Besar Pahala sesuai Kadar Kesusahan

Kaidah Ushul Fiqih berbunyi

زيادة المشقة زيادة الأجر

Bahwa besar pahala sesuai kadar kesusahan.

Kaidah ini dinisbahkan kepada Imam Al-Qarafi dalam kitabnya Al-Qawaid 2:411 dan Imam As-Suyuthi menyebutkan redaksi lain berbunyi ما كان أكثر فعلًا؛ كان أكثر فضلً (amalan yang lebih banyak pengorbanan, lebih banyak keutamaan) dalam kaidah ke-19 dalam kitab Al-Asbah wan Nadhair hal. 268.

Kaidah ini dirumuskan berdasarkan hadist riwayat Imam Muslim dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah bersabda:

قال رسول الله : اجرك على قدر نصبك

“Besarnya pahalamu tergantung pada usahamu.”

dalam redaksi lain, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya:

أي الأعمال أفضل؟ قال: «أَحْمزها»

Amalan apakah yang paling utama, Beliau menjawab: ‘yang paling susah dan payah’.

Ibnu Qayyim menyatakan hadis ini tidak ada dasar periwayatan, dan Ibnul Atsir menyandarkan pernyataan ini dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu.

Orang yang melakukan ibadah dan merasakan adanya beban yang lebih berat, maka secara otomatis akan mendapatkan nilai lebih. seperti halnya orang yang melakukan tiga rakaat shalat witir dengan cara dipisah ( dua kali salam), akan lebih baik daripada mengerjakannya dengan cara disambung (satu kali salam). Hal ini terjadi karena shalat witir dengan cara dipisah didalamnya terkandung unsur-unsur niat, takbirotul ihrom, dan salam, yang notabene nya lebih banyak dibanding dengan shalat witir dengan cara di sambung.

Jika ada dua orang melakukan satu perkara misalnya belajar. Satu orang melakukan belajar di atas meja yang nyaman, satu lagi harus belajar dengan kegelapan. Kedunya mendapatkan pahala belajar, namun yang kedua mendapat pahala lebih karena susah payahnya.

Terkait dengan fenomena Corona saat ini, kaidah menjadi berita gembira bagi orang Islam dimana rahmat syariah Allah turun kepada orang-orang yang sedang mengalami kesusahan baik secara fisik, mental dan emosional.

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda;

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridha (menerimanya) maka Allah akan meridhainya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Secara makna, hadis itu dikuatkan oleh riwayat Ahmad dari Suhaib, sebagai berikut:

عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ مَعَ أَصْحَابِهِ إِذْ ضَحِكَ فَقَالَ أَلَا تَسْأَلُونِي مِمَّ أَضْحَكُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمِمَّ تَضْحَكُ قَالَ عَجِبْتُ لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنْ أَصَابَهُ مَا يُحِبُّ حَمِدَ اللَّهَ وَكَانَ لَهُ خَيْرٌ وَإِنْ أَصَابَهُ مَا يَكْرَهُ فَصَبَرَ كَانَ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ كُلُّ أَحَدٍ أَمْرُهُ كُلُّهُ لَهُ خَيْرٌ إِلَّا الْمُؤْمِنُ

Dari Shuhaib, ia berkata, “Saat Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau tertawa, beliau bersabda, ‘Apakah kalian tidak bertanya kepadaku kenapa aku tertawa?’ Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang Tuan tertawakan?’ Beliau bersabda, ‘Aku kagum akan hal ihwal orang mumin, bila mendapat kesenangan ia memuji Allah dan dan bersyukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah ia bersabar dan kesabaran itu baik baginya, tidak semua orang yang seluruh hal ihwalnya baik kecuali orang mumin.” (HR. Ahmad)

Semoga semakin beratnya cobaan semakin besar pula pahala yang akan didapatkan.