Siapa Penggagas Metode Pakistani (Sabak, Sabki, Manzil)?

Salah satu pengunjung blog saya yang menanyakan tentang siapa penggagas metode Tahfidz Pakistani yang menjadi tema penelitian skripsi saya beberapa tahun yang lalu. Ketika awal meneliti, belum banyak yang membahas tema ini sehingga saya mencoba mencari jawaban dari sumber sumber yang bisa saya dapatkan.

Berikut ini jawaban saya untuk pengunjung blog yang bertanya tersebut.

Beberapa pesantren sudah menerapkan metode ini seperti pesantren Bina Qolbu dan Wadi Mubarak di puncak Bogor, pesantren Mush’ab bin Umair pesantren Usyaqil Quran di Bandung dan beberapa perguruan tinggi di Makasar.

Ketika saya mengajar dan menjadi musyrif tahfidz di pesantren Bina Qolbu saya melihat keunikan dari metode ini dan selanjutnya timbul keinginan untuk meneliti metode ini dari siapa atau dari mana. Dari hasil investigasi dan penelusuran saya dapatkan bahwa metode sabak, sabki dan manzil ini berasal dari Pakistan, dan anak anak disana memang terbiasa menggunakan metode ini. Akhirnya disebutlah metode Pakistani.

Berdasarkan penelusuran investigasi kami, di Indonesia metode ini diperkenalkan oleh Dr. Abbas Baco Miro, Lc dari Makasar. Beliau adalah alumni pakistan yang menerapkan metode sabak, sabki dan manzil di pesantren beliau di daerah Makasar.

Di Malaysia, metode ini juga banyak diterapkan di pesantren tahfidz, salah satunya Akademi Darul Huffaz yang didirikan oleh Shaikh Nouman Syazly Syazarin. Beliau sering sekali melakukan jaulah ke berbagai negara sambil mengkhatamkan Alquran, pernah belajar tahfidz di Pakistan kemudian mendirikan ADH dengan menggunakan metode tahfiiz Sabak, Sabki, Manzil.

Hasil gambar untuk sheikh lokman shazly sabaq sabki manzil

Metode pakistani Metode ini membantu santri menghafal dan menjaga hafalan al-Quran. Dengan metode ini lebih teratur mengatur jadwal santri. Sabak adalah hafalan baru, Sabki adalah hafalan yang kemarin kita hafalkan. Manzil adalah hafalan 1 Juz yang telah lewat.

Metode ini adalah aplikasi dari metode yang diterapkan di Pakistan dalam menghafal Alquran. Sabak adalah penambahan hafalan baru yang wajib disetorkan santri setiap harinya, Sabak yang telah dihafalkan kemudian disetorkan kembali dalam bentuk gabungan dari beberapa Sabak yang mana belum mencapai satu juz, hal ini kita sebut Sabki. Sedangkan, Manzil adalah hafalan Sabqi yang telah mencapai satu juz kemudian disetorkan setiap harinya kepada pengampu halāqahnya masing-masing.

Agar lebih jelas mungkin bisa saya gambarkan kegiatan harian di bina qolbu dalam menerapkan metode pakistani.

1. Dari sebelum subuh sampai jam 7 pagi : Sabak atau hafalan baru. Santri menyetorkan hafalan barunya kepada ustadz, bagi yang belum baik bacaannya maka diberi pengantar tahsin dulu, belum sampai menghafal.

2. Jam 9 pagi sampai dhuhur : Sabki, santri menyetorkan hafalan yang kemarin dihafal minimal 1 halaman.

3. Ashar sampai jam 5 : Manzil, santri menyetorkan hafalan 1 juz yg sudah dihafal, biasanya dimulai dari juz yang termudah seperti juz amma atau juz tabarak sampai hafalan mereka baik.

4. Isya sampai jam 9 : Persiapan.hafalan untuk besok.

Selama itu, ustadz harus terus menemani santri agar bisa terus mengontrol hafalan santri. Memang dengan metode ini sangat terasa berat bagi santri atau ustadznya, santri dituntut untuk terus mengulang hafalan dan ustadz tahfidz dituntut tidak egois, mau menemani santri menghafal al-quran.

Demikian yang bisa saya jawab. Terima kasih. Full text skirpsi saya tentang Metode Pakistani di Bogor bisa dibaca di tautan ini.

Tinggalkan komentar