Konsep Khalifah sebagai Penyeimbang dalam Paradigma Pendidikan

Home » Konsep Khalifah sebagai Penyeimbang dalam Paradigma Pendidikan

Pendidikan yang ada saat ini lahir dari cara pandang makro, individu dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Konsep ini sesuai dengan tuntutan Revolusi Industri yang membutuhkan manusia dengan keterampilan seragam.

Sistem pendidikan pada masa itu dirancang agar setiap orang menguasai ilmu dan keahlian tertentu sesuai standar yang telah ditetapkan, dengan sekolah sebagai lembaga utama untuk mencapainya.

Selain itu, era tersebut juga menekankan pentingnya harmoni sosial. Solidaritas di antara individu diperlukan untuk menjaga stabilitas dan memudahkan pemerintah dalam mengatur masyarakat demi kesejahteraan bersama. Oleh karena itu, sekolah mengajarkan nilai-nilai kebangsaan melalui kegiatan seperti pembacaan ikrar, pengibaran bendera, dan lagu-lagu patriotik.

Namun, seiring perkembangan zaman, cara pandang ini mulai berubah.

Munculnya kesadaran tentang demokrasi menekankan bahwa setiap manusia adalah individu unik yang memiliki hak, suara, dan keistimewaan masing-masing. Mereka tidak seharusnya diperlakukan seperti produk massal yang seragam. Hal ini menggeser paradigma pendidikan dari sudut pandang makro ke mikro, di mana pembelajaran menjadi inti utama.

Pembelajaran terjadi di dalam diri setiap individu.

Kini, kontribusi seseorang terhadap masyarakat bukan lagi tujuan utama pendidikan, melainkan hasil alami dari individu yang berkembang sesuai potensinya.

Akibatnya, paradigma lama yang berbasis functionalism—yang menekankan pendidikan sebagai alat membangun masyarakat—mulai berbenturan dengan paradigma interactionism, yang lebih menyoroti pengalaman belajar individu.

2 Paradigma Mainstream Sosial Pendidikan

Dalam kajian sosiologi pendidikan, ada dua paradigma utama yang sering menjadi perdebatan:

  1. Functionalism (Pendekatan Makro)
    • Pendidikan dipandang sebagai alat untuk membentuk individu agar dapat berkontribusi kepada masyarakat.
    • Fokus utama adalah bagaimana pendidikan menciptakan keteraturan sosial, stabilitas, dan kesesuaian dengan kebutuhan negara dan dunia kerja.
    • Model ini sangat dominan pada masa Revolusi Industri, di mana sekolah berperan sebagai institusi untuk mencetak individu dengan keterampilan seragam guna memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosial.
  2. Interactionism (Pendekatan Mikro)
    • Pendidikan lebih menekankan pada pengalaman belajar individu dan bagaimana seseorang berkembang secara unik sesuai potensinya.
    • Setiap individu dianggap memiliki karakteristik dan cara belajar yang berbeda, sehingga pendidikan harus bersifat lebih personal dan fleksibel.
    • Model ini lebih relevan dalam dunia modern, di mana kreativitas, inovasi, dan keunikan individu semakin dihargai.
Baca juga:   Kurikulum PAI Kontra Radikalisme

Kedua paradigma ini sering kali berbenturan: Functionalism menekankan kepentingan masyarakat secara luas, sementara Interactionism lebih fokus pada perkembangan individu.

Menyeimbangkan Functionalism dan Interactionism dalam Pendidikan

Dalam Islam, manusia memiliki peran sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'” (QS. Al-Baqarah: 30)

Peran khalifah ini memberikan manusia tanggung jawab sosial terhadap sesama, lingkungan, dan kehidupan secara keseluruhan. Namun, pada saat yang sama, manusia juga adalah makhluk yang berpikir dan belajar, yang mengalami proses pertumbuhan dan pengembangan diri secara individu.

Di sinilah konsep khalifah berperan sebagai penyeimbang dalam paradigma pendidikan.

dalam Islam, peran khalifah mengajarkan keseimbangan antara keduanya.

  • Sebagai khalifah, manusia memiliki tanggung jawab sosial—ia harus berkontribusi bagi umat, membantu sesama, dan menjaga keseimbangan kehidupan. Ini sejalan dengan pendekatan functionalism yang melihat pendidikan sebagai alat membangun masyarakat.
  • Namun, untuk bisa menjalankan tugas ini dengan baik, seorang khalifah juga harus memiliki proses belajar dan berpikir yang kuat, agar mampu menggali potensi dirinya secara maksimal. Ini sejalan dengan pendekatan interactionism, yang menitikberatkan pada perkembangan individu.

Dengan kata lain, pendidikan berbasis konsep khalifah tidak hanya berorientasi pada kepentingan sosial dan ekonomi, tetapi juga menekankan perkembangan individu sebagai pembelajar sejati.

Pendidikan Berbasis Konsep Khalifah

Bagaimana konsep khalifah ini diterapkan dalam pendidikan?

  1. Pendidikan sebagai Sarana Menemukan dan Mengembangkan Potensi Diri
    • Setiap individu memiliki keunikan dan potensi yang diberikan oleh Allah. Pendidikan harus menjadi sarana untuk menemukannya, bukan hanya sekadar mencetak manusia yang seragam.
    • Dalam Islam, belajar adalah kewajiban setiap individu (thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim), karena ilmu adalah jalan untuk memahami diri dan peran kita di dunia.
  2. Pendidikan untuk Membentuk Kesadaran Sosial
    • Sebagai khalifah, manusia tidak boleh hanya mementingkan diri sendiri. Pendidikan harus menanamkan nilai-nilai sosial, empati, dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
    • Konsep ini terlihat dalam ajaran Islam tentang ukhuwah (persaudaraan), zakat, dan kepedulian terhadap sesama.
  3. Pendidikan yang Berorientasi pada Kebermanfaatan
    • Ilmu yang dipelajari harus menghasilkan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dalam Islam, ilmu yang tidak diamalkan atau tidak memberi manfaat bagi kehidupan dianggap tidak bernilai.
    • Pendidikan tidak boleh hanya sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus membentuk individu yang mampu memberikan solusi bagi permasalahan di sekitarnya.
  4. Keseimbangan antara Akal, Spiritual, dan Emosional
    • Pendidikan berbasis khalifah tidak hanya berfokus pada aspek kognitif (intelektual), tetapi juga aspek spiritual dan emosional.
    • Manusia tidak hanya dididik untuk menjadi pekerja yang produktif, tetapi juga pribadi yang memiliki kesadaran akan hakikat hidup, hubungan dengan Allah, dan tanggung jawab moralnya.
Baca juga:   Ujian Nasional, Antara Evaluasi dan Monitoring Kinerja Proses Pembelajaran

Kesimpulan

Konsep khalifah dalam Islam memberikan keseimbangan antara pendidikan berbasis functionalism (kepentingan sosial) dan interactionism (perkembangan individu).

  • Khalifah memiliki tugas sosial, sehingga pendidikan tidak boleh hanya bersifat individualistis dan bebas tanpa arah.
  • Khalifah juga adalah makhluk pembelajar, sehingga pendidikan harus memungkinkan individu untuk berkembang sesuai potensinya.

Dengan konsep ini, pendidikan dapat melahirkan individu yang cerdas, berkarakter, dan memiliki kesadaran untuk berkontribusi bagi masyarakat—sehingga menghasilkan sistem pendidikan yang lebih holistik dan harmonis.

Sumber:

Hasrizal Abdul Jamil, Konsep Khalifah Mengimbangkan Paradigma Pendidikan. Blog. 9 October 2018. https://saifulislam.com/konsep-khalifah-mengimbangkan-paradigma-pendidikan/

Profesor Al-Mahdi Jenkins dan Abdul Aziz Azimullah, Psikologi Islam Positif, Khalifah Education Foundation. Link Buku: https://khalifahstore.my/product/positive-islamic-psychology-a-transcendent-model-to-achieve-peace-happiness-and-success-in-21st-century/

Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *