbagai komponen ilmu bahasa Arab secara integrated Dan ditekankan pada penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di dalam kelas dan pergaulan selama di Pesantren.

Upaya ini berhasil beliau wujudkan melalui lembaga pendidikan Adabiyah School di Sumatera Barat di praktikkan Imam Zarkasyi dengan baik di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Melalui metode ini Gontor berhasil mencetak lulusan yang selain memiliki kemandirian dan ketangguhan sikap juga mahir dalam berbahasa Arab dan Inggris dan diakui oleh dunia Islam.

Metode Direct atau Ath-Thariqah al-Mubasyirah dalam penggunaan bahasa Arab di pesantren memiliki beberapa keunggulan yaitu: 1) Siswa termotivasi untuk dapat menyebutkan dan mengerti kata-kata kalimat dalam bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya, apalagi guru menggunakan alat peraga dan macam-macam media yang menyenangkan. 2) Siswa memperoleh pengalaman langsung dan praktis, sekalipun mula-mula kalimat yang diucapkan itu belum dimengerti dan dipahami sepenuhnya. 3) Alat ucap (lidah) siswa/anak didik menjadi terlatih menerima ucapan-ucapan yang semula sering terdengar dan terucapkan. 4) Mempersiapkan pengetahuan bahasa yang bermanfaat bagi ujaran dalam konteks.5) Cocok dan sesuai bagi tingkat-tingkat linguistik para siswa.

Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI)

Pada tahun 1936, KH. Zainuddin Fananie bersama kakak dan adiknya, KH. Ahmad Sahal dan KH. Imam Zarkasyi merintis pendidikan Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) di Pondok Modern Darussalam Gontor. Program pendidikan pertama diselenggarakan adalah Tarbiyatul Athfal (TA), pendidikan anak-anak bagi masyarakat Gontor, yang ditangani langsung oleh KH. Sahal. Setelah jumlah alumni TA sudah banyak, untuk memenuhi jenjang pendidikan mereka selanjutnya dibukalah Sullamul Mutaaliimin (Tangga bagi Para Siswa).

Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) adalah Sekolah Pendidikan Guru Islam yang modelnya hampir sama dengan Sekolah Noormal Islam di Padang Panjang; di mana Pak Zarkasyi menempuh jenjang pendidikan menengahnya. Model ini kemudian dipadukan dengan model pendidikan pondok pesantren. Pelajaran agama, seperti yang diajarkan di beberapa pesantren pada umumnya, diajarkan di kelas-kelas. Namun pada saat yang sama para santri tinggal di dalam asrama dengan mempertahankan suasana dan jiwa kehidupan pesantren.

Proses pendidikan berlangsung selama 24 jam. Pelajaran agama dan umum diberikan secara seimbang dalam jangka 6 tahun. Pendidikan ketrampilan, kesenian, olahraga, organisasi, dan lain-lain merupakan bagian dari kegiatan kehidupan santri di Pondok.

KMI sudah diakui Pemerintah sejak tahun 1998, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi telah mengeluarkan “Pengakuan Penyetaraan” Ijazah KMI/TMI dengan Ijazah Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), yaitu dengan SK. Dirjen Binbaga Islam Departemen Agama No. E.IV/PP.03.2/KEP/64/98 tanggal 28 Juli 1998; dan SK Menteri Pendidikan Nasional No. 105/O/2000 tanggal 29 Juni 2000. Menurut laporan terakhir, “Tim Penyetaraan KMI/TMI” yang dibentuk oleh Departemen Pendidikan Nasional telah mengeluarkan SK Pengakuan Penyetaraan serupa terhadap 17 KMI/TMI di seluruh Indonesia, dan masih banyak lagi KMI/TMI lainnya yang akan segera diakreditasi pada tahun-tahun yang akan datang.

Pada tahun 2014 sistem KMI/TMI semakin diperkuat eksistensinya dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Agama (PMA) nomor 18 tahun 2014 tentang Pesantren Mu’adalah.

Pondok Pesantren Mu`adalah adalah pondok pesantren yang disetarakan dengan SMA/MA karena walaupun pondok pesantren tersebut tidak mengikuti kurikulum Kemendikdasmen (SD, SMP, SMA) atau kurikulum Kemenag (MI, MTs, MA) akan tetapi alumnus pondok pesantren tersebut dapat diterima (diakui) di perguruan tinggi dalam dan luar negeri.

Sumber

Pedoman Pendidikan Modern, KH. R. Zainudin Fananie dengan pengantar Drs. Husnan Bey Fananie, MA

Sejarah Pendidikan Islam pada Periode Klasik dan Pertengahan, Prof. Dr. Abuddin Nata, MA, Rajawali Press

Menapaki kaki kaki langit, Husnan Bey Fananie

Website Pesantren Gontor

husnanbeycenter.blogspot.com

Tinggalkan komentar