Menembus Pedalaman Siberut di Salappa, Ugai dan Buttui

Jalur sungai Siberut dari muara sampai hulu sering ramai dilalui perahu boat dan mesin tempel. Terutama untuk membawa rombongan turis dari Eropa menuju pedalaman Mentawai. Setiap kapal yang turun di Muara Siberut, pasti ada turis asing yang turun. Tujuan mereka tidak ada yang lain adalah daerah pedalaman Mentawai. Mereka ingin melihat kehidupan orang asli Mentawai, berbaur dengan mereka dalam beberapa hari.

Dari Siberut Hulu bermuara dua anak sungai yaitu Sungai Silaoinan dan  sungai Sararekat. Di Hulu sungai Silaoinan terdapat Dusun Salappa dan di hulu sungai Sararekat terdapat Dusun Madobak, Rokdog, Matotonan dan Buttui. Dusun Salappa dan Buttui merupakan desa binaan APB bekerjasama dengan BUMN.

Salappa

Salappa merupakan dusun tua di hulu sungai Siberut. Terletak di pinggir sungai Silaoinan. Sebagai desa tua, Salappa telah dihuni oleh orang asli Mentawai sejak nenek moyang mereka. Disini terdapat 10 suku. Rumah-rumah mereka tersusun teratur dan rapi. Masyarakatnya ramah dan bersahabat.

Penduduk muslim di Salappa baru 30%, sisanya adalah penganut kristen, walaupun mereka jarang pergi ke gereja.

Di Dusun ini terdapat sebuah gereja Katolik yang cukup besar, yang terletak di atas puncak bukit di ujung desa. Gereja ini juga berfungsi sebagai SD Santa Maria, cabang dari Muara Siberut. SD Santa Maria merupakan satu-satunya sekolah disini. Pelajaran agama yang diberikan hanyalah agama Kristen, maka anak-anak Islam tidak mau belajar di sekolah ini. Banyak dijumpai anak-anak Islam waktu jam belajar hanya tinggal di rumah atau bermain dengan sesama mereka.

Pada akhir 1988, telah dibangun sebuah mushalla di Salappa melalui gotong royong warga. Bangunan mushalla saat itu sangat mendesak karena pihak Kristen disini telah mempunyai gereja yang cukup baik, sementara umat Islam belum memiliki fasilitas ibadah yang memadai. Mushalla ini selesai pada tahun 1989 dan dapat berfungsi dengan baik. Salah satu da’i waktu itu adalah Muhsinin Batubara, berasal dari Sibolga, Muhsinin inilah yang membina umat Islam di Salappa dengan penuh kesabaran.

APB selanjutnya masuk Salappa  sekitar tahun 2017, kita masuk ke desa ini melalui Islah Batubara yang merupakan ketua APB di Mentawai dan anak dari Muhsinin Batubara. APB masuk ke dusun ini dengan membangun PAUD Tunas Bakti Bangsa yang bekerjasama dengan BUMN. PAUD ini merupakan cabang dari PAUD di Dusun Buttui yang sudah dibangun sebelumnya.

Air merupakan barang mahal di Salappa, sudah beberapa kali APB ngebor air puluhan meter namun belum juga selesai, sampai kami mendatangkan ahli geolistrik dari Jakarta untuk mencari titik air bersih. Jika titik ini berhasil dan ditemukan air bersih, insya Allah akan memudahkan dakwah Islam di Salappa.

Guru PAUD di Salappa saat ini adalah putra daerah bernama Rushdi. Dia sedang berusaha agar PAUD ini bisa diterima dan terdaftar secara resmi ke Dirjen PAUD. Saat ini sudah ada 30 lebih anak belajar di PAUD ini. Melihat perkembangan anak PAUD yang pesat ini maka APB berencana membangun satu lokal tambahan untuk kelas dan satu bangunan untuk rumah guru PAUD.

Semoga dengan PAUD dan pembangunan lainnya, Dusun Salappa akan berpotensi berkembang di masa mendatang.

Ugai

Dusun Ugai merupakan dusun bagian dari desa Madobak yang terletak di hilir sungai Sarareket yang airnya deras di waktu musim hujan dan kering di waktu musim kemarau. Bila musim hujan di hulu, daerah ini bisa ditempuh selama 7 jam sampan boat 15 PK dari Muara Siberut tanpa perlu turun dari boat untuk mendorong perahu. Dan jika musim kemarau, daerah ini bisa dijangkau dengan selama 7 jam dengan sesekali turun dari boat untuk mendorong kapal karena boat terbentur batu.

Mayoritas penduduk Ugai beragama Katolik, disini terdapat sebuah SD Swasta Santa Maria yang berafiliasi dengan Santa Maria di Siberut, selesai dari SD mereka meneruskan pendidikan SMP Negeri di Muara Siberut. Selama menempuh pendidikan di Muara Siberut, para pelajar ditampung di asrama yang dikelola oleh pastoran. Setiap murid mendapatkan beasiswa dan segala keperluan seperti buku dan pakaian.

Pembinaan muallaf di Ugai harus lebih intensif. Jumlah mereka setiap saat bertambah, karena adanya perbedaan kehidupan yang menyolok. Ada perubahan kontras dalam cara kehidupan sehari-hari bagi yang telah menerima Islam sebagai agamanya, terutama dalam berpakaian dan memilih apa yang dimakan.

Pembuatan sebuah rumah ibadah sederhana di dusun Ugai mutlak sekali. Tanah itu telah ada dan letaknya strategis sekali. Beberapa waktu yang lalu datang rombongan dari Islamic Center ke Ugai yang ingin membangun masjid di sana, namun sebagian warga menyangsikan mereka karena biasanya masjid yang dibangun tidak dikelola pengurusannya, hanya membangun kemudian ditinggalkan. Warga lebih senang jika APB yang membangun karena sudah terbukti dengan ramainya masjid di Dusun Buttui dan ada dai yang membina masyarakat 24 jam.

Dai APB yang berada di Dusun Buttui yaitu saudara Wandi dan Fikri setiap hari Ahad pergi ke Ugai dengan jalan kaki dari Buttui untuk memberikan dakwah kepada para muallaf disana. Ketua muallaf di Ugai bernama…

Pada hari Ahad saya ikut bersama mereka ke Ugai untuk berdakwah dan memberikan bantuan dari APB berupa pakaian, mukena, sarung dan sajadah. Ini diperlukan para muallaf agar mereka lebih rapi dalam beribadah.

Buttui

Dusun Buttui merupakan dusun bagian dari desa Madobak yang terletak di hilir sungai Sarareket, Buttui lebih Hulu dari dusun Ugai.

Ust. Arifin Jayadiningrat lewat APB dalam membangun peradaban di Dusun Buttui, butuh perjuangan dan kesabaran, apalagi Sikerei sendiri hingga kini masih dianggap sebagai orang yang memiliki kekuatan supranatural. Bahkan semakin banyak tubuh Sikerei diberi tato, maka semakin tinggi kekuatannya.

Pertama kali beliau datang ke Buttui di medio 2012, beliau diancam pakai parang oleh kepala suku-nya. Bahkan parang tersebut sudah diarahkan ke kepalanya.

Setelah diterima kemudian APB mulai melakukan pendekatan sembari membangun peradaban di Buttui secara perlahan-lahan. Awalnya, membangun pendidikan dengan mendirikan PAUD dan TK di Buttui. Setelah itu didirkan masjid, aula, klinik kesehatan, dan taman baca.

Satu persatu dari keluarga Sikerei kemudian mulai terbuka dengan dunia luar, dan sudah mengenal pendidikan. Bahkan sebagian besar dari Sikerei itu sudah mulai mengenakan baju, terutama yang perempuan

Setelah membangun pendidikan, maka satu persatu dari Sikerei memeluk Agama Islam, begitu juga dengan kepala suku beserta keluarganya yang telah menjadi mualaf.

Tugas dai di pedalaman Mentawai sangat berat. Ia harus langsung menjadi motivator terhadap penduduk asli dalam berbagai bidang baik pertanian, peternakan dan keagamaan. Saat ini sudah dibangun oleh APB kawasan yang akan menjadi pusat perkampungan Islam di pedalaman Mentawai yaitu Kawasan Bakti Bangsa di Dusun Buttui, tempat ini diharapkan menjadi tempat percontohan untuk daerah lain di pedalaman Mentawai.

Beberapa hal yang sudah dibangun di KBB adalah.

1. Masjid Al-Fattah, yang digunakan oleh dai dan masyarakat Buttui untuk shalat berjamaah dan belajar agama.

Masjid Al-Fattah

2. Balai pertemuan Buttui, didirikan oleh Bank Mandiri yang diperuntukkan sebagai tempat berkumpul warga Buttui.

Balai Pertemuan

3. PAUD Tunas Bakti Bangsa, PAUD ini sudah terdaftar secara resmi dan telah menjadi PAUD percontohan di Siberut Selatan.

PAUD Tunas Bakti Bangsa

4. Perpustakaan. Dibangun oleh Bank Mandiri sebagai pusat perbukuan di Buttui, namun manfaatnya belum Banyak terasa karena kemampuan membaca masyarakat yang masih rendah Dan bukunyanh ada hanya bertahan 2 Bulan saja. Wacana ke depan, perpustakaan ini akan diisi dengan konten audio visual berkaitan cara bertani, berternak dan edukasi anak-anak.

Perpustakaan

5. Klinik Dusun Buttui, dibangun oleh Jasindo, klinik menyediakan obat-obatan yang dibutuhkan warga. Kurang lebih 10 orang datang setiap hari meminta obat di klinik ini.

Klinik Dusun Buttui

6. Arena Bermain, yang sudah ada yaitu lapangan futsal, lapangan voli, lapangan takarau dan yang masih kurang adalah play ground untuk anak-anak dibawah 7 tahun.

Lapangan Futsal
Lapangan Takarau
Lapangan Voli

7. Asrama Putra dan Putri. Asrama yang berisi anak-anak dari Dusun sekitar Buttui yang belajar agama sambil sekolah di luar.

8. Rumah Guru

Tinggalkan komentar