Idul Adha di Desa Atas Awan, Prampelan, Adipuro

Desaku ngangeni dan membuat saya selalu ingin pulang. Seringkali setiap pulang saya manfaatkan dua hal yaitu untuk mencharge semangat saya dan untuk meminta ridho dan restu orang tua atas apa yang sedang saya lakukan, bagi samya ridho orang tua sangat penting, ibarat dua sayap malaikat kehidupan, sampai tiap kali ingat mereka membuat saya menangis lantaran ingat perjuangan mereka membesarkan dan mendidik saya di waktu kecil. Ketemu teman dan saling nasehat menasehati pun cukup men-charge semangat saya.

Desa saya dekat dengan gunung Sumbing mungkin kalau gunung itu meletus, desa saya yang pertama merasakan letusan karena yang paling dekat dengan puncak sumbing, cuma beberapa kilometer saja.

Desaku namanya Prampelan, konon dahulu ada seorang  tentara yang bersembunyi dari kejaran musuh Belanda, membuka hutan dan menamakannya Prampelan, karena kebetulan nama tentara tersebut Ampel.

Tahun 2009 desa berganti nama menjadi Adipuro nama ini terinspirasi dari Al-Quran surat Saba’ ayat 32 yang berbunyi ‘Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur’ yang artinya negeri yang baik dan diridhai Allah yang Maha Mengampuni.

Dalam bidang pendidikan, desa saya menjadi percontohan sebagai desa yang maju pendidikannya di kecamatan. Sudah banyak berdiri lembaga pendidikan dari tingkat PAUD, TPA sampai tingkat SMP, dan salah satu dari lembaga tersebut adalah Pesantren Luqman Al-Hakim, tempat saya pertama kali mengenyam pendidikan pesantren dan juga sekolah formal.

Orang sudah banyak tahu kalo lebaran haji ini harga kambing dan sapi naik. Otomatis mengurangi jumlah orang yang berniat berkurban. Meski demikian, Tercatat tahun ini desa saya berkurban 56 kambing dan 6 sapi yang dibagikan kepada kurang lebih 750 kepala keluarga. Meski kurban kami sedikit, perayaan Idul Adha tahun ini tetap berjalan dengan khidmat.

Pembagian daging pun berjalan lancar sampai tidak ada warga yang tidak dapat jatah daging. Tidak seperti di berita hari ini, yang sungguh miris dan bikin ngelus dada. Bagaimana hanya rebutan daging seperempat kilo saja warga rela berdesak-desakan sampai ada seorang nenek mati terinjak-injak seperti di Istiqlal. Huh…apakah sedemikian murahnya nyawa rakyat ini sampai harus mati hanya karena seonggok daging. Di Cirebon lain cerita, masyarakat rela kepanasan mengantri jatah daging kurban sampai ada  anak-anak kecil yang menangis tergencet di kerumunan orang. Mestinya pola antri yang biasa di masyarakat perlu dievaluasi kembali agar kejadian semisal tidak terulang kembali.

Dan berikut ini beberapa moment shalat Idul Adha dan kurban di salah satu mushola dekat rumah yang sempat terekam kamera handphone saya.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Posted from WordPress for Android by Jumal Ahmad bin Hanbal

30 pemikiran pada “Idul Adha di Desa Atas Awan, Prampelan, Adipuro”

  1. Boleh mas, pertanyaan apa saja seputar fiqih akan saya jawab semampu saya kalo tidak bisa saya gak akan malu untuk bertanya pada yang lebih tahu agar jawaban nanti tidak berdasar nafsu tapi wahyu.

  2. Bagaimana hukum dan penjelasan seputar suami yang nusyuz pada istrinya, kan yang sering terjadi istri nusyuz pada suaminya. Minta penjelasanya. Matur nuwun sanget

  3. Terima kasih, kebetulan banget mas Adiep masalah itu sedang saya mencoba bahas beberapa hari ini karena ada pertanyaan serupa di salah satu komentar di blog ini. Insya Allah kalau jawabannya sudah siap akan saya share di komentar ini.

  4. Dulu saya pernah punya anti virus yang paling mantab namanya kill machine bisa membunuh virus komputer sampai ke akar-akarnya. Anti virus yang dikenal galak seperti Avira, Avg, terutama yg Avira bisa membunuh virus dan menghilangkan file yg terinfeksi virus.

    Tentang anti virus sih kalo kita sering online, pake yang biasa atau lokal kayak Smadav gak papa mas, apalagi buatan orang indonesia, sekalian cinta produk dalam negeri.

    Yang lebih diperhatikan itu sofware apa untuk menjaga stabilitas dan ketahanan perangkat komputer atau laptpop kita misal defragment atau tune up, kalo itunya dah bagus pake anti virus lokal aja gak papa asal sering di-update juga.

  5. Ya, ada hal atau suasana dimana suami nusyuz yaitu manakala seorang isteri merasa
    khawatir akan mendapat perilaku
    kasar dari suaminya; dan perlakuan
    yang kasar ini bisa berujung pada
    perceraian. Atau si suami tidak lagi
    peduli dan perhatian serta
    menyepelekan peran isterinya dan
    tidak pula ditalak, maka tidak
    mengapa bagi pihak wanita melakukan tindakan penyelamatan rumah tangga dari jalan kehancuran.

    Dalilnya adalah ayat Al-Quran berikut: ”Dan jika seorang wanita merasa khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya
    mengadakan perdamaian yang
    sebenar-benarnya. Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka). Walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap cuek), maka sejatinya Allah adalah Maha Mengetahui apa saja yang kamu kerjakan.” (An-Nisaa’:128).

    Perhatikan dipermulaan ayat dimana Allah swt menyebutkan ”Dan jika seorang wanita merasa
    khawatir akan nusyuz atau sikap
    tidak acuh dari suaminya, maka
    tidak mengapa bagi keduanya
    mengadakan perdamaian yang
    sebenar-benarnya.” (An-Nisaa’:128).

    Disini istri merasa prihatin dengan sikap suami dan segera bertindak sekiranya ada tanda-tanda awal suami akan nusyuz atau tidak melayaninya dengan baik.

    Nusyuz sendiri artinya tinggi atau sesuatu yang menonjol dari dalam. Dalam konteks ayat ini, suami bersikap tinggi diri, sombong, acuh tak acuh, ego dan bersikap ala diktator. Suami tidak melayaninya seperti memberi nafkah batin, kasih sayang, pelukan dan hubungan seks.

    Jika suami menunjukkan tanda awal negatif seperti ini, maka ayat Al-Quran di atas menyuruh istri segera bertindak. Tindakan pertama yang dilakukan adalah membuat perdamaian antara suami istri. Perdamaian secara umum lebih baik daripada perpecahan, perlakuan nusyuz dan
    perceraian, ”Dan perdamaian itu
    lebih baik (bagi mereka).” (An-
    Nisaa’ :128). Terlebih lagi jika dikaitkan dengan suasana masa sekarang, istri gampang minta cerai hanya karena sedikit masalah tanpa mengkompromikan terlebih dahulu, inilah yang membuat budaya kawin cerai menjamur bak cendawan di musim hujan. Hal serupa juga berlaku bagi pihak suami agar jangan cepat-cepat cerai tanpa melakukan perdamaian dahulu.

    Selanjutnya Manhaj Islam
    mendorong pihak suami untuk
    berbuat baik kepada isterinya yang
    tetap sayang kepadanya. Oleh sebab
    itu ia bersedia melepaskan sebagian
    haknya supaya ia tetap berada di
    bawah payung kekuasannya, dan
    manhaj Islam menjelaskan bahwa
    Allah mengetahui betul kebaikan
    dan sikap santun sang suami dan
    Dia akan memberinya balasan yang
    besar. Allah SWT berfirman,
    ”Walaupun manusia itu menurut
    tabiatnya kikir. Dan jika kamu
    bergaul dengan isterimu secara baik
    dan memelihara dirimu (dari nusyuz
    dan sikap cuek), maka sejatinya
    Allah adalah Maha Mengetahui apa
    saja yang kamu kerjakan.” (An-
    Nisaa’:128).

    Sebab turunnya ayat diatas
    diriwayatkan oleh Abu Daud dari
    hadits Hisyam bin Urwah dari
    bapaknya ia berkata, Aisyah r.a.
    berkata, ”Wahai anak saudara
    permpuanku (keponakan), adalah
    Rasulullah saw. tidak pernah
    mengutamakan sebagian di antara
    kami atas sebagian yang lain dalam
    hal giliran, yaitu beliau istirahat di
    rumah kami tidak sampai sehari
    melainkan beliau mengelilingi kami
    semua sehingga hampir setiap isteri
    tidak digauli, hingga beliau tiba di
    rumah isteri yagn mendapat jatah
    giliran lalu beliau bermalam di sana.

    Sungguh Saudah binti Zamlah ra,
    ketika sudah lanjut usianya dan
    khawatir ditinggal oleh Rasulullah
    saw berkata: ”Ya Rasulullah, giliran
    hariku untuk Aisyah, ’Maka
    Rasulullah saw. menerima
    pemberian itu dari Saudah.” Aisyah
    berkata, ’Pada waktu itu dan pada
    saat-saat yang mirip dengan itu,
    Allah SWT menurunkan firman-Nya,
    ’Dan jika seorang wanita khawatir
    akan nusyuz dari suaminya.” (Hasan
    Shahih: Shahih Abu Daud no:1868
    dan ’Aunul Ma’bud VI:172 no:2121).

    Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul
    ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-
    Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil
    ‘Aziz dan sumber yang lain.

  6. Kemarin saya sempat terheran dengan anda yg nulis komentar ini, namanya Adiep tapi ketika nulis link blog, blognya akhwat, terus ada yg nanya pertanyaan semisal yg blognya sama dg mas ini. He..he..gak usah ditanggapi ya…

    Kalo mau dijadikan skripsi bisa saja tuh, bagus malah. Akan lebih mudah kalo anda anak pesantren tinggi, biasanya banyak buku2 arab.
    Di akhir komentar di atas dah saya tulis kitab rujukannya, gunakan itu sebagai referensi utama, selanjutnya kembangkan dg mencari referensi lain dari maktabah syamilah, web berbahasa arab dan indonesia atau kitab2 pdf yg mendukung.

    Sementara begitu, jika ada yg kurang jelas bisa ditanyakan lagi.

  7. oh, mungkin saya salah, karena saya tidak begitu tahu dunia internet, jadi saya asal klik-klik saja, tapi itu bukan blog saya, saya belum punya blog, mungkin karena orang yang punya blog itu baru saja makai, atau yang lainya

Tinggalkan komentar