Imam Al-Ghazali dan Tuduhan Kemunduran Sains Islam

Teori umum yang diterima banyak orang dalam sejarah Islam bahwa setelah mengalami masa keemasan (golden age) selama 500 tahun, dunia Islam menjadi mercusuar pergolakan renaissance di Eropa. Dunia Islam masuk masa ‘keterbelakangan’ sains ‘period of stagnation’ dalam waktu yang cukup lama.

Masa keemasan adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur dari dunia Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri.

Mereka menghasilkan karya-karya mengagumkan, penemuan Ibnu Sina tentang kedokteran dan filsafat, Ibnu Haitsam tentang optik, Al-Khawarizmi tentang Matematika dan Al-Biruni tentang ilmu Biologi ditulis pada masa ini.

Setelah masa kegemilangan ini, muncul masa ketika sains di dunia Islam mundur. Alasan paling populer sebab mundurnya sains Islam adalah munculnya pemikiran agama konservatif yang mengarah pada interpretasi Islam yang sempit, kaku, dan tertutup. Pemikiran ini secara aktif menghambat pertumbuhan ilmu pengetahuan.

Pelaku utama yang dinilai paling bertanggung jawab adalah ulama Islam paling berpengaruh, Abu Hamid Al-Ghazali. Al-Ghazali dinilai secara sepihak membawa budaya Islam kea rah fundamentalisme agama dan menjauh dari kultur independen ilmu pengetahuan.

Pernyataan dari orientalis dan komunitas akademik Barat yang sering disebutdi buku-buku adalah pernyataan E.C. Sachau yang menulis:

The fourth [tenth] century is the turning point in the history of the spirit of Islam… But for Al-Ashari and Al-Ghazali the Arabs might have been a nation of Galileos, Keplers, and Newtons.

Pernyataan ini diikuti penulis orientalis lainnya.

Robert R. Reilly dalam bukunya “The Closing of The Muslim Mind: How Intellectual Suicide Created The Modern Islamist Crisis” terbit 2010, menulis;

Were it not for al-Ghazali, Averroes and rationalism might have won the battle for the Muslim mind. But it did not happen, and, as a result, the Sunni Muslim mind suffered the consequences. It closed.

 Tidak salah jika orientalis berusaha sedaya upaya merusak citra Imam Al-Ghazali karena posisi beliau yang sangat sentral bahkan menjadi ‘Hujjatul Islam‘ dalam sejarah teologi muslim.

Asadullah Ali dalam artikelnya ‘The Rise adn Decline of Scienttific Production productivity in the Muslim World: a Preliminary Analysys: 8’ mengutip Muzaffar Iqbal menyebut bahwa Orientalis asal Hungaria, Ignaz Goldziher turut bertanggung jawab atas tuduhan kemunduran sains Islam dalam tulisannya, “The Attitude of Orthodox Islam towards the Ancient Sciences”, Goldziher dari judul artikel menekankan sikap ulama Islam terhadap ‘ilmu asing’ dari Yunani dan Persia yang secara keseluruhan negative yang dinilai kotradiktif terhadap doktrin iman. Tesis Goldziher jadi popular dan banyak diikuti ahli sejarah setelahnya.

Tuduhan Neil deGrasse, Imam Al-Ghazali Sebab Kemunduran Sains Islam

Ahli astro fisika dan sains populer, Neil deGrasse Tyson terpengaruh tesis Goldziher dan ikut serta mengkambinghitamkan Al-Ghazali terhadap kemunduran sains dalam dunia Islam.

Simak pernyataan Neil deGrasse dibawah ini

Salah satu friksi dari Dr. Tyson deGrasse menyebut bahwa fundamentalisme agama adalah akar runtuhnya masa keemasan Islam dan Imam Al-Ghazali menilai matematika berasal dari syetan (math was the work of the devil). Menurutnya, hal ini menyebabkan kemunduran besar sains Islam dan matematika di Baghdad.

Neil Tyson di video yang lain, setelah menyebut Imam Al-Ghazali, Neil Tyson menyatakan demikian;

“there was the statement that manipulating numbers was the work of the devil and that cut out tke kneecaps ot the entire mathematical enterprise of that period because he gained cultural power dan political power whit his philosophies and you know something Islam has not recovered from that since

Bantahan dari Joseph Lumbard dan Khalil Andani

Dr. Joseph Lumbard menjawab tuduhan Dr. Tyson terhadal Al-Ghazali di atas dengan menyebutkan pernyataan Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin.

Pada bab penjelasan tentang Fardhu Kifayah, dalam Kitabul Ilm, Al-Ghazali menyebutkan.

فالمحمود ما يرتبط به مصالح أمور الدنيا كالطب والحساب وذلك ينقسم إلى ما هو فرض كفاية وإلى ما هو فضيلة وليس بفريضة أما فرض الكفاية فهو علم لا يستغني عنه في قوام أمور الدنيا كالطب إذ هو ضروري في حاجة بقاء الأبدان وكالحساب فإنه ضروري في المعاملات وقسمة الوصايا والمواريث وغيرهما وهذه هي العلوم التي لو خلا البلد عمن يقوم بها حرج أهل البلد وإذا قام بها واحد كفى وسقط الفرض عن الآخرين

“Ilmu yang terpuji, ialah yang ada hubungannya dengan kepentingan urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran dan ilmu berhitung. Dan itu terbagi kepada fardlu kifayah dan kepada ilmu utama yang tidak fardlu.

Yang fardlu kifayah, ialah tiap-tiap ilmu yang tidak dapat dikesampingkan dalam menegakkan urusan duniawi, seumpama ilmu kedokteran. Karena pentingnya dalam pemeliharaan tubuh manusia. Dan seumpama ilmu berhitung, karena pentingnya dalam masyarakat jual beli, pembahagian harta wasiat, pusaka dan lain-lainnya. Inilah ilmu-ilmu, jikalau kosonglah negeri dari pada orang- orang yang menegakkannya, niscaya berdosalah penduduk negeri itu. Tetapi apabila ada seorang saja yang bangun menegakkan ilmu itu, maka mencukupilah dan terlepaslah yang lain dari kewajiban tersebut.”

Ihya’ Ulumuddin, halaman 29, Jilid 1, cetakan Darul Hadits, Kairo

Disini Al-Ghazali menegaskan pentingnya ilmu matematika bagi sebuah masyarakat dan dihukumi fardhu kifayah. Pada halaman 36 Imam Al-Ghazali memberikan arahan berikut;

أحدها ‌الهندسة والحساب وهما مباحان كما سبق ولا يمنع عنهما إلا من يخاف عليه أن يتجاوز بهما إلى علوم مذمومة فإن أكثر الممارسين لهما قد خرجوا منهما إلى البدع فيصان الضعيف عنهما لا لعينهما كما يصان عصبى عن شاطىء النهر خيفة عليه من الوقوع في النهر وكما يصان حديث العهد بالإسلام عن مخالطة الكفار خوفاً عليه مع أن القوي لا يندب إلى مخالطتهم

Ihya’ Ulumuddin, halaman 36, Jilid 1, cetakan Darul Hadits, Kairo

Menurut Al-Ghazali, Ilmu matematika adalah disiplin yang patut dipuji tetapi jika Anda takut seseorang akan melampaui batas di dalamnya, mereka harus dicegah dari mempelajarinya. Al-Ghazali bukan bermaksud membatasi matematika karena ia masuk dalam setiap disiplin ilmu.

Meskipun Al-ghazali mengakui bahwa ilmu matematika penting, Al-ghazali masih bisa menyebutkan pengaruh buruk yang ditimbulkan dari ilmu matematika itu sendiri dalam dunia islam. Seperti yang pernah dikatakan Al-ghazali yakni “ betapa aku melihat banyak sekali manusia yang meninggalkan keimanan karena menyaksikan kemajuan matematika dan menafikan tempat bergantung selain pada matematika”.

Al-Ghazali juga menganjurkan supaya umat islam mencari kebenaran dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utama bukannya melalui proses pemikiran dan akalnya saja. Jadi, apa yang dilakukan Al-Ghazali ialah memaparkan kesalahan dan kepalsuan bidang pengetahuan yang bertolak belakang dengan agama serta bertentangaan dengan pendirian umat islam.

Khalil Andani menyebutkan jawaban terhadap Neil deGrasse dengan beberapa poin berikut:

  1. Imam Al-Ghazali menyanggah 3 dari sekitar 20 keyakinan Filsafat Ibn Sina (pemikiran Neoplatonik-Aristotelian yang diislamkan), bukan akal atau filsafat itu sendiri.
  2. Falsafa hanyalah salah satu dari sekian banyak aliran filsafat dalam Islam. Aliran filosofis lainnya termasuk Kalam, Fiqh, Ismailisme,tasawuf teosofis, & metafisika Sadrian.
  3. Ghazali hanya memiliki masalah dengan klaim metafisik/teologis Falsafa Ibn Sina; tapi menerima fungsi filsafat di bidang logika, matematika & kedokteran.
  4. Al-Ghazali mempopulerkan filsafat Ibnu Sina alih-alih mengakhirinya. Beberapa teolog pasca-Ghazali menyatakan berkat sanggahan Al-Ghazali terhadap Ibnu Sina, banyak orang yang membaca karya Ibn Sina di zaman mereka (A Shihadeh 2005).
  5. Al-Ghazali sebenarnya “menaturalisasi” beberapa posisi Aristotelian & Ibn Sina ke dalam teologi Islam seperti logika silogistik & gagasan Ibn Sina tentang Tuhan, jiwa, kenabian & kausalitas. Griffel menjuluki sintesis gagasan Ghazalian baru sebagai “Avicennisme”. (F Griffel 2009)
  6. Di bidang sains, mundurnya sains Islam disebabkan oleh lingkungan keagamaan yang dihasilkan serangan Ghazali terhadap filosof, tidak terjadi dalam dunia nyata. (George Saliba 2007)

***

Pendalaman sejarah Islam yang lebih serius, justru menemukan hal yang berseberangan dengan anggapan orientalis di atas, penelitian dan pengembangan sains Islam terus berkembang setelah masa Al-Ghazali.

Tuduhan yang diarahkan kepada Imam Al-Ghazali bahwa tasawuf yang dipraktikkan Al-Ghazali sebagai penyebab matinya ilmu sains dan filsafat di dunia Islam tidak benar. Pemikiran Imam A-Ghazali menurut Majid Irsan Kailani punya kontribusi besar dalam membangkitkan umat pada masa perang Salib. Selain itu, tuduhan mematikan sains pun tidak benar, karena setelah era imam Al-Ghazali, sains berkembang pesat.

Banyak penelitian sains Islam yang diterbitkan setelah masa revolusi ilmiah di Barat karena secara alami paling menarik bagi para sarjana Barat. Pada saat yang sama terjadi penurunan tajam jumlah penelitian akademisi Islam.

Maka sampai saat ini kita hanya tahu sedikit tentang apa yang terjadi pada sains Islam setelah kemunduran.

Syed Hossein Nasr, pada kuliah terkenal yang disampaikan di MIT ‘Islam and Modern Science’, menekankan hal yang sama ketika menyebutkan;

There are over three thousand manuscripts of medicine in India which have never been studied by anybody. This is [only] the tip of the iceberg. There are thousands of manuscripts in Yemen which we don‘t even know about.

Profesor Dimitri Gutas dalam bukunya ‘Greek Thought, Arabic Culture: The Graeco-Arabic Translation Movement in Baghdad and Early Abbasid Society‘ menulis ilmu pengetahuan dan karya ilmiah yang dihasilkan pada periode Utsmaniyah hampir sepenuhnya belum diteliti.

Ahli sejarah yang disegani, Muzaffar Iqbal menulis:

So far we know of at least 1000 scientists who worked between the eighth and eighteenth centuries; there are thousand more about whom we have no information or whom we merely know the names and their works‘ titles. There are over 200,000 manuscripts in Iran alone, of -which about three-quarters are as yet uncatalogued.

Profesor Jamil Ragep di Mc Gill dalam buknya ‘When did Islamic science die? (and who cares)‘ mendokumentasikan pencapaian ilmuwan Muslim setelah periode Al-Ghazali termasuk ratusan pelajar yang terlibat dalam ilmu teoritis dan praktis kreatif di observatorium besar di Maragha dan di Samarqand.

Dia menulis;

During the past half-century or so, an ever-increasing body of scholarly work has shown that science in Islam not only continued after al-Ghazali but in fact flourished for centuries thereafter. Over the next five centuries or so, one can document the production of thousands of scientific and philosophical texts in both the eastern and western Islamic world that are attested by tens of thousands of extant manuscripts.

Profesor Yale, George Saliba, dalam bukunya ‘Islamic Science and the Making of the European Renaissance‘ menyebut periode pasca-Ghazali sebagai zaman keemasan Islam yang sebenarnya. Dia menggambarkan produksi ilmiah yang brilian pada periode ini sebagai kebangkitan.

Hal ini menyebabkan Saliba bertanya apakah Ghazali bertanggung jawab atas kemunduran ilmu pengetahuan, lalu bagaimana seseorang menjelaskan hal ini:

Production of tens of scientists in every discipline, who continued to produce scientific texts that were in many ways superior to the texts that were before the time of Ghazali. In the case of astronomy, one cannot even compare the sophistication of the post-Ghazali texts with the pre-Ghazali ones, for the former were in fact far superior both in theoretical mathematical sophistication, as well as in blending observational astronomy with theoretical astronomy.

Profesor Saliba menilai bahwa sarjana Orientalis tidak dapat melihat orisinalitas dalam buku-buku pasca-Ghazali, meskipun mereka membacanya dengan cermat, mereka tidak mencari orisinalitas tersebut.

Fenomena ini bisa dilihat dalam konteks ‘literary commentary‘ yang menganalisis dan mengapresiasi makna dan bentuk yang sering ditafsirkan sebagai pembelajaran yang  kurang orisinalitas.

Berbeda dengan literatur Orientalis, alih-alih menghancurkan sains, teologi Al-Ghazali justru menempatkan sains dalam kerangka Islam.

Penolakan Al-Ghazali terhadap kausalitas dan dukungannya terhadap teologi Ashari sama sekali tidak merusak penyelidikan rasional dalam konteks Islam. Bahkan merangsang aktivitas ilmiah.

Ahmad Dallal merangkum konsekuensi tersebut ketika ia menulis,

After Al-Ghazali, the need to invoke religion to vindicate science considerably decreased, not because science was not accepted but because it did not need vindication.

Tidak seperti di Eropa di mana para ilmuwan sering dianiaya oleh Gereja, para teolog Islam sebenarnya menciptakan lingkungan yang memungkinkan sains berkembang. Tidak mengatakan tidak pernah ada keberatan agama terhadap sains dalam Islam, bahkan kadang-kadang ada. Namun, seperti yang ditunjukkan profesor Gutas, ini terjadi sebagai insiden yang relatif terisolasi, pengecualian dan bukan aturan.

Periodisasi Sejarah dalam Islam

Prof. Recep Sentruk dalam tulisannya berjudul ‘The decline of the decline paradigm: revisiting the periodization of Islamic history’ menyatakan bahwa periodisasi sejarah Islam yang menjadikan masa pertengahan Islam sebagai masa kegelapan, dan kemajuan dunia Barat adalah hasil pemikiran eurosentris dan supremasi pemikir Barat yang diekspor ke dunia non Barat seperti Asia dan Afrika, sayangnya dengan mudah diterima peneliti Islam dan peneliti non-Barat.

Lalu bagaimana muslim klasik membuat periodisasi sejarah mereka?

Dr. Muhammad Amhazun menyebutkan bahwa dalam studi historiografi Islam setidaknya ada dua metode yang dipakai.

Pertama: Metode At-Tautsiq wa Itsbatul Haqaiq

Kedua Metode At-Tafsir At-Tarikhi.

Metode pertama dikenal dengan historiografi dengan riwayat yaitu suatu metode yang menghubungkan suatu informasi sejarah (riwayat) dengan sumber-sumbernya yang menurut ukuran sekarang dapat dipandang telah memenuhi secara ideal dalam penelitian historis dan ketelitian ilmiah.

Sedangkan metode kedua dikenal dengan historiografi dengan dirayat yaitu metode sejarah yang menaruh perhatian terhadap pengetahuan secara langsung dari satu segi dan interpretasi rasional dari segi lainnya. Tokoh yang mengembangkan metode ini antara lain al Mas’udi, Ibn Maskawaih dan Ibn Khaldun.

Metode Pertama: Historiografi dengan Riwayat

Metode ini adalah metode dengan mempelajari sanad dan matan peristiwa sejarah yang berpegang pada nash yang benar dan berita yang terfilter. Yaitu dengan mengkaitkan ilmu sejarah dengan salah satu cabang ilmu hadits yang disebut dengan ilmu Jarh wa Ta’dil, yang membahas biografi, sifat, akhlaq dan aqidah seorang rawi.

Dengan bantuan kitab-kitab tentang kaidah-kaidah periwayatan dalam ilmu Jarh wa Ta’dil sangat bermanfaat untuk mendalami sejarah sedalam-dalamnya. Dengan kaidah-kaidah ini akan tersingkap keadaan para rawi yang berguna untuk membedakan mana yang kuat, mana yang lemah, mana yang jujur dan mana yang dusta. Dengan kaidah ini juga akan diketahui nilai dari sebuah berita apakah shahih atau hasan dan menjauhi riwayat yang dhaif atau maudhu’. Apalagi tujuan dari studi sejarah adalah untuk menguak hakekat sejarah.

Imam Thabari adalah ulama yang berjuang dengan metode At-Tautsiq wa Itsbatul Haqaiq lewat kitab-kitab sejarahnya. Dalam menulis sejarah beliau selalu (a) Meneliti Jalur Periwayatan. Salah satu persoalan yang dihadapi para Muarikh (Ahli Sejarah) terutama pada masa sekarang adalah tidak mampu membedakan khabar atau riwayat yang benar dan yang salah dan diperparah lagi mereka tidak mengetahui metode kritik sanad sebagaimana pendahulu mereka.

Imam Thabari telah berusaha semampu mungkin untuk tidak mencantumkan riwayat kecuali yang shahih saja, kalaupun ada riwayat yang tidak benar, riwayat tersebut hanya ia nukil dari pendapat sebelum beliau, jika memang ia tidak tahu asal muasal riwayat tersebut.

Kemudian dia juga (b) Berpegang hanya pada Sumber-sumber Syar’I, Al-Quran dan Sunnah. Keduanya adalah sumber terpercaya dalam sejarah karena sumbernya yang pasti dapat dipercaya, Al-Quran sampai kepada kita dengan jalan mutawatir dan Hadits sampai kepada kita dengan cara yang sangat teliti yang telah dibuat oleh ulama hadits.

Aplikasi periodisasi sejarah Islam klasik dari metode historiografi dengan riwayat adalah Thabaqat.

Periodisasi sejarah dengan riwayat digunakan ahli sejarah muslim berdasarkan generasi ulama. Rangkaian pertama dimulai dari Ashab (para Sahabat Nabi), kemudian Tabi’in dan Atba’ At-Tabi’in.

Periode Sahabat adalah orang-orang yang bertemu langsung dengan Nabi dan mempercayainya. Periode Tabi’in adalah orang-orang yang bertemu dengan sahabat Nabi, dan periode atba’ at-tabi’in adalah orang-orang yang bertemu Tabi’in.

Tabel. Periodisasi Sejarah Islam berdasarkan generasi Ulama (Thabaqat)

Nomor ThabaqahTahun HijrahTotal TahunAkhir (Hijrah)Nama Thabaqah
119090`Sahabat
21491105Tabi’in
33483117Atba Tabi’in
446105151 
570110180 
6100106206 
7106124230 
8139125264 
9170122292 
10180138318 
11218130348 
12250138388 
13291150441 
14361125486 
15404136540 
16463118581 
17494125619 
18546116662 
19580100680 
20592116708 
21624118742 

Tabel periodisasi ini digunakan oleh Az-Zahabi dalam bukunya Tazkiratul Al-Huffaz dan Jalaluddin Asy-Suyuthi dalam bukunya Tabaqat Al-Huffadz untuk menggambarkan ulama hadis dari 21 generasi.

Metode kedua: Historiografi dengan Dirayat

Ibnu Khaldun menyebutkan bahwa Studi sejarah merupakan studi yang membahas keterkaitan antara peristiwa dan kejadian-kejadian yang berbeda-beda, supaya jelas faktor pendorong, titik tolak dan nilainya, guna menemukan pelajaran dan ibrah dari peristiwa tersebut.

Definisi Ibnu Khaldun di atas termasuk definisi sejarah yang tepat, karena menyebutkan pentingnya meneliti validitas berita dan meneliti sebab atau illah dari peristiwa tersebut. Dari pengertian ini maka sejarah tidak lagi dianggap hanya sebagai sebuah peristiwa, tetapi sekaligus tafsir dari peristiwa itu. Terlebih lagi sejarah menjadi salah satu senjata untuk memola satu fikiran, menyebarkan dan membela fikiran tersebut sebagaimana sejarah juga berperan dalam perdebatan teologis antar umat dan bangsa.

Ibn Khaldun mengidentifikasi siklus dinasti dan negara berkuasa, disebut teori siklus peradaban. Ibnu Khaldun mengidentifikasi lima tahap (al-athar al-khamsah) dalam kehidupan sebuah negara yang diperintah oleh sebuah dinasti.

Menurutnya tahapan dalam kehidupan suatu negara mirip dengan siklus hidup organisme (a civilization is an organism). Siklus tersebut adalah lahir, tumbuh, dewasa, stagnan, menurun dan mati. Siklus ini juga berlaku dalam kehidupan peradaban manusia.

  1. Tahap pertama, dimulai dengan kelahiran. Kelahiran adalah tahap terkuat karena mengandung ‘asabiyya yang sangat utuh (persatuan dan solidaritas) dalam kelompok kecil suku pembangun negara.
  2. Tahap kedua, konsolidasi kekuatan.
  3. Tahap ketiga adalah kedewasaan. Negara berkembang dan matang dalam pendirian politiknya melalui akumulasi kekayaan dan tahap ini menandai awal dari melemahnya ‘asabiyya karena persaingan politik, konsumsi berlebihan, erosi moral dan keserakahan finansial.
  4. Tahap keempat adalah penuaan di mana struktur sosial negara menghadapi disintegrasi persatuan dan kebangkitan individualisme.
  5. Tahap kelima, kematian dan menjadi tahap terakhir dari siklus hidup negara karena kehilangan kekuatan, korupsi internal dan invasi asing.

Selanjutnya, Prof Recen Sentruk membagi Historiografi Islam menjadi 3 periode:

  1. Periode klasik sampai paruh kedua abad ke-19.
  2. Paruh kedua abad ke-19 hingga 1980-an.
  3. Periodisasi baru dari tahun 1980 sampai sekarang.

Sebab Lain Kemunduran Sains Islam

Beberapa teori diajukan untuk menemukan akar kemunduran peradaban Islam. Teori paling umum menyebut pengabaian filsafat dan ortodoksi keilmuan Islam sebagai pemicu pudarnya kebangkitan Islam. Teori tersebut kemudian menjadikan Imam Al-Ghazali sebagai orang yang paling bertanggung jawab. Teori ini secara minim sudah dibantah lewat penjelasan sebelumnya.

Teori lain menyebutkan kemunduran peradaban Islam karena invasi mongol dan perang salib.

Enam Kegagalan Mongol di Seluruh Dunia - Historia

Invasi Mongol dan Perang Salib

Pada abad ke-13 tentara Mongol melemahkan peradaban Islam. Serangan dan pembantaian di Baghdad oleh Hulagu Khan pada tahun 1258 membuat umat Islam bertekuk lutut. Tercatat dalam sejarah bahwa air sungai di Bagdad berubah menjadi hitam kemerah-merahan selama berhari-hari karena darah manusia dan tinta dari halaman-halaman buku. Tentara Salib juga memberikan pukulan telak bagi pengetahuan Muslim; di Tripoli saja mereka menghancurkan 3 juta buku. Setelah jatuhnya Granada pada tahun 1492, satu juta buku dibakar dalam satu hari oleh orang-orang fanatik Kristen.

Malam kelam sejarah tersebut memberikan efek stagnasi intelektual dan disintegrasi sosial umat. Ekspansi Mongol memang merusak, tapi lebih kepada fisik. Banyak nyawa melayang dan koleksi perpustakaan dimusnahkan. Meski demikian serangan musuh Islam tersebut bukan menjadi alasan kuat mundurnya sains Islam karena perkembangan pengetahuan lebih ditekankan kepada manusia dan budaya bukan pada fisik.

Persekutuan Ulama dan Negara

Ahmet T. Kuru menyanggah kedua teori di atas. Kuru menyebutkan bahwa pada masa setelah abad 11, filsafat tidak benar-benar ditinggalkan umat Islam. Ia masih digunakan dan menghasilkan filosof-filosof besar.

Alih-alih mendakwa sebagai sebab, serangan mongol dan perang salib lebih merupakan akibat dari sesuatu yang lebih mendasar, yaitu persekutuan ulama dan negara.

Menurut Ahmet T. Kuru, menguatnya persekutuan ulama dan negara dapat menjelaskan secara komprehensif kemunduran Islam. Teori ini membantah keyakinan sejumlah kalangan bahwa kemunduran Islam berasal dari nilai intrinsik Islam ataupun faktor ekstrinsik akibat dari invasi pihak luar.

Para Ulama selama beberapa abad sebelumnya bekerja secara independen dan banyak disokong oleh para pedagang, pelan-pelan kehilangan independensinya akibat kehadiran sistem iqta.

Sistem iqta’ adalah system ekonomi baru yang didasarkan pada penarikan pajak tanah tertentu untuk membiayai pejabat negara, terutama militer. Bahkan, di banyak tempat terjadi militerisasi tanah iqta sehingga tanah-tanah yang sebelumnya dimiliki dan diperjualbelikan dengan kontrak sipil mulai diambil alih tuan tanah militer.

Transformasi ini,  menurut Ahmet T. Kuru, menyusutkan sumber-sumber keuangan pribadi para ulama, dan membuat banyak di antara mereka menerima atau mencari pendanaan publik dengan bekerja di pemerintahan.

Persekutuan ulama dan negara semakin mengentalkan ortodoksi, dan dari sini kemudian perhatian pada sains dan filsafat berangsur surut dan pudar.

Semakin melemahnya kapasitas para pedagang untuk membiayai  ulama dan filsuf, peran negara menjadi semakin sentral untuk membentuk atau memonopoli pengetahuan, melalui persekutuan mereka dengan ulama, dibentuk sejumlah madrasah (Nizhamiyah).

Menurut Hassan Hassan, salah jika sebab kemunduran sains Islam abad 11 Hijriyah diletakkan ke atas pundak Imam Al-Ghazali, menurutnya pendorong mundurnya sains Islam adalah Nidzamul Mulk yang mendirikan madrasah atau universitas Nidzamiyyah.

Nizamiyyah menurutnya berfokus pada studi keagamaan dan mengesampingkan penelitian independen. Pertama kali dalam sejarah, studi agama dilembagakan dan dipandang sebagai jalur karir yang menguntungkan.

Selain itu, Nizamiyyah juga mengadopsi interpretasi mazhab Syafi’i sebagai sumber kurikulum

Menurut Hillel Ofek, madrasah saat itu didirikan di bawah hukum wakaf, yang berarti secara hukum wajib mengikuti komitmen agama sang pendiri. Madrasah hampir selalu mengesampingkan studi selain mata pelajaran yang membantu dalam memahami Islam: Tata bahasa Arab, Al-Quran, hadits, dan prinsip-prinsip syariah. Ini sering disebut sebagai ilmu Islam, berbeda dengan ilmu-ilmu Yunani, yang sering disebut sebagai ilmu asing.

***

Sekian pembahasan sederhana kami, Terima kasih sebesarnya kepada para dosen di At-Taqwa College yang telah mengenalkan kami kepada sosok ulama agung, Imam Al-Ghazali.

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com

Sumber Rujukan

Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, cetakan Darul Hadits, Kairo

Macksood Aftab, Ghazali, Islamophobia and the Myth of Islamic Decline, graduete student in History of Science at the Harvard Extension School.

Chaney, Eric. “Religion and the Rise and Fall of Islamic Science Extremely Preliminary and Incomplete” (2013)

Şentürk, R. (2020). The decline of the decline paradigm: Revisiting the periodisation of Islamic history. Niedergangsthesen auf dem Prüfstand / Narratives of Decline Revisited içinde (213-217 ss.). Berlin: Peter Lang. http://openaccess.ihu.edu.tr/xmlui/handle/20.500.12154/1309

MIT, Islam and Modern Science, A Lecture by Seyyid Hossein Nasr, http://web.mit.edu/activities/mitmsa/NewSite/libstuff/nasr/nasrspeech1.html ,diakses pada 13 Juli 2021

Firas Al-Khateb, Imam Al-Ghazali and the revival of Islamic Scholarship, Egypt Today, https://www.egypttoday.com/Article/4/6967/Imam-Al-Ghazali-and-the-revival-of-Islamic-Scholarship ,diakses pada 13 Juli 2021

Hilel Ofek, Why the Arabic World turned away from Science https://www.thenewatlantis.com/publications/why-the-arabic-world-turned-away-from-science, diakses pada 29 Juli 2021

Hasan Hassan, The Dedcline of Islamic Scientific thought dont blame it on Al-Ghazali, https://en.qantara.de/content/the-decline-of-islamic-scientific-thought-dont-blame-it-on-al-ghazali, diakses pada 29 Juli 2021

John Walbridge, The Islamic Art of Asking Questions, Renovatio, https://renovatio.zaytuna.edu/article/the-islamic-art-of-asking-questions, diakses pada 29 Juli 2021

Naufil Istikhari, Jawa Pos, Teori Baru Kemunduran Peradaban Islam
https://www.jawapos.com/minggu/buku/16/05/2021/teori-baru-kemunduran-peradaban-islam/, diakses 31 Juli 2021

Jumal Ahmad, Historiografi Islam: Antara Riwayat dan Dirayat,
https://ahmadbinhanbal.com/historiografi-islam-antara-riwayat-dan-dirayat/ (diakses 29 Juli 2021)

Khalil Andani, Twitter @KhalilAndani, https://twitter.com/KhalilAndani/status/1097204151015141377, diakses 16 Juli 2021

Satu pemikiran pada “Imam Al-Ghazali dan Tuduhan Kemunduran Sains Islam”

Komentar ditutup.