Pahala Memberi Makan Orang Lain - JUMAL AHMAD

Pahala Memberi Makan Orang Lain

“Pada setiap yang mempunyai hati yang basah (hewan itu) terdapat pahala dalam berbuat baik kepadanya.” (HR. Bukhari No. 2363). adalah salah satu pesan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihiwasallam dalam hadits yang mengisahkan tentang seorang wanita yang masuk surga karena memberi makan kepada seekor anjing. Jika berbuat baik kepada hewan bisa memasukkan ke surga, maka bagaimana dengan berbuat kepada sesama manusia yang membutuhkan.

Sebagaimana keterangan Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadist di atas.

“Jika dengan memberikan minum pada anjing bisa mendapatkan pengampunan dosa, maka memberi minum pada manusia tentu pula akan mendapatkan pahala yg besar.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari 5: 42)

Berikut ini pahala dan keutamaan memberi makan orang lain.

1) Nabi Shallallahu Alaihiwasallam bersabda, “Sesungguhnya orang terbaik diantara kalian adalah orang yg memberi makan”. (HR. Ibnu Sa’ad, Al-Hakim, Ath-Thabrani)

2) Diriwayatkan, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Raslulullah Shallallahu Alaihiwasallam, “Perbuatan apa yg terbaik di dalam agama Islam? Maka Rasul menjawab, Yaitu kamu memberi makan kepada orang lain, dan kamu mengucapkan salam kepada orang yangg kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.” (HR. Bukhari: 12 dan Muslim: 39)

3) Nabi Shallallahu Alaihiwasallam bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi menjawab, “Untuk orang yg berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi: 1984)

4) Nabi Shallallahu Alaihiwasallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi, ad-Darimi, Ibnu Majah, al-Hakim, Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah)

5) Nabi Shallallahu Alaihiwasallam bersabda, “Barangsiapa yg memberi makan kepada seorang mukmin, sehingga dapat mengenyangkannya dari kelaparan, maka Allah akan memasukkannya ke dalam salah satu pintu surga yang tidak dimasuki oleh orang lain kecuali oleh orang-orang sepertinya.” (HR. Thabrani)

6) Nabi Shallallahu Alaihiwasallam bersabda, “Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yg panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim: 2245)

7) Allah Subhanahu Wata’ala dalam Al-Quran menyebutkan bahwa memberi makan menjadi jalan masuk Surga dan mendapatkan buku catatan amalan dari tangan kanan.

‘atau memberi makan pada yang terjadi kelaparan (14) kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat (15) atau orang miskin yang sangat fakir (16) kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang (17) Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. (Qs. Al-Balad: 14-18)

8) Rasulullah Shallallahu Alaihiwasallam bersabda, ‘Takutlah api neraka walaupun dengan sebiji kurma’ (HR. Bukhari).

Lewat Hadits ini, Rasulullah Shallallahu Alaihiwasallam memotivasi umatnya untuk bersedekah, baik dengan yang sedikit maupun banyak. Sabda beliau “walaupun dengan separuh kurma” menunjukkan betapapun kecilnya sedekah yang diberikan, ia bermanfaat besar bagi pelakunya. Ia dapat menjaga dan melindungi pelakunya dari api neraka.

Jangan menganggap rendah apa yang ia -ataupun orang lain- sedekahkan. Sedekah walaupun berupa sesuatu yang ringan sangatlah berarti bagi pelakunya kelak di akhirat. Amal tersebut dapat melindungi pelakunya dari api neraka.

ستطعمك عبدي فلان فلم تطعمه

Allah Bersama Orang yang Susah

Pernyataan Allah Subhanahu Wata’ala berada di mana-mana sering kita dengar, namun pernyataan tersebut tidak lantas menjadi jaminan orang-orang berhati-hati dalam hidupnya. Seperti misalnya ‘Al-Quran itu firman dan kalam Allah’, tidak serta merta menjadi orang-orang terdorong membaca Al-Quran. Dorongan hawa nafsu demikian kuat, mengalahkan niat dan aktivitas baik yang ingin dikerjakan.

Banyak jalan yang diberikan Allah dan Rasul-Nya untuk menjadi sarana pertemuan kita dengan Allah Subhanahu Wata’ala, salah satunya adalah menjenguk orang yang sakit dan memberikan makan kepada orang lain.

PERHATIKAN HADIS QUDSI YANG MENGGETARKAN HATI DAN TUBUH

Diriwayatkan bahwa ada dialog menarik antara Allah Subhanahu Wata’ala dengan orang-orang kaya.

Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihiwasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala berfirman pada hari Kiamat:

يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِى. قَالَ يَا رَبِّ وَكَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ. قَالَ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِى فُلاَنٌ فَلَمْ تُطْعِمْهُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِى. قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ اسْتَسْقَاكَ عَبْدِى فُلاَنٌ فَلَمْ تَسْقِهِ أَمَا إِنَّكَ لَوْ سَقَيْتَهُ وَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِى

Wahai manusia, Aku meminta makanan kepadamu, namun engkau tidak memberi makan kepada-Ku. Manusia berkata: “Wahai Tuhan, bagaimana aku memberikan makan sementara Engkau Tuhan semesta alam. Dia berfirman: Tidakkan kamu tahu kalau hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu namun kamu tidak memberinya, tahukah kamu bahwa sekiranya kamu memberinya makan, maka kamu akan mendapati-Ku di sisinya”.

Wahai manusia, Aku meminta minum kepadamu, namun engkau tidak memberikan minum kepada-Ku. Manusia berkata bagaimana aku memberikan-Mu minum, sementara Engkau Tuhan semesta alam. Dia berfirman, “Tidakkah kamu tahu hamba-Ku si fulan meminta minum kepadamu namun kamu tidak memberinya, tahukah kamu bahwa sekiranya kamu memberinya minum, maka kamu akna mendapati-Ku di sisinya”. (HR. Muslim)

Hadis yang terkesan melankolis ini jangan ditafsirkan secara linguistik, karena Allah Subhanahu Wata’ala tidak mungkin terikat ruang dan waktu, tidak mengambil tempat dan sebagainya.

Hadis qudsi ini menunjukkan kedekatan Allah Subhanahu Wata’ala kepada orang-orang yang kekurangan. Orang yang sedang dihimpit persoalan hidup, baik kekurangan materi atau non materi.

Disadari atau tidak, itu menjadi sarana bagi Allah Subhanahu Wata’ala untuk menarik perhatian manusia agar memberikan bantuan dan pertolongan. Hasrat membantu adalah fitrah. Allah Subhanahu Wata’ala mendesain diri kita menjadi orang yang peduli. Kita sering tidak tega dan iba jika ada yang membutuhkan bantuan.

Maunya Allah Subhanahu Wata’ala kita harus menyburkan hasrat membantu, dan kepedulian itu.

Terima kasih telah berkunjung dan berkenan membaca tulisan sederhana kami. Semoga bermanfaat. [ ]

Jumal Ahmad | ahmadbinhanbal.com

Tinggalkan komentar