Sikerei Mentawai yang Makin Langka - JUMAL AHMAD

Sikerei Mentawai yang Makin Langka

Sikerei Mentawai – Sikerei atau dukun Mentawai saat ini sudah semakin sulit dijumpai, bukan hanya ritual adat yang membutuhkan jasa sikerei semaki berkurang, tetapi juga disebabkan oleh minat generasi muda yang minim untuk menjadi sikerei.

Ketika Yayasan Aksi Peduli Bangsa mengadakan acara ‘Lebarun Peduli Mentawai‘ tahun 2017 yang lalu di alun-alun masjid Al-Azhar Jakarta, kami mendatangkan sikerei dari Dusun Buttui, Siberut Selatan yang masih memegang teguh Sikerei, bahkan desa terbanyak Sikerei sejumlah 25 orang.

Sikerei hanya ditemukan di Pulau Siberut seperti Rogdok, Madobak, Matotonan, Buttui, Sakudei, Simatalu dan sekitarnya yang termasuk kawasan Saraireket yaitu kawasan Siberut Selatan, Siberut Utara, Siberut Barat Daya, Siberut Barat dan Siberut Tengah. Disana masih ada ritual ada yang membutuhkan peranan Sikerei. Orang sakit di Dusun Buttui masih dibawa ke Sikerei meskipun Puskesmas disana sudah dibangun oleh APB.

Bulan Januari lalu waktu saya ke Mentawai, tepatnya ke dusun Buttui, saya menyaksikan secara langsung acara pengobatan oleh Sikerei dirumah Aman Lepon, acara adat dilaksanakan semalaman dari jam 10 malam sampai pagi ketika matahari muncul. Aman Lalau mengatakan kepada saya bahwa mereka terus melakukan adat ini untuk melestarikan budaya Mentawai, kalau bukan kita siapa lagi, katanya.

Perantara Dua Dunia

Fungsi utama Sikerei adalah sebagai mediator (perantara) yang bertugas menjaga kelancaaran arus komunikasi antara manusia di alam nyata dengan makhluk halus di alam maya agar harmoni keduanya bisa tetap terjaga. Selain fungsi utama tersebut, Sikerei juga diperlukan untuk mengobati orang sakit atau penyemarak pesta rakyat Mentawai.

Orang Mentawai percaya bahwa seluruh makhluk dan benda di alam semesta ini memiliki jiwa. Alam semesta juga dipenuhi roh. Agar tercipta harmoni dan rasa nyaman, hubungan dengan semua roh dan jiwa harus dijaga dengan baik-baik. Caranya dengan bantuan kerei yang menguasai bahasa mereka dan bisa melihat sosok mereka.

Mereka harus dihibur, diberi makan, dihormati kalau manusia tidak ingin sakit, mengalami musibah atau bahkan mati, sebab roh dan jiwa yang tidak diperhatikan dengan baik bisa marah, bisa sedih, bisa cemburu, dan bentuk-bentuk emosional lainnya. Kalau jiwa bersedih dan pergi dari tubuh manusia, manusia akan jatuh sakit dan mati. Kalau roh yang marah manusia bisa celaka yang ujung-ujungnya mati.

Ketika seseorang sakit, berburu, mencari kayu bakar, berternak, membangun rumah, menangkap ikan, menikah, membuat sampan, membuka ladang, dan berbagai aktivitas lainnya, dia akan meminta bantuan sikerei, untuk mengetahui keinginan jiwa dan roh yang berhubungan dengan kegiatannya itu, agar tidak menimbulkan kemarahan atau kesedihan. Kerei akan membantu dengan menanyakan, meminta keikhlasan, menyampaikan permintaan, menghibur jiwa-jiwa dan roh itu agar manusia bisa melaksanakan aktivitasnya dengan aman dan selamat, tanpa gangguan.

Sikerei di Siberut Tengah

Mentawaikita menyebutkan Sikerei di Saibi Samukop Kecamatan Siberut Tengah Kabupaten Kepulauan Mentawai keberadaannya sudah sangat langka sebab penerusnya kian sedikit, tidak banyak lagi orang tertarik jadi sikerei, pemimpin ritual adat sekaligus ahli pengobatan. Menjadi sikerei, selain syaratnya berat, pantangannya juga banyak.

Egat Sakailoat (72), seorang sikerei dari Saibi Samukop menyebutkan, saat ini sikerei khusus di Saibi Samukop ada sekitar 10 orang, mereka tersebar di Saibi dua orang, Kaleak satu orang dan bagian hulu Simoilalak dan Sirisurak tujuh orang. “Tinggal kami lagi yang masih ada sekarang ini, sikerei yang baru tidak ada lagi,” katanya pada Mentawaikita.com, akhir November lalu.

Menurut Egat, menjadi sikerei adalah panggilan diri dan jiwa dari leluhur dengan memiliki pantangan yang sangat banyak yang disebut kei-kei. “Jadi sekarang itu yang sulit dilalui, namun ada juga yang telah di panggil jadi sikerei misalnya sering-sakit-sakit dan saat melakukan sedikit pekerjaan mengarah ke budaya dapat sembuh lalu sakit lagi tapi tidak mau dinobatkan jadi sikerei karena banyaknya kei-kei ini,” ujarnya.

Namun dengan banyaknya ritual dan keikei sikerei, diprediksi tak akan ada penerus sikerei ke depannya. “Habis generasi kami, mungkin tak ada lagi sikerei yang muncul lagi, saya khawatirnya dalam keluarga saya sendiri, ketika kami habis dan tak ada lagi sikerei inilah yang akan menjadi kesulitan mereka, iya bagaimana lagi,” ujarnya.

Sekarang, ketika pengaruh agama-agama samawi, juga media massa seperti televisi yang sudah masuk ke pedalaman Mentawai, serta interaksi langsung dengan berbagai etnis lainnya masyarakat Mentawai menemukan pemahaman lain tentang alam semesta, akibatnya kepercayaan pada arat sabulungan yang erat dengan fungsi dan peranan kerei menyusut tajam.

Jumal Ahmad / APB

4 pemikiran pada “Sikerei Mentawai yang Makin Langka”

Tinggalkan komentar