Ustadz Farid Okbah, Dr. Zain An-Najah dan Ustadz Anung Al Hamat yang Saya Kenal

Dalam bersikap dan bertindak manusia seringkali melakukan berlandaskan asaa kognitif dengan memanggil ulang informasi yang sudah didapat. 

Bagaimana orang tua menghadapi anak anak, dengan mengulang peristiqa yang pernah dialami sendiri oleh anak anak. 

Memanggil ulang informasi, bisa membantu mengatasi masalah tersebut. Ingatan tentang ulama sudah kita miliki bertahun tahun bahkan puluhan tahun. Dalam ingatan kita selalu terbayang bahwa para ulama adalah. 

Mereka yang memiliki pesantren, mengurus anak-anak yatim hingga anak-anak yang paling dibuang masyarakat. Mereka yang memiliki ilmu agama mendalam dan luas, menempuh pendidikan di pusat-pusat studi Islam di seantero tanah Arab, Afrika dan keseluruhan Maghribi. 

Mereka yang menghabiskan hari-hari dengan mengorbankan seluruh hidup bagi agama. Mereka yang babat alas, mendirikan pesantren mulai dari nol hingga menjadi madrasah besar. 

Mereka yang bergerak dalam diam, ketika para politisi berorasi di atas mimbar dan pengusaha mempertontonkan kesuksesan. Mereka yang  saat hidupnya dicari untuk dimintai nasehat, mereka yang saat wafatnya ditangisi para pelayat.

Maka membuat issue negatif terhadap ulama di Indonesia, tidak akan membuat masyarakat memanggil informasi negatif terhadap sosok tersebut. Sebab selama puluhan tahun, informasi yang tertanam di benak adalah keluhuran dan kemuliaan mereka. 

Memang, ada ulama yang lebih mencintai dunia dan tidak berpihak pada masyarakat yang menderita, namun prosentasenya sangat sedikit. Ribuan alim ulama di negeri ini, mendampingi masyarakat di saat-saat sulit. Memberikan nasehat agar rakyat selalu bersabar. 

Maka, kampanye hitam terhadap ulama, issue-issue negatif yang menyudutkan ulama, berita-berita bohong dan berita yang memicu kemarahan terkait ulama tidak akan mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi mulia ini. 

Sungguh, ulama adalah asset bangsa yang luar biasa, yang posisinya didapat bukan karena harta atau pangkat, tapi karena ilmu dan kemuliaan.

Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan pembelaan terhadap ketiga ustadz kami yang dituduh pelaku terorisme oleh pihak kepolisian Indonesia.

Saya Jumal Ahmad adalah murid dari ust Farid Ahmad Okbah, Ust Zain An-Najah dan Ust Anung Al-Hamat menyatakan bahwa mereka adalah orang baik, orang ikhlas dalam menyebarkan ilmu agama. Guru-guru kami tidak pernah mengajarkan kekerasan ataupun pemikiran teroris sebagaimana yang disebutkan kepolisian.

Kami menuntut kepada kepolisian untuk membebaskan guru-guru kami, karena guru-guru kami tidak pernah mengajarkan kekerasan maupun terorisme seperti yang kepolisian sangkakan.

Ustadz Farid Okbah yang Saya Kenal

Pertama kali kenal dengan Ustadz Farid Okbah ketika beliau berkunjung pesantren tempat saya belajar di Cirebon, Nurul Hadid akan mendapatkan dana guna membangun masjid dari salah satu yayasan Islam dari negara Qatar, ketika itu mestinya ada syaikh dari sana yang melihat-lihat tempat yang mau dibangun masjid, karena berhalangan digantikanlah sama Ust Farid Okbah.

Selanjutnya saya sering dengar cerita tentang beliau, bahwa beliau adalah penjaga perpustakaan Universitas Saudi LIPIA di Jakarta selama 13 tahun, konon beliau adalah juru pustaka pertama di Indonesia dan sudah sering diminta bagi ilmunya tentang kepustakaan di beberapa universitas.

Hal lain yang sempat saya dengar kalau beliau menghafal habis kamus Mahmud Yunus, kamus sedang yang sudah sangat dikenal oleh anak pesantren manapun. Nah, ini sempat saya praktekkan meskipun gak berselang lama, tapi saya merasakan manfaat sendiri dari kegiatan menghafal kamus itu seperti lebih cepat mencari sebuah kosa kata, memperbanyak perbendaharaan kata untuk percakapan dan baca kitab khususnya.

Selesai dari LIPIA beliau kemudian melanjutkan belajarnya secara mulazamah kepada Syaikh Muhammad Utsaimin di Makkah Al-Mukarromah, beliau sangat rajin mencatat dan mendengarkan ceramah-ceramah Syaikh Utsaimin, bahkan saking rajinnya, beliau rekam ceramah Syaikh Utsaimin dan beliau dengar secara berulang-ulang lewat tape recordernya dimana beliau berada, berjalan atau ke perpustakaan beliau sambil dengarkan ceramah Syaikh Utsaimin, cara ini sangat baik untuk mendapatkan ilmu dan banyak diikuti teman-teman beliau saat itu.

Sungguh saya merasa terkesan dengan ustadz Farid Okbah dalam banyak cara beliau mengajar, menjelaskan ilmu dan pendekatan kepada para santri dengan contoh dan makna-makna.

Cara mengajar beliau bisa dilihat dalam program pendidikan di Pesantren Tinggi Al-Islam tempat saya belajar dahulu. Ust Farid Okbah melandasi program disana dengan Atsar dari Ibnu Mubarok  

“لَا يُفْتِي المُفْتِي حَتَّى يَكُوْنَ عَالِمًا بِالْأَثَرِ بَصِيْرًا بِالْوَاقِعِ”

“Tidaklah seorang memberikan fatwa sehinga dia mendalami atsar dan mengetahui konsteks”

Maka kami, para murid beliau ditugaskan untuk membaca dan meringkas kitab-kitab para ulama, setiap jurusan seperti aqidah, hadits dan fiqih ada kitab-kitab tertentu yang harus diringkas dan diterjemahkan kemudian dipresentasikan kepada seluruh mahasantri.

Selain mendalami atsar, kami juga dilatih melihat konteks masyarakat sekitar. Daerah Kampung Sawah yang menjadi salah satu pusat kristenisasi menjadi salah satu wadah kami belajar konteks dakwah, bahwa berdakwah harus dengan cara yang baik dan bijak. Maka ketika ada yang menyangkutkan beliau dengan tindakan terorisme adalah hal yang tidak layak dan menduga-duga karena pakem dakwah beliau yang anti terhadap kekerasan dan terorisme.

Demikian pula dengan akhlak beliau yang bisa bercanda dengan anak-anak kecil dan ramah kepada orang-orang besar. Saya pun terkesan dengan perhatian beliau terhadap aqidah dan tauhid umat karena aqidah merupakan benteng pertahanan keyakinan seorang muslim yang hari ini banyak di serang oleh elemen-elemen di luar Islam, salah satunya lewat kristenisasi dan gerakan Syiah.

Ustadz Zain An-Najah yang Saya Kenal

Pertama kali bertemu dengan beliau ketika ada pshicotest di Pesantren Tinggi Al-Islam, saya merasa heran karena rupanya direktur al-Islam ini bertubuh pendek, jauh dari perkiraan saya awalnya. Dan saya bertambah heran lagi setelah lebih banyak mengenal kedalaman dan luasnya ilmu beliau.

Semasa kuliah saya menganggap beliau sebagai motivator, terkadang beliau bercerita di kelas tentang pengalamannya berjuang menuntut ilmu di Universitas Islam tertua di dunia, Al-Azhar, atau membacakan dan membahas artikel motivasi dari internet lewat laptopnya.

Beliau orang yang kreatif, beliaulah yang memberi semangat kepada saya untuk menjlentrehkan ilmu pengetahuan lewat aktifitas bloging. Ketika itu beliau mengharuskan setiap mahasiswa untuk membuat acount blog, baik blogspot atau wordpress, dan saya membuat blog wordpress ini yang alhamdulillah tetap saya kelola sampai sekarang.

Beliau juga orang yang nyentrik, contohnya saja dalam membuat karya tulis atau project paper, ia tikda setuju dengan model indonesia yang tidak komprehensif katanya, karya tulis indonesia intinya hanya ada di bab terakhir saja. Ia lebih suka model karya tulis arab yang meletakkan latar belakang dan sebagainya sebagai pendahuluan, dan bab pertama sudah masuk ke dalam isi pembahasan.

Bahasanya jelas, tidak membingungkan pendengar dengan perbedaan fiqih, dan humoris sehingga pendengarnya tidak merasa bosan dengan kuliahnya.

Saya punya pengalaman menjadi asisten beliau selama beberapa waktu selepas dari Al-Islam dan tinggal di rumahnya. Rumahnya sederhana namun di ruang tamunya berjejer tiga lemari besar berisi kitab-kitab Arab, beliau seorang pemberani karena beliau berani mengendarai mobil sendiri dan pergi mengisi taklim sendiri. Beliau pun termasuk orang tua yang baik dan memiliki perhatian besar terhadap pendidikan anak.

Di Alislam saya masuk angkatan awal, angkatan keempat. Waktu itu banyak teman yang mendaftar bersama saya, kurang lebih 25 peserta mahasiswa. Setelah Ospek, saya ingat sekali, Ust Anung mengumumkan program baru di Alislam yaitu program tahfidhul quran, yang wajib diikuti semua mahasiswa.

Program ini dicetuskan oleh Ust Zain Annajah yang kebetulan baru selesai doktor di Mesir kemudian diminta menjadi pimpinan Alislam. Langkah ini sangat bagus, karena para ulama dahulu sebelum belajar ilmu lain, terlebih dahulu menghafal Alquran.

Setelah diumumkan, beberapa teman berguguran, ada yang bilang terlalu berat, menghafal 1 ayat saja susah apalagi harus setiap hari setor hafalan. Dari yang awalnya 25 menjadi 16 mahasiswa.

Setelah dicoba, ternyata menghafal Alquran sambil belajar ilmu ilmu lain, membaca kitab dan menyiapkan presentasi bisa kita lakukan dan hasilnya maksimal. Jika kemampuan dan fokus kita optimalkan maka kita akan kaget, ternyata saya bisa begini, saya bisa begitu, menghafal Alquran sambil belajar ilmu lain, agama atau eksakta bahkan bisa kita lakukan.

Ustadz Anung Al-Hamat yang Saya Kenal

Ustadz Anung Al-Hamat adalah guru kepenulisan saya selama di Al-Islam dan orang yang mengenalkan Ilmu Tafsir dan Ilmu Hadits kepada saya.

Dahulu saya menjadi editor majalah Al-Islamu yang terbit setiap jumat dan diterbitkan ke masjid-masjid untuk dibaca sebelum khutbah. Setiap artikel yang mau terbit harus mendapatkan koreksi dan coretan dari beliau. Lewat coretan-coretan beliau, secara tidak langsung saya belajar menulis dengan baik.

Ustadz Anung pertama kali mengenalkan Kitab-Kitab dalam Ilmu Tafsir di antaranya kitab-kitab karya Musaid At-Thayyar dan Fahd Ar-Rumi yang banyak menjadi penuntut ilmu dalam bidang tafsir. Ustadz Anung dalam mata kuliahnya tentang ilmu hadis, mengenalkan kepada kami metode Imam Bukhari dalam menulis hadis, beliau juga mengenalkan kepada kami sistematika pembahasan ilmu hadis dari pra Ibnu Shalah, masa Ibnu Shalah, dan pasca Ibnu Shalah, hadis ahad, hadis menurut Ahmadbiyah, hadis menurut Syiah.

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com

Tinggalkan komentar