Berpikir Reflektif dalam Alquran

Al-Quran telah menyampaikan metode pendidikan dan pembangunan karakter yang sempurna untuk menjadi  manusia yang mulia dan bertaqwa. Hadits Nabi juga mengambarkan dengan jelas bagaimana praktek Nabi Muhammad SAW dalam membangun akhlak/karakter sesuai petunjuk Al-Quran.

Ayat Al-Quran yang menjadi landasan dalam berpikir reflektif adalah Al-Quran Surat Al-Hasyr : 18. Ayat ini secara eksplisit mengajak umat Islam untuk berpikir mandiri, mampu melakukan meta-level reflection dan menjadi decison maker untuk diri sendiri.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan”.

Dalam sebuah hadits disebutkan siapa yang paling cerdas? Lalu Nabi Muhammad Saw menyebutkan adalah yang mampu menahan nafsunya dan mencari bekal untuk kehidupan setelah di dunia.

Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menahan nafsunya dan meyiapkan bekal untuk kehidupan sesudah kematian. (HR. At-Tirmidzi dan Hakim)

Ayat dan hadits di atas menjadi pijakan dalam Meta-Level Reflection yaitu (1) mampu mengukur kekurangan diri sendiri, (2) mampu mengukur kelebihan diri sendiri, (3) belajar dari kesalahan dan dan (4) apa yang harus dilakukan ke depan (what I need, What I have to do), selanjutnya mengeluarkan komitmen (iltizamun nafsi) atau kemampuan mengikat diri dengan disiplin.

Anak didik belajar membaca kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri. Sementara pendidikan saat ini, sekolah berlomba mencari anak didik, sementara karakter pribadi anak tidak dikembangkan, yang harus dibangun adalah kemampuan merefleksikan diri sendiri dan anak mampu hidup di kondisi terburuk sekalipun.

Perkembangan anak muncul dari faktor eksternal, secara formal seperti buku, nasehat guru, dan informal seperti aturan sekolah atau pesantren, disilpin-disiplin di sekolah atau pesantren. Tidak ada komitmen dalam diri anak sementara komitmen akan masuk jika timbul dari dalam diri (internal). Nilai-nilai luhur apapun yang ditanam pada diri anak seperti menghormati, tanggung jawab, integritas dan lain sebagainya tidak akan berhasil selama tidak ditanam dari diri anak (internal). Problematika saat ini adalah pejabat, pemimpin dan yang dipimpin tidak bisa mengoreksi kesalahan diri sendiri, tidak bisa menentukan masa depan mana yang harus dilakukan yang terbaik karena tidak ada kemampuan membaca kekurangan diri sendiri, itulah yang harus diasah dalam pendidikan karakter yaitu Meta-Level Reflection.

Analogi berpikir reflektif seperti seseorang yang berdiri di depan kaca, ia dapat melihat secara sempurna penampilannya di kaca, dari penglihatannya itu, ia dapat menghasilkan penilaian sendiri terhadap dirinya, apakah ada yang kurang atau lebih.

Konsep berpikir reflektif dalam Al-Quran juga diterangkan dalam Surat Ali Imran ayat 190-191.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”.

Pada ayat tersebut, kata yatafakkaru mengandung arti kontempalasi yang berarti merenung yakni membulatkan pikiran dan perhatian terhadap sesuatu. Harun Nasution menggunakan istilah kontemplasi dalam hubungannya dengan usaha-usaha mansuia berkomunikasi kepada Tuhan. Lebih jauh beliau menjelaskan bahwa dalam berpikir reflektif, rangsangan atau alat berpikir terdiri dari tiga aspek yang penting yaitu: pengalaman pengindraan (empirisme), ingatan (memori/hasil-hasil pengalaman pengindraan) dan imaginasi (menghadirkan jawaban dari sesuatu masalah yang dipikirkan).

Menurut Yusuf Qardhawi dalam objek berpikir dalam Al-Quran ada tiga yaitu:

  1. Alam semesta, dengan memaksimalkan seluruh potensi manusia untuk berpikir atas proses penciptaan langit dan bumi dengan segala isi kandungannya serta segala proses yang teratur supaya mendapatkan kesimpulan bahwa segala penciptaan ada hikmahnya.
  2. Berpikir tentang dimensi-dimensi maknawi, menalar tidak hanya materil saja akan tetapi maknanya juga.
  3. Ayat-ayat wahyu, memikirkan kandungan ayat wahyu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
  4. Tafakkur secara total, tuntutan ayat di atas memiliki dua tahapan yaitu agar manusia kembali kepada Allah baik berdua atan sendiri dan supaya mau menalar dengan akalnya.
  5. Al-Quran.

Maka konsep berpikir reflektif dalam al-Quran adalah untuk mewujudkan lahirnya kemampuan berpikir seseorang yang mampu merefleksikan kebenaran-kebenaran Tuhan di dalam kehidupannya. Jika sudah demikian, maka apapun bentuk pengaruh terhadap dirinya tentang hal-hal yang berkaitan keyakinan atau akidah tidak akan mampu mempengaruhinya.

Jumal Ahmad

Islamic Character Development

2 pemikiran pada “Berpikir Reflektif dalam Alquran”

Tinggalkan komentar