Sejarah Masuknya Islam Ke Bumi Sikerei Mentawai

Meskipun umat Islam terbesar di dunia ada di Indonesia, keberadaan umat Islam di atas Bumi Sikerei-Mentawai tergolong minoritas. Umat Islam di Mentawai hanya sekitar lima persen.

Sejarah masuknya Islam di Mentawai belum bisa dibuktikan secara tertulis atau peninggalan benda kuno. Beberapa sumber (tokoh Islam) menjelaskan, bahwa Islam masuk ke Mentawai sekitar tahun 1800 terletak di Pasar Puat Pulau Pagai Utara. Namun menurut catatan Buya Masoed Abidin, seorang tokoh Muslim Sumatera Barat dalam bukunya, “Islam Dalam Pelukan Muhtadin Mentawai” menuliskan, Mentawai sudah didiami oleh orang-orang Islam (Melayu) dua ratus tahun lebih dahulu (1792, di Tunggul, Selat Sikakap, Pagai) menurut John Crisp ).

Sementara itu, Misionaris Kristen/Protestan baru mengenal Mentawai tahun 1901 di bawah Pendeta August Lett dan rekannya A. Kramer dari Jerman. Pastor Katolik baru menjejakkan kaki di kepulauan ini tahun 1954 di bawah Pastor Aurelio Cannizzaro.

Menurut Buya Masoed, bedanya, Misionaris Kristen masuk dengan Pendeta dan Pastor, sedang Islam masuk melalui orang-orang penganut Islam itu. Kemudian Islam berkembang di Pulau Sipora tahun 1930. Jejak ini dilacak berdasarkan pengakuan warga pribumi Mentawai sejak tahun 80 an sudah di Mentawai bersama keluarga menganut ajaran Islam. 

Dari segi kepercayaan, penduduk asli Mentawai terutama yang tinggal di daerah pedalaman masih menganut animisme, mereka mengagungkan roh nenek moyang dan percaya kepada benda-benda, seperti bebatuan, pepohonan, tengkorak binatang  dianggap memiliki roh dan kekuatan magis. Kepercayaan tersebut dinamakan arat sabulungan.

Pemerintah melakukan pemberangusan terhadap arat sabulungan pada tahun 1954. Pasca penghapusan kepercayaan asli  masyarakat lokal  jadilah Mentawai sebagai kawasan untuk penyebaran agama-agama resmi, seperti Zending Kristen Protestan dan Katolik, serta Islam.

Dalam buku berjudul Citra Kabupaten Mentawai dalam Arsip yang diterbitkan Arsip Nasional RI (2017) menyebutkan,  penyebaran ajaran Kristen pertama kali di Pagai Utara dan Kepulauan Nassau Kecil pada tahun 1902, sejalan dengan datangnya misi keagamaan dari pemerintah Kolonial Hindia Belanda, kemudian dikenal pula agama Islam.

Protestan gencar melakukan misinya dengan cara menitiberatkan pada peningkatan ekonomi, pendidikan dan pertukangan. Sedangkan misionaris Katolik dari Keuskupan Padang juga tidak kalan gencarnya menyampaikan misinya, terutama di kawasan Pagai Utara-Selatan.

Menurut Stefano Coronese (meninggal tahun 2020 akibat Covid),  seorang peneliti misionaris dalam bukunya Kebudayaan Suku  Mentawai,  menuliskan bahwa sebenarnya orang Mentawai  telah mulai bersentuhan komunikasi dengan orang-orang Islam, saat melakukan hubungan dagang dengan orang Tiku (1621). Masa itu Tiku berada di bawah kerajaan Aceh yang telah memeluk agama Islam.

Selanjutnya, masuknya Islam  di Mentawai juga tak terlepas dari gerakan dakwah  Buya H. Ahmad Rasyid Sutan Mansur atau lebih dikenal sebagai A.R. Sutan Mansur, seorang tokoh dan pemimpin Muhammadiyah asal kampung Air Hangat, Maninjau, Tanjung Raya, Agam.  A.R. Sutan Mansur sendiri adalah murid dari Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA) yang telah menyebarkan pikiran-pikiran dari Muhamamdiyah di Sumatera Barat. Haka merupakan salah satu sahabat dari Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah di Yogyakarta (1912).

HAKA  yang merupakan ayah kandung Buya Hamka  (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) bersama sejumlah ulama yang pro terhadap pembaharuan Islam telah membuka jalan bagi A.R. Sutan Mansur untuk mengembangkan Muhammadiyah di Sumatera Barat.

Ketika terjadi ancaman dan konflik  antara Muhammadiyah dengan orang-orang komunis di Ranah Minang pada akhir 1925, A.R. Sutan Mansur diutus Hoofdbestuur Muhammadiyah untuk memimpin dan menata Muhammadiyah yang mulai tumbuh pesat di Minangkabau. Di samping itu, selaku mubaligh tingkat pusat Muhammadiyah (1926-1929), dia ditugaskan mengadakan tablig keliling ke Medan, Aceh, Kalimantan (Banjarmasin, Amuntai dan Kuala Kapuas), Mentawai serta beberapa bagian Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Aktivitasnya juga melatih pemuda-pemudi dalam Lembaga Kulliyatul Muballlighin yang didirikannya untuk menjadi kader Muhammadiyah.

Dalam perkembangannya, Islam di Mentawai sudah mulai maju. Hal ini dibuktikan adanya beberapa organisasi Islam dan sekolah berbasis pendidikan Islam. Aktivitas gerakan dakwah Islam di Mentawai pun mulai menyebar ke seluruh pelosok Bumi Sikerei. 

Meski Mentawai terdiri hanya empat kecamatan –Kec. Siberut Utara, Siberut Selatan, Sipora dan Kec. Pagai Utara Selatan– namun posisinya berjarak lebih kurang antara 90 hingga 120 mil laut dari pantai Padang. Tak ada hubungan transportasi langsung dari Pariaman (ibu kabupaten) ke gugusan kepulauan ini. 

Yang ada hanya hubungan kapal perintis atau kapal kayu (antar pulau) dari Muara (Padang) dan Bungus (Teluk Kabung) menuju keempat kecamatan ini. Itupun sampai sekarang belum ada hubungan rutin setiap hari. Baru terhitung dua atau tiga kali setiap minggunya.

Meski demikian, sarana transportasi ini sudah tergolong maju dibandingkan tiga dasawarsa yang lalu, dimana untuk mendatangi pulau-pulau tersebut hanya ada beberapa kali dalam sebulan. Sekolah, kantor pos, puskesmas, pasar dan kantor telephon sudah ada di sini. 

Listrik pun telah masuk meski hanya pada malam hari. Meski jalannya lebar-lebar, tidak ada kendaraan roda empat, kendaraan roda dua pun masih bisa dihitung dengan jari.

 Di kecamatan Siberut, keadaan sudah lebih baik, masjid sudah dibangun dan pengajian anak anak dan ibu ibu sudah ramai. 

Jauh berbeda ketika kita masuk ke pedalaman yang memakan waktu sampai 6 jam di atas sampan kayu, kehidupan masih primitif dan pakaian layak pakai masih jarang.

Video sederhana perjalanan saya dan tim ke pedalaman Mentawai di dusun Buttui dari Muara Siberut.

Video lain perjalanan naik perahu pompong dari dusun Buttui ke Muara Siberut

Semoga degan kepedulian semua masyarakat Indonesia, saudara kita di pedalaman Mentawai bisa lebih baik lagi. 

Alhamdulillah, berkah dari rahmah dan kasih sayang Allah Subhanahu Wata’ala, beberapa Sikerei di dusun Buttui sudah masuk Islam, penulis berkesempatan mengajarkan mereka menghafal surat-surat pendek yang jadi modal mereka beribadah Salat.

Sebagai penutup, saya sertakan tautan beberapa video ketika saya berkesempatan mengajar tahfidz para Sikerei.

Mengajarkan surat Al-Fatihah kepada Sikerei Mentawai bernama Aman Sasali

Mengajarkan surat Al-Fatihah, surat pendek dan ayat kursi kepada Sikerei Mentawai bernama Aman Naro

Mengajarkan surat Al-Fatihah, surat pendek dan ayat kursi kepada Sikerei Mentawai

Share your love
Jumal Ahmad
Jumal Ahmad

Jumal Ahmad Ibnu Hanbal menyelesaikan pendidikan sarjana pada jurusan Pendidikan Agama Islam dan Magister Pengkajian Islam di SPS UIN Jakarta. Aktif di lembaga Islamic Character Development dan Aksi Peduli Bangsa.

2 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDID