Tips Cara Mudah Menghafal Al-Quran

AHMADBINHANBAL.COM – Kata orang menghafal Al-Quran lebih mudah dari menjaganya, yup itu setuju sekali. Dan saya mengalami hal itu. Sudah beberapa tahun selesai setoran Al-Quran dan sampai sekarang masih banyak ayat bahkan surat yang terlupa. Astaghfirullah… 

Saya selalu berdoa kepada Allah agar tidak termasuk orang yang dengan sengaja melupakan Al-Quran. Saya tidak pernah dengan sengaja melupakan Al-Quran, mungkin karena sibuk. Duh, ini alasan yang sok dibuat buat.

Intinya sih, kita harus selalu mendekat kepada Al-Quran, karena ibarat Unta yang tidak diikat, hafalan kita pun akan buyar, dan butuh tenaga ekstra lagi untuk memgembalikannya, seperti kita menghafal dari awal.

Sebenarnya banyak metode yang bisa digunakan dalam menghapal Al-Quran, tapi di dalam artikel saya ini, saya hanya men-share 2 cara yang berbeda dalam menghafal Al-quran dengan mudah dan simple.

Metode 1

Menghafal Al-Quran sebenarnya sangat mudah hanya saja kita belum mengetahuicaranya sehingga kita menganggapnya sulit. Untuk itu melalui artikel ini saya mencoba untuk berbagi informasi mengenai cara menghafal Al Quran. Semoga dengan mengetahui cara menghafal Al Quran ini menjadi inspirasi dan dapat memacu semangat sahabat sekalian dalam menghafal Al Quran.

Menghafal Al Quran merupakan perbuatan yang sangat mulia dan sudah dijanjikanSurga oleh Allah SWT bagi para penghafal Quran. Jadi bagi para pencari tiket surga sebenarnya salah satu caranya adalah dengan menghafal Al Quran. Hanya saja kita selama ini terlalu malas (termasuk penulis) dalam menghafal Al Quran dan menginginkan cara-cara yang instan sekejap mata langsung hafal. Padahal kalau dicicil sedikit demi sedikit, seayat demi seayat dari sejak pertama kali terbersit niat ingin menghafal Al Quran mungkin sekarang ini, ketika kita yang membaca artikel ini sudah hafal Al-Quran.

Metode 1 ini saya ringkas dari kajian Ust. Adi Hidayat, Lc.

Ustaz Adi Hidayat Lc menyebut setidaknya ada empat hal yang harus dilakukan untuk menghafal Al Quran, yakni:

  1. Melakukan pendekatan kepada Allah subhanahu wata’ala
  2. Perbaiki niat
  3. Yakin bisa hafal atas izin Allah, dan
  4. Disiplin dalam metode atau manhaj.

Seseorang yang ingin menghafal Al Quran harus meningkatkan ketakwaan pada Allah azza wa jalla. Tidak ada cara lain selain mendekati Allah subhanahu wa ta’ala yang punya Alquran. Alquran bukan makhluk, melainkan kalam Allah.

Kedua, ikhlaskan niat. Ketiga, yakinkan pada diri kita bahwa kita sanggup menghafalkannya dengan izin Allah. Keempat, mulai berikhtiar dengan mempelajari metode atau manhaj menghafal Al Quran.

Ustaz Adi Hidayat berpesan, orang tua ingin anak-anaknya menghafalkan Al Quran, jangan cita-citanya untuk menjadi hafiz. Hal itu, katanya, akan mengurangi keikhlasan.

“Maka bila ingin menghafalkan Al Quran, hafalin saja, nanti terserah Allah akan dikasih berapa. Bahkan ada yang dibuat tidak hafal-hafal dalam waktu yang lama. Si fulan misalnya, dalam satu jam hafal, tetapi yang lain, sudah 10 hari belum hafal-hafal,” urai Ustaz Adi Hidayat.

Dia juga mengingatkan bahwa untuk menghafal Al Quran, seseorang mutlak harus rutin salat tahajud. Menghafal Alquran bergandengan dengan salat tahajud. Ustaz Adi mengutip surat Al Muzzammil ayat 20.

“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Al Muzzammil: 20)

Lalu untuk apa menghafal? Untuk menghadirkan nilai-nilai Al Quran dalam kehidupan. Dengan mengejar akhirat, kebutuhan manusia di dunia akan dipenuhi oleh Allah subhanahu wata’ala.

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.”

(QS. Asy-Syura: 20)

Kalau Allah berkehendak kita dijadikan hafal. Jika tidak, maka kita akan diberikan sebahagiannya yang cukup untuk kita. Dan bila Allah berkehendak menjadikan kita hafal Al Quran, maka akan dijadikan manusia ke dalam tiga golongan.

“Pertama, orang yang zalim terhadap dirinya sendiri. Itu yang (punya) salah niat diawalnya. Jangan dikira semua penghafal Alquran itu baik. Ada yang penipu itu ada, ada yang pendusta, macam-macam. Hafal ayatnya tapi korupsi juga. Saat korupsi sedang tidak ingat ayatnya setelah ditangkap baru ingat lagi,” urainya.

“Kedua, muqtashid yaitu orang yang pertengahan. Orang yang hafal Al Quran bagi dirinya sendiri saja bukan untuk orang lain. Dia biasa mojok di masjid, buka-buka mushaf, ulang-ulang,” lanjutnya.

“Dan yang terbaik adalah saabiqun bil khairat, yang bisa berbagi kebaikan dari nilai-nilai Alquran yang dimaksud. Dan itu yang harus kita cemburui,” katanya lagi.

Ustaz Adi Hidayat termasuk penghafal Alquran yang langka. Dia tidak sekadar menghafal Alquran, tetapi juga mengingat nomor ayat dan halamannya.

“Bukan suatu kebanggaan untuk riya atau ujub seorang bisa menghafalkan Alquran dengan ayat dan nomornya. Kami katakan tidak. Banyak orang bisa melakukannya. Ini hanya untuk kemudahan saja,” ujar Ustaz Adi Hidayat.

Manhaj Menghafal Al Quran dari Ust. Adi Hidayat

Ustaz Adi Hidayat mengatakan, untuk menghafal Al Quran, seseorang hanya butuh waktu dua jam dalam sehari untuk menghafal satu halaman Al Quran. Artinya, dalam waktu 24 jam, 22 jam bisa digunakan untuk urusan dunia.

Jika disiplin meluangkan waktu tersebut, maka seseorang bisa menghafal 30 juz Alquran dalam waktu waktu dua tahun secara mutqin. Satu tahun delapan bulan plus empat hari dilakukan untuk menghafal 604 halaman Alquran. Sementara tiga bulan 26 hari sisanya digunakan untuk tahsin sekaligus muroja’ah.

Berikut pembagian waktu 2 jam menghafal Al Quran setiap hari:

Hari Pertama (Misalnya, memulai pada hari Sabtu):

  1. Salat tahajud
  2. Dengarkan murottal (kalau tanpa guru) 1 halaman selama 10 menit
  3. Setelah itu hafalkan 1 halaman selama 20 menit (kalau lupa, putar kembali murottal)
  4. Siapkan waktu 6 menit sebelum salat fardu dan 6 menit setelah salat fardu untuk muroja’ah atau mengulang hafalan (Gunakan hafalan tersebut pada salat-salat sunnah bakdiyah dan qabliyah atau tahiyatul masjid). Artinya dalam 5 waktu salat, waktu yang digunakan 6+6×5=60 menit alias satu jam.
  5. Ulangi hafalan 1 halaman tersebut selama 30 menit jelang tidur

Hari Kedua:

  1. Salat tahajud
  2. Ulangi hafalan 1 halaman kemarin sebelum menambah hafalan baru. Setelah itu ulangi manhaj seperti hari pertama
  3. Dengarkan murottal (kalau tanpa guru) 1 halaman selama 10 menit
  4. Setelah itu hafalkan 1 halaman selama 20 menit (kalau lupa, putar kembali murottal)
  5. Siapkan waktu 6 menit sebelum salat fardu dan 6 menit setelah salat fardu untuk muroja’ah atau mengulang hafalan (Gunakan hafalan tersebut pada salat-salat sunnah bakdiyah dan qabliyah atau tahiyatul masjid). Artinya dalam 5 waktu salat, waktu yang digunakan 6+6×5=60 menit alias satu jam.
  6. Ulangi hafalan 1 halaman tersebut selama 30 menit jelang tidur

Hari Ketiga dan seterusnya sama dengan hari keenam

Hari Ketujuh (Hari Jumat):

– Tidak ada tambahan hafalan
– Fokus mengulang 6 halaman yang telah dihafal sebelumnya

Hari Kedelapan

– Kembali menambah hafalan seperti pada hari kedua

“Jangan pernah menambah hafalan lebih dari satu halaman walaupun Anda cepat hafal. Jangan pernah melanggar manhaj ini. Jangan tertipu setan. Karena mungkin Anda cepat hafal, ada bisikan pindah ke halaman berikutnya. Itu bisikan setan,”

Ustaz Adi Hidayat

Sumber kajian UAH

Metode 2

Banyak yang bertanya, “Bagaimana cara menjaga hafalan Al Qur’an? kok yang sudah dihafal sering lupa ya?”

Pembaca sekalian, sebenarnya teori menjaga hafalan Al Qur’an itu sederhana saja, yaitu dengan sering diulang-ulang (murajaah). Kenapa sering lupa? karena jarang diulang. Coba kalo sering diulang, pasti tetap terjaga. Yang sering lupa, pasti jarang/tidak murajaah. Ya, cukup diulang-ulang aja. Insya Allah hafalan jadi lancar. 

Maka saya setuju dengan pernyataan Ust. Muhammad Laili Al-Fadhli di salah satu postingan beliau (baca), beliau tidak setuju dengan istilah istilah “yang penting khatam dulu, mutqinnya belakangan.”. Karena jika hafalan kita belum lancar, maka kita dilarang untuk menambah dan wajib mengulang hafalan untuk mempersiapkan ujian hafalan sebelum lanjut ke hafalan juz baru.

Untuk memiliki hafalan Al-Qur’an yang cukup banyak, perlu ‘manajemen pengulangan’ tersendiri untuk menjaga hafalan yang dianalogikan seperti beternak onta. Rasulullah saw pernah bersabda,

“Jagalah Al-Qur’an, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Qur’an itu lebih cepat lepas dari pada seekor unta dari ikatannya”
(H.R. Bukhari)

Jadi begini, orang yang menghafal Qur’an itu seperti orang yang beternak unta…Orang yang sedang berburu unta seperti orang yang sedang menghapal Al Qur’an, Orang yang sudah menangkap onta seperti orang yang sudah hafal, sedangkan orang yang sedang memelihara onta itu seperti orang yang menjaga hafalannya.

Masalahnya, tidak semua onta jinak.  Tapi kita asumsikan saja: Unta itu ada 3 jenis: liar, ada yang setengah liar, ada yang jinak. Begitupun hafalan, ada yanglemah, agak kuat, dan sangat kuat. 

Sekarang kita analogikan lagi, hafalan yang lemah itu seperti unta liar, yang maunya kabur terus… (kabur dari ingatan) hafalan yang agak kuat itu seperti unta setengah liar, kadang mau kabur, kadang tidak. Hafalan yang kuat itu ibarat unta jinak, yang justru lebih suka pada pemeliharanya. Hafalan lemah itu biasanya berupa hafalan-hafalan yang baru saja dihafal, seminggu yang lalu, misalnya. Hafalan yang baru dihafal ini rentan lupa. Semakin baru hafalan, semakin mudah lupa, biasanya.

Nah…strateginya, sebagaimana dalam beternak unta, seharusnya kita lebih fokus pada mengurus ‘unta-unta liar’. Karena unta liar lebih mungkin untuk kabur dibanding yang jinak. Begitupun dalam menjaga hafalan, rumusnya adalah…”Utamakan hafalan-hafalan yang masih lemah“. Aplikasinya…, “Hafalan yang lemah harus lebih banyak diulang daripada halafan yang kuat“.

Banyak penghafal Qur’an yang suka murajaah hafalan yang sudah kuat saja, sedangkan hafalan yang lemah jarang diulang-ulang. Akhirnya…yang hafalannya yang kuat tambah kuat, yang lemah tambah lemah.

Walaupun demikian, bukan berarti hafalan yang sudah kuat tidak diurus. Harus diulang-ulang juga. seperti onta yang sudah jinak, dia juga tetap perlu diberi perhatian, walaupun tidak seintensif unta yang bermasalah (liar).

Idealnya, untuk unta liar, harus diurus minimal setiap 3 hari sekali. Setiap 3 hari, hafalan lemah harus diulang minimal sekali. Kalo misalnya hafalannya 3 surat dan masih lemah semua, maka murajaahnya sehari 1 surat. Untu unta setengah liar, harus diurus minimal setiap seminggu sekali.

 Setiap seminggu, hafalan agak kuat harus diulang minimal sekali. Misalnya, kalo hafalannya yang agak kuat ada 7 surat, maka murajaahnya sehari 1 surat. Sedangkan untuk unta jinak (hafalan ngelotok), boleh ditinggal agak lama. Tapi jangan kelamaan, minimal dalam sebulan keulang minimal sekali.

Sebagai contoh, misalnya ada orang punya hafalan Al Qur’an 40 surat. 30 surat diantaranya hafalan kuat, 7 hafalan agak kuat, dan 3 lemah. Maka murajaahnya hariannya: 1 surat hafalan kuat, 1 surat hafalan agak kuat, dan 1 surat hafalan lemah. Dengan cara ini, hafalan kuat akan terulang sekali sebulan, hafalan agak kuat seminggu sekali, dan hafalan lemah 3 hari sekali.

Kemudian, biarkan onta-onta itu tumbuh sehat, supaya bisa beranak-pinak, bisa diambil susunya, bisa dipakai sebagai kendaraan, dan diambil dagingnya buat makanan. 
Maksudnya, rawatlah hafalan kita, insya Allah hafalan kita akan bertambah banyak dan memberikan manfaatnya buat kita juga, insya Allah

Untuk teknis penerapannya, bisa anda gunakan metode Sabak, Sabki dan Manzil. Metode ini lebih menekankan pada muraja’ah daripada menambah hafalan terus menerus. 

Penjelasan ringkasnya sebagai berikut

Sabaq : Hafalan Baru

Yakni menghafal ayat-ayat yang belum pernah dihafal sebelumnya.

Sabaq ini, minimal setengah halaman perhari. 5 kali dalam seminggu. Kalau tidak sanggup, ya wes 5 baris. Kalau tidak sanggup juga, ya wes semampunya, meskipun seayat-dua ayat. Yang penting dalam sehari ada hafalan baru.

Lebih mantap lagi jika ikut cara menghafal Syaikh Nuh Saunders ketika menghafal satu halaman Al-Qur’an, satu halaman dibagi menjadi tiga bagian dan setiap bagian dibaca sampai 50 kali.

Sabqi : Menyempurnakan hafalan yang belum Mutqin

Contoh di Juz ‘Amma kita masih blepetan di Surat At-Takwir. Nah itu kudu diulang lagi, sampai mutqin. Sabqi ini minimal 1 halaman perharinya.

Manzil : Muraja’ah hafalan Mutqin

Sehari minimal 2,5 lembar.
Kesemua itu diupayakan bersama pembimbing atau teman, agar kesalahan yang ada bisa segera diperbaiki. Sedang untuk Manzil bisa dilakukan dengan cara Shalat Sunnah dengan membaca 2,5 lembar itu.

Dari sini kita bisa ketahui, bahwa murajaah hafalan lama lebih digalakkan daripada menambah hafalan baru.

Kelebihan Metode Sabaq, Sabqi dan Manzil

Berikut ini beberapa kelebihan dengan metode sabak, sabki dan manzil berdasarkan hasil penelitian skripsi yang saya lakukan pada tahun 2013 lalu.

  1. Hafalan menjadi kuat karena menekankan kepada penguatan hafalan dengan secara rutin mengulang hafalan yang lalu setiap kali setoran baru.
  2. Santri terbimbing dalam hafal Al-Quran dan tidak bingung dengan apa yang harus mereka lakukan.
  3. Dengan Sabki hafalan baru menjadi lebih kuat dan dengan Manzil hafalan lama menjadi kuat dan memudahkan santri mengulang hafalan satu juz.
  4. Dengan memaksakan manzil maka seluruh hafalan dapat terulang meskipun tidak satu juz walau hanya dengan menyetorkan rubu’-rubu’.
  5. Dengan sistem sabak, sabki, manzil musyrif dapat berkreasi dalam menerapkan sistem setoran.
  6. Disiplin waktu
  7. Menjadikan tilawah harian yang dibaca menjadi lebih baik dari segi tahsin tilawah.
  8. Penekanan hafalan baru sesuai dengan keadaan siswa.
  9. Pendidikan dalam membaca Al-Quran baik dalam shalat maupun dalam luar shalat.

Selain itu, selalu gunakan waktu luang kita bersama Alquran, isi hp dengan murattal atau bacaan Alquran yang ssedang kita hafal, hapus file musik dan lainnya selain Alquran.  Jadikan Alquran wirid harian kita. 

Sumber: Cara Menjaga Hafalan Al-Quran dengan Metode Sabak, Sabki dan Manzil.

Jumal Ahmad – Islamic Character Development

Share your love
Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *