Pengajar Awal Baca Tulis Al-Quran di Desa Adipuro

Kepulangan cukup lama saya dan istri ke kampung Adipuro, menyisakan kenangan indah bersama orang tua dan juga info dan pengetahuan yang ingin saya bagi kepada pembaca.

Sesuai judul di atas, saya ingin membagi informasi tentang sejarah pengajar awal Baca Tulis Al-Quran di desa Adipuro.

Meskipun letaknya di lereng gunung Sumbing di Magelang, dengan titik koordinat lintang -7.426292 dan titik koordinat bujur 110.103.189. Desa ini memiliki jumlah penduduk yang banyak dan sisi pendidikan yang sudah lebih maju dibanding desa-desa sekitar.

Mungkin Anda pernah mendengar desa wisata Nepal Van Java (desa Butuh) yang ngehits itu, dia terletak di lereng Sumbing juga, dekat dengan desa Adipuro, kurang lebih 15 menit naik motor.

Jika desa Butuh terkenal dengan alamnya, mata disejukkan dengan pemandangan indah. Desa Adipuro lebih menunjukkan suasana alam dan masyarakat yang dekat dengan suasana keislaman, maka bisa disebut desa wisata Islami. Saya pernah menulisnya di tautan ini dan ini.

Kembali ke bahasan…

Menurut mertua saya, yaitu Bapak Hajat, A.Ma. Sekolah Dasar di Adipuro sudah ada sejak tahun 1951, masa ketika partai hanya ada Masyumi, PNI dan PKI. Sekolah bertempat di salah satu rumah warga dengan sangat sederhana.

Salah satu guru Agama di SD ini bernama Bapak Siswo Miharjo, berasal dari Salam Kanci. Beliaulah pengajar awal baca dan tulis Al-Quran di desa Adipuro.

Sebenarnya, pengajian Al-Quran sudah diadakan oleh beberapa kyai desa, namun masih dengan cara membaca yang salah, belum sesuai hukum tajwid yang benar. Masih tercampur dengan cara bacaan bahasa jawa yang dominan huruf O.

Ketika pagi bapak Siswo Miharjo mengajar pelajaran di sekolah SD, waktu sore beliau mengajar baca Arab, demikian masyarakat mengenalnya, istilah mengaji belum dikenal saat itu.

Bapak mertua, yang waktu itu menjadi salah satu murid Bapak Siswo Miharjo saat kelas 5 SD, menceritakan cara mengajarnya yang unik ketika mengajar huruf hijaiyyah.

Contohya.
A dijare I,
Ba dijare Bi
Ta dijare Ti

Unik karena memasukkan ilmu Nahwu, di jare dalam ilmu nahwu artinya diberikan kasrah (jar)

Contoh lain untuk bacaan dhammah.
A Batasu
Ba Batabu
Ta Batatu

Bapak Siwo Miharjo tidak sampai satu tahun mengajar baca tulis Al-Quran karena ada isu dari salah satu orang penting desa berpartai PNI, menuduh dia berpartai Masyumi dan harus dikeluarkan dari desa.

Meskipun sudah tidak mengajar baca tulis Alquran lagi, pengalaman satu tahun bersama bapak Siwo Miharjo menurut bapak mertua saya sudah cukup menjadi pegangan. Minimalnya mereka jadi tahu bacaan huruf hijaiyyah yang benar sesuai tajwidnya.

Bapak Siswo Miharjo ketika di desa Adipuro, tinggal di rumah orang tua mertua saya. Kata beliau, banyak perilaku bapak Miharjo yang dianggap aneh waktu itu. Contoh kecilnya, beliau pergi ke kamar mandi atau wc membawa ciduk air untuk cebok. Sementara masyarakat waktu itu cukup dengan daun, batu atau tidak cebok.

Bapak Miharjo juga memperkenalkan beberapa bacaan dalam shalat seperti bacaan iftitah yang lain, selain bacaan Allahu Akbar Kabiiraa..dan seterusnya.

Setelah beberapa waktu, bapak mertua saya sering diajak untuk bantu bantu di … disana beliau sambil buruh dengan bayaran satu kilo beras perhari. Bayaran yang cukup wah saat itu. Dengan beras ini beliau mampu membiayai khitan adik kandung yang menjadi tanggungan beliau sebagai anak pertama.

Di tempat itu, beliau belajar ngaji dan bahasa Arab kepada anak pesantren Gontor bernama Muh. Haryanto. Dia pulang kampung karena waktu itu Gontor sedang ada kekacauan yang membuat banyak santri keluar dan pindah pondok. Bapak Muh Haryanto tidak kembali ke Gontor lagi, dan waktu yang ada dimanfaatkan mertua untuk belajar ngaji dan bahasa Arab.

Buah dari kegesitan beliau belajar sambil bekerja. Bapak mertua diberikan araha oleh Bapak Sumitro atau sekarang dikenal dengan Haji Karim Amrullah (almarhum) untuk ikut tes menjadi guru bersama teman-teman lain dari desa Adipuro.

Setelah menjadi guru, mereka mendirikan Madrasah Diniyyah di desa Adipuro yang kemudian dirubah menjadi MI Muhammadiyah Al Islam.

Berdirinya MI Al-Islam adalah berawal dari keprihatinan warga dan para tokoh agama terhadap minimnya lembaga pendidikan yang berbasis Islam di desa Adipuro.

Sebelum MI Muhammadiyah Al Islam berdiri hanya ada satu lembaga pendidikan dasar, padahal desa Adipuro memiliki banyak sekali anak usia sekolah dasar. Oleh karena itu warga dan para tokoh agama yang tergabung dalam pengajian rutin Ahad Pahing sepakat untuk mendirikan lembaga pendidikan dasar berbasis Islam yang di beri nama MI Muhammadiyah Al Islam.

Akhirnya pada tanggal 6 Agustus 1967 MI Muhammadiyah Al Islam resmi didirikan dan pertama kali dikepalai oleh Bapak Hajat, A.Ma. Beliau didukung oleh beberapa anggota komite Madrasah pada saat itu.

Masyarakat desa Adipuro hidup dengan bertani di ladang dan menanam sayur-sayuran dan bawang, sayur yang dipanen diserahkan ke tengkulak yang harganya sering tidak sesuai dengan harga pasaran dalam artian mereka sering dipermainkan, meski demikian karena bertani sudah menjadi aktivitas mereka bukan hanya pekerjaan mencari harta, semua itu dilakukan dengan senang hati.

Buah dari keikhlasan mereka menamam adalah keberkahan desa ini, salah satunya dengan tumbuhnya anak anak cerdas dari desa atas awan ini. Banyak sekali anak dari desa ini yang sudah menjadi hafidz dan hafidzah dan ada Pesantren di desa ini yang menjadikan semarak Islam semakin ramai yaitu Pesantren Luqman Alhakim yang mengambil pendidkan SMP dan tahfidz Alquran dan Pesantren Istiqamah yang mengambil pendidkan sorogan dan kajian kitab kuning.

Perpaduan dua Pesantren dan kultur masyarakat yang kuat Islamnya menjadikan desa ini sebagai kampung Alquran di Atas Awan.

Anak Indonesia pada umumnya adalah cerdas bahkan manusia tercerdas di dunia adalah Indonesia. Selain itu, Indonesia adalah negara Terkaya di dunia dan sebagai Bangsa Superpower sejak 11.000 tahun silam, namun paradigma yang ditanamkan adalah bangsa yang bodoh, bangsa yang miskin dan bangsa yang terjajah selama 350 tahun.

Contoh sederhana kecerdasan anak Indonesia, mereka sejak kecil diberikan makanan yang segar dan langsung dari kebun dan bukan makanan yang sudah didiamkan berbulan-bulan seperti di Eropa ketika musim panas sebagai persiapan di musim dingin. Nutrisi untuk menjadi cerdas sudah diberikan sejak kecil.

Namun karena paradigma yang dibangun adalah negatif sebagai Bangsa bodoh dan terjajah, maka Indonesia menjadi bangsa inferior. Semoga manusia cerdas lahir dari kampung kecil ini.🙏

Semoga Allah Swt memberikan pahala dan berkah kepada para pendahulu yang mengajarkan baca Al-Quran dengan pahala yang besar.

Sekian.

Tinggalkan komentar