Yusuf Alaihis Salam, Terjaga karena Ihsan

Di postingan kami dahulu pernah menulis artikel bertema ‘Menyingkap kebenaran dibalik kisah Nabi Yusuf aslaihis salam dan Zulaikha’. Bahwa apa yang terjadi antara Yusuf Alaihis salam dan Zulaikha istri Al-Aziz bukan atas kehendaknya, tidak mendatangi dan tidak mengetuk pintu kamarnya, yang mengikuti kisah ini akan tahu kebenaran kisahnya. Silakan kunjungi tautan ini.

Di surat ini, Allah Subhanahu Wata’ala menggambarkan Yusuf Alaihis salam sebagai orang yang suka berbuat baik (Muhsin), sifat ihsan ini sangat melekat dalam diri beliau. Dia ber-ihsan kepada dirinya, istri Al-Aziz dan Al-Aziz sehingga ihsan-nya terpancar ke berbagai sisi.

Dia berbuat ihsan kepada dirinya ketika tertimpa musibah dan ujian, sekiranya orang lain merasakan penderitaan sebagaimana yang dirasakan Yusuf tidak akan kuat menanggung derita, putus asa dan berkeluh kesah, tetapi Yusuf Alaihis salam sama sekali tidak demikian, dia tetap tegar, hatinya bening dan jiwanya selalu ridha.

Dia berbuat ihsan kepada istri Al-Aziz ketika tidak menjawab ajakan Zulaikha, ini termasuk bentuk ihsan yang agung karena sang Zulaikha sedang berada dalam keadaan syahwat yang kuat dan tak berfikir hal-hal buruk selanjutnya. Demikian juga dia telah berbuat ihsan kepada tuannya Al-Aziz dengan menjaga kehormatannya.

Di ayat ke 23 surat Yusuf, ketika Zulaikha menggoda Yusuf Alaihis salam untuk menundukkan dirinya dan menutup pintu-pintu, dia mengucapkan ‘ma’adzallah’ yang artinya aku berlindung kepada Allah yang memunculkan semburat iman dari jiwa dan memuntahkan daya Zulaikha, inilah makna Ihsan yang disebutkan dalam hadits Jibril ketika Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ditanya tentang Ihsan dan lalu dijawab: Ihsan yaitu engkau beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tak berdaya melihat-Nya maka yakinilah bahwa Allah Subhanahu Wata’ala melihatmu.

Pada keadaan ini Yusuf Alaihis salam telah sampai pada bentuk ihsan dalam makna iman karena dia langsung kembali kepada Allah dan tidak melupakan-Nya waktu itu bahkan tetap berpegang teguh pada-Nya dengan mengatakan ‘Aku berlindung kepada Allah’, inilah ihsan engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tak berdaya melihat-Nya maka yakinilah bahwa Allah melihatmu.

Hakikat Ihsan

Kata Ihsan secara bahasa berarti lawan dari berbuat buruk, isim mashdar dari kata ahsana dan secara istilah berarti Ityanul bil mathlub syar’an ala wajhi hasan atau melakukan sesuatu dengan paling baik dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah menjelaskan arti Ihsan dalam hadits Jibril yang sangat terkenal.

: [أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ]

Seseorang beribadah seakan-akan dia sedang menghadap Allah, dan hal ini mengharuskan dia merasa takut dan mendekat dan mengharuskan dia beribadah sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Lalu nabi menyebutkan jika seseorang belum bisa sampai derajat ini maka hendaknya ia tahu bahwa Allah mengetahui apa yang dia kerjakan, tidak akan tersembunyi, dan kelak akan diberi balasan kebaikan atau keburukan, maka pastinya orang yang berakal akan selalu ingat bahwa Allah dekat sehingga ia berbuat yang terbaik karena berharap pahala dari sisi-Nya dan takut akan adzab bagi orang yang berbuat jelek.

Ulama tafsir berbeda pendapat pada ayat “إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ” (يوسف: من الآية23), apakah dhamir rabbi kembali ke Allah Subhanahu Wata’ala atau ke tuannya. Kedua pandangan ini adalah yang paling dikenal.

Syaikh Prof. Dr. Nashir bin Sulaiman Al-Umr lebih merajihkan pendapat dhamir rabbi kembali ke tuannya, karena pesan Al-Aziz kepada istrinya; “وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ مِصْرَ لِامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ” (يوسف: من الآية21) “Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik”. Sighah rabbi adalah sayyidii telah memberikan tempat dan layanan yang baik maka tidak layak bagiku untuk mengkhianatinya, tidak mungkin orang yang sudah berbuat baik kepadaku, memperlakukan aku layaknya seorang tuan dan bukan seorang budak dan pelayan lalu aku balas dengan perbuatan zalim ini.

Tafsir ini tidak lantas menafikan makna bahwa rabbi kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Dialah yang telah memberikan tempat yang baik, Dia lunakkan hati Al-Aziz untuk memulaiakn Yusuf.

Lihatlah pengaruh dari sebuah kebaikan, lihatlah bagaimana Anda bermuamalah terhadap bawahan atau pembantumu. Jika Engkau berbuat baik, ia akan menjaga harga diri kita. Yusuf Alaihissalam tidak pernah mengkhianati nasihat ini. Banyak dari permasalahan di dalam rumah atau kantor baik berupa pencurian, pembunuhan karena perilaku buruk kepada pembantu. Al-Aziz memberikan contoh Ihsan sejak pertama kali mengambil Yusuf Alaihissalam.

Ayat lain yang menyebutkan sifat ihsan Nabi Yusuf Alaihissalam adalah ayat setelah Nabi Yusuf menjadi penguasa dan bendaharawan negeri Mesir.

وَقَا لَ  الْمَلِكُ  ائْتُوْنِيْ  بِهٖۤ  اَسْتَخْلِصْهُ  لِنَفْسِيْ   ۚ فَلَمَّا  كَلَّمَهٗ  قَا لَ  اِنَّكَ  الْيَوْمَ  لَدَيْنَا  مَكِيْنٌ  اَمِيْنٌ

“Dan raja berkata, Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilih dia (sebagai orang yang dekat) kepadaku. Ketika dia (raja) telah bercakap-cakap dengan dia, dia (raja) berkata, Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi di lingkungan kami dan dipercaya.” (QS. Yusuf: 54)

قَا لَ  اجْعَلْنِيْ  عَلٰى  خَزَآئِنِ  الْاَ رْضِ   ۚ اِنِّيْ  حَفِيْظٌ  عَلِيْمٌ

“Dia (Yusuf) berkata, Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)

وَكَذٰلِكَ  مَكَّنَّا  لِيُوْسُفَ  فِى  الْاَ رْضِ   ۚ يَتَبَوَّاُ  مِنْهَا  حَيْثُ  يَشَآءُ   ۗ نُصِيْبُ  بِرَحْمَتِنَا  مَنْ  نَّشَآءُ   ۚ وَلَا  نُضِيْعُ  اَجْرَ  الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini (Mesir); untuk tinggal di mana saja yang dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56)

Kekuasaan yang diberikan Allah kepada Nabi Yusuf Alaihissalam ini sebagai balasan atas ihsannya dalam beribadah kepada Allah dan ihsannya dalam bermuamalah kepada manusia. Karena orang-orang yang berinteraksi dengan Nabi Yusuf Alaihissalam di dalam penjara juga memberikan kesaksian bahwa Nabi Yusuf as menunjukkan sifat dan sikap ihsan kepada mereka.

وَدَخَلَ  مَعَهُ  السِّجْنَ  فَتَيٰنِ   ۗ قَا لَ  اَحَدُهُمَاۤ  اِنِّيْۤ  اَرٰٮنِيْۤ  اَعْصِرُ  خَمْرًا   ۚ وَقَا لَ  الْاٰ خَرُ  اِنِّيْۤ  اَرٰٮنِيْۤ  اَحْمِلُ  فَوْقَ  رَأْسِيْ  خُبْزًا  تَأْكُلُ  الطَّيْرُ  مِنْهُ   ۗ نَبِّئْنَا  بِتَأْوِيْلِهٖ   ۚ اِنَّا  نَرٰٮكَ  مِنَ  الْمُحْسِنِيْنَ

Dan bersama dia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah satunya berkata, Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur, dan yang lainnya berkata, Aku bermimpi, membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung. Berikanlah kepada kami takwilnya. Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 36)

Demikian pula sifat dan sikap ihsan Nabi Yusuf Alaihissalam kepada saudara-saudaranya yang pernah menzaliminya sehingga mereka pun memberikan kesaksian tentang sifat dan perlakuan ihsan Nabi Yusuf Alaihissalam:

قَا لُوْا  يٰۤاَ يُّهَا  الْعَزِ يْزُ  اِنَّ  لَهٗۤ  اَبًا  شَيْخًا  كَبِيْرًا  فَخُذْ  اَحَدَنَا  مَكَا نَهٗ   ۚ اِنَّا  نَرٰٮكَ  مِنَ  الْمُحْسِنِيْنَ

“Mereka berkata, Wahai Al ‘Aziz! Dia mempunyai ayah yang sudah lanjut usia, karena itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 78)

Syaikh Adil Muhammad Khalil dalam buku terjemah ‘Tadabbur Al-Quran: Menyelami Makna Al-Quran dari Surat Al-Fatihah sampai An-Nas; menyebutkan beberapa faidah dalam surat Yusuf, saya tulis ulang agar menjadi faidah dan ringkasan ilmu dari Surat Yusuf.

  1. Pengulangan penyebutan ihsan dan kata-kata yang berasal dari derivasinya. Disebutkan pula beberapa kebaikan yang berasal dari Nabu Yusuf Alaihissalam: 1) Ia mengajak dua pemuda dalam penjara untuk beribadah kepada Allah. 2) Ia tidak cukup menafsirkan mimpi raja Mesir, tetapi juga menambahkan tafsiran sesuatu dari dirinya. 3) Ia tidak mencela saudara-saudaranya dan tidak pula membalas perbuatan mereka, namun memaafkan mereka.
  2. Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan bahwa Dia telah memberikan kedudukan kepada Yusuf Alaihissalam di atas muka bumi semenjak kecil.
  3. Yusuf Alaihissalam menggunakan kemampuan menafsirkan mimpi untuk berdakwah dan bukan mencari dunia.
  4. Kuatnya tawakal Nabi Ya’qub Alaihissalam tidak mencegahnya mengambil sebab akibat ketika ia khawatir sifat hasad dari anak-anaknya.
  5. Ketika cobaan menimpa Ya’qub Alaihissalam dengan hilangnya anaknya bernama Benyamin, prasangka kepada Allah semakin kuat dan keyakinan semakin besar akan pertolongan Allah.
  6. Meminta maaf kepada orang yang lebih tua lebih mudah daripada meminta maaf kepada orang yang lebih muda.

Sumber: Disarikan dari Makalah berjudul الإحسان سبب لصيانة الإنسان  oleh Prof. Dr. Nashir bin Sulaiman Al-Umr dan dikembangkan dengan referensi tulisan lainnya.

Tinggalkan komentar