Tafsir Al-Quran Bahasa Jawa Al-Huda oleh Drs. H. Bakri Syahid

AHMADBINHANBAL.COM – Tafsir Al-Huda adalah tafsir Al-Quran berbahasa Jawa Latin yang ditulis oleh Kolonel Bakri Syahid. Tafsir ini pertama kali dicetak pada tahun 1979 dan memuat seluruh ayat Al-Quran dari 114 surat dalam 30 Juz. Penyajiannya dilakukan secara beraturan sesuai dengan sistematika Mushaf Utsmani, yaitu dimulai dengan surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas

Terjemah dan Tafsir Al-Huda terbit tahun 1979. Dalam sambutan, Mentri Agama saat itu, Bapak Alamsyah RP, usaha tafsir ini masih jarang dilakukan, karenanya perlu mendapatkan dukungan.

Biografi Drs. H. Bakri Syahid

Bakri Syahid memiliki nama asli Bakri. Nama Syahid diambil dari ayahnya yaitu Muhammad Syahid. Bakri dilahirkan di kampung Suronatan Kecamatan Nganmpilan Kota Yogyakarta pada Hari Senin Wage, 16 Desember 1918 M.

Ayahnya berasal dari Kotagede, Yogyakarta. Adapun ibunya bernama Dzakariyah dari kampung Suronatan Yogyakarta. Ia adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Keluarganya dikenal sebagai keluarga yang agamis. ayah dan ibunya adalah tokoh agama di kampungnya dan aktif dalam kegiatan kemuhammadiyahan.

Pendidikan Bakri dimulai sejak masih kanak-kanak di bawah bimbingan langsung kedua orang tuanya dengan penekanan pada nilai-nilai agama.

Pendidikan formal Bakri didapat di Kweekschool Islam Muhammadiyah (KIM) dan lulus pada 1935. Setelah itu ia mendapat tugas dari Muhammadiyah untuk berdakwah sebagai guru HIS Muhammadiyah di Surabaya kemudian ke Sekayu, Palembang, sampai tahun 1942. Sepulang dari Sekayu Bakri didaulat menjadi kepala Pusroh TNI AD di Jakarta.

Pada tahun 1957 ia mendapat tugas belajar di IAIN Sunan Kalijaga dan lulus pada tahun 1963. Pada tahun 1964, Bakri mendapatkan tugas dari Jenderal A. Yani untuk melanjutkan studi militer ke Fort Hamiltoun, New York, Amerika Serikat.

Bakri menikah dengan Siti Isnainiyah, seorang gadis kelahiran tahun 1925. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai putera pertamanya Bagus Arafah. Namun tak lama keitka memasuki usia sembilan tahun, Bagus Arafah meninggal karena sakit.

Bakri tercatat juga menikah dua kali, istri kedua yaitu Sunarti alumni Madrasah Muallimin. Dari pernikahan keduannya ia dikaruniai dua anak yaitu Siti Arifah Manishati dan Bagus Hadi Kusuma.

Bakri dikenal sebagai tokoh multitalenta terbukti dari beberapa jabatan yang pernah diemban olehnya mulai dari bidang kemiliteran, jurnalistik sampai bidang pendidikan.

Selain itu, ia juga merupakan seorang aktivis. Ia pernah menjabat sebagai komandan kompi, wartawan perang nomor 6 MBT, Kepala Staf Batalyon STM Yogyakarta, Rektor pertama Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Rektor ke-4 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia juga pernah menjadi anggota MPR dari Fraksi ABRI dan masih banyak jabatan yang pernah diemban olehnya.

Bakri Syahid meninggal dunia pada usia yang ke tujuh pulun enam tahun tepatnya pada tahun 1994 dengan meninggalkan dua orang istri dan dua orang anak. Ia meninggal pada waktu dini hari sewaktu ia sedang melakukan shalat tahajud dirumah istri pertamanya dan diduga meninggal karena serangan jantung.

Sejarah Penulisan Tafsir Al-Huda

Imam Muhsin dalam bukunya ‘Al-Qur’an dan Budaya Jawa dalam Tafsir al-Huda Karya Bakri Syahid’ yang meneliti secara mendalam kitab Tafsir ini menyebutkan bahwa keluarga dan saudara Dr. Bakri Syahid tidak mengetahui sejarah penulisan Tafsir Al-Huda. Satu-satunya keterangan yang didapat adalah tulisan pada pengantar buku pada bagian Purwaka.

Disebutkan bahwa penulisan tafsir ini berawal dari sebuah acara sarasehan Bakri Syahid bersama beberapa kolega dan teman dari jawa yang merantau di berbagai negara, seperti Singapura, Suriname, dan sebagainya di kediaman Syeh Abdul Manan, di kota Makkah, Saudi Arabia. Dalam acara tersebut, terdapat kesadaran dan keprihatinan akan minimnya tafsir Al-Quran yang menggunakan bahasa Jawa dengan huruf latin. Berangkat dari usulan tersebut, Kolonel Bakri Syahid mulai menyusun karyanya.

Dalam Purwaka-nya (kata pengantar) juga disebutkan, Dr. Bakri Syahid mulai menulis tafsir Al-Huda ketika ia mengemban tugas sebagai Karyawan ABRI di Sekertaris Negara Republik Indonesia dalam Bidang Khusus, pada tahun 1970 sampai ia menjabat sebagai rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang sekarang UIN Sunan Kalijaga pada tahun 1972 smpai tahun 1976.

Metode Penulisan Tafsir Al-Huda

Tafsir Al-Huda adalah tafsir Al-Quran berbahasa Jawa Latin. Pertama kali dicetak pada tahun 1979 dan memuat seluruh ayat Al-Quran dari 114 surat dalam 30 Juz.

Definisi Al-Quran menurut Bakri Syahid

Menurut Bakri Syahid, Al-Qur’an didefinisikan sebagai:

“Kalamullah ingkang jejeripun dados mu’jizat, ingkang dipun paringaken dados wahyu Allah dhumateng kanjeng Nabi Muhammad., serta sintena kemawon maos Quran punika ibadah naminipun.”

Artinya:

Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang dijadikan sebagai mukjizat bagi umat Islam yang diturunkan kepadaNabi Muhammad, serta siapapun yang membaca Al-Qur’an tersebut akan mendapatkan pahala.

Penyajian Tafsir Al-Huda

Penyajiannya dilakukan secara beraturan sesuai dengan sistematika Mushaf Utsmani, yaitu dimulai dengan surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas. Penafsiran berbentuk catatan kaki menggunakan bahasa jawa.

Pembahasan setiap surat selalu diawali dengan mengemukakan ciri khusus dari surat tersebut, meliputi nama surat dan artinya dalam bahasa Jawa, nomor urut surat, jumlah ayat, kelompok surat (makiyyah/madaniyah) dan urutan surat dalam proses turunnya.

Contohnya:

AL FATIHAH (BEBUKA)
Surat kaping 1: 7 ayat
Tumurinin wahyu ana ing Mekkah, tumurun sawuse surat Al-Mudatssir

AL FATIHAH (PEMBUKA)
Surat No 1: 7 ayat
Turunnya wahyu di kota Mekkah, turun setelah surat Al-Mudatsir

Foto halaman surat Al-Fatihah

Al-BAQARAH (SAPI WADON)
Surat kaping 2 : 286 ayat
Tumuruning wahyu ana ing Madinah, dadi wiwitane Surat kang tumurun ana ing Madinah, kajaba ayat 281 tumurun ana ing Mina nalika Haji Wada‟.

“AL-BAQARAH (SAPI BETINA)”
Surat no. 2 : 286 ayat
Turunya wahyu di kota Madinah, jadi dari awal surat turun di kota Madinah, kecuali ayat 281 yang turun di Mina ketika menjalankan Haji Wada”

Foto halaman surat Al-Baqarah

Setelah menyebutkan keterangan nama surat, nomor surat dan lainnya, diteruskan dengan menyajikan materi utama Tafsir Al-Huda yang terdiri dari empat hal, yaitu:

  1. Teks ayat Al-Quran yang ditulis di sebelah kanan.
  2. Transliterasi latin bacaan Al-Quran yang ditulis di bawah teks Arab.
  3. Terjemah ayat Al-Quran daam bahasa Jawa di sebelah kiri.
  4. Keterangan atau penjelasan makna ayat Al-Quran yang ditulis di bagian footnote.

Di akhir pembahasan surat, dikemukakan pokok-pokok bahasan tentang hubungan antara kandungan surat yang baru saja dibahas dengan kandungan surat berikutnya. Dalam hal ini dalam tafsir al-Huda banyak menggunakan istilah, seperti: interkorelasi, comparativ-study of Qur’an, comparative study, intisarining sesambetan dan gegayutaning katerangan.

Meskipun menggunakan istilah yang berbeda-beda, menurut Imam Muhsin, pada dasarnya memiliki maksud yang sama mengenai penjelasan hubungan persesuaian antara kandungan surat yang satu dengan surat yang lain.

Setelah pembahasan seluruh al-Qur’an selesai kemudian dilanjutkan dengan menyajikan do’a khatam al-Qur’an kemudian di akhir tafsir al-Huda di tulis sebuah lampiran dengan judul “Katarangan Sawatawis ingkang Wigatos Murakabi” (Keterangan singkat yang penting dan mencukupi).

Metode Tafsir Al-Huda

Corak Tafsir

Tafsir al-Huda merupakan merupakan jenis penafsiran yang mengunakan rasionalitas sebagai dasar penafsirannya yang artinya tafsir al-huda ini menggunakan penalaran akal dalam menafsirkan al-Qur’an atau dalam bahasa mufassir disebut dengan tafsir bi al-ra’yi.

Tafsir bi al-ra’yi atau disebut dengan penafsiran bi-aqli adalah penafsiran Al-Qur’an yang dilakukan berdasarkan ijtihadi mufassir setelah mengenali terlebih dahulu bahasa arab dari berbagai aspeknya.

Serta mengenali lafal-lafal bahasa arab dan segi-segi argumentasinya yang dibantu dengan menggunakan syair-syair jahili serta dengan mempertimbangkan sebab nuzul dan lain-lain yang dibutuhkan oleh mufassir.

Dalam hal ini ijtihad akal menjadi dasar utama untuk memahami teks ayat-ayat al-Qur’an.

Bakri Syahid pun mengunakan pemikiran ijtihadnya untuk menulis karyanya tersebut. Hal ini terlihat dari penafsiran Bakri Syahid dalam bentuk catatan kaki yang sederhana ringkas dalam sehingga mudah dipahami oleh khalayak.

Selanjutnya, para peneliti kitab tafsir ini juga memasukkan corak Tafsir ini kepada Tafsir yang memiliki corak sosial kemasyarakatan (Ijtima’î). Hal ini karena dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’an sang mufasir banyak mengkaitkan dengan situasi dan kondisi masyarakat. Abdul Rahman Taufiq dalam skripsinya menemukan 62 ayat yang ditafsirkan dengan corak sosial budaya.

Metode Tafsir

Beberapa penelutu dari kitab Tafsir Al-Huda mengkategorikan tafsir ini kepada metode gabungan antara ijmali dan tahlili. Bakri Syahid menjelaskan beberapa ayat secara global dan singkat, dan terkadang menjelaskan dengan rinci dibeberapa ayat yang lain.

Ijmali

Metode pertama di dasarkan atas penafsirannya terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang dilakukan pengarangnya secara ringkas dan sederhana sehingga mudah dicerna dan dipahami, penafsiran dalam tafsir al-Huda yang dapat dikelompokkan ke dalam metode global (Ijmali) adalah penafsiran-penafsiran yang biasanya diawali dengan kata-kata penjelas, seperti; maksudipun…., inggih punika…, artosipun…, kadosta… dan tegesipun.

Sebagai contoh pada penafsiran Qs. al-Baqarah ayat 34: “Maksudipun sujud punika atur pakurmatan, sanes nyembah kados manembah dhumateng Allah.” (“Arti dari sujud disini adalah menghormati, bukan berarti menyembah seperti menyembah kepada Allah”).

Contoh penafsiran metode Ijmali pada Tafsir Surat Ali Imran: 17

Terjemah Departemen Agama: “(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur”.

Sementara dalam Tafsir Al-Huda, Bakri Syahid menuliskan “yaiku wong-wong kang padha sabar, padha temen, padha sungkem ngabekti, padha gelem darma la nana ing wektu sahur lingsir wengi padha nyuwun pangapura.” Dan di akhir terjemahan ayat tersebut, Bakri menuliskan catatan kaki tentang arti waktu sahur tersebut sebagai berikut: “wakdal sahur menika ngajengaken subuh kirang langkung 30 menit, dene imsak kirang 10 menit

Penafsiran di atas tampak ringkas dan jelas hingga begitumudah untuk dipahami oleh pembacanya, dan banyak kita temukan dalam Tafsir Al-Huda.

Tahlili

Sedangkan metode tahlili hanya ada beberapa ayat yang mencantumkan penjelasan panjang lebar. Seperti dalam menjelaskan Surat Taha ayat 131:

Dalam menjelaskan ayat tersebutBakri Syahid menuliskan panjang lebar sampai tujuh paragraf yang terdiri dari 48 baris.

suraosipun ayat punika estunipun sampun cetha gamblang, kados ingkang sampun kaweco ing ayat 88 surah al Hijr. Aslining kadadosan sabab musababipun tumuruning ayat punika kagem gegebangipun kanjeng nabi Muhammad s.a.w ngasto leadership ing ummatipun ingkang dipun trisnani, katitik saking agenging lelabuhanipun sarta kaikhlasanipun ambudidaya supados ummatipun manggih karaharja ing donya serta makmur nampi nikmat ing akheratipun. Kapemimpinan Rasulullah s.a.w prayogi saget katuladha ing para pemimpin bangsa serta para ulama-ipun. Inggih punika gesangipun sarwa leres, resik, bares lan beres!

Tegesipun: boten kengsing sembrono utawa ugal-ugalan, lan boten kenging culika utawi edan-edanan, punapa dene boten kenging umuk tuwin oncor-oncoran. Balik kedah khusyu’ tunduk dhumateng gusti Allah, andhap ashor, lembah manah, welas asih dhateng sasamining titah, langkung langkung ingkang sami dados pimpinan dhateng wewengkanipun. Awit inggih para panjenenganipun wau, ingkang badhe sami dados panutan utawi gurunipun!

Menggah badhe pikantukipun hasil/sukses Kanjeng Nabi s.a.w utawi titiyang dados pemimpin ingkang saestu wau, dene ngantos dipun lampahi karaya-raya purun sami ngrekaos utawi sengsara, punika wonten ngarsanipun Gusti Allah badhe angsal ganjaran ingkang sakalangkung ageng lan derajat ingkang luhur sarta karenan dening Allah Pangeran ingkang Maha Agung.

Lan wonten ing gesangipun bebrayan ing donya, badhe saged pikantuk seneng utawi lega, margi rumaos sampun ludhang sampun saged ngeberaken utawi ambage kalangkungan paparinging Pangeran, ingkang minangka dados titipan, sami ugi pangkat, semat, ilmu, lan kawibawan. Utawi badhe saged kraos marem utawi bingah, jalaran rumaos sampun saged netepi utawi nyekapi kuwajibanipun, ingkang dados kautamaning gesang wonten ing „alam Donya punika.

Dalam menjelaskan ayat tersebut, Bakri Syahid secara detail menjelaskan tentang kepemimpinan (leadership). Dia juga mengungkapkan salah satu kunci kesuksesan kepemimpinan Nabi Muhammad terletak pada keikhlasan dan kebaikan yang diupayakan beliau agar umatnya tidak terjerumus kedalam siksa api neraka. Oleh karenanya Bakri Syahid berharap agar setiap pemimpin bisa mencontoh teladan Nabi Muhammad dan tidak tergoda dengan kesenangan duniawi.

Contoh lain pada penfsiran Qs. an-Nûr[24] ayat 28.

“Tata krami utawi etic wonten bebrayan sanaoso namung perkawis lumebet griya, wonten syari’at Islam, dipun pernata ingkang sasaesaenipun, adhedasar muri sami dene dipun tindakaken. Malah wonten ing panggula wentahing dhidhikan wiwit lare ing Taman Kanak-kanak utawi ing ke Pramuka-an, uluk salam badhe mlebet sekolah, mlebet Langgar lan mlebet Mesjid, sarta mlebet kantor Pemerintah lan sapanunggilanipun punika penting sanget dipun lestantunaken uluk salam. Makaten suraosing ayat no. 27- no. 28.

Para sutrisna, kathah sanget para pinisepuh sami prihatos kados pundi unggah-ungguhing para Mudha-Mudhi ing zaman tehnologi modern punika sami kirang dipun prihatosaken, umpami badhe langkung ing ngajengipun tiyang sepuh, unyluk-unyluk tanpa mendhak, katingal pating delajing.

Ing mangka manawi para Ibu lan Bapak, sarta Guru kersa, sarana arif lan simpatik, kersa anggegulang nyontoni ingkang praktis, tamtu para Mudha-Mudhi badhe purun nindakaken.makaten ugi para nem-neman sami tamu-mertamu wonten dalemipun mitra lan tangga tepalih sapiturutipun, punika prayogi sanget wonten ing gerakan Ibu-ibu ing PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga) ing kampung lan Dusun dusun, kadangkala dipun pentasaken contoh tuladhanipun pergaulan sasami nem-neman, kakung miwah putri (langkung-langkung wanita kedah langkung prigel lan merak ati) supados angrembakakaken kabudayaan kita Indonesia piyambak saking falsafah Pancasila, lan dipun kiyataken dening piwucal syare’ating Allah SWT.

Sampun ngantos ing mangkenipun manawi Negari kita majeng ekonomi, tehnik lan modern, sarta makmur, ananging kasusilan kita risak dening kesusupan kabudayan sanes ingkang cengkah kaliyan falsafah kita lan geseh kaliyan Agami kita.badhe kadospundi ngeres lan nalangsa kita sadaya, pakewet kula ngaturaken! Sabab bangsa Indonesia boten gadhah cita-cita ambangun Masyarakat sekuler (masyarakat tanpa Agami), nanging Masyarakat Pancasila!”

Inti pada penafsiran ini menyatakan bahwasannya bangsa Indonesia tidak memiliki cita-cita membangun masyarakat sekuler (masyarakat tanpa agama), melainkan masyarakat Pancasila. Dari penafsiran ayat di atas terlihat begitu jelas bagaiman mufassir menjelaskan ayat tersebut dengan panjang lebar dan mencakup berbagai aspek yang terkandung di dalam ayat, serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufasir.

Nasionalisme dan Islam di Indonesia pada Tafsir al-Huda

Menurut Islah Gusmian, dari sudut pandang sejarah pemikiran politik, pandangan Bakri Syahid mengenai bentuk negara, dasar negara, dan cinta tanah air, penting dikaji lebih jauh untuk memberikan perspektif dan kesadaran kepada generasi milenial agar tidak salah jalan dengan menuduh Indonesia sebagai negara kafir dan Pancasila adalah thagut.

  1. Sebagai seorang aktivis Muslim yang hidup dan bekerja dalam pemerintahan Orde Baru, ia melakukan peneguhan tentang nasionalisme, Pancasila, dan negara Indonesia melalui pola dan pendekatan yang integral dengan ayat-ayat al-Qur’an.
  2. Diskusi tentang Islam dan bentuk negara, dasar negara,serta nasionalismeoleh Bakri Syahid dielaborasi dalam kerangka tafsir al-Qur’an. Perspektif yang ia gunakan dan hubungannya dengan kerangka keilmuan tafsir menjadi penting bagi pemikiran umat Islam di Indonesia.
  3. Tafsir Al-Huda yang ditulis oleh Bakri sejak tahun 1970 dan dipublikasikan pada tahun 1979. Pada era itu, kebijakan asas tunggal Pancasila belum lahir dan hubungan umat Islam dengan pemerintah rezim Orde Baru, lebih banyak disesakioleh ketegangan, bersifat antagonistik, berhadap- hadapan, dan karena itu pemerintah cenderung tidak akomodatif terhadap kepentingan-kepentingan umat Islam.

Lebih lanjut, Islah Gusmiar menyebutkan relevansi tafsir Al-Huda untuk Islam di Indonesia.

Melalui tafsir Al-Huda, kita menemukan suatu tradisi baru dalam sejarah penafsiran al- Qur’an di Indonesia era 1970-an. Tradisi ini berkaitan dengan metode penafsiran al-Qur’an, yaitu tafsir bukan hanya suatu praktik memahami teks al-Qur’an, tetapi secara bersamaan juga membaca realitas ketika suatu tafsir ditulis serta mendialektikakan keduanya.

Konsep munasabah yang selama ini kita kenal dalam ilmu al-Qur’an, di tangan Bakri bukan hanya dalam pengertian relasi antar ayat atau antar surah, tetapi juga antara teks dan realitas kekinian. Langkah metodik yang dilakukan Bakri ini, tidak terlepas dari eksistensinya sebagai aktivis Muslim yang aktif di dalam struktur kekuasaan pada era rezim Orde Baru, kecintaannya terhadap negara dan bangsanya, serta pemahamannya kokoh terhadap pesan-pesan al-Qur’an.

Dari sisi metode tafsir, langkah Bakri tersebut merupakan salah satu kontribusi penting dalam sejarah tradisi penafsiran al-Qur’an di Indonesia. Ia telah menginisiasi suatu metode penafsiran kontekstual yang pada era itu belum banyak dilakukan oleh para penafsir lain di Indonesia. Ia juga berkontribusi di dalam memberikan dasar-dasar dan penjelasan yang rasional dan islami berkaitan dengan program-program pemerintah Indonesia.

Melalui tafsir al-Qur’an, ia mengitrodusir program- program pemerintah Indonesia dan menjadikan tafsir sebagai semacam cawan untuk memberikan penjelasan dan sekaligus peneguhan atas program-program tersebut. Dalam konteks yang terakhir, ia memainkan peran sebagai wakil pemerintah dan sekaligus meneguhkan program-programnya di dalam karya tafsir.

***

Referensi

Imam Muhsin. 2013. Al-Qur’an dan Budaya Jawa dalam Tafsir al-Huda Karya Bakri Syahid. Yogyakarta: eLSAQ Press.

Abdul Rahman Taufiq, Studi Metode dan Corak Tafsir Al-Huda, Tafsir Al-Quran Basa Jawi Karya Brigjend (Purn). Drs. H. Bakri Syahid, Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, 2017, (https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/36878/2/ABDUL%20RAHMAN%20TAUFIQ-FU.pdf, diakses pada 15 Juni 2023)

Islah Gusmian, Nasionalisme dan Islam di Indonesia, Puslitbang dan Diklat Kemenag RI, 2020. Link: simlitbangdiklat.kemega.go.id. (diakses pada 15 Juni 2023)

Neny Muthi’atul Awwaliyah, Mengenal Tafsir Al-Huda, Tafsir Al-Quran Berbahasa Jawa Latin Karya Kolonel Bakri Syahid. Tafsiraluran.id. Link: https://tafsiralquran.id/mengenal-tafsir-al-huda-tafsir-al-quran-berbahasa-jawa-latin-karya-kolonel-bakri-syahid/ (diakses pada 15 Juni 2023)

Share your love
Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *