Terdepan Meraih Kebaikan

Sabaqaka Bihaa Ukaasyah” artinya ‘Kamu telah didahului oleh Ukasyah’. Ungkapan ini popular dalam bahasa Arab untuk menyatakan kepada seseorang yang telah didahului orang lain dalam meraih kebaikan.

Ungkapan ini berasal dari sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihiwasallam yang termaktub dalam Shahih Bukhari dan Muslim, saat Beliau menjelaskan bahwa akan terpilih 70.000 umatnya berada pada rombongan terdepan masuk surga tanpa hisab (pemeriksaan/audit).

Mendengar hal ini, sontak membuat Ukasyah tidak tinggal diam dan menyahut sabda Rasul, “Wahai Rasul, doakan aku agar bisa menjadi bagian dari mereka.” Rasul pun mendoakannya.

Sahabat lain yang hadir saat itu juga tidak ingin ketinggalan. Berdirilah salah satu di antarnya dan meminta hal serupa. Namun, Rasulullah mengatakan kepadanya sabaqaka bihaa ‘ukaasyah! (sungguh Ukasyah telah mendahuluimu).

Setiap individu manusia memiliki insting atau naluri fisik untuk berlomba, yang telah muncul sejak masa awal proses penciptaan diri di dalam rahim sang ibu. Naluri serupa juga ada pada hewan dan makhluk lainnya yang diperlukan untuk bertahan hidup.

Saling berebut harta, jabatan dan kedudukan dan hal material lainnya datang dari naluri fisiknya. Adapun perintah Allah Subhanahu Wata’ala untuk berlomba atau bersegera dalam kebaikan (فاستبقوا الخيرات) tidak muncul dari naluri fisik. Sebab yang diperebutkan adalah kebaikan. Dorongan ini berasal dari dimensi ruh manusia. Jika ada manusia yang tidak terdorong untuk berebut kebaikan, maka ada kemungkinan ruhnya dalam masalah.

Ruh Ukasyah tidak pernah lengah dari kebaikan. Terlihat bagaimana semangat dan kegesitannya untuk masuk ke dalam golongan umat Islam yang masuk surga tanpa hisab.

Hadis ini menjadikan Ukasyah terkenal dan banyak digunakan sebagai gambaran seseorang yang ingin sesuatu namun sudah didahului orang lain. Di riwayat yang lain disebutkan bahwa Ukasyah mengatakan kepada Nabi, ‘ Ya Rasulallah, mintakan kepada Allah agar aku termasuk dari mereka’, menunjukkan harapannya yang besar agar masuk surga tanpa hisab, ketika mendengar langsung dari Nabi dan Nabi memasukkannya dalam kelompok tersebut.

Disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihiwasallam telah berperilaku lembut kepada Ukasyah karena Beliau telah mengetahui akhlak dan ibadahnya, tidak akan masuk ke tingkatan ini kecuali akhlak dan ibadahnya sudah sempurna. Nabi Muhammad tidak ingin menyakiti hatinya dan memberikan kabar gembira bahwa Ukasyah termasuk golongan tanpa hisab.

Riwayat lain menyebut bahwa seseorang yang meminta setelah Ukasyah agar termasuk dalam golongan yang masuk surga tanpa hisab adalah bagian dari orang munafik. Dengan kelembutannya, Nabi tidak mengumbar di depan umum, dengan akhlak agungnya Nabi memberikan pelajaran agung dalam bermuamalah antar manusia dan tidak menyakiti hati orang lain.

Teladan Ukasyah menjadi pribadi inisiatif sangat cocok untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-jari. Inisiatif bersegera dalam kebaikan, inisiatif melipatgandakan sedekah, inisiatif membaca Al-Quran lebih intens, insiatif mencari banyak peluang kebaikan, dan banyak lagi.

Kita perlu menjadi pribadi seperti Ukasyah yang tidak menyiakan kesempatan untuk kebaikan. Bagaimana seandainya Ukasyah tidak memberanikan diri meminta Nabi untuk memasukkan dia dalam golongan yang masuk surga tanpa hisab? bisa jadi dia akan menjadi orang yang kedua.

Mari kita introspeksi..

Apakah ketika ada kesempatan berbuat baik kepada orang tua kemudian anda sia-siakan?

Apakah ketika ada kesempatan bersedekah kepada orang miskin anda abaikan?

Apakah ketika ada kesempatan berpuasa senin kamis atau syawal anda abaikan?

Semoga kita dapat meneladainya.

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com

Tinggalkan komentar